ATAU
HANYA AKAN MENJAGA JIKA SEKIRANYA TELAH MERASA
Alhamdulillah Ramadlan kembali datang dengan berbagai kebaikan, keutamaan, keberkahan, pintu surga dibuka, pintu neraga ditutup, syaitan-syaitan dibelenggu, dan segala amal kebaikan dilipatkan pahalanya. Semoga dalam hitungan satu hari ke depan kita masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk menyambutnya dan bersenggama dengannya. Amin.
Bulan waktu diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas dari petunjuk dan pembeda. Bulan yang dioerientasikan untuk mengolah, mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi-potensi ruhani sehingga diharapkan nantinya kita semua mampu menggapai indahnya prestasi ruhani (Taqwa).
Di bulan itu kita dididik untuk ngliwet jiwa. Ngliwet nafsu-nafsu yang selalu menengadah ke langit tanpa perduli dengan tanah, membersihkan kotoran-kotoran yang ada di air sungai kehidupan, meluruskan kayu-kayu perilaku yang telah bengkok mengkaku, menurunkan rumput-rumput yang tumbuh liar di batang pohon basah, dan menggosok debu yang menempel bandel di mutiara kefitrahan.
Kiranya panasnya bara api puasa yang membakar diri kita bukanlah menghanguskan intan berlian namun justru menambahkannya tampak mengkilap indah di antara butiran-butiran berlian yang jatuh pecah di altar gegap gempita kehidupan. Berdiri tegak dengan kaki tegap menginjak tanah menyinari kegelapan malam yang mensesakkan.
مرحبا يا رمضان
Pada hari kemerdekaan kali ini yang ke 64, saya hanya dapat mempersembahkan banner ini saja.
KATA-KATAKU TAK MAMPU UNTUK MENGUNGKAPKANNYA LEBIH PANJANG.
Inkonsistensi yang dimaksud adalah ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan atau dalam istilah daerah Jawa sering disebut dengan jarkoni (mau menasehati tapi tidak mau melaksanakan). Sikap dan perilaku ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sebelum melakukan pengamatan, penilaian, dan judgment terhadap sikap dan perilaku orang lain, alangkah lebih baiknya jika kita muhasabah atau intropeksi terhadap diri kita sendiri, apakah diri kita juga sering memperagakan sikap dan perilaku seperti itu atau tidak. Hal ini, tidak lain adalah bentuk upaya preventif dari serangan sifat-sifat ra gelem ngoco karo awake dewe (tidak mau berkaca dengan dirinya sendiri) yang akan menumbuhkan spirit
“Gajah di seberang lautan tampak,
Semut di pelupuk mata tidak tampak.”[1]
Dalam konteks hubungan orang tua dengan anak, sikap dan perilaku inkonsistensi ini tidak hanya akan membawa dampak negatif terhadap kepribadian anak saja, namun juga bagi orang tua. Misalnya, dalam kasus:
Bapak yang menasehati anak laki-lakinya supaya tidak merokok, namun dia sendiri kalau merokok di depan anaknya. Atau,
Seorang guru yang menasehati muridnya untuk rajin berangkat sekolah, tapi di sendiri sering absen mengajar. Atau,
Ibu yang menasehati anak perempuannya agar menghindari merumpi, akan tetapi dia sendiri tampak asyik merumpi dengan sesama ibu sambil petan.[2]
Dalam kasus di atas, maksud orang tua dan guru mungkin baik, yaitu menasehati agar anak dan muridnya tidak merokok, tidak merumpi, dan tidak malas belajar, namun sayangnya nasehat itu tidak diikuti dengan contoh yang selaras. Sehingga, sikap dan perilaku yang ditampilkan oleh orang tua ataupun guru dalam kasus di atas itu justru akan menumbuhkan sikap dan perilaku tidak percaya terhadap orang tua ataupun gurunya dalam diri anak. Apabila sudah seperti itu, anak pun akan tidak mengindahkan nasehat-nasihatnya. Bahkan, yang lebih parah lagi anak sangat dimungkinkan akan berani menyuguhkan aksi yang berbanding terbalik dengan nasihat orang tua atau gurunya. Perilaku ini tentunya sangat menghinakan.
Orang yang inkonsisten dalam sikap dan perilakunya tidak hanya akan menjadi objek hinaan orang-orang sekitarnya, namun lebih dari itu Allah SWT dan Rasulnya juga memurkainya. Dalam QS. As-Shaf: 2-3 Allah SWT berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Besar dosanya di sisi Allah SWT jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.”
“Apakah kalian memerintahkan kebaikan kepada orang lain sedang kalian melupakan diri kalian dan kalian membaca Kitab? Apakah kalian tidak berfikir? ”
(QS. Al-Baqarah: 44)
Nabi Syuaib A.S. berkata kepada kaumnya,
“Aku tidak ingin menyalahi kalian dengan melakukan apa yang aku larang untuk kalian. Aku hanya menginginkan kebaikan semampuku.”
(QS. Al-Hud: 88)
Rasulullah SAW bersabda,
“Seseorang didatangkan pada hari Kiamat dan dia dilemparkan ke dalam neraka. Ususnya terurai dan dia berputar-putar seperti keledai berputar dengan pelananya. Para penduduk neraka mengelilingi orang itu dan berkata, ‘Wahai Fulan, mengapa engkau sedemikian itu? Bukankah engkau memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran?’ Orang itu menjawab, ‘Dulu aku memerintahkan kalian untuk berbuat baik, tapi aku tidak melakukannya. Dan aku melarang kalian dari berbuat kemungkaran, tapi aku melakukannya’.” (HR. Bukhari)
Sekarang kita telah tahu sedikit gambaran tentang sikap dan perilaku yang inkonsisten, efek negatifnya bagi anak dan orang tua atau guru, serta konsekuensi yang akan dihadapinya baik di dunia maupun di akhirat. Pertanyaan selanjutnya, apakah kita akan tetap mengakui dan mempercayai bahwa hal itu adalah metode terbaik untuk memotivasi anak-anak kita?
Seberapa nyaman dan bahagia kita, ketika melihat anak kita menyuguhkan sikap dan perilaku yang berlawanan dengan nasihat kita? Atau, seberapa kuat diri kita menahan hinaan dari anak kita sendiri? Atau, seberapa kuat daya dingin tubuh kita untuk menahan panasnya api neraka?
Sebelum semuanya berlarut, mengevaluasi, merenungi, dan menyesali adalah langkah bijak. Mengikuti keburukan dengan kebaikan adalah langkah awal yang cerdas untuk mewujudkan tegaknya kebaikan.[3] Misalnya dengan cara membalik metode menasehati. Jika sebelumnya lebih banyak menasehati dengan lisan, sekarang menasihatinya dengan perbuatan. Artinya, lebih banyak mengedepankan action (perbuatan) daripada talk only (hanya bicara saja). Hal itu, karena perbuatan itu lebih kongkrit daripada ucapan. Sesuatu yang kongkrit itu lebih mudah dan lebih cepat untuk difahami, dirasakan, dan ditiru (modelling).
|
[1] Sifat orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, tapi dia tidak sadar bahwa dalam dirinya juga terdapat kesalahan.
[2] Petan adalah istilah bahasa Jawa yang menggambarkan aktivitas mencari kutu di kepala yang sering dilakukan oleh para ibu rumah tangga di desa di sela-sela waktu luang.
[3] Diriwayatkan dari Abi Dar Jundab bin Janadah dan Abi ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal Radliya Allah ‘Anhuma dari Rasulullah SAW bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan maka itu akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik ” (HR. At-Turmudzy)
| Seorang guru SD (Sekolah Dasar) di salah satu propinsi di Pulau Sumatera sedang menyelesaikan pendidikan pascasarjanya di UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Ibu ini jika dilihat dari facenya sudah berumur sekitar tiga puluh lima tahun ke atas. Dia dikaruniai dua orang putra, yang pertama berumur 13 tahun dan yang kecil sedang sekolah di bangku sekolah dasar. Kedua buah hatinya ini adalah hasil pernikahannya dengan seorang laki-laki yang pendidikannya jauh di bawahnya. Julio, itulah nama anak pertamanya. Rasa bahagia pun membuncah. Berbagai harapan dan angan-angan merasuki alam pikirannya. Adalah suatu kewajaran, setiap orang tua memiliki harapan dan angan-angan bahwa anaknya nanti harus lebih baik darinya, kalau mungkin justeru harus menjadi manusia yang paling sempurna di muka bumi ini. Perlahan namun pasti, harapan dan angan-angan itu menelisik lebih dalam ke hatinya yang kemudian mendorongnya untuk menyusun berbagai prosedur dan instruksi yang menurutnya akan mengantarkan harapan dan angan-angannya itu menuju singgasana impian. Seiring berjalannya waktu, prosedur dan instruksi itu pun diterapkan dalam kehidupan Julio. Satu, dua, tiga…… tahun Julio hidup di bawah arahan dan kendali juklak kesempurnaan. Seperangkat reward dan punishment pun selalu mengawal ketat dalam setiap perjalanan nafas yang terus naik turun mengarungi hamparan fatamorgana kehidupan. Tingginya temperatur panas prosedur dan instruksi menyengat hingga memeras cairan sunsum-sunsum tulang serta dalamnya penyelaman harapan dan angan-angan ibunya ternyata telah menenggelamkan dirinya ke dalam gelapnya dasar sungai yang pekat dengan lumpur-lumpur hitam. Karena energinya telah terkuras, Julio pun kesulitan untuk sekedar mengangkat pelupuk matanya. Julio tidak tahu lagi di mana sekarang dirinya berada. Dia berusaha sekuat tenaga mendesak pekatnya air yang telah keruh akibat tercemar hitamnya lumpur, hanya sekedar untuk mencari lubang sempit yang harapannya dapat menemukan titik cahaya, sehela oksigen, dan setetes air murni. Dia tak menyerah sedikit pun. Segala upaya dilakukannya untuk dapat meronta dan mengeluarkan air mata. Namun, ternyata dia semakin tak berdaya. Saat itulah, sang ibu menjerit dan air matanya membanjiri altar merah pipinya yang mulai kusut termakan usia. Pelan namun pasti, harapan dan angan-angannya merangkak naik ke alam kesadarannya. Prosedur dan instruksi yang selama ini menyelimuti tubuh Julio dirennggangkan supaya semilir angin dapat masuk mengelus kulit halusnya. Begitu pula sang pengawal, reward dan punishment telah dipecatnya. Sekarang, Julio sedang belajar merangkak agar dapat berdiri tegak di atas kakinya sendiri dan menjadi manusia yang dia adalah dia yang khas dan unik. |
Setiap anak memiliki kekhasan dan keunikan masing-masing yang itu kemudian membedakannya dengan anak lainnya. Kekhasan dan keunikan yang ada dalam diri seorang anak merupakan status yang akan memperjelas jati dirinya. Julio dan Ibunya, keduanya secara nasab (garis keturunan) statusnya adalah anak dan ibu kandung. Memang, dalam diri Julio mengalir darah ibunya yang itu berarti mengalir pula berbagai potensi yang dimiliki oleh sang ibu. Namun, selain itu ada pula aliran potensi hereditas sang ayah. Kita semua belum tahu potensi dari aliran mana yang memiliki daya paling kuat dalam diri Julio. Boleh jadi, kedua potensi itu berkalaborasi atau malah potensi kakek dan neneknya yang ketika berada dalam diri ayah dan ibunya tidak terlalu dominan, namun ketika berada dalam diri Julio justeru memiliki daya yang kuat.
Kita tidak dapat memungkiri bahwa yang namanya keinginan itu memang secara fitrah akan memunculkan impuls-impuls animalistis dan chaostis yang menuntut pemuasan.[1] Jika keinginannya ini tidak terpenuhi maka akan terjadi ketegangan. Oleh karenanya dia akan sangat senang dan lega jika apa yang diinginkannya terpenuhi. Hanya saja, untuk terpenuhinya keinginan itu ia sering mengaburkan realita. Ia tidak mempedulikan apakah keinginannya itu realistis atau tidak.[2]
Dalam ilustrasi di atas tampak nyata, bahwa sang ibu berkeinginan menjadikan Julio tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sempurna. Untuk memuluskan keinginannya itu sang ibu kemudian membuat berbagai prosedur dan instruksi yang dalam persepsinya akan mengantarkan Julio menjadi manusia yang diinginankannya. Menurut keterangan yang dipaparkan oleh Julio sendiri kepada saya, hidupnya dia telah disetting sedemikian rupa. Kapan harus tidur, bangun, makan, belajar, mandi, bermain, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dia sudah terjadwal dengan rapi. Kondisi seperti itu, rupanya telah berlangsung semenjak dia kecil sampai menginjak bangku SMP. Setiap hari dia harus les mata pelajaran ini, itu, dan begitu seterusnya dalam suatu pengawasan yang ketat.
Saya yakin harapan dan keinginan sang ibu itu sangatlah mulia. Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya sukses? Adalah munafik jika mengatakan tidak ingin. Karena dengan memiliki anak yang sukses, orang tua akan mendapat penghargaan dari masyarakat bahwa dia orang yang telah berhasil mendidik anaknya dengan baik, semakin dihormati, perkataannya didengarkan dan perintahnya dipatuhi oleh orang lain. Sebaliknya, jika orang tua memiliki anak yang gagal maka dia akan merasa diadili dan divonis oleh masyarakat sebagai orang yang gagal dalam mendidik anak. Begitu juga dengan ibunya Julio. Misi dan visinya sebenarnya sudah bagus, hanya saja beliau kurang mempertimbangkan kondisi riil Julio yang sangat syarat dengan prinsip individual differences.
Selama saya mengenalnya, Julio merupakan anak yang memiliki potensi cukup baik di bidang selain akademik. Selama ini, nilai akademik dia memang kurang memuaskan sehingga ada beberapa guru yang kemudian memotivasinya dengan cara yang kurang semestinya, walaupun hasilnya tetap nihil. Namun, pada suatu acara pentas seni saya begitu menikmati peran dan aksi dia di atas panggung. Sebelum itu, saya juga dibuat terharu dengan sikap dan perilakunya. Saat saya sedang mencuci WC sendirian, dia tergopoh-gopoh menawarkan diri untuk membantu saya padahal selama ini dia telah diberi atribut oleh teman-temannya sebagai anak yang malas. Ini artinya, dia memiliki suatu potensi lain yang akan membuat kakinya tegak berdiri.
Potensi lain inilah yang kurang mendapat perhatian dan pertimbangan dari sang ibu dalam menyusun serta menerapkan prosedur dan instruksi. Ibunya masih berpandangan bahwa semua anak memiliki potensi yang sama. Pandangan seperti inilah yang kemudian oleh Freud disebut dengan predicate thinking atau berfikir predikat yang akan menghasilkan suatu jalan pikiran kacau.[3] Karena itu, prosedur dan instruksi yang diterapkan bukannya mewujudkan keinginan dan harapannya, namun justeru menjadi bumerang bagi dirinya dan Julio.
Bagi sang ibu, jika prosedur dan instruksi ini terus dipertahankan maka dia akan menjadi orang yang banyak menghayal. Bahkan mungkin dia akan melakukan segala cara untuk mewujudkannya, walaupun dengan mengabaikan etika. Misalnya, dengan pemaksaan, kekerasan, intimidasi, agresif, dan lain sebagainya.
Mengenai hal ini, Julio juga menuturkan bahwa dirinya diperlakukan dengan cara seperti itu. Sang ibu di kemudian hari juga mengakui hal itu kepada saya. Julio dipaksa untuk mengikuti dan mematuhi prosedur dan instruksi itu walaupun sebenarnya dia tidak dapat menjangkaunya. Karena perlakuan ibunya itu berlangsung cukup lama dan dirasa oleh Julio sangat menyakitkan maka seiring perjalanannya waktu Julio tumbuh dan berkembang menjadi anak yang suka memberontak, malas belajar, dan semaunya sendiri. Sehingga potensi dirinya tidak dapat berkembang dan teraktualisasi dengan semestinya. Ketika saya tanya, sikap dan perilakunya itu tidak lain adalah dalam upaya menghindarkan diri dari rasa sakit itu.
Pengalaman masa kecil itu ternyata sangat membekas dalam diri Julio dan berpengaruh signifikan pada kehidupan dia selanjutnya. Hal ini, tampak jelas ketika terakhir kali saya bertemu. Walaupun secara jasad dia telah berpisah jauh dan jarang bertemu dengan ibunya, namun sikap dan perilakunya itu belum berubah secara signifikan. Dalam beberapa hal memang telah terjadi perubahan.
Alhamdulillah setelah beberapa kali bertemu, berdiskusi, dan berkoordinasi dengan ibunya, sekarang ibunya telah sadar, memahami, dan mau menerima Julio apa adanya dengan tanpa ada syarat serta berkenan memperbaiki strateginya. Begitu pula dengan Julio, dia tampak sudah tidak antipati lagi dengan sang ibu dan siap untuk berubah.
Tanpa sadar fenomena Julio dan ibunya telah memberi banyak sekali hikmah yang sangat penting kepada saya sebagai bekal untuk kehidupan saya ke depan. Ada beberapa point yang saya anggap penting dari kejadian itu, antara lain:
- Anak itu unik dan khas, artinya setiap anak memiliki potensi yang berbeda antara satu dengan lainnya.
- Memaksakan anak untuk menjadi orang lain adalah suatu tindak kriminal.
- Menerima anak apa adanya adalah bentuk penghargaan terhadap anak.
- Suatu harapan dan keinginan hendaknya disesuaikan dan dikomunikasikan dengan realita dan norma-norma etika.
[1] J.P.Chaplin, Kamus Lengkap Psikologi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.
[2] Calvin S. Hall, Libido Kekuasaan Sigmund Freud, Yogyakarta: Tarawang, 2000.
[3] -------ibid
“Ngliwet” . Anda pasti sudah pernah mendengar istilah ini. Atau malah istilah sehari-hari bagi Anda. Di Jawa, kita sering mendengar yang namanya “sega liwet” atau nasi liwet. Jadi “ngliwet” itu istilah yang digunakan oleh mayoritas orang jawa untuk mendiskripsikan aktivitas menanak nasi dengan menggunkan ketel atau panci. Namun, di sini saya tidak akan membahas mengenai istilah itu secara detail. Saya menyadari bahwa diri saya ini sangat kekurangan informasi untuk membahas mengenai istilah ini. Oleh karena itu, saya hanya akan membahas proses yang terjadi di dalamnya.
Di sini sebenarnya ada sesuatu yang salah tapi jadi kaprah (kesepakatan), yaitu pada istilah menanak nasi. Nasi kok dimasak, apa malah tidak menjadi bubur? bukankah yang dimasak itu beras? tapi mungkin ketika kita mengatakan “menanak beras” kedengarannya juga lucu. Kelucuan ini bukan sama sekali tidak ada yang mendasarinya, tapi hal ini terjadi karena telinga kita sejak awal sudah mendengar istilah itu dan sampai sekarang masih menggunakannya.
Saya tidak tahu apakah dalam kata “ngliwet” itu terdapat kata dasarnya atau tidak. Tapi, jika memang tidak ada berarti hal itu hanya bentuk ungkapan saja yang tidak dapat ditelusuri secara morfologi atau kata para penghuni padang pasir sana istilahnya sima’i (mulut ke mulut). Coba sebentar saja anda ucapkan kata “ngliwet” dengan mengedepankan rasa! apa yang anda tangkap?
Kata “ngliwet” dalam rasa saya merupakan suatu istilah untuk mengungkapkan usaha seseorang untuk menaklukan keangkuhan dan kekuatan yang ada dalam diri beras sehingga ia lemah, lemas, dan tak berdaya lagi yang kemudia dia mampu menguasainya.
Anda mau makan beras setiap hari tanpa terlebih dahulu memasaknya? Kalau saya jelas tidak mau. Oleh karenanya, saya lebih memilih nasi daripada beras tapi ya hanya saat mau makan saja. Ada beberapa hal yang mesti dilakukan ketika akan, sedang, atau sesudah “ngliwet” . Biasanya para ibu terlebih dahulu menyalakan api di pawon, kemudian memasak air menggunakan ketel. Dulu ketika saya masih kecil atau mungkin saat ini juga masih, terutama para ibu yang tinggal di pedesaan sembari menunggu air panas beras itu terlebih dahulu ditapeni atau diayaki, duh apa ya bahasa Indonesianya. Mudahnya, beras itu harus dibersihkan terlebih dahulu dari batu-batu kecil, atau, gabah, dan lain sebagainya.
Setelah itu kemudian beras yang sudah bersih dari material lain dicuci dengan air atau dipesusi supaya bersih dari kotoran yang tidak terlihat dengan mata telanjang dan agar tidak bau apek. Sekiranya air sudah panas baru kemudian beras yang sudah bersih itu dimasukkan ke dalam ketel. Nanti, setelah lumayan setengah matang, nasi diaduk dan setelah dirasa tanak maka berarti nasi sudah matang. Nasi yang baru masak tentu saja tidak bisa langsung dimakan karena masih panas. Biasanya kalau orang desa, nasi sebelum dimakan itu diangi-angi atau ditaruh di tempat yang terbuat dari bambu dengan di anyam dalam ukuran besar. Nasi dikipasi dan dibolak-balik dengan menggunakan centong yang terbuat dari kayu. Setelah lumayan dingin baru nasi bisa dimakan.
Dari proses yang panjang ini sebenarnya terdapat pesan, pelajaran, dan hikmah penting yang sangat berarti untuk kehidupan manusia. Diantaranya isi pesan itu sejauh kemampuan saja merenungi adalah:
- Tidak semua apa yang kita inginkan itu mudah didapatkan.
- Kita butuh pihak lain, baik yang hidup maupun yang mati terutama yang menciptakan semua itu.
- Untuk memperolehnya kita mesti bertahap, tidak dapat langsung didapat.
- Jadi, harus khusu’, sabar, telaten, tekun, kerja keras, dan tawakkal.
- Sesuatu yang sudah kita dapatkan belum tentu dapat langsung kita gunakan dengan seenaknya.
- Kita mesti menyesuaikan hal itu dengan kadar kemampuan dan kapasitas kita.
- Sebagai pengingat bagaimana rasanya orang punya keinginan tapi belum mendapatkannya, maka ajaklah orang lain untuk ikut serta merasakan apa yang telah kita dapatkan.
Semoga kita dapat meneladaninya. Amin
Siang itu, bapak kepala menemui saya. Serentak hati bertanya “ada apa?”. Ku persilahkan beliau duduk, tapi maaf hanya di lantai saja. Maklum, kamar itu juga hanya gratisan. Sambil basa basi kami berdua kompak menyalakan korek dan membakar rokok. Seketika itu pula kamarku seakan mau melayang terdorong oleh asab tebal dari batang rokok.
Sembari ku sediakan kopi, kami ngobrol-ngobrol dengan sangat ringan. Bobot itu semakin lama semakin berat. Pak kepala menceritakan sesuatu yang hal tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan. Pelan namun pasti bahasa dan intonasi mengarah kepada jurhat. Apalagi gesture-nya tidak dapat membohongiku. Saya pun mencoba untuk menjadi pendengar yang baik sembari mengidentifikasi permasalahan yang sedang beliau hadapi.
Ringkasnya beliau baru saja menerima keluhan dari seseorang yang beliau kenal sebelumnya melalui SMS. Ada seorang suami berkonsultasi dengan dirinya mengenai kondisi diri, istri, dan keluarganya. Pertama yang suami itu menceritakan bahwa dia mengalami kebingungan. Bingung harus bagaimana. Istrinya yang sangat disayangi dan cintai mencintai laki-laki lain yang sudah beristri. Laki-laki lain ini tiada lain adalah mantan kekasihnya dulu. Dari hubungan istrinya ini terindikasi bahwa si istri sudah melangkah sangat jauh atau kasarannya sudah pernah berhubungan badan. Namun, anehnya si istri ini jujur dengan suaminya itu. Dia bilang bahwa dirinya saat ini sedang punya hubungan dengan laki-laki lain dan pernah beberapa kali melakukan hubungan suami istri. Seketika itu si suami pun kaget dan hanya diam saja.
Bingung pastinya. Sang suami ke pak kepala bilang “Boleh ngga’ kalau saya mengijinkan istri saya menikah dengan laki-laki lain dengan tanpa saya menceraikannya alias poliandri?” pak kepala menjawab "Wanita ya ngga’ boleh memiliki dua atau lebih suami” “Tapi saya masih sayang dan cinta sama dia, selain itu saya juga kasihan dengan anak-anak.” Mendengar jawaban itu pak kepala juga ikut bingung, terlebih saya yang awam.
Akhirnya saya mencoba untuk memberikan saran kepada pak kepala “Pak, kalau konsultasi ini hanya lewat SMS kita tidak dapat memperoleh data yang valid. Jadi , sekarang bagaimana kalau panjenengan ajak dia ketemu dan ngobrol terbuka. Dengan begitu kita akan mendapat data-data yang valid yang justru tidak terlontar dari mulutnya. Pripun?”.
Pak kepala pun akhirnya kerso (mau) menerima usulan saya. Begitulah sedikit penggalan ceritanya. Kalau menurut Anda bagaimana sih si suami dan si istri ini berdasarkan sekilas cerita itu? Tolong kasih saya pendapat……..Makasih.