Siang itu, bapak kepala menemui saya. Serentak hati bertanya “ada apa?”. Ku persilahkan beliau duduk, tapi maaf hanya di lantai saja. Maklum, kamar itu juga hanya gratisan. Sambil basa basi kami berdua kompak menyalakan korek dan membakar rokok. Seketika itu pula kamarku seakan mau melayang terdorong oleh asab tebal dari batang rokok.

Sembari ku sediakan kopi, kami ngobrol-ngobrol dengan sangat ringan. Bobot itu semakin lama semakin berat. Pak kepala menceritakan sesuatu yang hal tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan. Pelan namun pasti bahasa dan intonasi mengarah kepada jurhat. Apalagi gesture-nya tidak dapat membohongiku. Saya pun mencoba untuk menjadi pendengar yang baik sembari mengidentifikasi permasalahan yang sedang beliau hadapi.

Ringkasnya beliau baru saja menerima keluhan dari seseorang yang beliau kenal sebelumnya melalui SMS. Ada seorang suami berkonsultasi dengan dirinya mengenai kondisi diri, istri, dan keluarganya. Pertama yang suami itu menceritakan bahwa dia mengalami kebingungan. Bingung harus bagaimana. Istrinya yang sangat disayangi dan cintai mencintai laki-laki lain yang sudah beristri. Laki-laki lain ini tiada lain adalah mantan kekasihnya dulu. Dari hubungan istrinya ini terindikasi bahwa si istri sudah melangkah sangat jauh atau kasarannya sudah pernah berhubungan badan. Namun, anehnya si istri ini jujur dengan suaminya itu. Dia bilang bahwa dirinya saat ini sedang punya hubungan dengan laki-laki lain dan pernah beberapa kali melakukan hubungan suami istri. Seketika itu si suami pun kaget dan hanya diam saja.

Bingung pastinya. Sang suami ke pak kepala bilang “Boleh ngga’ kalau saya mengijinkan istri saya menikah dengan laki-laki lain dengan tanpa saya menceraikannya alias poliandri?” pak kepala menjawab "Wanita ya ngga’ boleh memiliki dua atau lebih suami” “Tapi saya masih sayang dan cinta sama dia, selain itu saya juga kasihan dengan anak-anak.” Mendengar jawaban itu pak kepala juga ikut bingung, terlebih saya yang awam.

Akhirnya saya mencoba untuk memberikan saran kepada pak kepala “Pak, kalau konsultasi ini hanya lewat SMS kita tidak dapat memperoleh data yang valid. Jadi , sekarang bagaimana kalau panjenengan  ajak dia ketemu dan ngobrol terbuka. Dengan begitu kita akan mendapat data-data yang valid yang justru tidak terlontar dari mulutnya. Pripun?”. 

Pak kepala pun akhirnya kerso (mau) menerima usulan saya. Begitulah sedikit penggalan ceritanya. Kalau menurut Anda bagaimana sih si suami dan si istri ini berdasarkan sekilas cerita itu? Tolong kasih saya pendapat……..Makasih.

Comments

2 Response to 'KONSULTASI KEPALA DAN POLIANDRI'

  1. Aisha
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/08/konsultasi-kepala-dan-poliandri.html?showComment=1249343064561#c8474172121181687265'> August 3, 2009 at 4:44 PM

    jelas-jelas sang istri telah berbuat selingkuh/zina.Dalam Islam di haramkan bro.Btw thank kunjungannya ya...

     

  2. Rachel
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/08/konsultasi-kepala-dan-poliandri.html?showComment=1249450654115#c2853214522242236435'> August 4, 2009 at 10:37 PM

    Sulit memberi pendapat. So yang pasti dari segi agama ya salah. Tapi kita tak mengerti mengapa dia mencintai pria lain, adakah sesuatu yang kurang pada pasangannya.
    Bagusnya mari sama-sama instropeksi dan berbicara.
    Salam .... izin ngelink boleh tidak.