Air kenistaan mewujud dalam ke-insan-an

Tanah, air, udara, dan api bersatu di dalamnya

Berkembang dengan daya hayahnya

Berbentuk dalam proporsi dan PICT0004fungsinya

Empat bulan setelahnya

Sebagian Ruh Sang Maha Segalanya

Dikibaskan ke dalamnya

Sifat-sifat dan nilai-nilai menyelimutinya

Dalam kapasitas kemanusiaannya

Mata menjadi penglihatan

Telinga menjadi pendengaran

Mulut menjadi ucapan

Lidah menjadi pahit, manis, asin, kecut

Kulit menjadi kasar dan halus

Kesaksian alastu bi Rabbikum

Mengalir dalam nafas kemurnian

Kecondongan kepada kebenaran

Merasuk dalam dalam setiap rongga kehidupan

Sembilan bulan

Amma ba'd

Di bawah gelapnya langit-langit dipan

Dibawah langit-langit kamar

Di bawah langit yang menghitam oleh abu Galunggung

Di bawah intipan matahari di balik satir hitam

Ku menjerit saat mencium bau dunia

Tulang-tulangku mengeras kemudian

Berbekal sifat-sifat dan nilai-nilai-Nya

Yang dalam kapasitas saya

Dan ke-nasab-an yang selalu melekat erat di sekujur jiwa

Ku langkahkan segalanya tuk mengembara di dalamnya

Setelah puluhan tahun ku berjalan

kesucian terombang-ambing

Debu-debu jalanan terus mencoba mengoyaknya

Terkadang aku sendiri yang melakukannya

Segalanya tinggal terkadang

Ya, Rabb Laysa ly siwaka

Wa iftah min al-khair kulla mughlaq















[More]
Hu….uuuuuuuh
………………..
………………..
………………..
Mungkin anda akan mendapatkan hakikat dari susunan huruf-huruf di atas andai saja huruf-huruf itu berbunyi. Huruf-huruf itu keluar bersama dengan sebulan nafas dari dalam dada setelah mengalami penyempitan rongga.

Saat saya sedang mengumpulkan energi untuk mendapatkan inspirasi yang harus dituangkan dalam barisan huruf-huruf sehingga terbentuk gugusan kalimat deskripsi, seorang adik kecil mengetuk pintu kamar sembari mengucapkan salam berlapis tiga kali yang berfrekuensi meninggi. Seraya menekuk kaki dan menurunkan berat badannya di hadapan saya dia mengatakan

“Pak, ada anak yang keluar melompat gerbang!”

“Siapa?” Tanyaku

“Itu Pak, si A” Maksud dia si Anak Unik. Anda masih ingat kan, anak unik yang saya ceritakan di postingan kemarin.

“Sekarang di mana dia?” Tanyaku.

“Lari, Pak!”
Saya pun mencoba untuk menenangkan diri.

“Sekarang, coba kamu kejar dulu dan ikuti terus! nanti saya menyusul” Pintaku.
Saya langsung pakai jaket karena kebetulan malam itu udara sangat dingin. Dengan berbekal jaket aku menyusul si Anak tadi dengan naik motor.

Sepanjang jalan di sekitar tempat kami tinggal saya susuri pelan-pelan. 45 menit saya pastikan jalan itu, namun belum juga kelihatan di mana dia berada. Hati saya pun mulai mendesir-desir, namun saat itu pula saya mencoba untuk menenangkan diri kembali dan terus mencarinya.

“De’, ayo turun! Pulang dah malam”

Aku mendengar suara anak sedang membujuk seseorang. Pelan-pelan saya dekati suara itu. Semakin mendekat, saya semakin mengenal suara siapa itu. Tanpa ragu ku dekati.

“Masya Allah” Tanpa sadar saya mengucapkan kalimat itu.

Ya, Allah ternyata si Anak Unik itu sedang bermain di taman orang. Dia sedang naik pohon cemara yang ada di taman sembari senyam-senyum. Kelihatannya dia sangat menikmati. Walaupun begitu, hati saya sedikit demi sedikit mulai tenang.

“De’, kamu lagi ngapain di sini?” Tanyaku.

Mendengar pertanyaanku dia hanya diam dan tersenyum sambil terpaku. Dia tampak sama sekali tidak merasa atau mengetahui kalau hati saya sedang sangat khawatir karenanya.

“Ayo turun, dah malam, mainnya besok saja!” Ajakku.

Lagi-lagi hanya senyuman yang menyungging dari bibirnya. Melihat senyumannya itu, saya jadi terpancing untuk mencari ide bagaimana cara yang baik dan benar agar dia mau pulang dengan tanpa merasa terpaksa.

Kebetulan di dekat pohon yang sedang dia panjat ada kursi. Aku mendekati dan duduk di bangku itu sambil membakar rokok. Aku coba menatapnya.

“De’, kamu di sini dah berapa hari?” Tanyaku memulai perbincangan.

“Setengah bulan” Jawabnya. Mendengar jawaban itu hati saya merasa plong “Alhamdulillah”. Rasa optimis seketika mencuat dalam benak.

“Setelah setengah bulan kamu berpisah dengan mama, rasanya bagaimana?”

“Kangen! Aku pingin ketemu mama!” Dari matanya meleleh air, ternyata dia menangis.

“Kamu kangen?” Tanyaku.

“Iya!”

“De’, Aku mengerti kalau kamu sedang kangen sama mama dan aku juga dapat merasakan apa yang kamu rasakan. Saya dulu ketika kangen sama mama rasanya juga seperti kamu. Setiap hari, rasanya hanya ingin ketemu mama dan ingin memeluknya, kan?” Saya mencoba untuk dapat berempati kapadanya.

“Iya!”

“Tapi bagaimana caranya?” Tanyaku.

“Ya, pulang!” Sedikit dia mulai menemukan solusinya.

“Rumahmu Kalimantan Barat kan, De?”

“Iya”

“Menurutmu Kalimantan Barat kalau dari sini, jauh pa dekat?”

“Ya…….” Dia tampak mulai ragu.

“Ya, jauh”

“Kalau jauh, terus kalau mau pulang naik apa? Kamu, kemarin waktu ke sini naik apa?

“Pesawat terbang”

“Kira-kira, menurutmu mahal ngga’?”

“Mahal Pak!”

“Lah, sekarang kamu punya uang untuk beli tiket pesawat tidak?”

“Ngga’ punya.” Jawabnya.

“Saya juga ngga’ punya De’.”

“Terus bagaimana Pak?” Dia mulai berani untuk bertanya dan minta pendapat sama saya. Saat itu juga saya tidak menghilangkan kesempatan untuk mengalihkan kekangenan dia sama mama-nya.

“Aku yakin kamu anak yang sangat sayang sama mama dan mama juga sangat sayang sama kamu, kan?”

“Iya.”

“Waktu kamu mau ke sini, mama memelukmu?”

“Ya.”

“Ketika mama memelukmu, mama bilang apa?”

“Kamu yang rajin belajar ya Nak, biar menjadi anak yang pinter!” Katanya, mengulang pesan mama-nya. Dari matanya yang sudah tampak ngantuk menetes air mata.

“Sini De’ turun dulu, duduk sini!” Ajakku. Alhamdulillah dia mau turun dan duduk di sampingku. Dengan tanpa kusadari tanganku yang kanan menggapai kepalanya dan menyandarkannya di dadaku. Ku peluk dia. Rasa kangen tampak terasa dari hembusan nafas, isak tangis, tarikan nafas, dan tempelan kepalanya.

“De’, pertama kali aku melihatmu, aku dah tahu kalau kamu itu anak yang pinter dan shalih. Kamu tahu kan caranya biar jadi anak yang pinter dan shalih?”

“Ya, Pak. Saya harus rajin belajar dan mendoakan orang tua.” Jawabnya. Anak ini sebenarnya anak yang pintar dan cerdas.

“Berarti kamu juga harus rajin mengaji dan sekolah?”

“Iya, Pak!” Jawabnya dengan suara lumayan semangat.

“Sekarang kira-kira jam berapa? Jam berapa De’?” Tanyaku sama anak yang tadi ikut mengejarnya.

“Jam satu, Pak” Jawabanya.

“Menurutmu, kalau sekarang belum tidur, besok subuh kita ngantuk ngga’ jama’ah subuhnya?”

“Iya Pak, padahal habis subuh saya harus mengaji Al-Qur’an sama Pak Qodir.”

“Saya, besok habis subuh juga harus nemenin kakak kelas I Aliyah mengaji kitab Ta’lim Al-Muta’alim.” Saya menambahi.

“Gimana De’ kalau kita pulang dulu, tidur yang nyenyak, terus bangun jam empat, setelah itu mengaji, mandi, makan, dan berangkat sekolah?” Saya minta persetujuan Si Anak Unik itu.

“Yuk, Pak. Saya juga sudah ngantuk. Besok saya juga harus shalat subuh jama’ah, mengaji, mandi, makan, dan sekolah.”

“Yuk!”

Kaya “Yuk” yang terakhir inilah yang sebenarnya saya nanti-nantikan sejak awal. Setelah mendengarnya, tidak ada perasaan lain selain “lega”. Ucapan syukur alhamdulillah pun terus mengalir dari hatiku karena Dia-lah Si Anak Unik itu mau menerima dan memahami celoteh saya yang sebenarnya sangat elementer dalam dunia parenting. Apa yang terjadi pada malam itu, harapan saya hanya satu

“SEMOGA KITA DAPAT MERENGKUH TAUHID CINTA”
IMG_0805 Karena-Nya kita begini

Karena-Nya kita begitu

Karena-Nya kita begini dan begitu

Bukan sekedar kita begini dan begitu karena-Nya

Begini dan begitu yang diridloi-Nya

Karena-Nya di dalam diri kita ada ini dan itu

Ini dan itu yang karena-Nya begini dan begitu
 

Ya, Allah! Allah, Allah, Allah









[More]
Satu anak sejak awal kedatangannya membuat semua –termasuk saya- orang tertawa, khawatir, dan bingung. Dia anak yang datang dari jauh, Kalimantan Barat tepatnya. Anaknya kecil, lumayan pendek mungkin belum tumbuh saja, dan ketika berbicara logat aslinya sangat tampak jelas, maaf lho bukan maksud sara. Jadi ketika dia bertingkah pasti mendapat sambutan tertawa dari teman-temannya.

Anak ini memang sedikit merepotkan para pembimbingnya. Dia walaupun sekarang duduk di bangku SLTP namun tingkah lakunya masih seperti anak-anak SD yang suka semau gue. Kita sebagai orang bertanggung jawab penuh terhadapnya juga tidak tahu dan belum pernah bertemu dengan orang tuanya karena ketika dia datang si orang tua tidak menemui kami. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan, kami pun mencoba mencari sesuatu yang sekiranya dapat berhubungan langsung dengan orang tuanya, tapi ternyata kami hanya mendapatkan alamat yang itu saja tidak komplit.

Akhirnya kami pun sepakat untuk mencoba membiarkan dia semaunya sendiri dengan terus mengontrolnya dari jauh. Kami berfikir mungkin dia sedang berjuang keras untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya yang kebetulan beraneka etnis. Emosinya sama sekali belum stabil, kadang begini kadang pula begini. Pokoknya DIA MASIH DIA BANGET. Sekarang sekolah besoknya bilang sakit, namun nanti setelah teman-temannya sekolah dia main karambol sendiri. Ketika diajak sekolah dia malah menangis.

Tidak hanya masalah sekolah, tidurnya pun semaunya sendiri. Baru tadi malam saya kaget bukan kapalang. Saat saya terbangun jam 3 malam dan saya buka pintu untuk ke belakang membasuh wajah, dia tidur tepat di depan pintu. Saya mencoba untuk membangunkannya, dia tidak mau bangun. Aku pun tak putus asa, saat dia bangun saya minta dia untuk tidur di kamar saya karena di luar sangat dingin, eh dia malah nglonyor pergi dan tidur di tangga.

Saya dalam hati mencoba menebak-nebak, mungkin dia begitu karena sangat kangen dengan Ibunya, mungkin dia dipaksa oleh orang tuanya, dia mencari perhatian, dia belum menemukan teman yang sesuai dengan karakter dirinya, atau dia memang karakternya seperti itu.

Kejadian mirip seperti itu memang bukan sekali ini, sebelumnya satu dua anak mengalaminya. Namun, perasaan yang paling unik baru kali ini. Id-nya masih tampak sangat jelas menguasainya. Dia belum mampu menatap dengan jelas realita yang ada dalam dirinya, apalagi bagaimana dia harus bersikap dan berperilaku yang sebaik dan sebenarnya. Namun, saya yakin dia akan tumbuh menjadi anak yang punya sifat berpendirian kuat. SABAR YA NAK

[More]
Sudah sekitar dua bulanan lebih saya tidak mengupdate blog, rasanya gatal juga. Namun, saat nafsu itu datang ternyata jasad ini sedang mendapat ujian dari yang Maha Kuasa. Sakit, itulah rasa yang menggerayang pasti. Flu, batuk, panas, dan pening menyelimuti diri ini. Tak hanya saya anak-anak yang baru dan yang lama juga dijemputnya. Namun, Alhamdulillah sedikit-demi sedikit mereka telah kembali dapat beraktivitas sebagaimana mestinya.

Pertengahan juli adek-adek kecil yang baru saja berpisah dengan orang tuanya dimana rasa kangen masih lekat melekat pekat dalam benak, mereka diuji totalitasnya dalam niat mencari ilmu dengan sakit yang sama dengan saya. Tanggung jawab sebagai orang yang diberi amanat untuk membimbingnya selama mereka mencari ilmu pun bertambah. Kita yang tua harus menyuapi makan, mengantarkannya ke kamar mandi, menenangkan gejolak emosinya, dan mengantarkannya ke Balai Kesehatan. Tidak ada satu keinginan pun dalam diri kami kecuali berharap mereka cepat sembuh, kembali tertawa, bermain, dan belajar dengan penuh senyum kebahagiaan.

Yang kecil, sedikit demi sedikit mulai menunjukkan harapan kami, namun ternyata Allah SWT berkehendak menyuguhkan keadilan yang luar biasa, kakak kelasnya pun secara urut dan runtut waktunya mengalami hal yang sama. Begitu seterusnya, hingga kami yang tertua terkapar saat mereka telah siap untuk kembali belajar.

Yogyakarta, di sinilah kami berada. Pergantian musim begitu terasa. Siang suhu udara sangat panas dan saat malam datang, rasa dingin menyerbu sendi-sendi tulang. Lembab, itulah kulit kami merasakannya. Sehingga kulit pun terasa kaku dan kasar.

Sakit datang tak diundang, namun kita sering kali mengusirnya. Mungkin karena dengan adanya sakit tubuh kita jadi tidak seimbang. Sangat wajar kemudian kita berusaha menyeimbangkannya. Namun, dengan adanya sakit kita kemudian dapat merasa bahwa ternyata kita hanya manusia yang sangat syarat dengan kelemahan-kelemahan. Terus, mengapa kita mesti merasa diri paling sempurna.


[More]