Hu….uuuuuuuh
………………..
………………..
………………..
Mungkin anda akan mendapatkan hakikat dari susunan huruf-huruf di atas andai saja huruf-huruf itu berbunyi. Huruf-huruf itu keluar bersama dengan sebulan nafas dari dalam dada setelah mengalami penyempitan rongga.

Saat saya sedang mengumpulkan energi untuk mendapatkan inspirasi yang harus dituangkan dalam barisan huruf-huruf sehingga terbentuk gugusan kalimat deskripsi, seorang adik kecil mengetuk pintu kamar sembari mengucapkan salam berlapis tiga kali yang berfrekuensi meninggi. Seraya menekuk kaki dan menurunkan berat badannya di hadapan saya dia mengatakan

“Pak, ada anak yang keluar melompat gerbang!”

“Siapa?” Tanyaku

“Itu Pak, si A” Maksud dia si Anak Unik. Anda masih ingat kan, anak unik yang saya ceritakan di postingan kemarin.

“Sekarang di mana dia?” Tanyaku.

“Lari, Pak!”
Saya pun mencoba untuk menenangkan diri.

“Sekarang, coba kamu kejar dulu dan ikuti terus! nanti saya menyusul” Pintaku.
Saya langsung pakai jaket karena kebetulan malam itu udara sangat dingin. Dengan berbekal jaket aku menyusul si Anak tadi dengan naik motor.

Sepanjang jalan di sekitar tempat kami tinggal saya susuri pelan-pelan. 45 menit saya pastikan jalan itu, namun belum juga kelihatan di mana dia berada. Hati saya pun mulai mendesir-desir, namun saat itu pula saya mencoba untuk menenangkan diri kembali dan terus mencarinya.

“De’, ayo turun! Pulang dah malam”

Aku mendengar suara anak sedang membujuk seseorang. Pelan-pelan saya dekati suara itu. Semakin mendekat, saya semakin mengenal suara siapa itu. Tanpa ragu ku dekati.

“Masya Allah” Tanpa sadar saya mengucapkan kalimat itu.

Ya, Allah ternyata si Anak Unik itu sedang bermain di taman orang. Dia sedang naik pohon cemara yang ada di taman sembari senyam-senyum. Kelihatannya dia sangat menikmati. Walaupun begitu, hati saya sedikit demi sedikit mulai tenang.

“De’, kamu lagi ngapain di sini?” Tanyaku.

Mendengar pertanyaanku dia hanya diam dan tersenyum sambil terpaku. Dia tampak sama sekali tidak merasa atau mengetahui kalau hati saya sedang sangat khawatir karenanya.

“Ayo turun, dah malam, mainnya besok saja!” Ajakku.

Lagi-lagi hanya senyuman yang menyungging dari bibirnya. Melihat senyumannya itu, saya jadi terpancing untuk mencari ide bagaimana cara yang baik dan benar agar dia mau pulang dengan tanpa merasa terpaksa.

Kebetulan di dekat pohon yang sedang dia panjat ada kursi. Aku mendekati dan duduk di bangku itu sambil membakar rokok. Aku coba menatapnya.

“De’, kamu di sini dah berapa hari?” Tanyaku memulai perbincangan.

“Setengah bulan” Jawabnya. Mendengar jawaban itu hati saya merasa plong “Alhamdulillah”. Rasa optimis seketika mencuat dalam benak.

“Setelah setengah bulan kamu berpisah dengan mama, rasanya bagaimana?”

“Kangen! Aku pingin ketemu mama!” Dari matanya meleleh air, ternyata dia menangis.

“Kamu kangen?” Tanyaku.

“Iya!”

“De’, Aku mengerti kalau kamu sedang kangen sama mama dan aku juga dapat merasakan apa yang kamu rasakan. Saya dulu ketika kangen sama mama rasanya juga seperti kamu. Setiap hari, rasanya hanya ingin ketemu mama dan ingin memeluknya, kan?” Saya mencoba untuk dapat berempati kapadanya.

“Iya!”

“Tapi bagaimana caranya?” Tanyaku.

“Ya, pulang!” Sedikit dia mulai menemukan solusinya.

“Rumahmu Kalimantan Barat kan, De?”

“Iya”

“Menurutmu Kalimantan Barat kalau dari sini, jauh pa dekat?”

“Ya…….” Dia tampak mulai ragu.

“Ya, jauh”

“Kalau jauh, terus kalau mau pulang naik apa? Kamu, kemarin waktu ke sini naik apa?

“Pesawat terbang”

“Kira-kira, menurutmu mahal ngga’?”

“Mahal Pak!”

“Lah, sekarang kamu punya uang untuk beli tiket pesawat tidak?”

“Ngga’ punya.” Jawabnya.

“Saya juga ngga’ punya De’.”

“Terus bagaimana Pak?” Dia mulai berani untuk bertanya dan minta pendapat sama saya. Saat itu juga saya tidak menghilangkan kesempatan untuk mengalihkan kekangenan dia sama mama-nya.

“Aku yakin kamu anak yang sangat sayang sama mama dan mama juga sangat sayang sama kamu, kan?”

“Iya.”

“Waktu kamu mau ke sini, mama memelukmu?”

“Ya.”

“Ketika mama memelukmu, mama bilang apa?”

“Kamu yang rajin belajar ya Nak, biar menjadi anak yang pinter!” Katanya, mengulang pesan mama-nya. Dari matanya yang sudah tampak ngantuk menetes air mata.

“Sini De’ turun dulu, duduk sini!” Ajakku. Alhamdulillah dia mau turun dan duduk di sampingku. Dengan tanpa kusadari tanganku yang kanan menggapai kepalanya dan menyandarkannya di dadaku. Ku peluk dia. Rasa kangen tampak terasa dari hembusan nafas, isak tangis, tarikan nafas, dan tempelan kepalanya.

“De’, pertama kali aku melihatmu, aku dah tahu kalau kamu itu anak yang pinter dan shalih. Kamu tahu kan caranya biar jadi anak yang pinter dan shalih?”

“Ya, Pak. Saya harus rajin belajar dan mendoakan orang tua.” Jawabnya. Anak ini sebenarnya anak yang pintar dan cerdas.

“Berarti kamu juga harus rajin mengaji dan sekolah?”

“Iya, Pak!” Jawabnya dengan suara lumayan semangat.

“Sekarang kira-kira jam berapa? Jam berapa De’?” Tanyaku sama anak yang tadi ikut mengejarnya.

“Jam satu, Pak” Jawabanya.

“Menurutmu, kalau sekarang belum tidur, besok subuh kita ngantuk ngga’ jama’ah subuhnya?”

“Iya Pak, padahal habis subuh saya harus mengaji Al-Qur’an sama Pak Qodir.”

“Saya, besok habis subuh juga harus nemenin kakak kelas I Aliyah mengaji kitab Ta’lim Al-Muta’alim.” Saya menambahi.

“Gimana De’ kalau kita pulang dulu, tidur yang nyenyak, terus bangun jam empat, setelah itu mengaji, mandi, makan, dan berangkat sekolah?” Saya minta persetujuan Si Anak Unik itu.

“Yuk, Pak. Saya juga sudah ngantuk. Besok saya juga harus shalat subuh jama’ah, mengaji, mandi, makan, dan sekolah.”

“Yuk!”

Kaya “Yuk” yang terakhir inilah yang sebenarnya saya nanti-nantikan sejak awal. Setelah mendengarnya, tidak ada perasaan lain selain “lega”. Ucapan syukur alhamdulillah pun terus mengalir dari hatiku karena Dia-lah Si Anak Unik itu mau menerima dan memahami celoteh saya yang sebenarnya sangat elementer dalam dunia parenting. Apa yang terjadi pada malam itu, harapan saya hanya satu

“SEMOGA KITA DAPAT MERENGKUH TAUHID CINTA”
IMG_0805 Karena-Nya kita begini

Karena-Nya kita begitu

Karena-Nya kita begini dan begitu

Bukan sekedar kita begini dan begitu karena-Nya

Begini dan begitu yang diridloi-Nya

Karena-Nya di dalam diri kita ada ini dan itu

Ini dan itu yang karena-Nya begini dan begitu
 

Ya, Allah! Allah, Allah, Allah









Comments

7 Response to 'BENAR-BENAR UNIK'

  1. Jayadi Gusti
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/07/benar-benar-unik.html?showComment=1248930045001#c9199828487500046855'> July 29, 2009 at 10:00 PM

    Keunikan anak lebih banyak mengingatkan kita betapa Dia begitu mempesona dan kerja-Nya begitu apik ... Hal Min Futhur ...? Bala wa ana 'ala dzalika minasy-syahidin.

     

  2. mama hilda
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/07/benar-benar-unik.html?showComment=1248943840554#c6562384534754874321'> July 30, 2009 at 1:50 AM

    Maaf belum sempat baca postingannya..

     

  3. si kumb@ng
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/07/benar-benar-unik.html?showComment=1248954494392#c2323141273960637134'> July 30, 2009 at 4:48 AM

    memory waktu nyantri nih...
    walau ngga lama dan bukan anak kecil lagi..

    terutama olahraga lompat pagar nya :D
    [halah konangan wis..mbelinge]

     

  4. Sharing is fun
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/07/benar-benar-unik.html?showComment=1249028382374#c3899687024317720432'> July 31, 2009 at 1:19 AM

    Hmm...gak nyesel mampir ke sini. Ad tulisan bagus. Yap setuju.... setiap anak memiliki keunikan sendiri-sendiri. Dari keunikannya banyak pembelajaran yang bisa kita dapatkan. Keep in touch..!!

     

  5. patahati
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/07/benar-benar-unik.html?showComment=1249039716510#c2723355940427290504'> July 31, 2009 at 4:28 AM

    wah bisa konfirmasikan ke pak jaya suprana tuh anak, tergolok unik memang...

     

  6. NURA
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/07/benar-benar-unik.html?showComment=1249102440840#c4057295556498769748'> July 31, 2009 at 9:54 PM

    salam sobat,,ahkirnya lega ya sobat,,alhamdulillah..jawaban yg dinanti-nantikan terpenihu juga.

     

  7. NURA
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/07/benar-benar-unik.html?showComment=1249102589291#c5308777826939787420'> July 31, 2009 at 9:56 PM

    salam sobat,,syukur alhamdulillah sobat sudah lega mendapatkan jawaban yg dinati-nantikan.