oleh
Waluyo

Buka facebook…eh nggak tahunya ada pesan. Rasa penasaran dengan segera memprovokasi hati dan pikiran untuk menggerakkan tangan agar segera membukanya. Ssssss……….tttt….byar….ooooohhhh….dari Ema sang pengantin baru, selamat ya semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah amin. Dia adalah teman satu angkatan, satu jurusan, dan satu fakultas sewaktu kuliah. Namun, mulai benar-benar menjadi teman sewaktu KKN (Kuliah Kerja Nyata, maaf bukan Kumpul Kebo Nyamun lho). Kebetulan dia satu kelompok dengan saya.

“Pak De” begitulah dia sering memanggilku, tidak tahu riwayatnya mengapa dia memanggilku seperti itu, mungkin karena saya lebih tua darinya atau karena kebetulan tubuhku lumayan gemuk.

“Saya tadi diSMS sama Edi, pemuda kampung dulu kita KKN, katanya, ibu-ibu kelompok Dasa Wisma kangen sama celoteh sok religiusnya kamu. Cepetan ke sana nanti pada sakit lho”. Itulah penggalan pesan dari Ema.

Saat itulah memori di otak saya pelan-pelan meload kembali file-file kenangan sewaktu KKN dulu. Ada satu file yang membuat hati kembali mengharu biru. Satu file kenangan itu tidak mungkin dapat saya luPakan begitu saja. Seorang pemuda kurus, kakek tua, hujan deras, mati lampu, angkringan, dan mobil sedan dengan tulisan maaf “iblis”nya yang menghiasi kaca belakang serentak muncul dengan jelasnya di benak saya.

Dalijo, katakanlah dia namanya. Pemuda kampung yang ceking, kurus, beringas, dan ya’ ya’ an (perasaan diri paling yes). Atribut ini saya simpulkan bukannya tanpa indikator. Badannya kecil, rambutnya pirang, matanya merah, ucapannya nylekit (menyinggung perasaan), mudah tersinggung, dan kalau naik motor kencangnya bukan main. Parahnya lagi hampir setiap malam jam 23.00 WIB dia selalu hang out sama kelompoknya di sebuah angkringan di dekat masjid. Tidak ada aktivitas lain atau pokok di tempat itu kecuali “maaf” minum-minuman keras alias mabuk.

Tampang dan perilaku Dalijo yang seperti itu tidak kemudian menyurutkan hati saya untuk mencoba berteman dengannya. Prinsip saya hanya satu “di dalam hatinya pasti ada Tuhan”. Satu keyakinan itulah yang memotivasi saya untuk mencoba dan mencoba mendekatinya. Pada awalnya memang rasanya sangat canggung. Karena dia tamPaknya sangat apatis terhadap orang pendatang baru. Kecanggungan itu kemudian tamPak membahana saat warga kampung lainnya memberi peringatan kepada saya supaya tidak bergaul dengannya. Namun, hati ini semakin kuat untuk berbicara dan berteman dengannya.

Sedikit demi sedikit saya dapat duduk bersama dan ngobrol-ngobrol ringan. Kadang di rumahnya, di angkringan, dan di lapangan bulu tangkis. Saya pun sangat menghindari obrolan-obrolan yang menyinggung perilakunya. Saya mencoba untuk tidak memberikan penilaian apapun padanya. Santai dan ringanlah yang selalu kami kemas dalam setiap perbincangkan. Pertemanan kami semakin hari semakin akrab. Sehingga pada suatu waktu dia mengajukan pertanyaan yang membuat hati saya terenyuh.

“Mas Wal” kata panggilan yang selalu ditujukkan kepadaku.

“Iya, ada apa?” Tanyaku.

“Mas Wal kan tahu kalau saya itu pemuda kampung yang setiap harinya tidak pernah absen mabuk-mabukan”.

“Ya, saya tahu itu, emangnya kenapa?” timpalku.

“Kenapa sih Mas mau bergaul dengan saya? Padahal yang saya tahu Mas kan pintar mengaji”.

“Lho, memangnya ada aturan yang melarang kalau orang pintar mengaji terus tidak boleh bergaul dengan pemabuk seperti kamu?”. Tanyaku.

“Bukannya begitu Mas! Selama ini orang-orang yang rajin ke masjid selalu menghindari saya. Saya merasa, diri saya ini diperlakukan seperti barang najis yang harus dihindari oleh mereka”. Keluhnya.

“Lho, jangan begitu dong! Setahu saya, kita tidak diperbolehkan su’udzan (berprasangka buruk) kepada orang lain. Kita positif thinking saja, mungkin mereka sedang sibuk dengan ibadahnya. Jadi, tidak sempat bergaul dengan kamu”. Tanggapku. Dia terdiam, tamPak kulit di keningnya mengerut dengan mata menatap tajam ke tanah dan sesekali menatap langit malam yang penuh dengan bintang-bintang berkilauan. Angin malam berhembus semilir dari relung-relung pohon bambu yang berada tepat di depan kami dan mengelus-elus wajah kami. Pelupuk mata atasku terasa pelan-pelan menutup keloPak. Aku pun pamitan sama dia untuk istirahat karena besok pagi ada program yang harus dikerjakan.

“Sorry, kayaknya saya harus kembali ke posko dulu nih. Nanti teman-teman bingung menjawabnya kalau Bu Dukuh mencari saya. Besok kita lanjutkan lagi. Makasih”. Pintaku.

“Oh ya, silahkan. Makasih dah mau mendengar curhatku”. Jawabnya.

Obrolan malam itu pun akhirnya terhenti sampai di situ. Aku pulang ke posko dan dia kembali ke angkringan. Dalam perjalanan menuju ke posko, hati dan pikiran ini ternyata terus bekerja. Ada satu kesimpulan yang cukup berharga dari perbincangan tadi, ternyata seorang pemabuk juga ingin diperhatikan dan dianggap sebagai manusia. Ada kemungkinan bahwa semakin menjadinya dia menjadi pemabuk ulung karena kita terburu-buru menghindarinya dengan meninggalkan atribut negatif kepadanya. Kita juga terburu-buru untuk menolong diri kita sendiri dan tidak sempat menolongnya saat pertama kali dia terjerumus ke dalamnya.

Saat sore bersiap diri menyapa malam, aku dan teman-teman satu kelompok jalan-jalan keliling kampung. Sesampainya di dekat sawah, kami melihat ada keributan sengit antara seorang pemuda dengan orang separuh baya. Rasa penasaran segera menyergap benak kami, ingin tahu siapa yang ribut, apa yang diributkan, dan ingin melerainya. Kami pun dengan segera mendekatinya. Eh ngga taunya pemuda itu si Dalijo.

“Eh...eh…eh ada apa nih kok Pake ribut-ribut segala?”. Kami mencoba melerainya.

“Ada apa sih Jo?”. Tanyaku pada Dalijo.

“Gini lho, dia menghina-hina ibuku”. Jawabnya.

“Kok bisa Pak, Anda menghina ibunya?”. Aku mencoba mencari alasan dari orang separuh baya tadi.

“Gini mas, ibunya dia punya banyak sekali hutang sama saya. Beberapa kali saya menagihnya, bukan uang yang saya dapatkan tapi hanya janji, janji, dan janji. Lama-lama saya pun ngga sabar dong mas?”. Begitulah alasannya.

“Ok! Pak, saya tahu bapak kesal sekali karena harapan baPak tidak terpenuhi. Tapi kan nggak harus dengan menghina, Pak?”.

“Ya, mau gimana lagi Mas, saya kesal sih karena dah lama hutangnya”. Bapak ini mengungkapkan alasannya kembali.

“Gimana kalau begini saja, Jo tolong kamu sampaikan ke ibumu kalau baPak ini sangat membutuhkan uang dan dia ingin ibumu segera membayar hutangnya. Karena bagaimanapun yang namanya hutang harus dibayarkan. Dan untuk baPak, saya mohon jangan mudah untuk menghina orang lain karena itu urusannya akan berdamPak lebih besar. Saya pikir masalah ini dapat dibicarakan dengan baik-baik dan kekeluargaan. Bagaimana sanggup nggak? Kalau sanggup sekarang saling minta maaf, ayo Jo!”.

Akhirnya mereka berdua saling berjabat tangan dan meminta maaf. Ada satu hal yang menjadi cacatan saya di sini. Jo, walaupun sikap dan perilaku di masyarakatnya kurang mendapat apresiasi yang baik dia tetaplah seorang anak yang cinta dan sayang dengan orang tuanya. Sehingga dia memberanikan diri membalas hinaan dari orang lain yang ditujukan kepada ibunya. Hanya saja caranya yang kurang tepat.

Keributan yang terjadi di tepian sawah itupun akhirnya selesai seiring datangnya malam. Suasana kampung tamPak gelap gulita, apalagi mendung tamPak mengelantung tebal di langit. Kami pun segera kembali ke posko untuk melaksanakan shalat maghrib dan mempersiapkan segala keperluan untuk suksesnya pelaksanaan program pada malam itu.

Rencananya program malam itu dilaksanakan jam 20.00 WIB. Program itu adalah seminar dengan tema “Bahaya dan Cara Penularan HIV/AIDS” yang akan diikuti oleh para remaja kampung. Saat sedang menata segala keperluan yang dibutuhkan tiba-tiba mati lampu. Selang beberapa menit hujan turun dengan begitu derasnya mengguyur kampung. Saya dan teman-teman hanya bisa menatap buih-buih air hujan yang semakin lama semakin deras. Badan terasa sangat lemas menggulai.

“Piye iki?” salah seorang teman mengadu.

“Lah gimana lagi, kita tunggu saja sampai reda!”. Jawabku.

“Sampai kapan?”. Teman yang lain menyahut.

“Sekarang kamu tanya sama Pak Dukuh, punya lampu petromak tidak. Kalau punya kita pinjam dan segera nyalakan!”. Perintahku. Kebetulan saya diberi amanat oleh kampus untuk memimpin mereka. Ternyata Pak Dukuh punya dan kemudian kita nyalakan. Dalam hati saya hanya satu waktu itu, program ini harus terlaksana.

Ketika kita semua sedang kebingungan, dari guyuran hujan datang seorang lelaki tua naik motor dengan baju yang basah kuyup.

“Assalamu’alaikum”. Dia menyapa.

“Wa’alaikum salam” Pak Dukuh menjawabnya.

“BaPak siapa, dan mau ketemu siapa? Tanya Pak Dukuh.

“Saya Harjo, apa benar ini rumah Pak Dukuh yang malam ini mau ada program penyuluhan HIV/ AIDS yang diadakan oleh anak-anak KKN?”

“Benar, lah bapak keperluannya apa?

“Saya pembicaranya Pak” Jawabnya.

“Silahkan duduk dulu Pak, maaf gelap, ini tadi baru mati lampu”. Pinta Pak Dukuh.

“Mas Wal, ini pembicaranya sudah datang!”. Panggil Pak Dukuh. Kebetulan saya sedang berada di belakang.

“Sini Mas Wal, ini lho Pak, ketua kelompoknya”. Pak Dukuh memperkenalkan saya dengan Pak Harjo. Saya pun akhirnya ngobrol-ngobrol dengan Pak Harjo. Hujan belum juga reda, tapi di tengah-tengah lebatnya hujan ada sesosok orang dengan menggunakan payung mendekat ke posko kami.

“Permisi”. Dia menyapa.

“Monggo (silahkan), monggo sini Mas” Pak Dukuh mempersilahkan. Eh, ternyata Dalijo. Dialah pemuda pertama yang hadir malam itu. Selang beberapa saat pemuda dan pemudi lainnya berdatangan di tengah guyuran hujan. Saat itu juga hati kami merasa terharu. Ternyata mereka rela menghadiri acara yang telah kami programkan dengan menerjang derasnya hujan. Dari hati kami yang terdalam tidak ada kata yang bisa terucap kecuali rasa syukur yang sangat kepada Allah SWT.

Akhirnya acara pada malam hari itupun berjalan dengan semestinya dan selesai pukul 23.30 WIB. Catatan buat Dalijo tanpa mengesampingkan yang lainnya. Dialah orang yang selalu datang pertama sendiri dalam setiap program acara yang kami laksanakann. Salutnya lagi, walaupun setiap jam 23.00 dia selalu berkumpul di angkringan dengan teman-temannya dan mabuk-mabukan, tapi dia belum akan ke sana jika program yang kami laksanakan belum kelar.
Dari sosok Dalijo inilah Allah SWT memberikan ilmu yang sangat luar biasa kepada saya. Ilmu untuk bisa mengerti orang lain, tidak mengucilkan orang lain, dan ilmu yang memberitahuku bahwa sebenarnya Tuhan tidaklah akan pergi dari diri setiap orang bagaimanapun kondisi orang tersebut, hanya kadang-kadang kitalah yang menjauhi-Nya sehingga merasa dengan menyalahkan dan mengkambing hitamkan bahwa Tuhan telah menjauhi kita. Spirit Tuhan ada dalam setiap manusia, mengapa kita mesti harus saling membenci?. Untuk Dalijo semoga Allah SWT menunjukkan jalan yang lurus kepadamu. Amin.






Comments

16 Response to 'HATI SEORANG PEMABUK'

  1. Unknown
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242117120000#c2417469466714467540'> May 12, 2009 at 1:32 AM

    selalu ada hikmah di setiap peristiwa
    plezzz...tetep konsisten untuk terus Syi'ar....

     

  2. LazyKing
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242141300000#c5800121871220457788'> May 12, 2009 at 8:15 AM

    thanks for your comment in my blog.
    I cant read your language, sorry.
    PS: Your blog is simple and the colors are really nice

     

  3. TRIMATRA
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242144600000#c2003321886793891947'> May 12, 2009 at 9:10 AM

    semoga sekarang dalijo telah dekat denganNYA dan meninggalkan kebiasaan buruknya lewat contoh tauladan yg diberikan teman2 KKN dulu.

     

  4. serpihan jiwa
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242193860000#c6090660381810521879'> May 12, 2009 at 10:51 PM

    siapa orangnya yg diasingkan n dikucilkan tak kan pnah mau
    "lebih baik mengasingkan diri daripada diasingkan"
    Hidup Ini Indah Kok....so syukur

     

  5. Ani
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242305640000#c3133259219447915168'> May 14, 2009 at 5:54 AM

    Postingan yang sungguh panjang tapi dapat diambil hikmahnya. Semoga saya juga bisa menjadi bagian dari orang2 yang bisa mengerti orang lain.

     

  6. indoneter
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242334620000#c1046769246953268523'> May 14, 2009 at 1:57 PM

    kadang kita emang lupa untuk bersukur atas semua kelebihan dan kekurangan..

     

  7. indoneter
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242388560000#c1740299003117872083'> May 15, 2009 at 4:56 AM

    saling memahami itu memang perlu, tanpa melihat kekurangan pada orang lain..

     

  8. mama hilda
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242421140000#c6962847124045159357'> May 15, 2009 at 1:59 PM

    semoga Dalijo mendapatkan pencerahan ya..
    kadang secara tidak kita sadari, dari sekeliling kita sebetulnya banyak sekali pelajaran yang dapat kita ambil, hanya saja tidak semua orang dapat mencerna pesan-pesan tidak langsung tersebut.

     

  9. mata
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242438960000#c1025641860946529164'> May 15, 2009 at 6:56 PM

    jadi ingat serial PPT sebut saja si bahak ( pemabuk ) yang mengingatkan kiblat mushola yang melenceng. kenapa mesti seorang pemabuk yang mengingatkan yah ???

     

  10. Jayadi Gusti
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242459180000#c7336795935157887266'> May 16, 2009 at 12:33 AM

    Kalau Dalijo tetap dalam kebiasaannya, tetapi ia menambah kegiatannya dengan ikutan acara, salah satunya karena ia merasa kamu mau menerimanya, Wal. Percaya orang lain dapat menerima kita apa adanya, adalah pembuka berharga untuk bersama meraih bahagia.

     

  11. quinie
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242478560000#c3406045811374532'> May 16, 2009 at 5:56 AM

    setiap orang emang dasarnya baik kok. Btw, makasi udah mampir di quinie-se sayah yaa :)
    mampir & salam kenal ya pak :)

     

  12. Gudang Hikmah
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242616440000#c8042160248375133914'> May 17, 2009 at 8:14 PM

    Cerita yang penuh dengan hikmah. makasih.

     

  13. budhi
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242664920000#c2821601462734295899'> May 18, 2009 at 9:42 AM

    Dari Pada Ribut....
    Mari Kita Saling Berbagi Menata Masa Depan.Luangkan Waktu Sejenak..Silahkan Cermati Bisnis Unik Karya Pakar IT Profesional Ini...Salam Sukses...Sukse Anda Sukses Kita Semua

     

  14. Dj Tri
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242697980000#c5785028626879569884'> May 18, 2009 at 6:53 PM

    Ass Wr. Wb

    Boeat Pak Ustad Waluyo, terima kasih telah mengisi komentar diBlog community-event, yaitu blog saya yg saya khususnya utk para komunitas yg suka nonton event.

    Pak Ustad kok bisa buat di facebook ya. wah aku sampe blenger bikin register difacebook gak bisa terus.. minta tipsnya ya pak ustad.
    dan lewat ini kami juga mengudang pak ustad utk masuk juga diblog saya yg lain yaitu www.komjalan.blogspot.com blog ini diperioritaskan utk penikmat yg suka Jalan-jalan... hehehe.


    ok aku tunggu.
    Thank's
    Wassalam,
    Dj Tri.

     

  15. Elsa
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242704520000#c5129601112254338705'> May 18, 2009 at 8:42 PM

    subhanallah...
    nice story!

     

  16. ammadis
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html?showComment=1242820736858#c7187362736914596968'> May 20, 2009 at 4:58 AM

    Reunian model fb sekarang banyak kejadian yaa...