oleh

Waluyo

Kemarin sore seorang teman berkunjung ke kamarku. Namanya Gabriel. Dia temanku sewaktu masih study di kampus. Begitu masuk kamar, matanya memandang ke sana ke mari sepertinya ada sesuatu yang ingin dicari. Melihat perilaku temenku itu, sayapun cuek. Lima menit, sepuluh menit saya tunggu sampai dia mengatakan sesuatu. Tepat di menit ke sebelas gugusan sistemik huruf pun mendesir pelan dari mulutnya. “oalah Yo, kamar kok kayak gudang, kotor dan penuh dengan debu. Mbo’yao dibersihkan to!” ucapnya. Rupanya kotoran dan debu yang ada di kamarku telah mengganggu pemandangannya. Ucapannya ternyata pelan-pelan menstimulasi hati dan akalku sehingga tanpa sadar mulutku ini sedikit membuka dengan rasa manisnya.

“He! Kok hanya senyum saja to?” ternyata senyumku juga telah memancing emosi dia.

“Ya biarin saja kotor dan berdebu!” timpalku.

Ku tatap wajahnya dengan tajam. Rupanya telinga dia makin panas mendengar jawabanku.

“Dasar malas, jorok!”. Hardiknya.

Mendengar hardikannya bibir ini pun kembali tersungging, namun kali ini aku sendiri tidak tahu apakah masih semanis tadi ataukah tidak. Sekali lagi hati dan pikiranku terpengaruh oleh ucapannya “kenapa dia dengan enaknya menjatuhkan penilaian kepadaku? Kenapa dia tidak mencoba untuk bertanya kenapa kamu biarkan debu dan kotoran itu ada di kamarmu?”

“Aku bingung” jawabku.

“Bingung kenapa? Wong tinggal nyapu sebentar saja kok. Berat apa?” tanyanya. Aku pun terdiam, mencoba menata hati dan pikiran supaya netral kembali dengan sesekali menarik nafas dan menyebulkannya kembali.

“Begini ya, saya ngga enak sama dia. Kita di dunia ini kan sama-sama hanya numpang. Jadi, keberadaannya di kamar ini sama dengan saya. Karena sama itulah, dia ketika masuk ke kamar ini pun tidak perlu meminta ijin saya. Begitu juga ketika dia ingin meninggalkannya. Dan yang harus kamu ketahui, dia di sini sama sekali tidak menggangguku, bahkan keberadaan dia di sini sangat membuatku nyaman. Walaupun sebenarnya ada juga yang terganggu dan menghindari dia. Nyamuk ternyata enggan main ke kamar ini. Saya pun sadar bahwa nyamuk juga punya hak atas kamar ini, tapi dia mengangguku. Kamu tahu sendiri kan, kalau saya orang yang paling tidak suka diganggu!”

Mendengar penjelasanku, dia hanya terdiam membisu. Namun, terlihat olehku keningnya naik turun dan tangannya yang selalu bergerak menyeimbangkan gesturenya seolah sedang menyusun kata-kata baru yang akan disampaikan kembali kepadaku. Rupanya dia masih belum puas dengan penjelasan yang telah aku sampaikan. Melihat gelagatnya seperti itu, aku pun mencoba untuk menunggunya. Ternyata dugaanku benar, dari mulutnya meluncur rangkaian gerbong kereta kata-kata yang memanjang.

“Dasar orang aneh! Dikasih tahu malah berhujjah. Kamu kan tahu bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Kenapa itu tidak kamu laksanakan?”. Umpat dan tanyanya.

Lagi-lagi ucapannya menstimulasi hati dan akalku. Kembali akupun terdiam senyap dalam desiran rasa hanyat yang menyelimuti hati ini.

“Ya, jujur aku tahu Hadits itu. Bahkan aku nggak tahu sudah berapa juta kali hadits itu masuk ke telinga ini. Namun, sampai detik ini saya masih berusaha melaksanakan titah itu sesuai proporsinya. Saya tidak ingin memaksakan pelaksanaan suatu titah Rasul tidak pada proporsinya. Sudahlah, saya tidak mau memperdebatkan keberadaan kotoran dan debu yang ada di kamar ini terlalu panjang. Kita keluar saja yuk, lapar nih. Lain kali saja kita cari waktu yang tepat untuk mendiskusikan masalah ini, gimana? Maaf lho kalau dah bikin kamu merasa nggak nyaman!”.

Rupanya dia juga lapar.

“Ya, yuk, tapi janji lho, lain kali kita diskusi lagi masalah ini?” kejarnya.

“Ya”

Sejak itulah perdebatan terhenti. Kami pun keluar mencari rumah makan, namun selama perjalanan hati dan akal ini terus bertanya “apakah yang saya lakukan ini benar? Ya Allah maafkanlah diri rendah ini apabila telah melakukan kesalahan. Benar dan salah hanyalah Engkau semata yang Maha Mengetahui Segalanya. Jika apa yang telah hamba lakukan ini benar, baik dan sesuai bagi hamba istiqamahkanlah dan jika salah, hamba memohon ampunan-Mu dan bimbinglah hamba ke jalan petunjuk”.

Comments

9 Response to 'GARA-GARA KOTORAN DAN DEBU DI KAMAR'

  1. Memburu Social Bookmarking
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/gara-gara-kotoran-dan-debu-di-kamar.html?showComment=1241959200000#c4975765901372717485'> May 10, 2009 at 5:40 AM

    pertamaaxx

     

  2. eri-communicator
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/gara-gara-kotoran-dan-debu-di-kamar.html?showComment=1241962560000#c7003881902352551840'> May 10, 2009 at 6:36 AM

    blog walking sembari mengucapkan selamat malam dan memberikan senyuman yg hangat kesobat :)

     

  3. eri-communicator
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/gara-gara-kotoran-dan-debu-di-kamar.html?showComment=1241962680000#c1378919414962017518'> May 10, 2009 at 6:38 AM

    Perlu nyari pembantu nih mas, biar kamar nya tidak ada kotoran dan debu lagi

     

  4. TRIMATRA
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/gara-gara-kotoran-dan-debu-di-kamar.html?showComment=1241976180000#c2080991571736417438'> May 10, 2009 at 10:23 AM

    bikin kapling dulu ah...mumpung pertamaxxxxswe

     

  5. TRIMATRA
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/gara-gara-kotoran-dan-debu-di-kamar.html?showComment=1241976480000#c2008954720505627217'> May 10, 2009 at 10:28 AM

    saat menemukan jawabannya jangan lupa kabari aku, sebab akupun ingin belajar mencari kesejatian hidup meski pada sebutir debu. hihihik...

     

  6. suwung
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/gara-gara-kotoran-dan-debu-di-kamar.html?showComment=1242037800000#c4555265183821433302'> May 11, 2009 at 3:30 AM

    masih untung daripada bersih dari perabotan

     

  7. soewoeng plasu
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/gara-gara-kotoran-dan-debu-di-kamar.html?showComment=1242037860000#c5515424982206651668'> May 11, 2009 at 3:31 AM

    kalo bersih dari perabotan malah susah mas

     

  8. Newsoul
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/gara-gara-kotoran-dan-debu-di-kamar.html?showComment=1242038580000#c7867606867758684167'> May 11, 2009 at 3:43 AM

    Kadang-kadang saya merasa diri saya cuma debu yang berterbangan, seorang tmn pernah berkata spt itu. Saat itu, sy cm bs menatapnya sj. Kita cm debu2 yg berterbangan mengisi dunia, katanya lagi. Dan sy tambah bengong, hiks. Salam kenal juga.

     

  9. Jayadi Gusti
    http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/gara-gara-kotoran-dan-debu-di-kamar.html?showComment=1242098640000#c6020143371850711892'> May 11, 2009 at 8:24 PM

    Orang memang gampang menempatkan orang lain pada posisi "dinilai", bukan "penilai" ... sehingga hanya bisa selesai jika sama-sama LAPAR! ... eh ... maksudku bila kedua belah pihak lapar untuk mendapat kebenaran dari lawan bicaranya.