Waluyo
Buka facebook…eh nggak tahunya ada pesan. Rasa penasaran dengan segera memprovokasi hati dan pikiran untuk menggerakkan tangan agar segera membukanya. Ssssss……….tttt….byar….ooooohhhh….dari Ema sang pengantin baru, selamat ya semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah amin. Dia adalah teman satu angkatan, satu jurusan, dan satu fakultas sewaktu kuliah. Namun, mulai benar-benar menjadi teman sewaktu KKN (Kuliah Kerja Nyata, maaf bukan Kumpul Kebo Nyamun lho). Kebetulan dia satu kelompok dengan saya.
“Pak De” begitulah dia sering memanggilku, tidak tahu riwayatnya mengapa dia memanggilku seperti itu, mungkin karena saya lebih tua darinya atau karena kebetulan tubuhku lumayan gemuk.
“Saya tadi diSMS sama Edi, pemuda kampung dulu kita KKN, katanya, ibu-ibu kelompok Dasa Wisma kangen sama celoteh sok religiusnya kamu. Cepetan ke sana nanti pada sakit lho”. Itulah penggalan pesan dari Ema.
Saat itulah memori di otak saya pelan-pelan meload kembali file-file kenangan sewaktu KKN dulu. Ada satu file yang membuat hati kembali mengharu biru. Satu file kenangan itu tidak mungkin dapat saya luPakan begitu saja. Seorang pemuda kurus, kakek tua, hujan deras, mati lampu, angkringan, dan mobil sedan dengan tulisan maaf “iblis”nya yang menghiasi kaca belakang serentak muncul dengan jelasnya di benak saya.
Dalijo, katakanlah dia namanya. Pemuda kampung yang ceking, kurus, beringas, dan ya’ ya’ an (perasaan diri paling yes). Atribut ini saya simpulkan bukannya tanpa indikator. Badannya kecil, rambutnya pirang, matanya merah, ucapannya nylekit (menyinggung perasaan), mudah tersinggung, dan kalau naik motor kencangnya bukan main. Parahnya lagi hampir setiap malam jam 23.00 WIB dia selalu hang out sama kelompoknya di sebuah angkringan di dekat masjid. Tidak ada aktivitas lain atau pokok di tempat itu kecuali “maaf” minum-minuman keras alias mabuk.
Tampang dan perilaku Dalijo yang seperti itu tidak kemudian menyurutkan hati saya untuk mencoba berteman dengannya. Prinsip saya hanya satu “di dalam hatinya pasti ada Tuhan”. Satu keyakinan itulah yang memotivasi saya untuk mencoba dan mencoba mendekatinya. Pada awalnya memang rasanya sangat canggung. Karena dia tamPaknya sangat apatis terhadap orang pendatang baru. Kecanggungan itu kemudian tamPak membahana saat warga kampung lainnya memberi peringatan kepada saya supaya tidak bergaul dengannya. Namun, hati ini semakin kuat untuk berbicara dan berteman dengannya.
Sedikit demi sedikit saya dapat duduk bersama dan ngobrol-ngobrol ringan. Kadang di rumahnya, di angkringan, dan di lapangan bulu tangkis. Saya pun sangat menghindari obrolan-obrolan yang menyinggung perilakunya. Saya mencoba untuk tidak memberikan penilaian apapun padanya. Santai dan ringanlah yang selalu kami kemas dalam setiap perbincangkan. Pertemanan kami semakin hari semakin akrab. Sehingga pada suatu waktu dia mengajukan pertanyaan yang membuat hati saya terenyuh.
“Mas Wal” kata panggilan yang selalu ditujukkan kepadaku.
“Iya, ada apa?” Tanyaku.
“Mas Wal kan tahu kalau saya itu pemuda kampung yang setiap harinya tidak pernah absen mabuk-mabukan”.
“Ya, saya tahu itu, emangnya kenapa?” timpalku.
“Kenapa sih Mas mau bergaul dengan saya? Padahal yang saya tahu Mas kan pintar mengaji”.
“Lho, memangnya ada aturan yang melarang kalau orang pintar mengaji terus tidak boleh bergaul dengan pemabuk seperti kamu?”. Tanyaku.
“Bukannya begitu Mas! Selama ini orang-orang yang rajin ke masjid selalu menghindari saya. Saya merasa, diri saya ini diperlakukan seperti barang najis yang harus dihindari oleh mereka”. Keluhnya.
“Lho, jangan begitu dong! Setahu saya, kita tidak diperbolehkan su’udzan (berprasangka buruk) kepada orang lain. Kita positif thinking saja, mungkin mereka sedang sibuk dengan ibadahnya. Jadi, tidak sempat bergaul dengan kamu”. Tanggapku. Dia terdiam, tamPak kulit di keningnya mengerut dengan mata menatap tajam ke tanah dan sesekali menatap langit malam yang penuh dengan bintang-bintang berkilauan. Angin malam berhembus semilir dari relung-relung pohon bambu yang berada tepat di depan kami dan mengelus-elus wajah kami. Pelupuk mata atasku terasa pelan-pelan menutup keloPak. Aku pun pamitan sama dia untuk istirahat karena besok pagi ada program yang harus dikerjakan.
“Sorry, kayaknya saya harus kembali ke posko dulu nih. Nanti teman-teman bingung menjawabnya kalau Bu Dukuh mencari saya. Besok kita lanjutkan lagi. Makasih”. Pintaku.
“Oh ya, silahkan. Makasih dah mau mendengar curhatku”. Jawabnya.
Obrolan malam itu pun akhirnya terhenti sampai di situ. Aku pulang ke posko dan dia kembali ke angkringan. Dalam perjalanan menuju ke posko, hati dan pikiran ini ternyata terus bekerja. Ada satu kesimpulan yang cukup berharga dari perbincangan tadi, ternyata seorang pemabuk juga ingin diperhatikan dan dianggap sebagai manusia. Ada kemungkinan bahwa semakin menjadinya dia menjadi pemabuk ulung karena kita terburu-buru menghindarinya dengan meninggalkan atribut negatif kepadanya. Kita juga terburu-buru untuk menolong diri kita sendiri dan tidak sempat menolongnya saat pertama kali dia terjerumus ke dalamnya.
Saat sore bersiap diri menyapa malam, aku dan teman-teman satu kelompok jalan-jalan keliling kampung. Sesampainya di dekat sawah, kami melihat ada keributan sengit antara seorang pemuda dengan orang separuh baya. Rasa penasaran segera menyergap benak kami, ingin tahu siapa yang ribut, apa yang diributkan, dan ingin melerainya. Kami pun dengan segera mendekatinya. Eh ngga taunya pemuda itu si Dalijo.
“Eh...eh…eh ada apa nih kok Pake ribut-ribut segala?”. Kami mencoba melerainya.
“Ada apa sih Jo?”. Tanyaku pada Dalijo.
“Gini lho, dia menghina-hina ibuku”. Jawabnya.
“Kok bisa Pak, Anda menghina ibunya?”. Aku mencoba mencari alasan dari orang separuh baya tadi.
“Gini mas, ibunya dia punya banyak sekali hutang sama saya. Beberapa kali saya menagihnya, bukan uang yang saya dapatkan tapi hanya janji, janji, dan janji. Lama-lama saya pun ngga sabar dong mas?”. Begitulah alasannya.
“Ok! Pak, saya tahu bapak kesal sekali karena harapan baPak tidak terpenuhi. Tapi kan nggak harus dengan menghina, Pak?”.
“Ya, mau gimana lagi Mas, saya kesal sih karena dah lama hutangnya”. Bapak ini mengungkapkan alasannya kembali.
“Gimana kalau begini saja, Jo tolong kamu sampaikan ke ibumu kalau baPak ini sangat membutuhkan uang dan dia ingin ibumu segera membayar hutangnya. Karena bagaimanapun yang namanya hutang harus dibayarkan. Dan untuk baPak, saya mohon jangan mudah untuk menghina orang lain karena itu urusannya akan berdamPak lebih besar. Saya pikir masalah ini dapat dibicarakan dengan baik-baik dan kekeluargaan. Bagaimana sanggup nggak? Kalau sanggup sekarang saling minta maaf, ayo Jo!”.
Akhirnya mereka berdua saling berjabat tangan dan meminta maaf. Ada satu hal yang menjadi cacatan saya di sini. Jo, walaupun sikap dan perilaku di masyarakatnya kurang mendapat apresiasi yang baik dia tetaplah seorang anak yang cinta dan sayang dengan orang tuanya. Sehingga dia memberanikan diri membalas hinaan dari orang lain yang ditujukan kepada ibunya. Hanya saja caranya yang kurang tepat.
Keributan yang terjadi di tepian sawah itupun akhirnya selesai seiring datangnya malam. Suasana kampung tamPak gelap gulita, apalagi mendung tamPak mengelantung tebal di langit. Kami pun segera kembali ke posko untuk melaksanakan shalat maghrib dan mempersiapkan segala keperluan untuk suksesnya pelaksanaan program pada malam itu.
Rencananya program malam itu dilaksanakan jam 20.00 WIB. Program itu adalah seminar dengan tema “Bahaya dan Cara Penularan HIV/AIDS” yang akan diikuti oleh para remaja kampung. Saat sedang menata segala keperluan yang dibutuhkan tiba-tiba mati lampu. Selang beberapa menit hujan turun dengan begitu derasnya mengguyur kampung. Saya dan teman-teman hanya bisa menatap buih-buih air hujan yang semakin lama semakin deras. Badan terasa sangat lemas menggulai.
“Piye iki?” salah seorang teman mengadu.
“Lah gimana lagi, kita tunggu saja sampai reda!”. Jawabku.
“Sampai kapan?”. Teman yang lain menyahut.
“Sekarang kamu tanya sama Pak Dukuh, punya lampu petromak tidak. Kalau punya kita pinjam dan segera nyalakan!”. Perintahku. Kebetulan saya diberi amanat oleh kampus untuk memimpin mereka. Ternyata Pak Dukuh punya dan kemudian kita nyalakan. Dalam hati saya hanya satu waktu itu, program ini harus terlaksana.
Ketika kita semua sedang kebingungan, dari guyuran hujan datang seorang lelaki tua naik motor dengan baju yang basah kuyup.
“Assalamu’alaikum”. Dia menyapa.
“Wa’alaikum salam” Pak Dukuh menjawabnya.
“BaPak siapa, dan mau ketemu siapa? Tanya Pak Dukuh.
“Saya Harjo, apa benar ini rumah Pak Dukuh yang malam ini mau ada program penyuluhan HIV/ AIDS yang diadakan oleh anak-anak KKN?”
“Benar, lah bapak keperluannya apa?
“Saya pembicaranya Pak” Jawabnya.
“Silahkan duduk dulu Pak, maaf gelap, ini tadi baru mati lampu”. Pinta Pak Dukuh.
“Mas Wal, ini pembicaranya sudah datang!”. Panggil Pak Dukuh. Kebetulan saya sedang berada di belakang.
“Sini Mas Wal, ini lho Pak, ketua kelompoknya”. Pak Dukuh memperkenalkan saya dengan Pak Harjo. Saya pun akhirnya ngobrol-ngobrol dengan Pak Harjo. Hujan belum juga reda, tapi di tengah-tengah lebatnya hujan ada sesosok orang dengan menggunakan payung mendekat ke posko kami.
“Permisi”. Dia menyapa.
“Monggo (silahkan), monggo sini Mas” Pak Dukuh mempersilahkan. Eh, ternyata Dalijo. Dialah pemuda pertama yang hadir malam itu. Selang beberapa saat pemuda dan pemudi lainnya berdatangan di tengah guyuran hujan. Saat itu juga hati kami merasa terharu. Ternyata mereka rela menghadiri acara yang telah kami programkan dengan menerjang derasnya hujan. Dari hati kami yang terdalam tidak ada kata yang bisa terucap kecuali rasa syukur yang sangat kepada Allah SWT.
Akhirnya acara pada malam hari itupun berjalan dengan semestinya dan selesai pukul 23.30 WIB. Catatan buat Dalijo tanpa mengesampingkan yang lainnya. Dialah orang yang selalu datang pertama sendiri dalam setiap program acara yang kami laksanakann. Salutnya lagi, walaupun setiap jam 23.00 dia selalu berkumpul di angkringan dengan teman-temannya dan mabuk-mabukan, tapi dia belum akan ke sana jika program yang kami laksanakan belum kelar.
Dari sosok Dalijo inilah Allah SWT memberikan ilmu yang sangat luar biasa kepada saya. Ilmu untuk bisa mengerti orang lain, tidak mengucilkan orang lain, dan ilmu yang memberitahuku bahwa sebenarnya Tuhan tidaklah akan pergi dari diri setiap orang bagaimanapun kondisi orang tersebut, hanya kadang-kadang kitalah yang menjauhi-Nya sehingga merasa dengan menyalahkan dan mengkambing hitamkan bahwa Tuhan telah menjauhi kita. Spirit Tuhan ada dalam setiap manusia, mengapa kita mesti harus saling membenci?. Untuk Dalijo semoga Allah SWT menunjukkan jalan yang lurus kepadamu. Amin.
oleh
Waluyo
“Manusia adalah tanah”
Setujukah Anda dengan ungkapan di atas? Setuju boleh, tidak juga itu hak Anda. Kita demokrasi saja. Namun, coba baca, fahami, renungkan, ajukanlah pertanyaan pada diri sendiri, dan kemudian ungkapkanlah sebagai sebuah pendapat. Jangan takut salah, karena di sini tidak ada penilaian benar dan salah. Semua pendapat akan mendapat penghargaan yang sama sebagai ”MANUSIA SEJATI” karena keberaniannya mengungkapkan pendapat.
Sudah belum? Kalau belum, bagaimana kalau saya dulu. Bolehkah? Kok diam saja? Ok! Kata orang bijak diam juga pendapat, yang berarti setuju. Terima kasih.
Manusia dalam hidup ini pasti selalu berhubungan dengan tanah. Dalam beberapa referensi dikatakan bahwa manusia itu terbuat dari sari tanah atau unsur-unsur yang ada dalam tanah. Selain itu kita juga hidup di atas tanah. Adakah yang memungkiri hal ini? Bahkan ketika di rumah, atap dan dinding rumah kita juga ada yang terbuat dari tanah. Tidak sekedar itu saja, seberapa pun kekuatan kita untuk terbang tinggi ke angkasa, tanah ternyata juga akan menarik dengan kekuatannya yang luar biasa, yaitu gaya gravitasi. Coba renungkan sekali lagi!......... Eh! Jangan terlalu serius kayak gitu! Santai saja kawan! Slowly, softy, easy going! Sudah belum? Kalau sudah cobalah ajukan pertanyaan semisal, mengapa hidup kita sangat lekat dengan tanah? Tidak hanya ketika kita hidup, sudah mati pun tanahlah yang menemani kita. Sebenarnya, ada apa dengan tanah? Dan pesan apakah yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita lewat tanah ini?
Ok! Mari kita coba telusuri pelan-pelan! Namun, sebelumnya bagaimana kalau kita relaksasi sebentar biar otak kita ini encer. Saya pandu ya? Ok! Sekarang lemaskan dulu otot-otot tubuh kita, jangan ada yang ditekuk. Ambil nafas pelan-pelan lewat hidung, bawa ke perut, tahan sebentar, ya lepaskan pelan-pelan lewat hidung. Lagi…lagi…sekali lagi. Sip! Gimana? Dah lumayan? Nah kalau sudah, sekarang kita bisa mulai.
Adakah dari kita yang belum pernah menginjakkan kakinya di atas tanah? Tolong jawab dengan jujur! Saat kita menginjakkan kaki di atas tanah, pernahkah kita berfikir dan merasakan perilaku kita? Coba bayangkan kalau kita sedang menginjak tanah dengan kaki telajang…..berfikirlah tentang itu….rasakan perilaku itu dengan hati! Apa yang anda fikirkan dan renungkan? Apapun itu simpanlah dulu!
Baik! Sekarang ungkapkan dan jangan berargumen!
Good! Anda telah berhasil di tahap awal. Bersendawalah! Mungkin itu dapat mengurangi ketegangan.
Sekarang peganglah tangan atau tengkuk anda, kemudian gosoklah sehingga keluar sesuatu dari kulit itu! Sudah keluar? Apa itu?
Apa di dekat anda ada makanan? Kalau ada, kira-kira makanan itu berasal dari tanaman yang tumbuh di tanah bukan? Atau pernahkah anda memakan atau meminum sesuatu yang tidak pernah bersentuhan dengan tanah?
Anda sudah punya jawabannya? Kalau sudah, coba tengok kembali kaki kita! Apakah tanah ada di bawah kaki kita? Bisakah kita berempati? Biar empati kita bisa lebih mengena, cobalah untuk meninggalkan ego kita. Apa yang anda rasakan?
Bukankah posisi tanah ada di bawah kita? Samakah derajatnya dengan kita? Apakah anda merasa lebih mulia daripadanya?
Walapun tanah berada di bawah telapak kaki kita, namun jika kaki kita mengalami masalah pastilah dapat merasakan sesuatu darinya yang menggelitik, sehingga kadar-kadang menjadikan kita berusaha menghindarinya dengan cara apapun. Ini artinya, tidaklah selamanya bahwa sesuatu yang selalu berada di bawah kita itu tidak memiliki potensi. Untuk dapat lebih memahaminya, tengoklah dinding rumah anda! Dinding yang selalu anda gunakan untuk berlindung dari kenakalan angin malam atau ancaman para penjahat. Apakah dinding rumah anda terbuat dari batu bata? Setahu anda batu bata terbuat dari apa?
Atau tataplah atap rumah anda? Apakah atap rumah anda berupa genteng? Dari apa pula genteng itu terbuat? Apakah tanah liat dengan sendirinya dapat menjadi genteng? Di bawahnyalah kita berlindung dari hujan dan terik matahari.
Tanah liat berubah menjadi batu bata atau genteng semuanya melalui proses yang panjang dan tidak mudah. Apakah anda tahu prosesnya?
Tanah lihat harus diolah dengan berbagai campuran yang mendukungnya. Kemudian dia dibentuk, dijemur di bawah terik matahari yang panas, dirapihkan, dan kemudian di dibakar di api dengan suhu yang sangat tinggi. Kita bayangkan betapa tersiksanya dia. Itupun belum ada jaminan apakah dia akan berhasil menjadi batu bata atau genteng yang berkualitas. Karena biasanya ada yang merah bagus dan tidak sedikit yang setengah hitam setengahnya lagi merah, malah kadang-kadang patah. Batu bata atau genteng yang merah biasanya memiliki kwalitas yang tinggi sehingga daya jualnya pun mahal dan diapun siap untuk menjadi dinding yang kokoh atau menjadi atap rumah yang bisa melindungi para manusia atau hewan-hewan yang ada di bawahnya. Tapi, bagaimana nasib batu bata atau genteng yang setengah hitam setengah merah? Bagaimana daya jualnya? Apakah dia akan menjadi dinding yang kokoh atau menjadi atap yang tidak mudah bocor? Biasanya dia paling-paling akan kembali menjadi pijakan manusia dan tragisnya lagi dia tidak bisa membantu tumbuh-tumbuhan untuk dapat tumbuh dengan baik, malah umumnya dia akan menghalangi perkembangan tumbuh-tumbuhan.
Bagaimana? Seberapa banyakkah sesuatu di dunia ini yang jika diinginkan dapat terwujud dengan instants. Para orang sukses di dunia ini menjadi sukses tidaklah mereka meraihnya dalam waktu sekecap, tapi butuh waktu yang panjang dan perjuangan yang tak pernah kenal lelah. Mereka awalnya rata-rata juga orang biasa sebagaimana kita, namun mereka mau bekerja dari nol. Mereka tidak mempunyai apa-apa, hanya keinginan, kemauan, semangat, dan bertindaklah yang selalu melekat dan menghiasi dirinya. Dalam perjalanan menuju kesuksesan itu juga banyak kerikil-kerikil tajam yang kadang dapat melukai kulit bahkan mengancam jiwanya, tapi semua itu oleh mereka dianggap sebagai ujian yang apabila mereka mampu melewatinya maka akan lulus dan naik kelas. Kesuksesan itu tadak hanya berarti untuk dirinya sendiri, orang lain juga merasakannya.
Kita dapat belajar dari orang-orang yang katakanlah bisa dianggap sukses di negeri ini, seperti ust. Lihan, Dahlan Iskan, Ciputra, dan masih banyak lainnya. Dulu mereka bukanlah siapa-siapa, namun sekarang siapa yang tidak mengenalnya. Pelajari, renungkan, dan contohlah perjuangannya! Jangan pelajari kesuksesannya! Supaya setelah sukses bisa tetap survive belajarlah kepada orang-orang yang pernah sukses. Mereka pasti memiliki banyak nasehat yang sangat berharga, seperti sejarah kenapa mereka hancur atau tergelincir dari kesuksesannya. Karena orang cerdas akan belajar dari kesalahan mereka, dan yang benar-benar bijak adalah mereka yang belajar dari kesalahan orang lain.
Ust. Lihan bukanlah orang yang hanya sukses secara materi, tapi beliau juga sukses dalam kahidupan sosial dan spiritualnya. Contoh yang lebih komplit lagi atau bisa dikatakan sempurna, kita bisa belajar dari Baginda Rasullah SAW. Beliau bisa dikatakan sukses dalam berbagai segi kehidupan.
Hidup adalah belajar. Jika kita ingin sukses teruslah belajar dan belajar jangan pernah bosan walaupun mungkin itu pernah kita pelajari. Belajar bisa lewat guru, belajar dari kisah-kisah, dan belajar untuk belajar. Hal ini karena keberhasilan sejati adalah meningkatkan tingkat kedamaian batin dan kedekatan dengan Tuhan, yang tidak dapat digoyahkan oleh pasang-surut peristiwa-peristiwa yang bersifat sementara.

Fruit or PACE is one of the Creativity of Allah SWT in which contain many functions, benefits, and the wisdom or the lesson, for both physical and psychological. In addition as the creativity, the fruit is also as one of the forms of Omniscient Affection Allah SWT to all His organism especially for those who feel and realize that to get affection. Thing like this that will say "Our Lord, You have never created this with the vain, Glory to Thee, and guard us from the torment of Hell" (QS. Ali 'Imran: 191).
Tree Pace or grown on land of lime dpl with a height of 1.000m. High, only about 3-8 m with a clear main stem. Be bordered by wrapping leaves, green colors. Hump-shaped flowers on axilla leaves. Fruit is not bruised bump -order. Reached 5-10 cm in length. Pace. At this time the author will only focus on the discussion on fruit only.
Fruit of Pace if viewed from the physical is not the fruit that looks beautiful and inviting everyone to view. This is because, a lot of skin it’s black bumps that resembles boil. So that's not the little man is considered as a fruit that does not contain functions, benefits and wisdom of any kind. However, in actually are inlay-pearl inlay and medical wisdom of extraordinary incredible for each person who will understand and make be modeling. The state of fruit of Pace this teaches every man to be humble, not arrogant, not supercilious, and not showroom to get praise or recognition from an external party or parties outside the business to manipulate the things that actually does not exist in itself. Internalization of himself that he indeed is sequestered in the soil so that appears as something that seems not have any distinction in the views of others.
Attitudes and behavior of this self-exile in view of tasawwuf is often called the seclusion. Seclusion is not like people to do the ritual form of asceticism, that is to go and silence in a quiet place to juxtapose themselves to Allah SWT. But more of it all, done by the seclusion of this fruit of Pace higher position. He was to self-deport to change the nature disgraceful inherent merit- attentive always with the Lord and still socialize with their environment.
Fruit of Pace have Scopoletin womb, that is a compound that serves to set up blood pressure. When high blood pressure, help lower scopoletin. Conversely if the blood pressure becomes low, it will put up. Indicated antibacteri addition, this compound also set the hormone serotonin, which helps decrease the rate worries and depression. It also contains Morindin, this nutritious substances in the body's defense system to improve. In addition to the above two substances, pace also contains gum, malat acid, citric acid, and antiseptic compound.
Although the fruit of Pace hide the interest in simplicity and clothing tend be viled but he has feelings and awareness as being obliged to implement a perform command and avoid restrictions. Apparently he is a figure who is always trying to help the organism to another can actualiz of his fitrah become so organism that can perform the function of both the original and correct. Humans have two functions at once, ie, functions as a servant who is due servant to the Lord and also as the caliph who must maintain a balance of the universe.
Fruit mengkudu easy in life to help fellow brothers and sisters that are being experienced inconsistencies religiousitas to return immediately to the proper track, which is a condition where people become human. If the fruit mengkudu see people who have lofty, snooty, arrogant, and was high compared to other people then he immediately invite a to return to a normal human being and positive. That such efforts are truly wise and learned so that it does not cause negative effects. Similarly, when I saw a man who lives there is no passion to go forward or not he immediately come on. Efforts that do not just give advice but it only seeks the potential that it has been owned by them.
That is the fruit of Pace. He has the ability to be stabilizing and even improving the positive human condition. However he does not show that ability in front of another creature. Ability is covered with cloth simplicity. Ability not only seen, but can be found with felt.
Hopefully we all can see, learn, understand, modelling, empaty, and inspirit. Amen.

Prayer is not simply one of the communication media between transendental with the Lord, the creature is subject, where the organism can be there to worship Him with a full sense of admiration, sincerity, obedience, and love, and pray, but it turns out a procession to the impact of derivative a positive physical and psychological.
Shalat will oversee and guide those who implement them to remain in their disposition, namely nation to Allah SWT, to-Esaan acknowledge Him, and covet covet truth, and want to always follow the teachings Him. So that in the Al-Qur'an explained that the prayer will avoid people who do acts of indecency and may (Al-'Ankabut: 45).
Prophet Muhammad SAW in some his hadits said that prayer can make a calm, prosperous, and piecefull soul. In addition, prayer can also cure various diseases, such as stomach disease that have been suffered by a friend of Abu Hurairah RA Functions as are prayer, that also has been proven through the truth of scientific research by experts from various scientific disciplines, such as medical and psychological.
If be the more, the functions and benefits of prayer to guide and direct all people to be able to do it back to the condition disposition after rove the steep-pitched, black and white, and bitter sweet of world. In the world, many people wrestle with the obstacles and temptations that have a tendency to obscure or even his disposition. Man who has been blurred or the disposition is lost will usually lose their main function as a slave and himself as agency of Allah SWT in this world. In fact the two functions is the core of meaning of life.
Other evidence that prayer works to guide and direct people to return to the his disposition can be seen from the picture count from each corner of the harmonious movements made by all members in one body reka'at. Founded in reka'at same with 00, ruku '900 , and bowed down twice with the respective amount in 1350 so in 2700. This series of movements with it’s corner each note if the result is the same as the 3600 or a full circle. Depart from one period (disposition) back to the period (disposition) back.
Based on the above considerations, we at least get an answer with a conclusion that have to be pray five times than as a harmonious, prayer is also a form of love of Allah SWT to each His organism the Islamic faith and with full charity. Allah SWT does not want the same once every His organism living in misery. For that, pick up and reach the love of Allah SWT with the magnificent prayer needs as an obligation not just as certainly will be more delicious it felt. Because people who get the love of Allah SWT akan when something has awareness that any deeds not only see the true self, but the good and for others, is also valid according to the teachings of Allah SWT.