………………..
………………..
Mungkin anda akan mendapatkan hakikat dari susunan huruf-huruf di atas andai saja huruf-huruf itu berbunyi. Huruf-huruf itu keluar bersama dengan sebulan nafas dari dalam dada setelah mengalami penyempitan rongga.
Saat saya sedang mengumpulkan energi untuk mendapatkan inspirasi yang harus dituangkan dalam barisan huruf-huruf sehingga terbentuk gugusan kalimat deskripsi, seorang adik kecil mengetuk pintu kamar sembari mengucapkan salam berlapis tiga kali yang berfrekuensi meninggi. Seraya menekuk kaki dan menurunkan berat badannya di hadapan saya dia mengatakan
“Pak, ada anak yang keluar melompat gerbang!”
“Siapa?” Tanyaku
“Itu Pak, si A” Maksud dia si Anak Unik. Anda masih ingat kan, anak unik yang saya ceritakan di postingan kemarin.
“Sekarang di mana dia?” Tanyaku.
“Lari, Pak!”
Saya pun mencoba untuk menenangkan diri.
“Sekarang, coba kamu kejar dulu dan ikuti terus! nanti saya menyusul” Pintaku.
Saya langsung pakai jaket karena kebetulan malam itu udara sangat dingin. Dengan berbekal jaket aku menyusul si Anak tadi dengan naik motor.
Sepanjang jalan di sekitar tempat kami tinggal saya susuri pelan-pelan. 45 menit saya pastikan jalan itu, namun belum juga kelihatan di mana dia berada. Hati saya pun mulai mendesir-desir, namun saat itu pula saya mencoba untuk menenangkan diri kembali dan terus mencarinya.
“De’, ayo turun! Pulang dah malam”
Aku mendengar suara anak sedang membujuk seseorang. Pelan-pelan saya dekati suara itu. Semakin mendekat, saya semakin mengenal suara siapa itu. Tanpa ragu ku dekati.
“Masya Allah” Tanpa sadar saya mengucapkan kalimat itu.
Ya, Allah ternyata si Anak Unik itu sedang bermain di taman orang. Dia sedang naik pohon cemara yang ada di taman sembari senyam-senyum. Kelihatannya dia sangat menikmati. Walaupun begitu, hati saya sedikit demi sedikit mulai tenang.
“De’, kamu lagi ngapain di sini?” Tanyaku.
Mendengar pertanyaanku dia hanya diam dan tersenyum sambil terpaku. Dia tampak sama sekali tidak merasa atau mengetahui kalau hati saya sedang sangat khawatir karenanya.
“Ayo turun, dah malam, mainnya besok saja!” Ajakku.
Lagi-lagi hanya senyuman yang menyungging dari bibirnya. Melihat senyumannya itu, saya jadi terpancing untuk mencari ide bagaimana cara yang baik dan benar agar dia mau pulang dengan tanpa merasa terpaksa.
Kebetulan di dekat pohon yang sedang dia panjat ada kursi. Aku mendekati dan duduk di bangku itu sambil membakar rokok. Aku coba menatapnya.
“De’, kamu di sini dah berapa hari?” Tanyaku memulai perbincangan.
“Setengah bulan” Jawabnya. Mendengar jawaban itu hati saya merasa plong “Alhamdulillah”. Rasa optimis seketika mencuat dalam benak.
“Setelah setengah bulan kamu berpisah dengan mama, rasanya bagaimana?”
“Kangen! Aku pingin ketemu mama!” Dari matanya meleleh air, ternyata dia menangis.
“Kamu kangen?” Tanyaku.
“Iya!”
“De’, Aku mengerti kalau kamu sedang kangen sama mama dan aku juga dapat merasakan apa yang kamu rasakan. Saya dulu ketika kangen sama mama rasanya juga seperti kamu. Setiap hari, rasanya hanya ingin ketemu mama dan ingin memeluknya, kan?” Saya mencoba untuk dapat berempati kapadanya.
“Iya!”
“Tapi bagaimana caranya?” Tanyaku.
“Ya, pulang!” Sedikit dia mulai menemukan solusinya.
“Rumahmu Kalimantan Barat kan, De?”
“Iya”
“Menurutmu Kalimantan Barat kalau dari sini, jauh pa dekat?”
“Ya…….” Dia tampak mulai ragu.
“Ya, jauh”
“Kalau jauh, terus kalau mau pulang naik apa? Kamu, kemarin waktu ke sini naik apa?
“Pesawat terbang”
“Kira-kira, menurutmu mahal ngga’?”
“Mahal Pak!”
“Lah, sekarang kamu punya uang untuk beli tiket pesawat tidak?”
“Ngga’ punya.” Jawabnya.
“Saya juga ngga’ punya De’.”
“Terus bagaimana Pak?” Dia mulai berani untuk bertanya dan minta pendapat sama saya. Saat itu juga saya tidak menghilangkan kesempatan untuk mengalihkan kekangenan dia sama mama-nya.
“Aku yakin kamu anak yang sangat sayang sama mama dan mama juga sangat sayang sama kamu, kan?”
“Iya.”
“Waktu kamu mau ke sini, mama memelukmu?”
“Ya.”
“Ketika mama memelukmu, mama bilang apa?”
“Kamu yang rajin belajar ya Nak, biar menjadi anak yang pinter!” Katanya, mengulang pesan mama-nya. Dari matanya yang sudah tampak ngantuk menetes air mata.
“Sini De’ turun dulu, duduk sini!” Ajakku. Alhamdulillah dia mau turun dan duduk di sampingku. Dengan tanpa kusadari tanganku yang kanan menggapai kepalanya dan menyandarkannya di dadaku. Ku peluk dia. Rasa kangen tampak terasa dari hembusan nafas, isak tangis, tarikan nafas, dan tempelan kepalanya.
“De’, pertama kali aku melihatmu, aku dah tahu kalau kamu itu anak yang pinter dan shalih. Kamu tahu kan caranya biar jadi anak yang pinter dan shalih?”
“Ya, Pak. Saya harus rajin belajar dan mendoakan orang tua.” Jawabnya. Anak ini sebenarnya anak yang pintar dan cerdas.
“Berarti kamu juga harus rajin mengaji dan sekolah?”
“Iya, Pak!” Jawabnya dengan suara lumayan semangat.
“Sekarang kira-kira jam berapa? Jam berapa De’?” Tanyaku sama anak yang tadi ikut mengejarnya.
“Jam satu, Pak” Jawabanya.
“Menurutmu, kalau sekarang belum tidur, besok subuh kita ngantuk ngga’ jama’ah subuhnya?”
“Iya Pak, padahal habis subuh saya harus mengaji Al-Qur’an sama Pak Qodir.”
“Saya, besok habis subuh juga harus nemenin kakak kelas I Aliyah mengaji kitab Ta’lim Al-Muta’alim.” Saya menambahi.
“Gimana De’ kalau kita pulang dulu, tidur yang nyenyak, terus bangun jam empat, setelah itu mengaji, mandi, makan, dan berangkat sekolah?” Saya minta persetujuan Si Anak Unik itu.
“Yuk, Pak. Saya juga sudah ngantuk. Besok saya juga harus shalat subuh jama’ah, mengaji, mandi, makan, dan sekolah.”
“Yuk!”
Kaya “Yuk” yang terakhir inilah yang sebenarnya saya nanti-nantikan sejak awal. Setelah mendengarnya, tidak ada perasaan lain selain “lega”. Ucapan syukur alhamdulillah pun terus mengalir dari hatiku karena Dia-lah Si Anak Unik itu mau menerima dan memahami celoteh saya yang sebenarnya sangat elementer dalam dunia parenting. Apa yang terjadi pada malam itu, harapan saya hanya satu
“SEMOGA KITA DAPAT MERENGKUH TAUHID CINTA”
Karena-Nya kita begitu
Karena-Nya kita begini dan begitu
Bukan sekedar kita begini dan begitu karena-Nya
Begini dan begitu yang diridloi-Nya
Karena-Nya di dalam diri kita ada ini dan itu
Ini dan itu yang karena-Nya begini dan begitu
Ya, Allah! Allah, Allah, Allah

Titik, siapakah yang tidak mengenalnya? Apalagi bagi orang-orang yang suka menulis atau membaca, mereka pasti mengenal itu. Bentuknya kecil dan terkadang jika tidak cermat mengamatinya maka tidak kelihatan. Namun, bagi orang yang telah mampu membaca atau menulis dengan intuisi, walaupun ia tidak kelihatan akan tetapi intuisi dapat memberikan rasa.

Titik, mungkin inilah kata tertepat yang dapat saya gunakan untuk mengungkapkan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari titik. Selain itu karena kata titik lebih sesuai dengan kapasitas saya sebagai manusia. Walaupun begitu, saya meyakini bahwa sebenarnya ada pula sesuatu yang asal kejadiannya tanpa bermula dari titik, sesuatu itu tercipta dari daya kun fa yakunnya Allah SWT.
Bermula dari titik, segala sesuatu dapat dibentuk. Bentuknya pun sangat beragam dengan variasi dan kekhasan yang terilhami oleh karakteristik individual difference masing-masing pembentuk. Ada orang yang kemudian membentuk gambar rumah, jalan, atau apapun. Walaupun ada dua orang yang menggambar rumah dalam waktu yang sama tapi pasti di antara dua gambar itu memiliki perbedaan yang khas.
Dari penjelasan sederhana di atas, maka saya dapat mengatakan bahwa titik itu memiliki kekuatan yang luar biasa atau lugasnya titik itu memiliki daya potensi yang dapat tumbuh dan berkembang menjadi apapun. Sebelum melangkah lebih jauh, cobalah pikirkan, renungkan, dan simpulkan pertanyaan-pertanyaan saya berikut ini!
- Sebuah titikkah kita ini?
- Jika kita itu titik, adakah di dalam titik itu ada titik?
- Jika iya ada, titik apakah yang ada dalam diri kita itu?
- Apa yang akan kita lakukan terhadap titik-titik itu?
Dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul Human Potency And Way Of Actualization telah banyak dikupas mengenai potensi dasar manusia yang mana potensi-potensi itu dapat dikatakan sebagai titik yang dapat tumbuh dan berkembang menjadi suatu kekuatan yang luar biasa.
Kita memiliki potensi yang bersifat umum atau setiap manusia memilikinya, yaitu Qalb (afektif), akal (kognitif), dan nafs (konasi). Ketiganya ini secara sejatinya siap mendukung potensi hereditas yang sifatnya sangat khas dan unik. Jika potensi hereditas ini bersinergi menjadi satu dengan potensi hereditas pasti setiap manusia akan menjadi dirinya sendiri dengan memiliki berkarakter yang kuat.
Agar potensi-potensi tadi dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal maka harus dioleh melalui pendidikan yang dapat memandirikan bukan pendidikan dogmatis. Karena dengan pendidikan yang memandirikanlah manusia akan diantarkan menuju pribadi yang kreatif, inovatif, dan produktif. Fungsi pendidikan bukan lagi mengajarkan sesuatu tapi membimbing dan mengarahkan subjek menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Dengan demikian subjek tidak lagi bergantung dengan situasi yang berusaha menguasainya.
Namun, kehidupan manusia itu tidak cukup hanya untuk menemukan jati dirinya saja, akan tetapi manusia juga harus mengarahkan kekuatan dirinya itu memenuhi fungsi utama dirinya, yaitu fungsi manusia sebagai makhluk Tuhan yang sangat menjijikan jika tidak menyembah-Nya (‘abid) dan fungsi manusia sebagai mandataris Tuhan di muka bumi ini (khalifah Allah). Sehingga jika sudah seperti itu maka manusia akan mengarahkan kekuatannya itu untuk beribadah dan menjaga stabilitas alam semesta.

Indah dan bermakna inilah jati diri manusia!!!!
By
Waluyo
Forgiveness, I am one of between all of you feeling cannot get out of religion. So, at times discussion I also will start it is from the aspect of religion approach. This thing is because I feel that religion which I believe also studies in detail about man.
There is three terms applied in Al-Qur’an is referring to man fundamental meaning, that is basyar, al-insan, and al-nas. So that not happened un-clarity semantic, we must comprehend in context is man called as basyar, and in context is also man called as al-insan, and al-nas (Hasan, 2004).
1. Basyar
Word basyar in Al-Qur'an called as 35 times related to man and 25 times attributed to Prophet and Rasul. In the entire sentence, word basyar to give reference to man as biological is being having form of body, experiences growth and development of bodily. Like sentence 31 letters Yusuf telling about interest of Zulaikha to elegance Nabi Yusuf AS. Based on this matter, we can tell that man is biological is being having the character of physical.
2. Al-Insan
Word al-insan called as 65 times in Al-Qur'an. Most all sentences mentioning man with word al-insan, it’s the context is always presents man as special is being, morally and spiritual. Is being having idiosyncrasy and excellencies that is not owned by other being. The excellencies at least there are three things, firstly, man as is being thinks. Second, commendation carrier is being. Third, man as is being is holding responsible at all of done.
Man with his the excellence is such a on the way it’s the life is of course will face assorted of challenge that is not light. Existence of challenges this is man then becomes dynamic is being. Man as is being al-insan also is reminded with negative predisposition which latent in himself. According to Al-Qur'an, the man tends to doing is brutal and infidel ( 14:34; 22:66; 43:15), hurried ( 17:11;21:37), stingy ( 17:100), amentia ( 33:72), many arguing and liking debates about even a trivia ( 16:4; 18:54;36:77), anxious, jumpy, and uncooperative of others ( 70:19-21), destined to strain after and suffers ( 84:6; 90:4), denies and refuse to compliment to Allah ( 100:6), likes sinning ( 96:6; 75:5), and doubts of day eternity/the beyond ( 19:66).
Man as al-insan this is we get reality that the man not simply only mere physical, but also psychical dimension (ruhiyah).
Ruh is base potency that is inner self character, this thing is because in character which abstraction, but has high quality and has big role and influence for human life. Height of quality of this Ruh explained by Allah SWT (God) in Al-Qur'an letter Al-Hijr sentence 29, where the angels bows to Adam AS Prophet after Allah SWT breezes his Ruh to it. Usage of word My Ruh in letter Al-Hijr sentence 29 is not interpreted as Ruh Allah SWT is coming into man self. But Ruh the property (creation) Allah SWT. Though, in other sentence, Allah SWT also tells some of My Ruh dribbling at understanding that Allah SWT " wags" some of His characters to man through via Ruh ( Mustofa, 2005).
Ruh in Al-Qur'an has some different meanings. Shihab (2005) tells that Ruh can have a meaning (of) Allah like apocalypses, angel bringing apocalypse, spirit, and lifeblood. Difference of this meaning indicates that Ruh has function and character. Ruh is a guide from Allah SWT as Al-Qur'an which will lead and guides every man for always having prayer beads to Allah SWT. Besides, Ruh also is substance life of someone who with his(its every element and body organ has function (QS. As-Sajdah: 9).
Based on above explanation so knowable about potencies owned by Ruh, between it is as follows:
- Characters ilahiyah. Characters ilahiyah here it is of course in human life scale (Mustofa, 2005). Man has will desire, science, ability to hear, sees, and others.
- Values ilahiyah. This ilahiyah values also in human life scale. Affection, love, forgiveful, benefactor, and others this also is evidence existence of sprinkling of values ilahiyah.
Hartati (2004) said that Al-Qalb (fitrah ilahiyah) as aspect supra awareness of man who is having emotion energy (emotion). Function of Al-Qalb in Al-Qur'an like in category as follows this: From the aspect of its the function, Al-Qalb (1) has function of emotion generating taste energy; (2) function of cognition generating creativity; and (3) function of conation generating willness energy. From the aspect of its the condition, Al-Qalb has condition, (1) good, that is Al-Qalb which is a life, healthy, and gets happiness; (2) ugly, that is Al-Qalb which is dead and gets misery; and (3) between ugly and good, that is Al-Qalb which is a life but diseased.
Al-'Aql (fitrah insaniyah) as awareness aspect of man who is having cognition energy (reason). Cognition is a public concept including all form of experience of cognitions, include observes, sees, pays attention to, pass an opinion, assumption, imagines, predicts, thinks, considers, anticipates, and assess.
While Al-Nafs (fitrah hayawaniyah) as pre aspect or under awareness of man who is having conation energy (will). Al-Nafs has two strengths, which is strength of al-Ghadhabiyah and al-Syahwaniyah. Al-Ghadhab is an energy having potency to avoid self from all endangering. Al-Ghadhab in psychoanalysis terminology also is called as with defence (defence and custody), that is trying behavior advocate or protects ego to mistake, dread, and feels small; deed to protect own self; and exploits and rationalizes his own deed. As-Syahwat is an energy having potency auto-induction to from all pleasing. As-Syahwat in psychoanalysis terminology called as with appetite, that is an ambition (desire, lechery, and libido atmosphere), motive or impulse based on situation change of physiology.
3. Al-Nas
Concept al-Nas refers to man as is being social. Man in this dimension called as in Al-Qur'an 240 times. This thing can be checked in every sentence started with word, ya ayyuha an-nas. Drew it is again Al-Qur'an in laying open man as social is being had never done generalizing. Explanation of about this context can be shown in two things. Firstly, many sentences showing social batches with it’s the characteristic is each which one another is not necessarily the same. This sentence usually applies expression wa mina an-nas. Second, subdividing of man based on majority, generally applies expression aktsar an-nas. Pays attention to this expression we find that some of men has low quality, either from the angle of science and also believe.
For example is marriage problem. Basically tuition of religion doesn't arrange procedures the relation of sexual because as biological is being of all men after all primitive of can do it. Exactly that need to be arranged by Moslem law (syari’ah) is the relation of socials after the happening of marriage: the relation of wife husband concerning rights, obligation, and responsibility, and the relation of happened after having family; education of child, affinity, heritage and problem which apropos of properties. To these problems Al-Qur'an shows promise which rather detail and detail. This thing happened because, at social aspects this is man often crossing the line and uncontrollably.
By seeing three dimensions has been explained above, we get the picture that man in general has owned the same potency, like having tendency trusts to and sanctifies Allah SWT, do goodness, responsible, ready to receive commendation, and others. But, on the other side man also has potency to do infidel, disaffected, looks away from truth, and other negative potency.
Besides man also has potency having the character of heredity or born of it's the old fellow. Potency having the character of this heredity tends to typically and on unique. One otherly different. For example, character, talent, skin color, and other unique. Besides quality of this heredity potency also can be designed by man mean can be laboured by the way of doing selection to mains which will endow the potency. About this thing is Prophet SAW has signed in hadits:
This thing is because,
Mixed has sperm is one item cell containing 46 chromosomes. One item the cell is half come from the father and half again comes from the mother. One item cell is contains gene bringing characters of the father and mother. Sometimes genetics characters indirectly inherited by child. Might possibly the characters has just been inherited by grandchild.
Based on above description so we can conclude that parent as mains descendant of will endow the gene in his self, good of positive gene (QS. Ali Imran: 38, Al-Nisa: 9, Ibrahim: 40, and Al-Ahqaf: 15) and also negative gene (QS. Al-Shaffat: 113). So parent who is good later also will endow the good gene to the child, so also old fellow who thief hence thief gene also will go down to the child.
Man is being which explorative and potential. Told is being explorative, because man has ability to develop his self either in physical and also psychical. Man conceived of potential is being, because at on file man self a number of abilities of wafting which can be developed.
Here in after, man also is conceived of is being having inert principle, because to grow and grows normally man to require help from outside his self. Help intended by inter alia in the form of tuition and guidance from the area. Tuition and guidance given in fostering the intrinsically is expected in line with requirement of itself man, which have been on file as it’s the wafting potency. In consequence, tuition that is not in line with potency owned will affect negative for development of man.
Realization effort of the potencies in man self can be done through good education. This good education becomes of vital importance for man because with that can develop potencies which are positive and bridles negative potencies owned. For example, although the child came from old fellow that is formerly a thief if get good education hence the thief gene will not predominate in the life. On the contrary, although child of an ustadz (religion teacher), but does not get good education so the ustadz (religion teacher) gene in his self hardly difficult to predominate his life.
This education can be done in three areas, which are family area, school, and public. The education is also must choose placing forward education integrated it three the important domains in man self, namely al-qalb (affective), al-'aql (cognitive), and al-nafs (conative). Because with integrated it three domains child is expected to become man who is bookish and having glory behavior and skillful causing can give benefit in the form of progressive and constructive change for self, family, and environment.
Sepakatkah kita bahwa kita adalah manusia? Jika ya, seberapa tahukah kita tentang makna pokok manusia? Jika memang benar-benar mengetahuinya, modal apakah yang telah kita miliki untuk mengarungi kehidupan ini? Renungkanlah pertanyaan-pertanyaan tadi! Bagaimana kalau kita telusuri kembali, siapakah kita ini? Bagaimana kalau saya dulu yang menelusurinya? Boleh kan?
Maaf, saya adalah salah satu diantara kalian yang merasa tidak bisa lepas dari agama. Jadi, pada diskusi kali saya juga akan memulainya dari sudut pandang agama. Hal ini karena saya merasa bahwa agama yang saya yakini juga membahas secara detail mengenai manusia.
Ada tiga istilah yang digunakan dalam Al-Qur'an yang mengacu pada makna pokok manusia, yaitu basyar, al-insan, dan al-nas. Supaya tidak terjadi kerancuan semantic, kita harus memahami dalam konteks apa manusia disebut basyar, dan dalam konteks apa pula manusia disebut al-insan, dan al-nas.
1. Basyar
Kata basyar dalam Al-Qur’an disebut sebayak 35 kali yang berkaitan dengan manusia dan 25 kali dihubungkan dengan Nabi dan Rasul. Dalam keseluruhan ayat tersebut, kata basyar memberikan referensi kepada manusia sebagai mahluk biologis yang mempunyai bentuk tubuh, mengalami pertumbuhan dan perkembangan jasmani. Seperti ayat 31 surat yusuf yang menceritakan tentang ketertarikan Zulaikha terhadap ketampanan Nabi Yusuf AS. Berdasarkan hal ini, kita dapat mengatakan bahwa manusia adalah mahluk biologis yang bersifat fisik.
2. Al-Insan
Kata al-insan disebut sebanyak 65 kali dalam Al-Qur’an. Hampir semua ayat yang menyebut manusia dengan kata al-insan, konteksnya selalu menampilkan manusia sebagai mahluk yang istimewa, secara moral dan spiritual. Mahluk yang memiliki keistimewaan dan keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh mahluk lainnya. Keunggulan-keunggulan itu setidaknya ada tiga hal, pertama, manusia sebagai mahluk berfikir. Kedua, mahluk pembawa amanat. Ketiga, manusia sebagai mahluk yang bertanggung jawab pada semua yang diperbuat.
Manusia dengan keunggulannya yang seperti itu dalam perjalanan hidupnya tentu akan menghadapi berbagai macam tantangan yang tidaklah ringan. Adanya tantangan-tantangan inilah manusia kemudian menjadi mahluk yang dinamis. Manusia sebagai mahluk al-insan juga diingatkan dengan predisposisi negative yang laten dalam dirinya. Menurut Al-Qur’an, manusia itu cenderung berbuat zalim dan kafir (14:34; 22:66; 43:15), tergesa-gesa (17:11;21:37), bakhil (17:100), bodoh (33:72), banyak membantah dan suka berdebat tentang hal-hal yang sepele sekalipun (16:4; 18:54;36:77), resah, gelisah, dan enggan membantu orang lain (70:19-21), ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita (84:6; 90:4), ingkar dan enggan berterima kasih kepada Tuhan (100:6), suka berbuat dosa (96:6; 75:5), dan meragukan hari akhirat (19:66).
Manusia dalam dimensi al-insan inilah kita mendapatkan kenyataan bahwa manusia itu tidaklah sekedar hanya mahluk biologis yang bersifat fisik belaka, namun juga berdimensi psikis (ruhiyah).
Ruh merupakan potensi dasar yang sifatnya inner self, hal ini karena sifatnya yang abstrak, namun mempunyai kualitas yang tinggi serta memiliki peran dan pengaruh yang besar bagi kehidupan manusia. Tingginya kualitas Ruh ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr ayat 29, dimana para malaikat tunduk kepada Nabi Adam AS setelah Allah SWT meniupkan Ruh-Nya kepadanya. Penggunaan kata Ruh-Ku dalam surat Al-Hijr ayat 29 tidak ditafsirkan sebagai Ruh Allah SWT yang masuk ke dalam diri manusia. Melainkan Ruh miliknya (ciptaan) Allah SWT. Meskipun, di ayat lain, Allah SWT juga mengatakan sebagian dari Ruh-Ku yang menggiring pada pemahaman bahwa Allah SWT “mengibaskan” sebagian sifat-sifatNya kepada manusia lewat Ruh itu (Mustofa, 2005).
Ruh di dalam Al-Qur’an memiliki beberapa makna yang berbeda. Shihab (2005) mengatakan bahwa ruh itu dapat bermakna wahyu-wahyu ilahi, malaikat yang membawa wahyu, spirit, dan sumber hidup. Perbedaan makna ini menunjukkan bahwa ruh memiliki fungsi dan sifat. Ruh merupakan suatu petunjuk dari Allah SWT sebagaimana Al-Qur’an yang akan menuntun dan membimbing setiap manusia untuk selalu bertasbih kepada Allah SWT. Selain itu, Ruh juga merupakan subtansi kehidupan seseorang yang dengannya setiap unsur dan organ tubuh memiliki fungsi (QS. As-Sajdah: 9).
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat diketahui mengenai potensi-potensi yang dimiliki oleh Ruh, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sifat-sifat ilahiyah. Sifat-sifat ilahiyah di sini tentunya dalam skala kehidupan manusia (Mustofa, 2005). Manusia memiliki kehendak, ilmu pengetahuan, kemampuan untuk mendengar, melihat, dan lain sebagainya.
2. Nilai-nilai ilahiyah. Nilai-nilai ilahiyah ini juga dalam skala kehidupan manusia. Kasih sayang, cinta, pemaaf, dermawan, dan lain sebagainya ini juga merupakan bukti adanya percikan nilai-nilai ilahiyah.
Bersinerginya dimensi fisik dan psikis akan membentuk dimensi psikologis (Jiwa). Di dalam dimensi psikologis terdapat tiga daya penting yang apabila bersinergi dalam sikap dan perilakunya akan mengantarkan manusia menjadi manusia yang seutuhnya. Ketiga ranah itu adalah kognitif (al-aql), afektif (Al-Qalb), dan konatif (al-nafs).
Al-Qalb (fitrah ilahiyah) sebagai aspek supra kesadaran manusia yang memiliki daya emosi. Fungsi Al-Qalb dalam Al-Qur’an seperti dalam kategori sebagai berikut ini: Dari sudut fungsinya, Al-Qalb (1) memiliki fungsi emosi yang menimbulkan daya rasa; (2) fungsi kognisi yang menimbulkan daya cipta; dan (3) fungsi konasi yang menimbulkan daya karsa. Dari sudut kondisinya, Al-Qalb memiliki kondisi, (1) baik, yaitu l-qalb yang hidup, sehat, dan mendapatkan kebahagiaan; (2) buruk, yaitu Al-Qalb yang mati dan mendapatkan kesengsaraan; dan (3) antara baik dan buruk, yaitu Al-Qalb yang hidup tetapi berpenyakit.
Al-‘Aql (fitrah insaniyah) sebagai aspek kesadaran manusia yang memiliki daya kognisi (cipta). Kognisi adalah suatu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengalaman kognisi, mencakup mengmati, melihat, memperhatikan, memberikan pendapat, mengasumsi, berimajinasi, memprediksi, berpikir, mempertimbangkan, menduga, dan menilai.
Sedangkan Al-Nafs (fitrah hayawaniyah) sebagai aspek pra atau bawah kesadaran manusia yang memiliki daya konasi (karsa). Al-nafs memiliki dua kekuatan, yaitu kekuatan al-Ghadhabiyah dan al-syahwaniyah. Al-Ghadhab adalah suatu daya yang berpotensi untuk menghindari diri dari segala yang membahayakan. Al-Ghadhab dalam terminologi psikoanalisa juga disebut dengan defence (pertahanan, pembelaan, dan penjagaan), yaitu tingkah laku yang berusaha membela atau melindungi ego terhadap kesalahan, kecemasan, dan rasa malu; perbuatan untuk melindungi diri sendiri; serta memanfaatkan dan merasionalkan perbuatannya sendiri. As-Syahwat adalah suatu daya yang berpotensi untuk menginduksi diri dari segala yang menyenangkan. As-Syahwat dalam terminology psikoanalisa disebut dengan appetite, yaitu suatu hasrat (keinginan, birahi, hawa nafsu), motif atau impuls berdasarkan perubahan keadaan fisiologi.
3. Al-Nas
Konsep al-Nas mengacu pada manusia sebagai mahluk social. Manusia dalam dimensi ini disebut dalam al-qur'an sebanyak 240 kali. hal ini dapat dicek dalam setiap ayat yang diawali dengan kata, ya ayyuha an-nas. menariknya lagi al-qur'an dalam mengungkapkan manusia sebagai mahluk sosial tidak pernah melakukan generalisasi.
penjelasan mengenai konteks ini dapat ditunjukkan dalam dua hal. pertama, banyak ayat yang menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan karakteristiknya masing-masing yang satu sama lain belum tentu sama. ayat-ayat ini biasanya menggunakan ungkapan wa mina an-nas. kedua, pengelompokan manusia berdasarkan mayoritas, yang umumnya menggunakan ungkapan aktsar an-nas. memperhatikan ungkapan ini kita menemukan bahwa sebagian manusia mempunyai kualitas rendah, baik dari segi ilmu maupun iman.
sebagai contoh adalah masalah perkawinan. pada dasarnya bimbingan agama tidak mengatur tata cara hubungan seksual karena sebagai mahluk biologis semua manusia betapapun primitifnya bisa melakukannya. justru yang perlu diatur oleh syariah adalah hubungan-hubungan sosial setelah terjadinya perkawinan: hubungan suami istri yang menyangkut hak, kewajiban, dan tanggung jawab, serta hubungan-hubungan yang terjadi setelah berkeluarga; pendidikan anak, kekerabatan, warisan dan masalah yang bertalian dengan kekayaan. terhadap masalah-masalah ini al-qur'an memberikan petunjuk yang agak rinci dan detil. hal ini terjadi karena, pada aspek-aspek sosial inilah manusia sering kelewat batas dan tak terkendali.
Dengan melihat tiga dimensi yang telah dijelaskan di atas, kita dapat memahami bahwa manusia secara umum telah memiliki potensi yang sama, seperti memiliki kecenderungan untuk mentauhidkan dan mensucikan Allah SWT, berbuat baik, bertanggung jawab, siap menerima amanat, dan lain sebagainya. Namun, di sisi lain manusia juga mempunyai potensi untuk berbuat kafir, durhaka, berpaling dari kebenaran, dan potensi negative lainnya.
Selain itu manusia juga memiliki potensi yang bersifat hereditas atau turunan dari orang tuanya. Potensi yang bersifat hereditas ini cenderung khas dan unik. Satu dengan lainnya berbeda. Misalnya, watak, bakat, warna kulit, dan keunikan lainnya. Selain itu kualitas potensi hereditas ini juga dapat dirancang oleh manusia artinya dapat diusahakan dengan cara melakukan seleksi terhadap induk yang akan mewariskan potensi itu. mengenai hal ini Nabi SWT telah mengisyaratkan dalam hadits
“pilihlah calon istri yang akan menyimpan embrio kalian! Dan nikahilah para wanita yang sepadan dan nikahkan juga (mereka) dengan laki-laki yang sepadan”
(HR. Ibnu Majah)
Hal ini karena,
“Sesungguhnya apabila embrio telah berada di dalam rahim, maka Allah akan mendatangkan untuknya semua (orang dalam garis) nasab mulai dari embrio tersebut sampai dengan anak Adam, (sehingga dia akan mirip dengan salah seorang dari nenek moyangnya).
(HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim)
Beberapa penelitian ilmiah mutakhir dalam ilmu genetika membuktikan bahwa gen pada setiap spermatozoa dan ovum yang telah bercampur dan telah menjadi embrio sebenarnya memiliki beberapa sifat genetic. Setiap spermatozoa dan ovum merupakan sel yang telah terbelah menjadi dua dan mengandung 23 kromosom. Proses ini terjadi ketika spermatozoa dan ovum bertemu dan mengalami pembuahan secara sempurna.
Sperma yang telah bercampur merupakan satu butir sel yang mengandung 46 kromosom. Satu butir sel tersebut separuh berasal dari sang ayah dan separuh lagi berasal dari sang ibu. Satu butir sel ini mengndung gen yang membawa sifat-sifat sang ayah dan ibu. Terkadang sifat-sifat genetika tidak langsung diwarisi oleh anak. Bisa saja sifat-sifat tersebut baru diwarisi oleh cucu.
Berdasarkan keterangan di atas maka kita dapat menyimpulkan bahwa orang tua sebagai induk keturunan akan mewariskan gen yang ada dalam dirinya, baik gen positif (QS. Ali Imran: 38, Al-Nisa: 9, Ibrahim: 40, dan Al-Ahqaf: 15) maupun gen negative (QS. Al-Shaffat: 113). Jadi orang tua yang baik nantinya juga akan mewariskan gen baiknya kepada anaknya, begitu pula orang tua yang maling maka gen maling juga akan turun kepada anaknya.
Manusia adalah mahluk yang eksploratif dan potensial. Dikatakan mahluk eksploratif, karena manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis. Manusia disebut sebagai mahluk potensial, karena pada diri manusia tersimpan sejumlah kemampuan bawaan yang dapat dikembangkan.
Selanjutnya, manusia juga disebut sebagai mahluk yang memiliki prinsip tanpa daya, karena untuk tumbuh dan berkembang secara normal manusia membutuhkan bantuan dari luar dirinya. Bantuan yang dimaksud antara lain dalam bentuk bimbingan dan pengarahan dari lingkungannya. Bimbingan dan pengarahan yang diberikan dalam membantu perkembangan tersebut pada hakikatnya diharapkan sejalan dengan kebutuhan manusia itu sendiri, yang sudah tersimpan sebagai potensi bawaannya. Karena itu, bimbingan yang tidak sejalan dengan potensi yang dimiliki akan berdampak negative bagi perkembangan manusia.
Upaya realisasi potensi-potensi yang ada dalam diri manusia dapat dilakukan melalui pendidikan yang baik. Pendidikan yang baik ini menjadi sangat penting bagi manusia karena dengan itu dapat mengembangkan potensi-potensi yang positif dan mengekang potensi-potensi negative yang dimiliki. Misalnya, walaupun anak itu berasal dari orang tua yang dulunya seorang maling apabila mendapat pendidikan yang baik maka gen maling itu tidak akan mendominasi dalam kehidupannya. Sebaliknya, walaupun anak seorang ustadz, namun jika tidak mendapatkan pendidikan yang baik maka gen ustadz yang ada dalam dirinya sangat sulit untuk mendominasi kehidupannya.
Pendidikan ini dapat dilakukan dalam tiga lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikannya pun harus memilih pendidikan yang mengedepankan terintegrasinya tiga ranah penting yang ada dalam diri manusia, yakni al-qalb (afektif), al-‘aql (kognitif), dan al-nafs (konatif). Karena dengan terintegrasinya tiga ranah ini maka diharapkan anak menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak mulia serta terampil sehingga dapat memberikan manfaat berupa perubahan yang progresif serta konstruktif bagi diri, keluarga, dan lingkungannya.
Waluyo
Buka facebook…eh nggak tahunya ada pesan. Rasa penasaran dengan segera memprovokasi hati dan pikiran untuk menggerakkan tangan agar segera membukanya. Ssssss……….tttt….byar….ooooohhhh….dari Ema sang pengantin baru, selamat ya semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah amin. Dia adalah teman satu angkatan, satu jurusan, dan satu fakultas sewaktu kuliah. Namun, mulai benar-benar menjadi teman sewaktu KKN (Kuliah Kerja Nyata, maaf bukan Kumpul Kebo Nyamun lho). Kebetulan dia satu kelompok dengan saya.
“Pak De” begitulah dia sering memanggilku, tidak tahu riwayatnya mengapa dia memanggilku seperti itu, mungkin karena saya lebih tua darinya atau karena kebetulan tubuhku lumayan gemuk.
“Saya tadi diSMS sama Edi, pemuda kampung dulu kita KKN, katanya, ibu-ibu kelompok Dasa Wisma kangen sama celoteh sok religiusnya kamu. Cepetan ke sana nanti pada sakit lho”. Itulah penggalan pesan dari Ema.
Saat itulah memori di otak saya pelan-pelan meload kembali file-file kenangan sewaktu KKN dulu. Ada satu file yang membuat hati kembali mengharu biru. Satu file kenangan itu tidak mungkin dapat saya luPakan begitu saja. Seorang pemuda kurus, kakek tua, hujan deras, mati lampu, angkringan, dan mobil sedan dengan tulisan maaf “iblis”nya yang menghiasi kaca belakang serentak muncul dengan jelasnya di benak saya.
Dalijo, katakanlah dia namanya. Pemuda kampung yang ceking, kurus, beringas, dan ya’ ya’ an (perasaan diri paling yes). Atribut ini saya simpulkan bukannya tanpa indikator. Badannya kecil, rambutnya pirang, matanya merah, ucapannya nylekit (menyinggung perasaan), mudah tersinggung, dan kalau naik motor kencangnya bukan main. Parahnya lagi hampir setiap malam jam 23.00 WIB dia selalu hang out sama kelompoknya di sebuah angkringan di dekat masjid. Tidak ada aktivitas lain atau pokok di tempat itu kecuali “maaf” minum-minuman keras alias mabuk.
Tampang dan perilaku Dalijo yang seperti itu tidak kemudian menyurutkan hati saya untuk mencoba berteman dengannya. Prinsip saya hanya satu “di dalam hatinya pasti ada Tuhan”. Satu keyakinan itulah yang memotivasi saya untuk mencoba dan mencoba mendekatinya. Pada awalnya memang rasanya sangat canggung. Karena dia tamPaknya sangat apatis terhadap orang pendatang baru. Kecanggungan itu kemudian tamPak membahana saat warga kampung lainnya memberi peringatan kepada saya supaya tidak bergaul dengannya. Namun, hati ini semakin kuat untuk berbicara dan berteman dengannya.
Sedikit demi sedikit saya dapat duduk bersama dan ngobrol-ngobrol ringan. Kadang di rumahnya, di angkringan, dan di lapangan bulu tangkis. Saya pun sangat menghindari obrolan-obrolan yang menyinggung perilakunya. Saya mencoba untuk tidak memberikan penilaian apapun padanya. Santai dan ringanlah yang selalu kami kemas dalam setiap perbincangkan. Pertemanan kami semakin hari semakin akrab. Sehingga pada suatu waktu dia mengajukan pertanyaan yang membuat hati saya terenyuh.
“Mas Wal” kata panggilan yang selalu ditujukkan kepadaku.
“Iya, ada apa?” Tanyaku.
“Mas Wal kan tahu kalau saya itu pemuda kampung yang setiap harinya tidak pernah absen mabuk-mabukan”.
“Ya, saya tahu itu, emangnya kenapa?” timpalku.
“Kenapa sih Mas mau bergaul dengan saya? Padahal yang saya tahu Mas kan pintar mengaji”.
“Lho, memangnya ada aturan yang melarang kalau orang pintar mengaji terus tidak boleh bergaul dengan pemabuk seperti kamu?”. Tanyaku.
“Bukannya begitu Mas! Selama ini orang-orang yang rajin ke masjid selalu menghindari saya. Saya merasa, diri saya ini diperlakukan seperti barang najis yang harus dihindari oleh mereka”. Keluhnya.
“Lho, jangan begitu dong! Setahu saya, kita tidak diperbolehkan su’udzan (berprasangka buruk) kepada orang lain. Kita positif thinking saja, mungkin mereka sedang sibuk dengan ibadahnya. Jadi, tidak sempat bergaul dengan kamu”. Tanggapku. Dia terdiam, tamPak kulit di keningnya mengerut dengan mata menatap tajam ke tanah dan sesekali menatap langit malam yang penuh dengan bintang-bintang berkilauan. Angin malam berhembus semilir dari relung-relung pohon bambu yang berada tepat di depan kami dan mengelus-elus wajah kami. Pelupuk mata atasku terasa pelan-pelan menutup keloPak. Aku pun pamitan sama dia untuk istirahat karena besok pagi ada program yang harus dikerjakan.
“Sorry, kayaknya saya harus kembali ke posko dulu nih. Nanti teman-teman bingung menjawabnya kalau Bu Dukuh mencari saya. Besok kita lanjutkan lagi. Makasih”. Pintaku.
“Oh ya, silahkan. Makasih dah mau mendengar curhatku”. Jawabnya.
Obrolan malam itu pun akhirnya terhenti sampai di situ. Aku pulang ke posko dan dia kembali ke angkringan. Dalam perjalanan menuju ke posko, hati dan pikiran ini ternyata terus bekerja. Ada satu kesimpulan yang cukup berharga dari perbincangan tadi, ternyata seorang pemabuk juga ingin diperhatikan dan dianggap sebagai manusia. Ada kemungkinan bahwa semakin menjadinya dia menjadi pemabuk ulung karena kita terburu-buru menghindarinya dengan meninggalkan atribut negatif kepadanya. Kita juga terburu-buru untuk menolong diri kita sendiri dan tidak sempat menolongnya saat pertama kali dia terjerumus ke dalamnya.
Saat sore bersiap diri menyapa malam, aku dan teman-teman satu kelompok jalan-jalan keliling kampung. Sesampainya di dekat sawah, kami melihat ada keributan sengit antara seorang pemuda dengan orang separuh baya. Rasa penasaran segera menyergap benak kami, ingin tahu siapa yang ribut, apa yang diributkan, dan ingin melerainya. Kami pun dengan segera mendekatinya. Eh ngga taunya pemuda itu si Dalijo.
“Eh...eh…eh ada apa nih kok Pake ribut-ribut segala?”. Kami mencoba melerainya.
“Ada apa sih Jo?”. Tanyaku pada Dalijo.
“Gini lho, dia menghina-hina ibuku”. Jawabnya.
“Kok bisa Pak, Anda menghina ibunya?”. Aku mencoba mencari alasan dari orang separuh baya tadi.
“Gini mas, ibunya dia punya banyak sekali hutang sama saya. Beberapa kali saya menagihnya, bukan uang yang saya dapatkan tapi hanya janji, janji, dan janji. Lama-lama saya pun ngga sabar dong mas?”. Begitulah alasannya.
“Ok! Pak, saya tahu bapak kesal sekali karena harapan baPak tidak terpenuhi. Tapi kan nggak harus dengan menghina, Pak?”.
“Ya, mau gimana lagi Mas, saya kesal sih karena dah lama hutangnya”. Bapak ini mengungkapkan alasannya kembali.
“Gimana kalau begini saja, Jo tolong kamu sampaikan ke ibumu kalau baPak ini sangat membutuhkan uang dan dia ingin ibumu segera membayar hutangnya. Karena bagaimanapun yang namanya hutang harus dibayarkan. Dan untuk baPak, saya mohon jangan mudah untuk menghina orang lain karena itu urusannya akan berdamPak lebih besar. Saya pikir masalah ini dapat dibicarakan dengan baik-baik dan kekeluargaan. Bagaimana sanggup nggak? Kalau sanggup sekarang saling minta maaf, ayo Jo!”.
Akhirnya mereka berdua saling berjabat tangan dan meminta maaf. Ada satu hal yang menjadi cacatan saya di sini. Jo, walaupun sikap dan perilaku di masyarakatnya kurang mendapat apresiasi yang baik dia tetaplah seorang anak yang cinta dan sayang dengan orang tuanya. Sehingga dia memberanikan diri membalas hinaan dari orang lain yang ditujukan kepada ibunya. Hanya saja caranya yang kurang tepat.
Keributan yang terjadi di tepian sawah itupun akhirnya selesai seiring datangnya malam. Suasana kampung tamPak gelap gulita, apalagi mendung tamPak mengelantung tebal di langit. Kami pun segera kembali ke posko untuk melaksanakan shalat maghrib dan mempersiapkan segala keperluan untuk suksesnya pelaksanaan program pada malam itu.
Rencananya program malam itu dilaksanakan jam 20.00 WIB. Program itu adalah seminar dengan tema “Bahaya dan Cara Penularan HIV/AIDS” yang akan diikuti oleh para remaja kampung. Saat sedang menata segala keperluan yang dibutuhkan tiba-tiba mati lampu. Selang beberapa menit hujan turun dengan begitu derasnya mengguyur kampung. Saya dan teman-teman hanya bisa menatap buih-buih air hujan yang semakin lama semakin deras. Badan terasa sangat lemas menggulai.
“Piye iki?” salah seorang teman mengadu.
“Lah gimana lagi, kita tunggu saja sampai reda!”. Jawabku.
“Sampai kapan?”. Teman yang lain menyahut.
“Sekarang kamu tanya sama Pak Dukuh, punya lampu petromak tidak. Kalau punya kita pinjam dan segera nyalakan!”. Perintahku. Kebetulan saya diberi amanat oleh kampus untuk memimpin mereka. Ternyata Pak Dukuh punya dan kemudian kita nyalakan. Dalam hati saya hanya satu waktu itu, program ini harus terlaksana.
Ketika kita semua sedang kebingungan, dari guyuran hujan datang seorang lelaki tua naik motor dengan baju yang basah kuyup.
“Assalamu’alaikum”. Dia menyapa.
“Wa’alaikum salam” Pak Dukuh menjawabnya.
“BaPak siapa, dan mau ketemu siapa? Tanya Pak Dukuh.
“Saya Harjo, apa benar ini rumah Pak Dukuh yang malam ini mau ada program penyuluhan HIV/ AIDS yang diadakan oleh anak-anak KKN?”
“Benar, lah bapak keperluannya apa?
“Saya pembicaranya Pak” Jawabnya.
“Silahkan duduk dulu Pak, maaf gelap, ini tadi baru mati lampu”. Pinta Pak Dukuh.
“Mas Wal, ini pembicaranya sudah datang!”. Panggil Pak Dukuh. Kebetulan saya sedang berada di belakang.
“Sini Mas Wal, ini lho Pak, ketua kelompoknya”. Pak Dukuh memperkenalkan saya dengan Pak Harjo. Saya pun akhirnya ngobrol-ngobrol dengan Pak Harjo. Hujan belum juga reda, tapi di tengah-tengah lebatnya hujan ada sesosok orang dengan menggunakan payung mendekat ke posko kami.
“Permisi”. Dia menyapa.
“Monggo (silahkan), monggo sini Mas” Pak Dukuh mempersilahkan. Eh, ternyata Dalijo. Dialah pemuda pertama yang hadir malam itu. Selang beberapa saat pemuda dan pemudi lainnya berdatangan di tengah guyuran hujan. Saat itu juga hati kami merasa terharu. Ternyata mereka rela menghadiri acara yang telah kami programkan dengan menerjang derasnya hujan. Dari hati kami yang terdalam tidak ada kata yang bisa terucap kecuali rasa syukur yang sangat kepada Allah SWT.
Akhirnya acara pada malam hari itupun berjalan dengan semestinya dan selesai pukul 23.30 WIB. Catatan buat Dalijo tanpa mengesampingkan yang lainnya. Dialah orang yang selalu datang pertama sendiri dalam setiap program acara yang kami laksanakann. Salutnya lagi, walaupun setiap jam 23.00 dia selalu berkumpul di angkringan dengan teman-temannya dan mabuk-mabukan, tapi dia belum akan ke sana jika program yang kami laksanakan belum kelar.
Dari sosok Dalijo inilah Allah SWT memberikan ilmu yang sangat luar biasa kepada saya. Ilmu untuk bisa mengerti orang lain, tidak mengucilkan orang lain, dan ilmu yang memberitahuku bahwa sebenarnya Tuhan tidaklah akan pergi dari diri setiap orang bagaimanapun kondisi orang tersebut, hanya kadang-kadang kitalah yang menjauhi-Nya sehingga merasa dengan menyalahkan dan mengkambing hitamkan bahwa Tuhan telah menjauhi kita. Spirit Tuhan ada dalam setiap manusia, mengapa kita mesti harus saling membenci?. Untuk Dalijo semoga Allah SWT menunjukkan jalan yang lurus kepadamu. Amin.
oleh
Waluyo
Kemarin sore seorang teman berkunjung ke kamarku. Namanya Gabriel. Dia temanku sewaktu masih study di kampus. Begitu masuk kamar, matanya memandang ke sana ke mari sepertinya ada sesuatu yang ingin dicari. Melihat perilaku temenku itu, sayapun cuek. Lima menit, sepuluh menit saya tunggu sampai dia mengatakan sesuatu. Tepat di menit ke sebelas gugusan sistemik huruf pun mendesir pelan dari mulutnya. “oalah Yo, kamar kok kayak gudang, kotor dan penuh dengan debu. Mbo’yao dibersihkan to!” ucapnya. Rupanya kotoran dan debu yang ada di kamarku telah mengganggu pemandangannya. Ucapannya ternyata pelan-pelan menstimulasi hati dan akalku sehingga tanpa sadar mulutku ini sedikit membuka dengan rasa manisnya.
“He! Kok hanya senyum saja to?” ternyata senyumku juga telah memancing emosi dia.
“Ya biarin saja kotor dan berdebu!” timpalku.
Ku tatap wajahnya dengan tajam. Rupanya telinga dia makin panas mendengar jawabanku.
“Dasar malas, jorok!”. Hardiknya.
Mendengar hardikannya bibir ini pun kembali tersungging, namun kali ini aku sendiri tidak tahu apakah masih semanis tadi ataukah tidak. Sekali lagi hati dan pikiranku terpengaruh oleh ucapannya “kenapa dia dengan enaknya menjatuhkan penilaian kepadaku? Kenapa dia tidak mencoba untuk bertanya kenapa kamu biarkan debu dan kotoran itu ada di kamarmu?”
“Aku bingung” jawabku.
“Bingung kenapa? Wong tinggal nyapu sebentar saja kok. Berat apa?” tanyanya. Aku pun terdiam, mencoba menata hati dan pikiran supaya netral kembali dengan sesekali menarik nafas dan menyebulkannya kembali.
“Begini ya, saya ngga enak sama dia. Kita di dunia ini kan sama-sama hanya numpang. Jadi, keberadaannya di kamar ini sama dengan saya. Karena sama itulah, dia ketika masuk ke kamar ini pun tidak perlu meminta ijin saya. Begitu juga ketika dia ingin meninggalkannya. Dan yang harus kamu ketahui, dia di sini sama sekali tidak menggangguku, bahkan keberadaan dia di sini sangat membuatku nyaman. Walaupun sebenarnya ada juga yang terganggu dan menghindari dia. Nyamuk ternyata enggan main ke kamar ini. Saya pun sadar bahwa nyamuk juga punya hak atas kamar ini, tapi dia mengangguku. Kamu tahu sendiri kan, kalau saya orang yang paling tidak suka diganggu!”
Mendengar penjelasanku, dia hanya terdiam membisu. Namun, terlihat olehku keningnya naik turun dan tangannya yang selalu bergerak menyeimbangkan gesturenya seolah sedang menyusun kata-kata baru yang akan disampaikan kembali kepadaku. Rupanya dia masih belum puas dengan penjelasan yang telah aku sampaikan. Melihat gelagatnya seperti itu, aku pun mencoba untuk menunggunya. Ternyata dugaanku benar, dari mulutnya meluncur rangkaian gerbong kereta kata-kata yang memanjang.
“Dasar orang aneh! Dikasih tahu malah berhujjah. Kamu kan tahu bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Kenapa itu tidak kamu laksanakan?”. Umpat dan tanyanya.
Lagi-lagi ucapannya menstimulasi hati dan akalku. Kembali akupun terdiam senyap dalam desiran rasa hanyat yang menyelimuti hati ini.
“Ya, jujur aku tahu Hadits itu. Bahkan aku nggak tahu sudah berapa juta kali hadits itu masuk ke telinga ini. Namun, sampai detik ini saya masih berusaha melaksanakan titah itu sesuai proporsinya. Saya tidak ingin memaksakan pelaksanaan suatu titah Rasul tidak pada proporsinya. Sudahlah, saya tidak mau memperdebatkan keberadaan kotoran dan debu yang ada di kamar ini terlalu panjang. Kita keluar saja yuk, lapar nih. Lain kali saja kita cari waktu yang tepat untuk mendiskusikan masalah ini, gimana? Maaf lho kalau dah bikin kamu merasa nggak nyaman!”.
Rupanya dia juga lapar.
“Ya, yuk, tapi janji lho, lain kali kita diskusi lagi masalah ini?” kejarnya.
“Ya”
Sejak itulah perdebatan terhenti. Kami pun keluar mencari rumah makan, namun selama perjalanan hati dan akal ini terus bertanya “apakah yang saya lakukan ini benar? Ya Allah maafkanlah diri rendah ini apabila telah melakukan kesalahan. Benar dan salah hanyalah Engkau semata yang Maha Mengetahui Segalanya. Jika apa yang telah hamba lakukan ini benar, baik dan sesuai bagi hamba istiqamahkanlah dan jika salah, hamba memohon ampunan-Mu dan bimbinglah hamba ke jalan petunjuk”.
oleh
Waluyo
“Manusia adalah tanah”
Setujukah Anda dengan ungkapan di atas? Setuju boleh, tidak juga itu hak Anda. Kita demokrasi saja. Namun, coba baca, fahami, renungkan, ajukanlah pertanyaan pada diri sendiri, dan kemudian ungkapkanlah sebagai sebuah pendapat. Jangan takut salah, karena di sini tidak ada penilaian benar dan salah. Semua pendapat akan mendapat penghargaan yang sama sebagai ”MANUSIA SEJATI” karena keberaniannya mengungkapkan pendapat.
Sudah belum? Kalau belum, bagaimana kalau saya dulu. Bolehkah? Kok diam saja? Ok! Kata orang bijak diam juga pendapat, yang berarti setuju. Terima kasih.
Manusia dalam hidup ini pasti selalu berhubungan dengan tanah. Dalam beberapa referensi dikatakan bahwa manusia itu terbuat dari sari tanah atau unsur-unsur yang ada dalam tanah. Selain itu kita juga hidup di atas tanah. Adakah yang memungkiri hal ini? Bahkan ketika di rumah, atap dan dinding rumah kita juga ada yang terbuat dari tanah. Tidak sekedar itu saja, seberapa pun kekuatan kita untuk terbang tinggi ke angkasa, tanah ternyata juga akan menarik dengan kekuatannya yang luar biasa, yaitu gaya gravitasi. Coba renungkan sekali lagi!......... Eh! Jangan terlalu serius kayak gitu! Santai saja kawan! Slowly, softy, easy going! Sudah belum? Kalau sudah cobalah ajukan pertanyaan semisal, mengapa hidup kita sangat lekat dengan tanah? Tidak hanya ketika kita hidup, sudah mati pun tanahlah yang menemani kita. Sebenarnya, ada apa dengan tanah? Dan pesan apakah yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita lewat tanah ini?
Ok! Mari kita coba telusuri pelan-pelan! Namun, sebelumnya bagaimana kalau kita relaksasi sebentar biar otak kita ini encer. Saya pandu ya? Ok! Sekarang lemaskan dulu otot-otot tubuh kita, jangan ada yang ditekuk. Ambil nafas pelan-pelan lewat hidung, bawa ke perut, tahan sebentar, ya lepaskan pelan-pelan lewat hidung. Lagi…lagi…sekali lagi. Sip! Gimana? Dah lumayan? Nah kalau sudah, sekarang kita bisa mulai.
Adakah dari kita yang belum pernah menginjakkan kakinya di atas tanah? Tolong jawab dengan jujur! Saat kita menginjakkan kaki di atas tanah, pernahkah kita berfikir dan merasakan perilaku kita? Coba bayangkan kalau kita sedang menginjak tanah dengan kaki telajang…..berfikirlah tentang itu….rasakan perilaku itu dengan hati! Apa yang anda fikirkan dan renungkan? Apapun itu simpanlah dulu!
Baik! Sekarang ungkapkan dan jangan berargumen!
Good! Anda telah berhasil di tahap awal. Bersendawalah! Mungkin itu dapat mengurangi ketegangan.
Sekarang peganglah tangan atau tengkuk anda, kemudian gosoklah sehingga keluar sesuatu dari kulit itu! Sudah keluar? Apa itu?
Apa di dekat anda ada makanan? Kalau ada, kira-kira makanan itu berasal dari tanaman yang tumbuh di tanah bukan? Atau pernahkah anda memakan atau meminum sesuatu yang tidak pernah bersentuhan dengan tanah?
Anda sudah punya jawabannya? Kalau sudah, coba tengok kembali kaki kita! Apakah tanah ada di bawah kaki kita? Bisakah kita berempati? Biar empati kita bisa lebih mengena, cobalah untuk meninggalkan ego kita. Apa yang anda rasakan?
Bukankah posisi tanah ada di bawah kita? Samakah derajatnya dengan kita? Apakah anda merasa lebih mulia daripadanya?
Walapun tanah berada di bawah telapak kaki kita, namun jika kaki kita mengalami masalah pastilah dapat merasakan sesuatu darinya yang menggelitik, sehingga kadar-kadang menjadikan kita berusaha menghindarinya dengan cara apapun. Ini artinya, tidaklah selamanya bahwa sesuatu yang selalu berada di bawah kita itu tidak memiliki potensi. Untuk dapat lebih memahaminya, tengoklah dinding rumah anda! Dinding yang selalu anda gunakan untuk berlindung dari kenakalan angin malam atau ancaman para penjahat. Apakah dinding rumah anda terbuat dari batu bata? Setahu anda batu bata terbuat dari apa?
Atau tataplah atap rumah anda? Apakah atap rumah anda berupa genteng? Dari apa pula genteng itu terbuat? Apakah tanah liat dengan sendirinya dapat menjadi genteng? Di bawahnyalah kita berlindung dari hujan dan terik matahari.
Tanah liat berubah menjadi batu bata atau genteng semuanya melalui proses yang panjang dan tidak mudah. Apakah anda tahu prosesnya?
Tanah lihat harus diolah dengan berbagai campuran yang mendukungnya. Kemudian dia dibentuk, dijemur di bawah terik matahari yang panas, dirapihkan, dan kemudian di dibakar di api dengan suhu yang sangat tinggi. Kita bayangkan betapa tersiksanya dia. Itupun belum ada jaminan apakah dia akan berhasil menjadi batu bata atau genteng yang berkualitas. Karena biasanya ada yang merah bagus dan tidak sedikit yang setengah hitam setengahnya lagi merah, malah kadang-kadang patah. Batu bata atau genteng yang merah biasanya memiliki kwalitas yang tinggi sehingga daya jualnya pun mahal dan diapun siap untuk menjadi dinding yang kokoh atau menjadi atap rumah yang bisa melindungi para manusia atau hewan-hewan yang ada di bawahnya. Tapi, bagaimana nasib batu bata atau genteng yang setengah hitam setengah merah? Bagaimana daya jualnya? Apakah dia akan menjadi dinding yang kokoh atau menjadi atap yang tidak mudah bocor? Biasanya dia paling-paling akan kembali menjadi pijakan manusia dan tragisnya lagi dia tidak bisa membantu tumbuh-tumbuhan untuk dapat tumbuh dengan baik, malah umumnya dia akan menghalangi perkembangan tumbuh-tumbuhan.
Bagaimana? Seberapa banyakkah sesuatu di dunia ini yang jika diinginkan dapat terwujud dengan instants. Para orang sukses di dunia ini menjadi sukses tidaklah mereka meraihnya dalam waktu sekecap, tapi butuh waktu yang panjang dan perjuangan yang tak pernah kenal lelah. Mereka awalnya rata-rata juga orang biasa sebagaimana kita, namun mereka mau bekerja dari nol. Mereka tidak mempunyai apa-apa, hanya keinginan, kemauan, semangat, dan bertindaklah yang selalu melekat dan menghiasi dirinya. Dalam perjalanan menuju kesuksesan itu juga banyak kerikil-kerikil tajam yang kadang dapat melukai kulit bahkan mengancam jiwanya, tapi semua itu oleh mereka dianggap sebagai ujian yang apabila mereka mampu melewatinya maka akan lulus dan naik kelas. Kesuksesan itu tadak hanya berarti untuk dirinya sendiri, orang lain juga merasakannya.
Kita dapat belajar dari orang-orang yang katakanlah bisa dianggap sukses di negeri ini, seperti ust. Lihan, Dahlan Iskan, Ciputra, dan masih banyak lainnya. Dulu mereka bukanlah siapa-siapa, namun sekarang siapa yang tidak mengenalnya. Pelajari, renungkan, dan contohlah perjuangannya! Jangan pelajari kesuksesannya! Supaya setelah sukses bisa tetap survive belajarlah kepada orang-orang yang pernah sukses. Mereka pasti memiliki banyak nasehat yang sangat berharga, seperti sejarah kenapa mereka hancur atau tergelincir dari kesuksesannya. Karena orang cerdas akan belajar dari kesalahan mereka, dan yang benar-benar bijak adalah mereka yang belajar dari kesalahan orang lain.
Ust. Lihan bukanlah orang yang hanya sukses secara materi, tapi beliau juga sukses dalam kahidupan sosial dan spiritualnya. Contoh yang lebih komplit lagi atau bisa dikatakan sempurna, kita bisa belajar dari Baginda Rasullah SAW. Beliau bisa dikatakan sukses dalam berbagai segi kehidupan.
Hidup adalah belajar. Jika kita ingin sukses teruslah belajar dan belajar jangan pernah bosan walaupun mungkin itu pernah kita pelajari. Belajar bisa lewat guru, belajar dari kisah-kisah, dan belajar untuk belajar. Hal ini karena keberhasilan sejati adalah meningkatkan tingkat kedamaian batin dan kedekatan dengan Tuhan, yang tidak dapat digoyahkan oleh pasang-surut peristiwa-peristiwa yang bersifat sementara.
WALUYO
Allah Maha Kreatif. Setiap hasil karya-Nya tidak akan mampu ditandingi oleh siapapun. Seandainya seluruh manusia di dunia ini berkumpul untuk berusaha membuat sesuatu yang setidaknya mirip saja dengan apa yang Allah ciptakan pasti tidak akan mampu. Setiap karya-Nya pasti akan menarik setiap hati yang memandangnya untuk tertegun, dan kemudian mengucapkan “Masya Allah”. Walaupun yang dipandang baru sekedar bentuk luarnya saja. Hati kita akan reflek mengucapkan "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali ‘Imran: 191) ketika kita telah mampu memahami pesan yang ada di balik karya-karya itu.
Selain itu karya-karya yang diciptakan juga sebagai bentuk kasih sayang Allah. Dia selalu menjaga dan membimbing para mahluknya agar tetap berada pada jalan yang lurus. Salah satu cara bagaimana mencurahkan kasih sayangNya adalah dengan menyampaikan nasihatNya melalui karya-karyaNya. Itulah Allah, walaupun Dia itu Tuhan tetapi juga bersikap tawadlu’. Setiap mencurahkan kasih sayangNya tidak kemudian ditampak-tampakkan walaupun Dia berhak untuk itu. Salah satu karya besar Allah sebagai bentuk Maha Besarnya, Maha Kreatifnya, dan Maha Kasih Sayangnya adalah diciptakannya pohon kurma.
Pohon kurma ketika diamati dari sisi fisik memang tidak begitu indah, walaupun begitu tidak akan ada yang mampu membuat yang setidaknya serupa dengan itu. Namun ketidakindahan yang ada pada pohon kurma itu justru tersimpan pelajaran dan nasihat yang sangat luar biasa dan sudah semestinya harus ditauladani.
Bentuk fisik yang tidak begitu indah jika dilihat sekedar dengan mata telanjang bukanlah suatu halangan untuk berbuat yang bermanfaat bagi diri, keluarga dan lingkungannya. Ketidakindahan itu justru merupakan sebuah anugerah dan bentuk kasih sayang Allah yang luar biasa. Dengan kondisinya yang seperti itu dia dapat melindungi dirinya dari segala sifat yang tercela, semisal riya’, sombong, angkuh, dan congkak. Selain itu juga merupakan bukti bahwa penilaian Allah bukanlah berdasarkan atas apa yang dia miliki, tetapi pada bagaimana dia bersikap dan berperilaku. Karena yang berhak menilai hanyalah Allah semata “ilallahi marji’ukum jami’a”.
Mengapa Allah tumbuhkan pohon kurma itu di padang pasir. Ternyata ketika direnungi secara mendalam terdapat suatu pelajaran, nasehat, dan hikmah yang luar biasa. Padang pasir yang gersang dan jauh dari sumber air merupakan gambaran dari situasi dan kondisi yang sempit atau berat atau serba dekat dengan kesulitan-kesulitan. Pohon kurma walaupun hidup dalam kondisi kesusahan atau sulit tetap berupaya untuk selalu survive. Berusaha untuk tetap hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya pepohonan lainnya yang hidup dengan taraf kesejahteraan yang tinggi.
Bagi pohon kurma, situasi dan kondisi jauh dari air bukanlah halangan untuk tetap beraktualisasi dan berprestasi. Pada kenyataannya dia mampu berbuah dengan buah yang kemanisan dan khasiatnya bagi kesehatan diakui oleh manusia seluruh alam. Selain itu pohon kurma juga terbuka bagi siapa saja tanpa pernah memperhitungkan apakah dia muslim atau tidak, kaya ataukah miskin, laki-laki ataukah perempuan, pejabat ataukah rakyat jelata, dari barat ataukah dari timur, dari selatan ataukah dari selatan, berkulit putih ataukah berwarna yang ingin berteduh di bawahnya. Semuanya merasakan kedamaian, keterbukaan, dan keadilan. Bahkan tidak sekedar memberikan tempat untuk berteduh, para tamu yang berkenan hadir juga disuguhi dengan kemanisan buah kurma.
Dengan melalui pohon kurma Allah menyampaikan dan mencurahkan kasih sayangNya bagi manusia. Kasih sayang berupa pesan yang harus ditauladani oleh manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. PesanNya adalah
1. Walaupun hidup dalam kondisi sulit, susah, sempit, dan sengsara janganlah mudah putus asa. Jadikanlah kondisi itu sebagai motivator dan spirit yang mendorong kepada perilaku lebih kreatif dalam rangka mencari jalan keluar yang positif dan lebih bermanfaat bagi kehidupan sekitar.
2. Manusia selain sebagai hamba Allah juga sebagai khalifah di muka bumi ini yang rahmatan lil’alamin. Dia diharapkan mampu bersikap dan berperilaku bijak dalam menjaga keseimbangan kosmos yang warna warni. Sikap dan tindakannya dipertimbangkan atas apa sebaik dan sebenarnya harus dilakukan.
Semoga kita sebagai manusia memaknai, merenungkan, dan mengimplementasikan pesan-pesan itu dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi orang yang memiliki prestasi ruhani. Amin.
WALUYO
“Ucapkanlah kebaikan atau diam”
(al-Hadits)
Kata-kata ini dapat berupa verbal dan non verbal (isyarat). Orang yang normal dapat mengungkapkan apa yang diinginkannya atau tidak diinginkan melalui kata-kata verbal dan bahkan sering pula menggunakan kata-kata isyarat. Misalnya, seorang calon anggota legislatif yang ingin nantinya dipilih sebagai wakil rakyat harus bisa memanipulasi kata-kata yang indah dalam bentuk janji-janji kepada masyarakat.
Sedangkan orang bisu biasanya mengungkapkan apa yang diinginkannya atau menolaknya dengan kata isyarat sehingga ada yang namanya bahasa isyarat. Misalnya, orang tuna wicara ketika menginkan orang lain membantunya mengambilkan suatu benda dia dapat menggunakan tangannya dengan cara melambaikan tangannya, menunjuk kepada benda tersebut, dan menunjukkan tangannya kembali kepada dirinya. Dengan ini dapat dimengerti bahwa kata-kata memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Namun, dibalik vitalnya itu ternyata kata-kata ini bagaikan sebilah pedang bermata dua.
Pada saat tertentu kata-kata dapat bernilai positif dan pada saat lainnya dapat bernilai negatif. Bernilai positif dan negatifnya ini sangat tergantung pada siapa yang menggunakannya. Positif dan negatifnya ini juga tergantung pada situasi dan kondisi. Namun, jika hendak dibandingkan peran penting antara subjek dan kondisi dimana kata-kata itu terlontar maka subjek lebih memiliki peranan lebih besar.
Kata-kata terbagi menjadi dua golongan, yaitu kata-kata baik atau terpuji dan kata-kata tercela. Baik atau tercelanya suatu kata-kata tergantung budaya yang berada di lingkungan di mana seseorang itu tinggal dan hidup. Misalnya, kata jancu’ bagi orang Jawa Timur dianggap sebagai kata sapaan yang mengakrabkan, tapi kata ini akan bermakna pelecehan bagi orang Yogyakarta. Atau memegang kepala bagi orang jawa merupakan suatu tindakan yang melecehkan, tapi bagi orang Arab memiliki makna penghormatan.
Penulis di sini tidak akan membahas kata-kata yang terbatasi oleh budaya tertentu. Pada kesempatan kali ini penulis ingin membahas kata-kata yang universal saja, yaitu kata-kata yang setiap orang dimanapun menggunakannya atau lebih tepatnya kata yang secara konsesus disepakati nilainya oleh semua orang. Misalnya, kata pahlawan. Semua orang faham bahwa pahlawan adalah seseorang yang telah berjasa mengorbankan dirinya untuk menolong orang lain atau sesuatu di luar dirinya.
Kata-kata memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap diri orang yang mengucapkan atau memperagakannya, orang yang mendengar atau melihatnya, dan lingkungan sekitarnya baik secara fisik maupun psikis. Hal ini, karena kata-kata memiliki dua sifat yang bertolak belakang, yakni sifat air dan sifat api. Orang yang melontarkan kata-kata terpuji secara psikis dirinya akan merasa nyaman dan sejuk, begitu pula orang yang mendengarkannya. Tidak hanya sekedar memberikan rasa nyaman dan sejuk saja tetapi juga dapat menumbuhkan daya-daya positif yang terdapat di dalam tubuh manusia, dan lingkungan sekitarnya. Secara fisik, tubuh akan merasa lebih rileks karena darah dapat mengalir dengan lancar serta jantungnya berdetak dengan teratur. Contoh, kata-kata motivasi. Bagi orang yang mengucapkannya akan merasa termotivasi untuk membuktikan apa yang telah diungkapkan kepada orang lain. Sedangkan orang yang mendapat motivasi akan merasa memiliki energi positif untuk dapat berbuat sesuatu yang positif bagi diri atau lingkungannya.
Sebaliknya kata-kata tercela akan membuat diri orang yang mengucapkan, mendengarkan, dan lingkungan sekitarnya menjadi terganggu sistem organ tubuh dan jiwanya selain itu juga akan memunculkan energi-energi negatif. Biasanya kalau orang sedang marah aliran darah menjadi tidak lancar karena adrenalinnya naik dan detak jantung tidak teratur. Contoh, kata-kata hinaan. Orang yang mengucapkan kata-kata hinaan pasti tidak akan merasa nyaman dalam hidupnya. Apalagi orang lain yang mendengarkannya, perasaan benci dan marah akan menyelimutinya. Begitu pula lingkungan sekitarnya menjadi terganggu.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya adalah karena hampir seluruh mahluk yang ada di dunia mengandung zat cair. Tubuh manusia hampir 80% berisi air begitu pula mahluk lainnya. Kata-kata memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap zat cair, sebagaimana hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Masaru Emoto dalam bukunya The True Power of Water (2007). Hasil penelitian mengatakan bahwa kata-kata berpengaruh terhadap struktur pori-pori air. Jika kata-kata yang diberikan adalah kata-kata pujian maka struktur air itu akan tersusun menjadi seperti berlian yang sangat indah sedangkan jika kata-kata yang diberikan untuk menstimulasi air itu kata-kata celaan maka struktur air akan tersusun menjadi seperti berlian yang sangat jelek bentuk dan cahayanya.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Tompkinn dan Bird terhadap tumbuh-tumbuhan dalam bukunya yang berjudul Secret Life of The Plant (2004) juga mengatakan bahwa kata-kata berpengaruh terhadap arah gerak dan tumbuh kembang tumbuh-tumbuhan. Berdasarkan keterangan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kata-kata mempengaruhi kosmos.
Jauh sebelum penelitian mengenai pengaruh kata-kata terhadap air dan tumbuh-tumbuhan dilakukan Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
“Orang muslim adalah orang yang masyarakat selamat dari (kejahatan) lisan dan tangannya” (HR. Bukhari)
Jadi, kata-kata dapat berimplikasi pada terwujudnya masyarakat dunia yang damai dan dapat pula sebaliknya. Oleh karena itu, ada tuntutan harus cerdas dalam mengeluarkan kata-kata. Orang yang cerdas ketika akan berbicara selalu mempertimbangkan hal-hal berikut ini:
- Kadar audiens. Kadar ini meliputi; akal, budaya, ras, agama, ekonomi, dan demografi lainnya.
- Pemilihan kata-kata (words election) yang tepat.
- Situasi dan kondisi
- Kebenaran isi jika berita
Phenomena adolescent like a monkey black circle that is not complete since the end of the first until now. Experts from various scientific disciplines have attempted criticize this problem. However, it seems teenagers hoax from year to year is always a significant improvement. The problem of quality is increasingly complex. This along with the complexity race onrush of modernization to stop in various parts of the world, especially Indonesia. In Indonesia, the adolescent naughtiness is not the monopoly is just urban youth, but youth-teenagers who live in rural areas has also been affected by the virus began.
Adolescents dido in the study of social science entry in deviant behavior. Deviant behavior in the perspective of social problems occur because there is a diversion from the various behavioral rules or social values and social norms that apply. Deviant behavior can be considered as a source of problems because it can endanger perpendicularity social system. The use of the concept of deviant behavior in the implicit meaning that there are lines that should be standard. Behavior that is not through these means have been deviant.
Deviant behavior in the life of the community is also called the social pathology or social disease. Social pathology if left alone it can disrupt social stability. Disturbed social stability will be the symptoms of chaos or chaos. Therefore, the dido adolescent problems can not be considered as a matter of simple or even considered to be reasonable. This problem must be attituded taken seriously by all parties with a way to collect and identify the factors that encouraged, specify the steps that must be applied and perform the last action or treatment.
Wright to share the kind of adolescent mischief in some circumstances:
- neurotic adolescent delinquency are shy, too sensitive person, withdrawn, anxiety and low self-experience. They have a strong encouragement to do a hoax, such as theft itself, the action of aggressive suddenly without reason because mastered by delusion and self fantacy.
- Unsocialized delinquent, an attitude like that against someone of power, a sense enemy and spiteful. Praise and punishment is not useful for them. They never feel guilty nor regret that the act was done. Often throw an error and responsibility to others. To get the respect and recognition of fear or other people also often perform acts of courage, grandeur, and beyond a doubt.
- Pseudo social delinquent, adolescents who have a high loyalty to the group or "gang" so that his attitude appear docile, loyal, solidarity and the good. If things do not act hoax awareness of self as well but based on suspicion that he must perform a duty that the group has outlined. Groups provide a sense of security to himself because he was always ready to meet the obligations placed or assigned by group. While groups are groups that can not be well received by people because of actions and activities that often restless community.
B. These Force Factors
Factors affecting the occurrence of adolescent mischief that two factors internal and external factors.
1. Internal Factors
Internal factor is the factor in the adolescent self itself. Teenagers are individuals who have left childhood full of dependency and towards the establishment of responsibility (Basri, 1995). At this time the individual development of the two, namely the development of bio-physical and psychological or psychiatric.
The biological, hormones in the body of a teenage maturity which this maturity sexual affect the occurrence of stimulus-stimulus of the sexual life and turbulent. Teenagers start to have interest in the type of opponent, while the introduction of the self that is still lacking. In addition, adolescent physical condition also had a role in the emergence of adolescent mischief, such as the existence of disability and so on.
The psychological, the root of the problem teenagers have difficulties going on himself, namely individuasi, regulation, and integration. Difficulties in overcoming individuasi, namely the difficulties in realizing themselves as adults. Reality because his attitude that ambivalence. Difficulties in the regulation problem is because young people in his capablity not adjust itself with the changes that are very rapidly in the field of physical and sexual. While the difficulties of integration caused by young people in difficulty to adjust and integrate norms or values and attitudes with the norms or standards of value in society (in Rumke Sabri, 1997).
Youth is the identity search. At this time, something that most ambition himself is to seek and find a new identity for himself. A search effort clarity about who himself? What role in society? Is it useful to include people or not? And a myriad of other problems associated with the encompass identity. On the other hand, adolescents also begin weigh himself with other people ririskiky not professional and does not tend to think realistically. As a result, when the standards are not achieved, young people begin search for fugitive release emosinya. So, with these cases of adolescent mischief be resonanced (Haedari, 2005).
2. External Factors
External factors more dominated by the environment in which young people live it. Environment that there are three, the family environment, school, and community (Sukmadinata, 2003). Factors that emerged from the family environment is very closely related to how the pattern of foster parents and family conditions.
Pattern foster democracy on the model with different direspon by their children than the foster authoritarian pattern or permisif. Still many parents unaware that foster a pattern that has a large influence on the incidence of adolescent mischief, especially concerning the quality of relationship problems or interpersonal communication relationships (Saad, 2003). In modern life often found that an individual feels sequestered, isolated, and neglectful, even in the midst of a busy life. A psychologist writing a communication about this as follows: in the absence of affection, acceptance, love and share a sense of fun with other people, so many people feel alone, rejected, ignored, and the doghouse (Brooks and Emmert, 1977).
If someone fails in the antarpribadi a good relationship, including the parents themselves, they will be happy delusion circumstances, physical and mental illness, aggressive, and flee from the reality of life. Therefore, the relationship with other people, including the parents, should be colored by a principle of a communication and build relationships that can encourage the occurrence of a healthy relationship (Rakhmat, 1986).
While the factors that emerged from the school environment is derived from the design of the curriculum is wrong. Design curriculum still trapped in ranah cognitive, while afective and psychomotoric not at all manner. Flare modernization of education which requires regularity, in the end only withdrawl hand-side of humanity of the students. Students the withdrawal of a robot forced to eat with all knowledge, and ultimately prepared the work as a search engine only.
This condition worsened again with the fact that the curriculum for this effect, it appeared that only focuses on theoretical aspects only. So, nothing else and not the curriculum that has not produce the next generation-the generation tercerabut from the real world, the next generation-the generation of emotional skill and not ready to face the hard life. Schools in general, only able to produce the next generation of intelligent thinking in distress but the option to live and act confused.
Environmental community also has a large contribution to the emergence of teenage mischief. This is certainly related to and have straight or not and not the norm or value of society itself. Society is ready to filter the main negative influence coming from outside. However, it will be fatal if the norms or values in the society is experiencing a shifting. Victims are young people first. This is because young people are individuals who have the search phase identification and easy to do something new. Not to mention the emergence of a sense want to be recognized as members of a community.
C. Steps To Cope Contructive Adolescent Hoax
Has been agreed by all parties that regardless of mischief done by teenagers and young people is very restless disrupt people's lives and therefore need to preventive. Agreed that preventive efforts or of prevention is better than an effort to improve the condition of damaged and dangerous terlanjur.
Therefore, a series of review and improvement of return following conditions:
First, the Building and improving the quality of the family so that both parents had a foster and develop the personality and character of their children with good and beatify. Time parents in the home need to use be intensived especially in communication with their children so that sense of affection, attention and guidance can be implemented well.
Second, Building a healthy social environment in terms of normative and responsive to the behavioral gaffe gaffe-warganyadan always trying improve. People who need to be completely abandoned and condition be upright that reasonable, healthy, and honorable. Any form of social activity and the negative impact for development of moral, social responsibility and adolescents and youth need to be erased.
Third, make healthy again serving in the materials and mass media, both print and electronic, as well as books and magazines and movie posters.
Fourth, Manage and control with full responsibility, and behavior of the tourists in and outside the country, that does not negatively impact the process of personality development of adolescents and youth.
Fifth, community leaders both formal and non formal improve themselves need both in word and life habits that can be a role model by example, and the community generally, and especially the younger generation. The reprehensible action is very large negative impact on adolescents and youth.
Sixth, Places of recreation and sport berolah healthy and meet the requirements necessary, by not reduced. Clean places recreation of an impression as a place to carry out disgraceful actions and action other sins.
Seventh, Increase in religious education as well as community education and training activities that are useful for the life of the community (Basri, 1995).
D. Conclusion
Naughtiness be attituted teenagers should be subtle and immediately made a tinadakan the true, good and right that young people back on his fitrah as a man who always loved a good thing. Handling phenomenon of adolescent mischief can not be on the one hand, but all parties have the same responsibility and should be proportional and professional.
References
Basri, Hasan, Remaja Berkualitas, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.
Haedari, Amin, Panorama Pesantren Dalam Cakrawala Modern, Jakarta: Diva Pustaka, 2004.
Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Bandung: Remaja Karya, 1986.
Saad, Hasballah, Perkelahian Pelajar, Yogyakarta: Galang Press, 2003.
Sabri, Alisuf, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1997.
William D. Brooks dan Philip Emmert, Interpersonal Comunication, Lowa: Wm. C. Brown Co. Publisher, 1977.