Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts
Oleh
WALUYO
WALUYO
Setiap dari kita pasti mengenal yang namanya pohon kurma. Kalaupun belum pernah melihat secara langsung tetapi kita pernah merasakan manisnya buah kurma, apalagi kalau sedang musim haji atau saat bulan puasa Ramadlan. Pohon ini memang tidak lazim tumbuh di daerah selain padang pasir. Kenapa hanya bisa tumbuh di daerah seperti itu, padahal padang pasir itu kadar airnya sangat minim. Mengapa Allah merekayasa seperti itu? Ada pesan apa di balik itu semua?
Allah Maha Kreatif. Setiap hasil karya-Nya tidak akan mampu ditandingi oleh siapapun. Seandainya seluruh manusia di dunia ini berkumpul untuk berusaha membuat sesuatu yang setidaknya mirip saja dengan apa yang Allah ciptakan pasti tidak akan mampu. Setiap karya-Nya pasti akan menarik setiap hati yang memandangnya untuk tertegun, dan kemudian mengucapkan “Masya Allah”. Walaupun yang dipandang baru sekedar bentuk luarnya saja. Hati kita akan reflek mengucapkan "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali ‘Imran: 191) ketika kita telah mampu memahami pesan yang ada di balik karya-karya itu.
Selain itu karya-karya yang diciptakan juga sebagai bentuk kasih sayang Allah. Dia selalu menjaga dan membimbing para mahluknya agar tetap berada pada jalan yang lurus. Salah satu cara bagaimana mencurahkan kasih sayangNya adalah dengan menyampaikan nasihatNya melalui karya-karyaNya. Itulah Allah, walaupun Dia itu Tuhan tetapi juga bersikap tawadlu’. Setiap mencurahkan kasih sayangNya tidak kemudian ditampak-tampakkan walaupun Dia berhak untuk itu. Salah satu karya besar Allah sebagai bentuk Maha Besarnya, Maha Kreatifnya, dan Maha Kasih Sayangnya adalah diciptakannya pohon kurma.
Pohon kurma ketika diamati dari sisi fisik memang tidak begitu indah, walaupun begitu tidak akan ada yang mampu membuat yang setidaknya serupa dengan itu. Namun ketidakindahan yang ada pada pohon kurma itu justru tersimpan pelajaran dan nasihat yang sangat luar biasa dan sudah semestinya harus ditauladani.
Bentuk fisik yang tidak begitu indah jika dilihat sekedar dengan mata telanjang bukanlah suatu halangan untuk berbuat yang bermanfaat bagi diri, keluarga dan lingkungannya. Ketidakindahan itu justru merupakan sebuah anugerah dan bentuk kasih sayang Allah yang luar biasa. Dengan kondisinya yang seperti itu dia dapat melindungi dirinya dari segala sifat yang tercela, semisal riya’, sombong, angkuh, dan congkak. Selain itu juga merupakan bukti bahwa penilaian Allah bukanlah berdasarkan atas apa yang dia miliki, tetapi pada bagaimana dia bersikap dan berperilaku. Karena yang berhak menilai hanyalah Allah semata “ilallahi marji’ukum jami’a”.
Mengapa Allah tumbuhkan pohon kurma itu di padang pasir. Ternyata ketika direnungi secara mendalam terdapat suatu pelajaran, nasehat, dan hikmah yang luar biasa. Padang pasir yang gersang dan jauh dari sumber air merupakan gambaran dari situasi dan kondisi yang sempit atau berat atau serba dekat dengan kesulitan-kesulitan. Pohon kurma walaupun hidup dalam kondisi kesusahan atau sulit tetap berupaya untuk selalu survive. Berusaha untuk tetap hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya pepohonan lainnya yang hidup dengan taraf kesejahteraan yang tinggi.
Bagi pohon kurma, situasi dan kondisi jauh dari air bukanlah halangan untuk tetap beraktualisasi dan berprestasi. Pada kenyataannya dia mampu berbuah dengan buah yang kemanisan dan khasiatnya bagi kesehatan diakui oleh manusia seluruh alam. Selain itu pohon kurma juga terbuka bagi siapa saja tanpa pernah memperhitungkan apakah dia muslim atau tidak, kaya ataukah miskin, laki-laki ataukah perempuan, pejabat ataukah rakyat jelata, dari barat ataukah dari timur, dari selatan ataukah dari selatan, berkulit putih ataukah berwarna yang ingin berteduh di bawahnya. Semuanya merasakan kedamaian, keterbukaan, dan keadilan. Bahkan tidak sekedar memberikan tempat untuk berteduh, para tamu yang berkenan hadir juga disuguhi dengan kemanisan buah kurma.
Dengan melalui pohon kurma Allah menyampaikan dan mencurahkan kasih sayangNya bagi manusia. Kasih sayang berupa pesan yang harus ditauladani oleh manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. PesanNya adalah
1. Walaupun hidup dalam kondisi sulit, susah, sempit, dan sengsara janganlah mudah putus asa. Jadikanlah kondisi itu sebagai motivator dan spirit yang mendorong kepada perilaku lebih kreatif dalam rangka mencari jalan keluar yang positif dan lebih bermanfaat bagi kehidupan sekitar.
2. Manusia selain sebagai hamba Allah juga sebagai khalifah di muka bumi ini yang rahmatan lil’alamin. Dia diharapkan mampu bersikap dan berperilaku bijak dalam menjaga keseimbangan kosmos yang warna warni. Sikap dan tindakannya dipertimbangkan atas apa sebaik dan sebenarnya harus dilakukan.
Semoga kita sebagai manusia memaknai, merenungkan, dan mengimplementasikan pesan-pesan itu dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi orang yang memiliki prestasi ruhani. Amin.
Allah Maha Kreatif. Setiap hasil karya-Nya tidak akan mampu ditandingi oleh siapapun. Seandainya seluruh manusia di dunia ini berkumpul untuk berusaha membuat sesuatu yang setidaknya mirip saja dengan apa yang Allah ciptakan pasti tidak akan mampu. Setiap karya-Nya pasti akan menarik setiap hati yang memandangnya untuk tertegun, dan kemudian mengucapkan “Masya Allah”. Walaupun yang dipandang baru sekedar bentuk luarnya saja. Hati kita akan reflek mengucapkan "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Ali ‘Imran: 191) ketika kita telah mampu memahami pesan yang ada di balik karya-karya itu.
Selain itu karya-karya yang diciptakan juga sebagai bentuk kasih sayang Allah. Dia selalu menjaga dan membimbing para mahluknya agar tetap berada pada jalan yang lurus. Salah satu cara bagaimana mencurahkan kasih sayangNya adalah dengan menyampaikan nasihatNya melalui karya-karyaNya. Itulah Allah, walaupun Dia itu Tuhan tetapi juga bersikap tawadlu’. Setiap mencurahkan kasih sayangNya tidak kemudian ditampak-tampakkan walaupun Dia berhak untuk itu. Salah satu karya besar Allah sebagai bentuk Maha Besarnya, Maha Kreatifnya, dan Maha Kasih Sayangnya adalah diciptakannya pohon kurma.
Pohon kurma ketika diamati dari sisi fisik memang tidak begitu indah, walaupun begitu tidak akan ada yang mampu membuat yang setidaknya serupa dengan itu. Namun ketidakindahan yang ada pada pohon kurma itu justru tersimpan pelajaran dan nasihat yang sangat luar biasa dan sudah semestinya harus ditauladani.
Bentuk fisik yang tidak begitu indah jika dilihat sekedar dengan mata telanjang bukanlah suatu halangan untuk berbuat yang bermanfaat bagi diri, keluarga dan lingkungannya. Ketidakindahan itu justru merupakan sebuah anugerah dan bentuk kasih sayang Allah yang luar biasa. Dengan kondisinya yang seperti itu dia dapat melindungi dirinya dari segala sifat yang tercela, semisal riya’, sombong, angkuh, dan congkak. Selain itu juga merupakan bukti bahwa penilaian Allah bukanlah berdasarkan atas apa yang dia miliki, tetapi pada bagaimana dia bersikap dan berperilaku. Karena yang berhak menilai hanyalah Allah semata “ilallahi marji’ukum jami’a”.
Mengapa Allah tumbuhkan pohon kurma itu di padang pasir. Ternyata ketika direnungi secara mendalam terdapat suatu pelajaran, nasehat, dan hikmah yang luar biasa. Padang pasir yang gersang dan jauh dari sumber air merupakan gambaran dari situasi dan kondisi yang sempit atau berat atau serba dekat dengan kesulitan-kesulitan. Pohon kurma walaupun hidup dalam kondisi kesusahan atau sulit tetap berupaya untuk selalu survive. Berusaha untuk tetap hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya pepohonan lainnya yang hidup dengan taraf kesejahteraan yang tinggi.
Bagi pohon kurma, situasi dan kondisi jauh dari air bukanlah halangan untuk tetap beraktualisasi dan berprestasi. Pada kenyataannya dia mampu berbuah dengan buah yang kemanisan dan khasiatnya bagi kesehatan diakui oleh manusia seluruh alam. Selain itu pohon kurma juga terbuka bagi siapa saja tanpa pernah memperhitungkan apakah dia muslim atau tidak, kaya ataukah miskin, laki-laki ataukah perempuan, pejabat ataukah rakyat jelata, dari barat ataukah dari timur, dari selatan ataukah dari selatan, berkulit putih ataukah berwarna yang ingin berteduh di bawahnya. Semuanya merasakan kedamaian, keterbukaan, dan keadilan. Bahkan tidak sekedar memberikan tempat untuk berteduh, para tamu yang berkenan hadir juga disuguhi dengan kemanisan buah kurma.
Dengan melalui pohon kurma Allah menyampaikan dan mencurahkan kasih sayangNya bagi manusia. Kasih sayang berupa pesan yang harus ditauladani oleh manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. PesanNya adalah
1. Walaupun hidup dalam kondisi sulit, susah, sempit, dan sengsara janganlah mudah putus asa. Jadikanlah kondisi itu sebagai motivator dan spirit yang mendorong kepada perilaku lebih kreatif dalam rangka mencari jalan keluar yang positif dan lebih bermanfaat bagi kehidupan sekitar.
2. Manusia selain sebagai hamba Allah juga sebagai khalifah di muka bumi ini yang rahmatan lil’alamin. Dia diharapkan mampu bersikap dan berperilaku bijak dalam menjaga keseimbangan kosmos yang warna warni. Sikap dan tindakannya dipertimbangkan atas apa sebaik dan sebenarnya harus dilakukan.
Semoga kita sebagai manusia memaknai, merenungkan, dan mengimplementasikan pesan-pesan itu dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi orang yang memiliki prestasi ruhani. Amin.
Oleh
WALUYO
WALUYO
“Ucapkanlah kebaikan atau diam”
(al-Hadits)
Kata-kata atau ucapan sangat lekat dengan kehidupan manusia. Hampir setiap manusia sangat sulit untuk menghindari kata-kata. Dengan kata-kata manusia dapat menyampaikan apa yang menjadi keinginannya atau ketidakinginannya dan manusia dapat mengerti apa yang diinginkan atau tidak diinginkan oleh manusia lainnya. Kata-kata merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Kata-kata ini dapat berupa verbal dan non verbal (isyarat). Orang yang normal dapat mengungkapkan apa yang diinginkannya atau tidak diinginkan melalui kata-kata verbal dan bahkan sering pula menggunakan kata-kata isyarat. Misalnya, seorang calon anggota legislatif yang ingin nantinya dipilih sebagai wakil rakyat harus bisa memanipulasi kata-kata yang indah dalam bentuk janji-janji kepada masyarakat.
Sedangkan orang bisu biasanya mengungkapkan apa yang diinginkannya atau menolaknya dengan kata isyarat sehingga ada yang namanya bahasa isyarat. Misalnya, orang tuna wicara ketika menginkan orang lain membantunya mengambilkan suatu benda dia dapat menggunakan tangannya dengan cara melambaikan tangannya, menunjuk kepada benda tersebut, dan menunjukkan tangannya kembali kepada dirinya. Dengan ini dapat dimengerti bahwa kata-kata memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Namun, dibalik vitalnya itu ternyata kata-kata ini bagaikan sebilah pedang bermata dua.
Pada saat tertentu kata-kata dapat bernilai positif dan pada saat lainnya dapat bernilai negatif. Bernilai positif dan negatifnya ini sangat tergantung pada siapa yang menggunakannya. Positif dan negatifnya ini juga tergantung pada situasi dan kondisi. Namun, jika hendak dibandingkan peran penting antara subjek dan kondisi dimana kata-kata itu terlontar maka subjek lebih memiliki peranan lebih besar.
Kata-kata terbagi menjadi dua golongan, yaitu kata-kata baik atau terpuji dan kata-kata tercela. Baik atau tercelanya suatu kata-kata tergantung budaya yang berada di lingkungan di mana seseorang itu tinggal dan hidup. Misalnya, kata jancu’ bagi orang Jawa Timur dianggap sebagai kata sapaan yang mengakrabkan, tapi kata ini akan bermakna pelecehan bagi orang Yogyakarta. Atau memegang kepala bagi orang jawa merupakan suatu tindakan yang melecehkan, tapi bagi orang Arab memiliki makna penghormatan.
Penulis di sini tidak akan membahas kata-kata yang terbatasi oleh budaya tertentu. Pada kesempatan kali ini penulis ingin membahas kata-kata yang universal saja, yaitu kata-kata yang setiap orang dimanapun menggunakannya atau lebih tepatnya kata yang secara konsesus disepakati nilainya oleh semua orang. Misalnya, kata pahlawan. Semua orang faham bahwa pahlawan adalah seseorang yang telah berjasa mengorbankan dirinya untuk menolong orang lain atau sesuatu di luar dirinya.
Kata-kata memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap diri orang yang mengucapkan atau memperagakannya, orang yang mendengar atau melihatnya, dan lingkungan sekitarnya baik secara fisik maupun psikis. Hal ini, karena kata-kata memiliki dua sifat yang bertolak belakang, yakni sifat air dan sifat api. Orang yang melontarkan kata-kata terpuji secara psikis dirinya akan merasa nyaman dan sejuk, begitu pula orang yang mendengarkannya. Tidak hanya sekedar memberikan rasa nyaman dan sejuk saja tetapi juga dapat menumbuhkan daya-daya positif yang terdapat di dalam tubuh manusia, dan lingkungan sekitarnya. Secara fisik, tubuh akan merasa lebih rileks karena darah dapat mengalir dengan lancar serta jantungnya berdetak dengan teratur. Contoh, kata-kata motivasi. Bagi orang yang mengucapkannya akan merasa termotivasi untuk membuktikan apa yang telah diungkapkan kepada orang lain. Sedangkan orang yang mendapat motivasi akan merasa memiliki energi positif untuk dapat berbuat sesuatu yang positif bagi diri atau lingkungannya.
Sebaliknya kata-kata tercela akan membuat diri orang yang mengucapkan, mendengarkan, dan lingkungan sekitarnya menjadi terganggu sistem organ tubuh dan jiwanya selain itu juga akan memunculkan energi-energi negatif. Biasanya kalau orang sedang marah aliran darah menjadi tidak lancar karena adrenalinnya naik dan detak jantung tidak teratur. Contoh, kata-kata hinaan. Orang yang mengucapkan kata-kata hinaan pasti tidak akan merasa nyaman dalam hidupnya. Apalagi orang lain yang mendengarkannya, perasaan benci dan marah akan menyelimutinya. Begitu pula lingkungan sekitarnya menjadi terganggu.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya adalah karena hampir seluruh mahluk yang ada di dunia mengandung zat cair. Tubuh manusia hampir 80% berisi air begitu pula mahluk lainnya. Kata-kata memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap zat cair, sebagaimana hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Masaru Emoto dalam bukunya The True Power of Water (2007). Hasil penelitian mengatakan bahwa kata-kata berpengaruh terhadap struktur pori-pori air. Jika kata-kata yang diberikan adalah kata-kata pujian maka struktur air itu akan tersusun menjadi seperti berlian yang sangat indah sedangkan jika kata-kata yang diberikan untuk menstimulasi air itu kata-kata celaan maka struktur air akan tersusun menjadi seperti berlian yang sangat jelek bentuk dan cahayanya.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Tompkinn dan Bird terhadap tumbuh-tumbuhan dalam bukunya yang berjudul Secret Life of The Plant (2004) juga mengatakan bahwa kata-kata berpengaruh terhadap arah gerak dan tumbuh kembang tumbuh-tumbuhan. Berdasarkan keterangan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kata-kata mempengaruhi kosmos.
Jauh sebelum penelitian mengenai pengaruh kata-kata terhadap air dan tumbuh-tumbuhan dilakukan Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
“Orang muslim adalah orang yang masyarakat selamat dari (kejahatan) lisan dan tangannya” (HR. Bukhari)
Jadi, kata-kata dapat berimplikasi pada terwujudnya masyarakat dunia yang damai dan dapat pula sebaliknya. Oleh karena itu, ada tuntutan harus cerdas dalam mengeluarkan kata-kata. Orang yang cerdas ketika akan berbicara selalu mempertimbangkan hal-hal berikut ini:
Kata-kata ini dapat berupa verbal dan non verbal (isyarat). Orang yang normal dapat mengungkapkan apa yang diinginkannya atau tidak diinginkan melalui kata-kata verbal dan bahkan sering pula menggunakan kata-kata isyarat. Misalnya, seorang calon anggota legislatif yang ingin nantinya dipilih sebagai wakil rakyat harus bisa memanipulasi kata-kata yang indah dalam bentuk janji-janji kepada masyarakat.
Sedangkan orang bisu biasanya mengungkapkan apa yang diinginkannya atau menolaknya dengan kata isyarat sehingga ada yang namanya bahasa isyarat. Misalnya, orang tuna wicara ketika menginkan orang lain membantunya mengambilkan suatu benda dia dapat menggunakan tangannya dengan cara melambaikan tangannya, menunjuk kepada benda tersebut, dan menunjukkan tangannya kembali kepada dirinya. Dengan ini dapat dimengerti bahwa kata-kata memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Namun, dibalik vitalnya itu ternyata kata-kata ini bagaikan sebilah pedang bermata dua.
Pada saat tertentu kata-kata dapat bernilai positif dan pada saat lainnya dapat bernilai negatif. Bernilai positif dan negatifnya ini sangat tergantung pada siapa yang menggunakannya. Positif dan negatifnya ini juga tergantung pada situasi dan kondisi. Namun, jika hendak dibandingkan peran penting antara subjek dan kondisi dimana kata-kata itu terlontar maka subjek lebih memiliki peranan lebih besar.
Kata-kata terbagi menjadi dua golongan, yaitu kata-kata baik atau terpuji dan kata-kata tercela. Baik atau tercelanya suatu kata-kata tergantung budaya yang berada di lingkungan di mana seseorang itu tinggal dan hidup. Misalnya, kata jancu’ bagi orang Jawa Timur dianggap sebagai kata sapaan yang mengakrabkan, tapi kata ini akan bermakna pelecehan bagi orang Yogyakarta. Atau memegang kepala bagi orang jawa merupakan suatu tindakan yang melecehkan, tapi bagi orang Arab memiliki makna penghormatan.
Penulis di sini tidak akan membahas kata-kata yang terbatasi oleh budaya tertentu. Pada kesempatan kali ini penulis ingin membahas kata-kata yang universal saja, yaitu kata-kata yang setiap orang dimanapun menggunakannya atau lebih tepatnya kata yang secara konsesus disepakati nilainya oleh semua orang. Misalnya, kata pahlawan. Semua orang faham bahwa pahlawan adalah seseorang yang telah berjasa mengorbankan dirinya untuk menolong orang lain atau sesuatu di luar dirinya.
Kata-kata memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap diri orang yang mengucapkan atau memperagakannya, orang yang mendengar atau melihatnya, dan lingkungan sekitarnya baik secara fisik maupun psikis. Hal ini, karena kata-kata memiliki dua sifat yang bertolak belakang, yakni sifat air dan sifat api. Orang yang melontarkan kata-kata terpuji secara psikis dirinya akan merasa nyaman dan sejuk, begitu pula orang yang mendengarkannya. Tidak hanya sekedar memberikan rasa nyaman dan sejuk saja tetapi juga dapat menumbuhkan daya-daya positif yang terdapat di dalam tubuh manusia, dan lingkungan sekitarnya. Secara fisik, tubuh akan merasa lebih rileks karena darah dapat mengalir dengan lancar serta jantungnya berdetak dengan teratur. Contoh, kata-kata motivasi. Bagi orang yang mengucapkannya akan merasa termotivasi untuk membuktikan apa yang telah diungkapkan kepada orang lain. Sedangkan orang yang mendapat motivasi akan merasa memiliki energi positif untuk dapat berbuat sesuatu yang positif bagi diri atau lingkungannya.
Sebaliknya kata-kata tercela akan membuat diri orang yang mengucapkan, mendengarkan, dan lingkungan sekitarnya menjadi terganggu sistem organ tubuh dan jiwanya selain itu juga akan memunculkan energi-energi negatif. Biasanya kalau orang sedang marah aliran darah menjadi tidak lancar karena adrenalinnya naik dan detak jantung tidak teratur. Contoh, kata-kata hinaan. Orang yang mengucapkan kata-kata hinaan pasti tidak akan merasa nyaman dalam hidupnya. Apalagi orang lain yang mendengarkannya, perasaan benci dan marah akan menyelimutinya. Begitu pula lingkungan sekitarnya menjadi terganggu.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya adalah karena hampir seluruh mahluk yang ada di dunia mengandung zat cair. Tubuh manusia hampir 80% berisi air begitu pula mahluk lainnya. Kata-kata memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap zat cair, sebagaimana hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Masaru Emoto dalam bukunya The True Power of Water (2007). Hasil penelitian mengatakan bahwa kata-kata berpengaruh terhadap struktur pori-pori air. Jika kata-kata yang diberikan adalah kata-kata pujian maka struktur air itu akan tersusun menjadi seperti berlian yang sangat indah sedangkan jika kata-kata yang diberikan untuk menstimulasi air itu kata-kata celaan maka struktur air akan tersusun menjadi seperti berlian yang sangat jelek bentuk dan cahayanya.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Tompkinn dan Bird terhadap tumbuh-tumbuhan dalam bukunya yang berjudul Secret Life of The Plant (2004) juga mengatakan bahwa kata-kata berpengaruh terhadap arah gerak dan tumbuh kembang tumbuh-tumbuhan. Berdasarkan keterangan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kata-kata mempengaruhi kosmos.
Jauh sebelum penelitian mengenai pengaruh kata-kata terhadap air dan tumbuh-tumbuhan dilakukan Nabi Muhammad SAW telah bersabda:
“Orang muslim adalah orang yang masyarakat selamat dari (kejahatan) lisan dan tangannya” (HR. Bukhari)
Jadi, kata-kata dapat berimplikasi pada terwujudnya masyarakat dunia yang damai dan dapat pula sebaliknya. Oleh karena itu, ada tuntutan harus cerdas dalam mengeluarkan kata-kata. Orang yang cerdas ketika akan berbicara selalu mempertimbangkan hal-hal berikut ini:
- Kadar audiens. Kadar ini meliputi; akal, budaya, ras, agama, ekonomi, dan demografi lainnya.
- Pemilihan kata-kata (words election) yang tepat.
- Situasi dan kondisi
- Kebenaran isi jika berita