<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669</id><updated>2011-07-08T05:35:04.224-07:00</updated><category term='education'/><category term='noeloberalism'/><category term='artikel'/><category term='gen'/><category term='ujian'/><category term='renungan'/><category term='kearifan lokal'/><category term='pluralism'/><category term='perkembangan kognitif'/><category term='religious'/><category term='psychology'/><category term='Adolescent'/><category term='water'/><category term='pendekatan modern. integrasi pendekatan'/><category term='panas'/><category term='tolerance'/><category term='flu'/><category term='makalah'/><category term='komunikasi'/><category term='nasi'/><category term='physic'/><category term='share'/><category term='PAI'/><category term='human potency'/><category term='motivasi'/><category term='birthday'/><category term='kebudayaan'/><category term='khusu&apos;'/><category term='civil society'/><category term='kebahagiaan'/><category term='batuk'/><category term='pekerjaan sosial'/><category term='actualization'/><category term='keluarga'/><category term='ngliwet'/><category term='ego'/><category term='asma&apos;ul husna'/><category term='super ego'/><category term='wisdom'/><category term='cerpen'/><category term='anak-anak'/><category term='sakit'/><category term='id'/><category term='bocah unik'/><category term='merah putih'/><category term='pedagogik'/><category term='suami'/><category term='perjuangan'/><category term='kognitif'/><category term='poliandri'/><category term='istri'/><category term='ramadlan'/><title type='text'>NEXT FUTURE</title><subtitle type='html'>ANY PEOPLE WANT ACHIEVEMENT TOP</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>28</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-1692252871749422530</id><published>2009-09-04T09:19:00.001-07:00</published><updated>2009-09-04T09:19:01.679-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kebahagiaan'/><title type='text'>MERAJUT KEBAHAGIAAN SEJATI</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000080" size="4"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;font color="#000080" size="4"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000080" size="4"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/SqE9s1uyHBI/AAAAAAAAAIw/r1s9WSlLRWw/s1600-h/pemandangan%20indah%5B25%5D.jpg"&gt;&lt;img title="pemandangan indah" style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; border-left: 0px; margin-right: auto; border-bottom: 0px" height="549" alt="pemandangan indah" src="http://lh5.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/SqE9yirdoKI/AAAAAAAAAI0/81hfr80LzS8/pemandangan%20indah_thumb%5B23%5D.jpg?imgmax=800" width="570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Kebahagiaan merupakan impian setiap manusia. Masing-masing individu memiliki perbedaan persepsi dalam mamaknai suatu kebahagiaan. Perbedaan ini selanjutnya akan mengarahkan kepada perbedaan cara dan strategi dalam upayanya menggapai kebahagiaan tersebut. Terjadinya perbedaan persepsi ini karena dilatarbelakangi oleh perbedaan pengetahuan dan pengalaman yang menginternal pada masing-masing individu.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000080" size="4"&gt;Sebagian orang beranggapan bahwa kebahagiaan itu sama dengan kesenangan. Keduanya memang memiliki persamaan, yaitu sama-sama berada dalam wilayah afeksi atau perasaan. Akan tetapi jika diteliti secara seksama maka akan tampak perbedaan yang mencolok. Orang yang hidup bahagia pasti akan merasa senang, tetapi apakah orang yang hidup dengan bergelimang kesenangan sudah tentu merasakan kebahagiaan? Ternyata belum. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000080" size="4"&gt;Imam Al-Ghazali dalam kitabnya &lt;i&gt;Ihya’ ‘Ulumuddin &lt;/i&gt;mengatakan bahwa sumber pokok kesenangan itu ada empat. &lt;i&gt;Pertama, al-ma’rifah &lt;/i&gt;(pengetahuan). Orang yang memiliki pengetahuan yang luas pasti akan memiliki peluang untuk memperolah kesenangan yang lebih besar daripada orang yang pengetahuannya terbatas. Contoh sederhana, orang yang mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidang matematika akan merasa senang ketika disuguhi soal matematika, karena pasti akan dapat menjawabnya. Tetapi sebaliknya, dia akan merasa kebingungan ketika disuguhi soal gramatika bahasa Arab.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font size="4"&gt;&lt;font color="#000080"&gt;&lt;i&gt;Kedua, al-shihhah &lt;/i&gt;(kesehatan). Seseorang yang memiliki kesehatan yang baik relatif akan memiliki peluang memperoleh kesenangan yang lebih besar daripada orang yang tidak mempunyai kesehatan yang baik. Contoh, orang yang tidak memiliki alergi kulit ketika makan telor tentu akan merasa senang ketika disuguhi makanan yang mengandung telor. Sebaliknya, dia akan merasa sakit dan tersiksa ketika makan makanan yang mengandung telor.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/SqE92YLLy0I/AAAAAAAAAI4/D3DF1D7N1hA/s1600-h/pemandangan%20gaul%5B13%5D.jpg"&gt;&lt;img title="pemandangan gaul" style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: inline; border-left: 0px; border-bottom: 0px" height="638" alt="pemandangan gaul" src="http://lh5.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/SqE98COLAoI/AAAAAAAAAI8/BAjNZoUmWsA/pemandangan%20gaul_thumb%5B11%5D.jpg?imgmax=800" width="585" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000080" size="4"&gt;Sumber kesenangan &lt;i&gt;ketiga &lt;/i&gt;adalah &lt;i&gt;al-mal &lt;/i&gt;(harta). Orang yang memiliki harta melimpah lebih besar peluangnya untuk meraih kesenangan daripada orang yang hartanya sangat terbatas. Contoh, orang kaya ketika melakukan suatu perjalanan dapat memilih sarana transportasi sesuai dengan kehendaknya, baik milik pribadi maupun umum. Hal ini berbeda dengan kondisinya orang miskin yang terbatas pada kemampuan finansialnya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font size="4"&gt;&lt;font color="#000080"&gt;&lt;i&gt;Keempat, &lt;/i&gt;sumber kesenangan adalah &lt;i&gt;al-jah &lt;/i&gt;(kedudukan atau status sosial). Seseorang yang memiliki kedudukan atau status sosial yang terhormat dalam masyarakat akan mempunyai peluang yang relatif besar daripada orang yang tidak memiliki kedudukan atau status sosial. Seorang lurah relatif lebih besar peluangnya untuk meraih suatu kesenangan daripada seorang RT.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000080" size="4"&gt;Menurut Al-Ghazali, keempat sumber itu baru dapat menghadirkan kesenangan saja, belum mampu menghadirkan kebahagiaan. Kesenangan itu akan muncul dan mewujud menjadi kebahagiaan apabila diiringi dengan munculnya ketenangan. Mengenai hal ini, banyak sekali contoh yang dapat kita ambil pelajaran dari kehidupan sehari-hari. Misalnya, kasus yang menimpa para koruptor. Para koruptor ini mungkin dapat meraih segala kesenangan yang diinginkannya dengan menggunakan harta hasil korupsi, tapi dia pasti tidak dapat merasakan ketenangan. Setiap saat merasa bersalah dan takut kasusnya terbongkar sehingga akan diseret ke pengadilan dan dimasukkan ke dalam sel. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000080" size="4"&gt;Ketenangan dapat diperoleh jika seseorang itu mampu mendesain dan mengarahkan sumber kesenangan itu menjadi sesuatu yang dapat mendekatkan dirinya dengan Tuhannya (&lt;i&gt;taqarrub ila Allah&lt;/i&gt;). Hal ini, tentunya sumber kesenangan itu harus dibimbing oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah. Keduanya merupakan sumber referensi yang sangat valid dalam mengenal dan memahami Allah SWT. Orang yang telah dekat dengan Allah SWT nantinya akan dapat bersikap ridlo dan ikhlas dengan apa yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya, walaupun sedikit.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000080" size="4"&gt;Al-Qur’an dan As-Sunnah telah mengajarkan bagaimana cara mendesain dan mengarahkan suatu kesenangan menjadi sesuatu yang dapat mendekatkan orang yang melakukannya dengan Tuhannya, diantaranya adalah &lt;i&gt;pertama, &lt;/i&gt;segala pekerjaan diniati semata-mata karena Allah SWT. &lt;i&gt;Kedua, &lt;/i&gt;memposisikan pekerjaan itu selalu ada dalam bimbingan dan prosedur Al-Qur’an dan As-Sunnah. Jika suatu pekerjaan telah didesain dan diarahkan dengan kedua cara ini maka jika nanti hasil yang diinginkan belum atau tidak sesuai dengan apa yang diinginkan, orang yang melakukannya itu tidak akan mengalami kekecewaan atau kehilangan harapan untuk melakukan suatu pekerjaan yang serupa atau pekerjaan lainnya. Selain itu, orang ini akan dapat berpikir positif dalam menghadapi permasalahan atau akan lebih mengutamakan untuk mengevaluasi diri sendiri daripada mengevaluasi orang lain.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#000080" size="4"&gt;Jadi, kebahagiaan berbeda dengan kesenangan, karena kesenangan baru sebatas faktor penunjang yang memungkinkan hadirnya kebahagiaan. Kesenangan akan mewujud menjadi kebahagiaan jika diliputi rasa ketenangan. Suatu kesenangan akan diliputi dengan ketenangan apabila kesenangan itu telah mampu mendekatkan individu kepada Tuhannya. Supaya suatu kesenangan dapat mendekatkan kepada Tuhannya maka harus dibimbing oleh referensi yang mengenal, mengetahui, dan memahami Tuhannya, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lebih jauh dari itu, inti kebahagiaan adalah bagaimana seseorang mampu bersikap dan berperilaku yang dapat mendekatkan dirinya dengan Tuhannya serta mampu bersikap ridlo dan ikhlas menerima apa yang telah diberikan Tuhan kepadanya. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-1692252871749422530?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/1692252871749422530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=1692252871749422530' title='27 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/1692252871749422530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/1692252871749422530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/09/merajut-kebahagiaan-sejati.html' title='MERAJUT KEBAHAGIAAN SEJATI'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh5.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/SqE9yirdoKI/AAAAAAAAAI0/81hfr80LzS8/s72-c/pemandangan%20indah_thumb%5B23%5D.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>27</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-5318812422850665615</id><published>2009-08-25T23:53:00.000-07:00</published><updated>2009-08-31T10:34:33.509-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kebudayaan'/><title type='text'>PEMERINTAH PROAKTIF VS ATRAKTIF</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center"&gt;&lt;object width="445" height="364"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube-nocookie.com/v/D3awnUPKG8s&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;color1=0xe1600f&amp;amp;color2=0xfebd01&amp;amp;border=1"&gt;&lt;param name="allowFullScreen" value="true"&gt;&lt;param name="allowscriptaccess" value="always"&gt;&lt;embed src="http://www.youtube-nocookie.com/v/D3awnUPKG8s&amp;amp;hl=en&amp;amp;fs=1&amp;amp;color1=0xe1600f&amp;amp;color2=0xfebd01&amp;amp;border=1" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="445" height="364"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;div style="text-align: center"&gt;&lt;span style="font-size: 130%"&gt;&lt;font size="5"&gt;&lt;font face="KodchiangUPC"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51,102,255)"&gt;KIRANYA PEMERINTAH MAU MENJAGA KEBUDAYAAN NASIONAL SEBAGAI KEKAYAAN KHASANAH BANGSA INDONESIA           &lt;br /&gt;ATAU&lt;/span&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;span style="font-weight: bold"&gt;&lt;span style="color: rgb(51,102,255)"&gt;&lt;font face="KodchiangUPC" size="5"&gt;HANYA AKAN MENJAGA JIKA SEKIRANYA TELAH MERASA&lt;/font&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: center"&gt;&lt;span style="font-size: 130%"&gt;&lt;span style="font-weight: bold"&gt;&lt;span style="color: rgb(51,102,255)"&gt;&lt;/span&gt;&lt;font size="5"&gt;DIRUGIKAN?&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-5318812422850665615?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/5318812422850665615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=5318812422850665615' title='22 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/5318812422850665615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/5318812422850665615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/08/pemerintah-proaktif-vs-atraktif.html' title='PEMERINTAH PROAKTIF VS ATRAKTIF'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>22</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-532019870680384081</id><published>2009-08-20T08:52:00.001-07:00</published><updated>2009-08-20T08:52:17.295-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ramadlan'/><title type='text'>MARHABAN YA RAMADLAN</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Modern" color="#0000ff" size="5"&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://lh6.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/So1xE_3h1SI/AAAAAAAAAIM/8FUHzZ5O8Zw/s1600-h/sunrise%203%5B27%5D.jpg"&gt;&lt;img title="sunrise 3" style="border-right: 0px; border-top: 0px; display: block; float: none; margin-left: auto; border-left: 0px; margin-right: auto; border-bottom: 0px" height="311" alt="sunrise 3" src="http://lh6.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/So1xH7CFm5I/AAAAAAAAAIQ/9G74CVmzvoM/sunrise%203_thumb%5B25%5D.jpg?imgmax=800" width="401" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Alhamdulillah Ramadlan kembali datang dengan berbagai kebaikan, keutamaan, keberkahan, pintu surga dibuka, pintu neraga ditutup, syaitan-syaitan dibelenggu, dan segala amal kebaikan dilipatkan pahalanya. Semoga dalam hitungan satu hari ke depan kita masih diberi kesempatan oleh-Nya untuk menyambutnya dan bersenggama dengannya. Amin.&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Modern" color="#0000ff" size="5"&gt;&lt;strong&gt;Bulan waktu diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas dari petunjuk dan pembeda. Bulan yang dioerientasikan untuk mengolah, mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi-potensi ruhani sehingga diharapkan nantinya kita semua mampu menggapai indahnya prestasi ruhani (Taqwa).&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;   &lt;div class="wlWriterEditableSmartContent" id="scid:84E294D0-71C9-4bd0-A0FE-95764E0368D9:956db5d1-307c-45db-b5be-96ee691dc5f3" style="padding-right: 0px; display: block; padding-left: 0px; float: none; padding-bottom: 0px; margin-left: auto; width: 420px; margin-right: auto; padding-top: 0px"&gt;&lt;a href="http://maps.live.com/default.aspx?v=2&amp;amp;cp=43.06889~28.125&amp;amp;lvl=1&amp;amp;style=a&amp;amp;mkt=en-us&amp;amp;FORM=LLWR" id="map-1e6532a1-3919-4d2e-95d6-4d22b1a24de5" alt="Click to view this map on Live.com" title="Click to view this map on Live.com"&gt;&lt;img src="http://lh3.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/So1xLlqzFsI/AAAAAAAAAIU/Rq5mfsxk9Tw/map-1d66dac06f72.jpg?imgmax=800" width="420" height="284" alt="Map picture"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;   &lt;font face="Modern" color="#0000ff" size="5"&gt;&lt;strong&gt;Di bulan itu kita dididik untuk &lt;em&gt;ngliwet &lt;/em&gt;jiwa. &lt;em&gt;Ngliwet &lt;/em&gt;nafsu-nafsu yang selalu menengadah ke langit tanpa perduli dengan tanah, membersihkan kotoran-kotoran yang ada di air sungai kehidupan, meluruskan kayu-kayu perilaku yang telah bengkok mengkaku, menurunkan rumput-rumput yang tumbuh liar di batang pohon basah, dan menggosok debu yang menempel bandel di mutiara kefitrahan.&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Modern" color="#0000ff" size="5"&gt;&lt;strong&gt;Kiranya panasnya bara api puasa yang membakar diri kita bukanlah menghanguskan intan berlian namun justru menambahkannya tampak mengkilap indah di antara butiran-butiran berlian yang jatuh pecah di altar gegap gempita kehidupan. Berdiri tegak dengan kaki tegap menginjak tanah menyinari kegelapan malam yang mensesakkan.&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;font face="Traditional Arabic" color="#008080" size="7"&gt;مرحبا يا رمضان&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-532019870680384081?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/532019870680384081/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=532019870680384081' title='17 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/532019870680384081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/532019870680384081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/08/marhaban-ya-ramadlan.html' title='MARHABAN YA RAMADLAN'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh6.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/So1xH7CFm5I/AAAAAAAAAIQ/9G74CVmzvoM/s72-c/sunrise%203_thumb%5B25%5D.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>17</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-6377638472931353789</id><published>2009-08-17T06:58:00.001-07:00</published><updated>2009-08-17T06:58:16.627-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='merah putih'/><title type='text'>MERAH PUTIH</title><content type='html'>&lt;p align="center"&gt;&lt;u&gt;&amp;#160;&lt;strong&gt;&lt;font face="Kartika" color="#ff0000" size="6"&gt;Pada hari kemerdekaan kali ini yang ke 64, saya hanya dapat mempersembahkan banner ini saja.&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;font face="Kartika" color="#ff0000" size="6"&gt;&lt;u&gt;KATA-KATAKU TAK MAMPU UNTUK MENGUNGKAPKANNYA LEBIH PANJANG. &lt;/u&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;u&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/Solh4nYvbpI/AAAAAAAAAIE/vseEhXi3fVw/s1600-h/DELTA28.jpg"&gt;&lt;img title="DELTA" style="border-top-width: 0px; display: block; border-left-width: 0px; float: none; border-bottom-width: 0px; margin: 0px auto; border-right-width: 0px" height="533" alt="DELTA" src="http://lh6.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/Solh8_BBM6I/AAAAAAAAAII/Cgoe-UVO5wM/DELTA_thumb34.jpg?imgmax=800" width="564" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-6377638472931353789?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/6377638472931353789/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=6377638472931353789' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/6377638472931353789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/6377638472931353789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/08/merah-putih.html' title='MERAH PUTIH'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh6.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/Solh8_BBM6I/AAAAAAAAAII/Cgoe-UVO5wM/s72-c/DELTA_thumb34.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-5054296663419843745</id><published>2009-08-09T22:15:00.001-07:00</published><updated>2009-08-09T22:15:47.553-07:00</updated><title type='text'>INKONSISTENSI</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;Inkonsistensi yang dimaksud adalah ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan atau dalam istilah daerah Jawa sering disebut dengan &lt;i&gt;jarkoni &lt;/i&gt;(mau menasehati tapi tidak mau melaksanakan). Sikap dan perilaku ini sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Namun, sebelum melakukan pengamatan, penilaian, dan &lt;i&gt;judgment &lt;/i&gt;terhadap sikap dan perilaku orang lain, alangkah lebih baiknya jika kita &lt;i&gt;muhasabah &lt;/i&gt;atau intropeksi terhadap diri kita sendiri, apakah diri kita juga sering memperagakan sikap dan perilaku seperti itu atau tidak. Hal ini, tidak lain adalah bentuk upaya preventif dari serangan sifat-sifat &lt;i&gt;ra gelem ngoco karo awake dewe &lt;/i&gt;(tidak mau berkaca dengan dirinya sendiri) yang akan menumbuhkan spirit&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#004040"&gt;&lt;font size="4"&gt;&lt;font face="Book Antiqua"&gt;“&lt;i&gt;Gajah di seberang lautan tampak, &lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#004040"&gt;&lt;font size="4"&gt;&lt;font face="Book Antiqua"&gt;&lt;i&gt;Semut di pelupuk mata tidak tampak.&lt;/i&gt;”&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;a href="#_ftn1_9305" name="_ftnref1_9305"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;[1]&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;Dalam konteks hubungan orang tua dengan anak, sikap dan perilaku inkonsistensi ini tidak hanya akan membawa dampak negatif terhadap kepribadian anak saja, namun juga bagi orang tua. Misalnya, dalam kasus: &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;Bapak yang menasehati anak laki-lakinya supaya tidak merokok, namun dia sendiri kalau merokok di depan anaknya. Atau,&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;Seorang guru yang menasehati muridnya untuk rajin berangkat sekolah, tapi di sendiri sering absen mengajar. Atau,&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;Ibu yang menasehati anak perempuannya agar menghindari merumpi, akan tetapi dia sendiri tampak asyik merumpi dengan sesama ibu sambil petan.&lt;/font&gt;&lt;a href="#_ftn2_9305" name="_ftnref2_9305"&gt;&lt;b&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;[2]&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt; &lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;Dalam kasus di atas, maksud orang tua dan guru mungkin baik, yaitu menasehati agar anak dan muridnya tidak merokok, tidak merumpi, dan tidak malas belajar, namun sayangnya nasehat itu tidak diikuti dengan contoh yang selaras. Sehingga, sikap dan perilaku yang ditampilkan oleh orang tua ataupun guru dalam kasus di atas itu justru akan menumbuhkan sikap dan perilaku tidak percaya terhadap orang tua ataupun gurunya dalam diri anak. Apabila sudah seperti itu, anak pun akan tidak mengindahkan nasehat-nasihatnya. Bahkan, yang lebih parah lagi anak sangat dimungkinkan akan berani menyuguhkan aksi yang berbanding terbalik dengan nasihat orang tua atau gurunya. Perilaku ini tentunya sangat menghinakan. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;Orang yang inkonsisten dalam sikap dan perilakunya tidak hanya akan menjadi objek hinaan orang-orang sekitarnya, namun lebih dari itu Allah SWT dan Rasulnya juga memurkainya. Dalam QS. As-Shaf: 2-3 Allah SWT berfirman, &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;“&lt;i&gt;Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? Besar dosanya di sisi Allah SWT jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan.&lt;/i&gt;”&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;“&lt;i&gt;Apakah kalian memerintahkan kebaikan kepada orang lain sedang kalian melupakan diri kalian dan kalian membaca Kitab? Apakah kalian tidak berfikir? &lt;/i&gt;” &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;(QS. Al-Baqarah: 44)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;Nabi Syuaib A.S. berkata kepada kaumnya, &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;“&lt;i&gt;Aku tidak ingin menyalahi kalian dengan melakukan apa yang aku larang untuk kalian. Aku hanya menginginkan kebaikan semampuku.&lt;/i&gt;” &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;(QS. Al-Hud: 88)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;Rasulullah SAW bersabda,&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="center"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;“&lt;i&gt;Seseorang didatangkan pada hari Kiamat dan dia dilemparkan ke dalam neraka. Ususnya terurai dan dia berputar-putar seperti keledai berputar dengan pelananya. Para penduduk neraka mengelilingi orang itu dan berkata, ‘Wahai Fulan, mengapa engkau sedemikian itu? Bukankah engkau memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran?’ Orang itu menjawab, ‘Dulu aku memerintahkan kalian untuk berbuat baik, tapi aku tidak melakukannya. Dan aku melarang kalian dari berbuat kemungkaran, tapi aku melakukannya’&lt;/i&gt;.” (HR. Bukhari)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;Sekarang kita telah tahu sedikit gambaran tentang sikap dan perilaku yang inkonsisten, efek negatifnya bagi anak dan orang tua atau guru, serta konsekuensi yang akan dihadapinya baik di dunia maupun di akhirat. Pertanyaan selanjutnya, apakah kita akan tetap mengakui dan mempercayai bahwa hal itu adalah metode terbaik untuk memotivasi anak-anak kita? &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;Seberapa nyaman dan bahagia kita, ketika melihat anak kita menyuguhkan sikap dan perilaku yang berlawanan dengan nasihat kita? Atau, seberapa kuat diri kita menahan hinaan dari anak kita sendiri? Atau, seberapa kuat daya dingin tubuh kita untuk menahan panasnya api neraka?&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;Sebelum semuanya berlarut, mengevaluasi, merenungi, dan menyesali adalah langkah bijak. Mengikuti keburukan dengan kebaikan adalah langkah awal yang cerdas untuk mewujudkan tegaknya kebaikan.&lt;/font&gt;&lt;a href="#_ftn3_9305" name="_ftnref3_9305"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;[3]&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt; Misalnya dengan cara membalik metode menasehati. Jika sebelumnya lebih banyak menasehati dengan lisan, sekarang menasihatinya dengan perbuatan. Artinya, lebih banyak mengedepankan &lt;i&gt;action &lt;/i&gt;(perbuatan) daripada &lt;i&gt;talk only &lt;/i&gt;(hanya bicara saja). Hal itu, karena perbuatan itu lebih kongkrit daripada ucapan. Sesuatu yang kongkrit itu lebih mudah dan lebih cepat untuk difahami, dirasakan, dan ditiru (&lt;i&gt;modelling&lt;/i&gt;).&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;   &lt;table cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;&lt;tbody&gt;       &lt;tr&gt;         &lt;td width="83"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;        &lt;tr&gt;         &lt;td&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/td&gt;          &lt;td width="462"&gt;           &lt;table cellspacing="0" cellpadding="0"&gt;&lt;tbody&gt;               &lt;tr&gt;                 &lt;td&gt;                   &lt;p align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;“&lt;i&gt;Lidah keadaan itu lebih jelas daripada lidah pembicaraan&lt;/i&gt;”&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;                 &lt;/td&gt;               &lt;/tr&gt;             &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;         &lt;/td&gt;       &lt;/tr&gt;     &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt; &lt;/p&gt; &lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;   &lt;div align="justify"&gt;     &lt;hr align="left" width="33%" size="1" /&gt;&lt;/div&gt; &lt;/font&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="#_ftnref1_9305" name="_ftn1_9305"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;[1]&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt; Sifat orang yang suka mencari-cari kesalahan orang lain, tapi dia tidak sadar bahwa dalam dirinya juga terdapat kesalahan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="#_ftnref2_9305" name="_ftn2_9305"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;[2]&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt; &lt;i&gt;Petan&lt;/i&gt; adalah istilah bahasa Jawa yang menggambarkan aktivitas mencari kutu di kepala yang sering dilakukan oleh para ibu rumah tangga di desa di sela-sela waktu luang.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;a href="#_ftnref3_9305" name="_ftn3_9305"&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt;[3]&lt;/font&gt;&lt;/a&gt;&lt;font face="Book Antiqua" color="#004040" size="4"&gt; Diriwayatkan dari Abi Dar Jundab bin Janadah dan Abi ‘Abdirrahman Mu’adz bin Jabal &lt;i&gt;Radliya Allah ‘Anhuma &lt;/i&gt;dari Rasulullah SAW bersabda, “&lt;i&gt;Bertaqwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan maka itu akan menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik &lt;/i&gt;” (HR. At-Turmudzy)&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-5054296663419843745?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/5054296663419843745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=5054296663419843745' title='35 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/5054296663419843745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/5054296663419843745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/08/inkonsistensi.html' title='INKONSISTENSI'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>35</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-4327544568507872834</id><published>2009-08-07T18:27:00.001-07:00</published><updated>2009-08-07T19:38:58.844-07:00</updated><title type='text'>PERFECTIONISM</title><content type='html'>&lt;table border="0" cellpadding="2" cellspacing="0" width="400"&gt;&lt;tbody&gt;     &lt;tr&gt;       &lt;td valign="top" width="400"&gt;                                                 &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Seorang guru SD (Sekolah Dasar) di salah satu propinsi di Pulau Sumatera sedang menyelesaikan pendidikan pascasarjanya di UNJ (Universitas Negeri &lt;/i&gt;&lt;i&gt;Jakarta&lt;/i&gt;&lt;i&gt;). Ibu ini jika dilihat dari facenya sudah berumur sekitar tiga puluh &lt;/i&gt;&lt;i&gt;lima&lt;/i&gt;&lt;i&gt; tahun ke atas. Dia dikaruniai dua orang putra, yang pertama berumur 13 tahun dan yang kecil sedang sekolah di bangku sekolah dasar. Kedua buah hatinya ini adalah hasil pernikahannya dengan seorang laki-laki yang pendidikannya jauh di bawahnya. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Julio, itulah nama anak pertamanya. Rasa bahagia pun membuncah. Berbagai harapan dan angan-angan merasuki alam pikirannya. Adalah suatu kewajaran, setiap orang tua memiliki harapan dan angan-angan bahwa anaknya nanti harus lebih baik darinya, kalau mungkin justeru harus menjadi manusia yang paling sempurna di muka bumi ini. Perlahan namun pasti, harapan dan angan-angan itu menelisik lebih dalam ke hatinya yang kemudian mendorongnya untuk menyusun berbagai prosedur dan instruksi yang menurutnya akan mengantarkan harapan dan angan-angannya itu menuju singgasana impian.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Seiring berjalannya waktu, prosedur dan instruksi itu pun diterapkan dalam kehidupan Julio. Satu, dua, tiga…… tahun Julio hidup di bawah arahan dan kendali juklak kesempurnaan. Seperangkat reward dan punishment pun selalu mengawal ketat dalam setiap perjalanan nafas yang terus naik turun mengarungi hamparan fatamorgana kehidupan.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Tingginya temperatur panas prosedur dan instruksi menyengat hingga memeras cairan sunsum-sunsum tulang serta dalamnya penyelaman harapan dan angan-angan ibunya ternyata telah menenggelamkan dirinya ke dalam gelapnya dasar sungai yang pekat dengan lumpur-lumpur hitam. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Karena energinya telah terkuras, Julio pun kesulitan untuk sekedar mengangkat pelupuk matanya. Julio tidak tahu lagi di mana sekarang dirinya berada. Dia berusaha sekuat tenaga mendesak pekatnya air yang telah keruh akibat tercemar hitamnya lumpur, hanya sekedar untuk mencari lubang sempit yang harapannya dapat menemukan titik cahaya, sehela oksigen, dan setetes air murni.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Dia tak menyerah sedikit pun. Segala upaya dilakukannya untuk dapat meronta dan mengeluarkan air mata. Namun, ternyata dia semakin tak berdaya. Saat itulah, sang ibu menjerit dan air matanya membanjiri altar merah pipinya yang mulai kusut termakan usia. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;i&gt;Pelan namun pasti, harapan dan angan-angannya merangkak naik ke alam kesadarannya. Prosedur dan instruksi yang selama ini menyelimuti tubuh Julio dirennggangkan supaya semilir angin dapat masuk mengelus kulit halusnya. Begitu pula sang pengawal, reward dan punishment telah dipecatnya. Sekarang, Julio sedang belajar merangkak agar dapat berdiri tegak di atas kakinya sendiri dan menjadi manusia yang dia adalah dia yang khas dan unik.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;/td&gt;     &lt;/tr&gt;   &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Setiap anak memiliki kekhasan dan keunikan masing-masing yang itu kemudian membedakannya dengan anak lainnya. Kekhasan dan keunikan yang ada dalam diri seorang anak merupakan status yang akan memperjelas jati dirinya. Julio dan Ibunya, keduanya secara &lt;i&gt;nasab&lt;/i&gt; (garis keturunan) statusnya adalah anak dan ibu kandung. Memang, dalam diri Julio mengalir darah ibunya yang itu berarti mengalir pula berbagai potensi yang dimiliki oleh sang ibu. Namun, selain itu ada pula aliran potensi hereditas sang ayah. Kita semua belum tahu potensi dari aliran mana yang memiliki daya paling kuat dalam diri Julio. Boleh jadi, kedua potensi itu berkalaborasi atau malah potensi kakek dan neneknya yang ketika berada dalam diri ayah dan ibunya tidak terlalu dominan, namun ketika berada dalam diri Julio justeru memiliki daya yang kuat.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Kita tidak dapat memungkiri bahwa yang namanya keinginan itu memang secara &lt;i&gt;fitrah&lt;/i&gt; akan memunculkan impuls-impuls animalistis dan chaostis yang menuntut pemuasan.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5786883838934153669&amp;amp;postID=4327544568507872834#_ftn1_6828" name="_ftnref1_6828"&gt;[1]&lt;/a&gt; Jika keinginannya ini tidak terpenuhi maka akan terjadi ketegangan. Oleh karenanya dia akan sangat senang dan lega jika apa yang diinginkannya terpenuhi. Hanya saja, untuk terpenuhinya keinginan itu ia sering mengaburkan realita. Ia tidak mempedulikan apakah keinginannya itu realistis atau tidak.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5786883838934153669&amp;amp;postID=4327544568507872834#_ftn2_6828" name="_ftnref2_6828"&gt;[2]&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Dalam ilustrasi di atas tampak nyata, bahwa sang ibu berkeinginan menjadikan Julio tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang sempurna. Untuk memuluskan keinginannya itu sang ibu kemudian membuat berbagai prosedur dan instruksi yang dalam persepsinya akan mengantarkan Julio menjadi manusia yang diinginankannya. Menurut keterangan yang dipaparkan oleh Julio sendiri kepada saya, hidupnya dia telah di&lt;i&gt;setting &lt;/i&gt;sedemikian rupa. Kapan harus tidur, bangun, makan, belajar, mandi, bermain, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan dia sudah terjadwal dengan rapi. Kondisi seperti itu, rupanya telah berlangsung semenjak dia kecil sampai menginjak bangku SMP. Setiap hari dia harus les mata pelajaran ini, itu, dan begitu seterusnya dalam suatu pengawasan yang ketat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Saya yakin harapan dan keinginan sang ibu itu sangatlah mulia. Orang tua mana yang tidak ingin melihat anaknya sukses? Adalah munafik jika mengatakan tidak ingin. Karena dengan memiliki anak yang sukses, orang tua akan mendapat penghargaan dari masyarakat bahwa dia orang yang telah berhasil mendidik anaknya dengan baik, semakin dihormati, perkataannya didengarkan dan perintahnya dipatuhi oleh orang lain. Sebaliknya, jika orang tua memiliki anak yang gagal maka dia akan merasa diadili dan divonis oleh masyarakat sebagai orang yang gagal dalam mendidik anak. Begitu juga dengan ibunya Julio. Misi dan visinya sebenarnya sudah bagus, hanya saja beliau kurang mempertimbangkan kondisi riil Julio yang sangat syarat dengan prinsip &lt;i&gt;individual differences&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Selama saya mengenalnya, Julio merupakan anak yang memiliki potensi cukup baik di bidang selain akademik. Selama ini, nilai akademik dia memang kurang memuaskan sehingga ada beberapa guru yang kemudian memotivasinya dengan cara yang kurang semestinya, walaupun hasilnya tetap nihil. Namun, pada suatu acara pentas seni saya begitu menikmati peran dan aksi dia di atas panggung. Sebelum itu, saya juga dibuat terharu dengan sikap dan perilakunya. Saat saya sedang mencuci WC sendirian, dia tergopoh-gopoh menawarkan diri untuk membantu saya padahal selama ini dia telah diberi atribut oleh teman-temannya sebagai anak yang malas. Ini artinya, dia memiliki suatu potensi lain yang akan membuat kakinya tegak berdiri.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Potensi lain inilah yang kurang mendapat perhatian dan pertimbangan dari sang ibu dalam menyusun serta menerapkan prosedur dan instruksi. Ibunya masih berpandangan bahwa semua anak memiliki potensi yang sama. Pandangan seperti inilah yang kemudian oleh Freud disebut dengan &lt;i&gt;predicate thinking &lt;/i&gt;atau berfikir predikat yang akan menghasilkan suatu jalan pikiran kacau.&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5786883838934153669&amp;amp;postID=4327544568507872834#_ftn3_6828" name="_ftnref3_6828"&gt;[3]&lt;/a&gt; Karena itu, prosedur dan instruksi yang diterapkan bukannya mewujudkan keinginan dan harapannya, namun justeru menjadi bumerang bagi dirinya dan Julio. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Bagi sang ibu, jika prosedur dan instruksi ini terus dipertahankan maka dia akan menjadi orang yang banyak menghayal. Bahkan mungkin dia akan melakukan segala cara untuk mewujudkannya, walaupun dengan mengabaikan etika. Misalnya, dengan pemaksaan, kekerasan, intimidasi, agresif, dan lain sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Mengenai hal ini, Julio juga menuturkan bahwa dirinya diperlakukan dengan cara seperti itu. Sang ibu di kemudian hari juga mengakui hal itu kepada saya. Julio dipaksa untuk mengikuti dan mematuhi prosedur dan instruksi itu walaupun sebenarnya dia tidak dapat menjangkaunya. Karena perlakuan ibunya itu berlangsung cukup lama dan dirasa oleh Julio sangat menyakitkan maka seiring perjalanannya waktu Julio tumbuh dan berkembang menjadi anak yang suka memberontak, malas belajar, dan semaunya sendiri. Sehingga potensi dirinya tidak dapat berkembang dan teraktualisasi dengan semestinya. Ketika saya tanya, sikap dan perilakunya itu tidak lain adalah dalam upaya menghindarkan diri dari rasa sakit itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Pengalaman masa kecil itu ternyata sangat membekas dalam diri Julio dan berpengaruh signifikan pada kehidupan dia selanjutnya. Hal ini, tampak jelas ketika terakhir kali saya bertemu. Walaupun secara jasad dia telah berpisah jauh dan jarang bertemu dengan ibunya, namun sikap dan perilakunya itu belum berubah secara signifikan. Dalam beberapa hal memang telah terjadi perubahan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Alhamdulillah setelah beberapa kali bertemu, berdiskusi, dan berkoordinasi dengan ibunya, sekarang ibunya telah sadar, memahami, dan mau menerima Julio apa adanya dengan tanpa ada syarat serta berkenan memperbaiki strateginya. Begitu pula dengan Julio, dia tampak sudah tidak antipati lagi dengan sang ibu dan siap untuk berubah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Tanpa sadar fenomena Julio dan ibunya telah memberi banyak sekali &lt;i&gt;hikmah &lt;/i&gt;yang sangat penting kepada saya sebagai bekal untuk kehidupan saya ke depan. Ada beberapa point yang saya anggap penting dari kejadian itu, antara lain:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Anak itu unik dan khas, artinya setiap anak memiliki potensi yang berbeda antara satu dengan lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Memaksakan anak untuk menjadi orang lain adalah suatu tindak kriminal. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Menerima anak apa adanya adalah bentuk penghargaan terhadap anak. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Suatu harapan dan keinginan hendaknya disesuaikan dan dikomunikasikan dengan realita dan norma-norma etika. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;    &lt;div align="justify"&gt;   &lt;hr style="height: 4px;" align="left" size="1" width="33%"&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5786883838934153669&amp;amp;postID=4327544568507872834#_ftnref1_6828" name="_ftn1_6828"&gt;[1]&lt;/a&gt; J.P.Chaplin, &lt;i&gt;Kamus Lengkap Psikologi&lt;/i&gt;, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5786883838934153669&amp;amp;postID=4327544568507872834#_ftnref2_6828" name="_ftn2_6828"&gt;[2]&lt;/a&gt; Calvin S. Hall, &lt;i&gt;Libido Kekuasaan Sigmund Freud&lt;/i&gt;, Yogyakarta: Tarawang, 2000.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;a href="http://www.blogger.com/post-edit.g?blogID=5786883838934153669&amp;amp;postID=4327544568507872834#_ftnref3_6828" name="_ftn3_6828"&gt;[3]&lt;/a&gt; -------ibid&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-4327544568507872834?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/4327544568507872834/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=4327544568507872834' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/4327544568507872834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/4327544568507872834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/08/perfectionism.html' title='PERFECTIONISM'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-2055632817630075621</id><published>2009-08-04T23:13:00.001-07:00</published><updated>2009-08-04T23:16:37.942-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='khusu&apos;'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ngliwet'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perjuangan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='nasi'/><title type='text'>NGLIWET</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;&lt;font color="#0000ff"&gt;&lt;font size="4"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode"&gt;&lt;em&gt;&lt;font color="#ff0000"&gt;“Ngliwet”&lt;/font&gt; &lt;/em&gt;. Anda pasti sudah pernah mendengar istilah ini. Atau malah istilah sehari-hari bagi Anda. Di Jawa, kita sering mendengar yang namanya “&lt;em&gt;&lt;font color="#ff0000"&gt;sega liwet&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;” atau nasi liwet. Jadi &lt;font color="#ff0000"&gt;“&lt;/font&gt;&lt;em&gt;&lt;font color="#ff0000"&gt;ngliwet”&lt;/font&gt; &lt;/em&gt;itu istilah yang digunakan oleh mayoritas orang jawa untuk mendiskripsikan aktivitas menanak nasi dengan menggunkan ketel atau panci. Namun, di sini saya tidak akan membahas mengenai istilah itu secara detail. Saya menyadari bahwa diri saya ini sangat kekurangan informasi untuk membahas mengenai istilah ini. Oleh karena itu, saya hanya akan membahas proses yang terjadi di dalamnya.&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;Di sini sebenarnya ada sesuatu yang salah tapi jadi &lt;em&gt;kaprah &lt;/em&gt;(kesepakatan), yaitu pada istilah menanak nasi. Nasi kok dimasak, apa malah tidak menjadi bubur? bukankah yang dimasak itu beras? tapi mungkin ketika kita mengatakan “menanak beras” kedengarannya juga lucu. Kelucuan ini bukan sama sekali tidak ada yang mendasarinya, tapi hal ini terjadi karena telinga kita sejak awal sudah mendengar istilah itu dan sampai sekarang masih menggunakannya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;Saya tidak tahu apakah dalam kata &lt;font color="#ff0000"&gt;“&lt;/font&gt;&lt;em&gt;&lt;font color="#ff0000"&gt;ngliwet”&lt;/font&gt; &lt;/em&gt;itu terdapat kata dasarnya atau tidak. Tapi, jika memang tidak ada berarti hal itu hanya bentuk ungkapan saja yang tidak dapat ditelusuri secara morfologi atau kata para penghuni padang pasir sana istilahnya &lt;em&gt;sima’i &lt;/em&gt;(mulut ke mulut). Coba sebentar saja anda ucapkan kata &lt;font color="#ff0000"&gt;“&lt;/font&gt;&lt;em&gt;&lt;font color="#ff0000"&gt;ngliwet”&lt;/font&gt; &lt;/em&gt; dengan mengedepankan rasa! apa yang anda tangkap? &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;Kata &lt;font color="#ff0000"&gt;“&lt;/font&gt;&lt;em&gt;&lt;font color="#ff0000"&gt;ngliwet”&lt;/font&gt; &lt;/em&gt;dalam rasa saya merupakan suatu istilah untuk mengungkapkan usaha seseorang untuk menaklukan keangkuhan dan kekuatan yang ada dalam diri beras sehingga ia lemah, lemas, dan tak berdaya lagi yang kemudia dia mampu menguasainya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;Anda mau makan beras setiap hari tanpa terlebih dahulu memasaknya? Kalau saya jelas tidak mau. Oleh karenanya, saya lebih memilih nasi daripada beras tapi ya hanya saat mau makan saja. Ada beberapa hal yang mesti dilakukan ketika akan, sedang, atau sesudah &lt;font color="#ff0000"&gt;“&lt;/font&gt;&lt;em&gt;&lt;font color="#ff0000"&gt;ngliwet”&lt;/font&gt; &lt;/em&gt;. Biasanya para ibu terlebih dahulu menyalakan api di &lt;em&gt;pawon&lt;/em&gt;, kemudian memasak air menggunakan ketel. Dulu ketika saya masih kecil atau mungkin saat ini juga masih, terutama para ibu yang tinggal di pedesaan sembari menunggu air panas beras itu&amp;#160; terlebih dahulu di&lt;em&gt;tapeni &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;diayaki&lt;/em&gt;, duh apa ya bahasa Indonesianya. Mudahnya, beras itu harus dibersihkan terlebih dahulu dari batu-batu kecil, atau, gabah, dan lain sebagainya. &lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;&lt;img title="Img00027" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; border-right-width: 0px" height="246" alt="Img00027" src="http://lh6.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/Snki6ULfXHI/AAAAAAAAAGU/EntAd0uNYD8/Img00027_thumb21.jpg?imgmax=800" width="186" align="left" border="0" /&gt;Setelah itu kemudian beras yang sudah bersih dari material lain dicuci dengan air atau di&lt;em&gt;pesusi &lt;/em&gt;supaya bersih dari kotoran yang tidak terlihat dengan mata telanjang dan agar tidak bau apek. Sekiranya air sudah panas baru kemudian beras yang sudah bersih itu dimasukkan ke dalam ketel. Nanti, setelah lumayan setengah matang, nasi diaduk dan setelah dirasa tanak maka berarti nasi sudah matang. Nasi yang baru masak tentu saja tidak bisa langsung dimakan karena masih panas. Biasanya kalau orang desa, nasi sebelum dimakan itu di&lt;em&gt;angi-angi &lt;/em&gt;atau ditaruh di tempat yang terbuat dari bambu dengan di anyam dalam ukuran besar. Nasi dikipasi dan dibolak-balik dengan menggunakan centong yang terbuat dari kayu. Setelah lumayan dingin baru nasi bisa dimakan.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;Dari proses yang panjang ini sebenarnya terdapat pesan, pelajaran, dan hikmah penting yang sangat berarti untuk kehidupan manusia. Diantaranya isi pesan itu sejauh kemampuan saja merenungi adalah:&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol&gt;   &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;Tidak semua apa yang kita inginkan itu mudah didapatkan.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;Kita butuh pihak lain, baik yang hidup maupun yang mati terutama yang menciptakan semua itu.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;Untuk memperolehnya kita mesti bertahap, tidak dapat langsung didapat.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;Jadi, harus khusu’, sabar, telaten, tekun, kerja keras, dan tawakkal.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;Sesuatu yang sudah kita dapatkan belum tentu dapat langsung kita gunakan dengan seenaknya.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;Kita mesti menyesuaikan hal itu dengan kadar kemampuan dan kapasitas kita.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt;    &lt;li&gt;     &lt;div align="justify"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;Sebagai pengingat bagaimana rasanya orang punya keinginan tapi belum mendapatkannya, maka ajaklah orang lain untuk ikut serta merasakan apa yang telah kita dapatkan.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;   &lt;/li&gt; &lt;/ol&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;font size="4"&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode"&gt;&lt;font color="#0000ff"&gt;Semoga kita dapat meneladaninya. Amin&lt;/font&gt;&amp;#160;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;font face="Lucida Sans Unicode" color="#0000ff" size="4"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-2055632817630075621?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/2055632817630075621/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=2055632817630075621' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/2055632817630075621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/2055632817630075621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/08/ngliwet.html' title='NGLIWET'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh6.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/Snki6ULfXHI/AAAAAAAAAGU/EntAd0uNYD8/s72-c/Img00027_thumb21.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-6501504535492507019</id><published>2009-08-03T07:47:00.001-07:00</published><updated>2009-08-03T07:47:26.199-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='suami'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='istri'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='poliandri'/><title type='text'>KONSULTASI KEPALA DAN POLIANDRI</title><content type='html'>&lt;p align="justify"&gt;Siang itu, bapak kepala menemui saya. Serentak hati bertanya “ada apa?”. Ku persilahkan beliau duduk, tapi maaf hanya di lantai saja. Maklum, kamar itu juga hanya gratisan. Sambil basa basi kami berdua kompak menyalakan korek dan membakar rokok. Seketika itu pula kamarku seakan mau melayang terdorong oleh asab tebal dari batang rokok.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Sembari ku sediakan kopi, kami ngobrol-ngobrol dengan sangat ringan. Bobot itu semakin lama semakin berat. Pak kepala menceritakan sesuatu yang hal tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan. Pelan namun pasti bahasa dan intonasi mengarah kepada jurhat. Apalagi gesture-nya tidak dapat membohongiku. Saya pun mencoba untuk menjadi pendengar yang baik sembari mengidentifikasi permasalahan yang sedang beliau hadapi. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Ringkasnya beliau baru saja menerima keluhan dari seseorang yang beliau kenal sebelumnya melalui SMS. Ada seorang suami berkonsultasi dengan dirinya mengenai kondisi diri, istri, dan keluarganya. Pertama yang suami itu menceritakan bahwa dia mengalami kebingungan. Bingung harus bagaimana. Istrinya yang sangat disayangi dan cintai mencintai laki-laki lain yang sudah beristri. Laki-laki lain ini tiada lain adalah mantan kekasihnya dulu. Dari hubungan istrinya ini terindikasi bahwa si istri sudah melangkah sangat jauh atau kasarannya sudah pernah berhubungan badan. Namun, anehnya si istri ini jujur dengan suaminya itu. Dia bilang bahwa dirinya saat ini sedang punya hubungan dengan laki-laki lain dan pernah beberapa kali melakukan hubungan suami istri. Seketika itu si suami pun kaget dan hanya diam saja.&lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Bingung pastinya. Sang suami ke pak kepala bilang “Boleh ngga’ kalau saya mengijinkan istri saya menikah dengan laki-laki lain dengan tanpa saya menceraikannya alias poliandri?” pak kepala menjawab &amp;quot;Wanita ya ngga’ boleh memiliki dua atau lebih suami” “Tapi saya masih sayang dan cinta sama dia, selain itu saya juga kasihan dengan anak-anak.” Mendengar jawaban itu pak kepala juga ikut bingung, terlebih saya yang awam. &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt;Akhirnya saya mencoba untuk memberikan saran kepada pak kepala “Pak, kalau konsultasi ini hanya lewat SMS kita tidak dapat memperoleh data yang valid. Jadi , sekarang bagaimana kalau &lt;em&gt;panjenengan&amp;#160; &lt;/em&gt;ajak dia ketemu dan ngobrol terbuka. Dengan begitu kita akan mendapat data-data yang valid yang justru tidak terlontar dari mulutnya. &lt;em&gt;Pripun&lt;/em&gt;?”.&amp;#160; &lt;/p&gt;  &lt;p align="justify"&gt; Pak kepala pun akhirnya &lt;em&gt;kerso &lt;/em&gt;(mau) menerima usulan saya. Begitulah sedikit penggalan ceritanya. Kalau menurut Anda bagaimana sih si suami dan si istri ini berdasarkan sekilas cerita itu? Tolong kasih saya pendapat……..Makasih.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-6501504535492507019?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/6501504535492507019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=6501504535492507019' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/6501504535492507019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/6501504535492507019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/08/konsultasi-kepala-dan-poliandri.html' title='KONSULTASI KEPALA DAN POLIANDRI'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-6926459354320287575</id><published>2009-07-31T23:29:00.000-07:00</published><updated>2009-08-01T17:31:23.709-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='birthday'/><title type='text'>DZIKR MAULUDY</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic"&gt;   &lt;h1&gt;&lt;font face="Script" color="#800080"&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h1&gt;   &lt;span style="font-style: italic"&gt;     &lt;h2&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;      &lt;h2&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;      &lt;h2&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Air kenistaan mewujud dalam ke-insan-an&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;         &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Tanah, air, udara, dan api bersatu di dalamnya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Berkembang dengan daya hayahnya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Berbentuk dalam proporsi dan &lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;a href="http://lh5.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/SnPgEo0jZKI/AAAAAAAAAGE/jvqCo62zP7s/s1600-h/PICT000437.jpg"&gt;&lt;img title="PICT0004" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; border-right-width: 0px" height="275" alt="PICT0004" src="http://lh5.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/SnPgHNY9XiI/AAAAAAAAAGI/etjkOC15Bb8/PICT0004_thumb76.jpg?imgmax=800" width="312" align="left" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;fungsinya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Empat bulan setelahnya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Sebagian Ruh Sang Maha Segalanya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Dikibaskan ke dalamnya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Sifat-sifat dan nilai-nilai menyelimutinya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Dalam kapasitas kemanusiaannya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Mata menjadi penglihatan&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Telinga menjadi pendengaran&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Mulut menjadi ucapan&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Lidah menjadi pahit, manis, asin, kecut&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Kulit menjadi kasar dan halus&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;strong&gt;&lt;font size="6"&gt;&lt;font face="Script"&gt;&lt;em&gt;&lt;font color="#800080"&gt;&lt;u&gt;Kesaksian &lt;span style="font-style: italic"&gt;alastu bi Rabbikum&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/font&gt;&lt;/em&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;       &lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;               &lt;h2&gt;&lt;strong&gt;&lt;font size="6"&gt;&lt;font face="Script"&gt;&lt;font color="#800080"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;M&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;engalir dalam nafas kemurnian&lt;/em&gt;&lt;/u&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/h2&gt;             &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Kecondongan kepada kebenaran&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Merasuk dalam dalam setiap rongga kehidupan&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#c0c0c0" size="7"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#c0c0c0" size="7"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Sembilan bulan&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#c0c0c0" size="7"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Amma ba'd&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Di bawah gelapnya langit-langit dipan&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Dibawah langit-langit kamar&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Di bawah langit yang menghitam oleh abu Galunggung&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Di bawah intipan matahari di balik satir hitam&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Ku menjerit saat mencium bau dunia&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Tulang-tulangku mengeras kemudian&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Berbekal sifat-sifat dan nilai-nilai-Nya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Yang dalam kapasitas saya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Dan ke-nasab-an yang selalu melekat erat di sekujur jiwa&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Ku langkahkan segalanya tuk mengembara di dalamnya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Setelah puluhan tahun ku berjalan&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;kesucian terombang-ambing&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Debu-debu jalanan terus mencoba mengoyaknya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Terkadang aku sendiri yang melakukannya&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Segalanya tinggal terkadang&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;        &lt;h2&gt;&lt;span style="font-style: italic"&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;u&gt;Ya, Rabb Laysa ly siwaka&lt;/u&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;       &lt;span style="font-style: italic"&gt;         &lt;h2&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Wa iftah min al-khair kulla mughlaq&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/h2&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/h2&gt;   &lt;/span&gt;    &lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;  &lt;div&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;font face="Script" color="#800080" size="6"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-6926459354320287575?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/6926459354320287575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=6926459354320287575' title='15 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/6926459354320287575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/6926459354320287575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/07/dzikr-maulidy.html' title='DZIKR MAULUDY'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh5.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/SnPgHNY9XiI/AAAAAAAAAGI/etjkOC15Bb8/s72-c/PICT0004_thumb76.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>15</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-28341176846440457</id><published>2009-07-31T22:44:00.000-07:00</published><updated>2009-08-01T18:08:08.695-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='education'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psychology'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bocah unik'/><title type='text'>BENAR-BENAR UNIK</title><content type='html'>&lt;font face="Microsoft Sans Serif" color="#004080" size="3"&gt;&lt;strong&gt;Hu….uuuuuuuh      &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;  &lt;div style="text-align: justify"&gt;&lt;font face="Microsoft Sans Serif" size="3"&gt;&lt;strong&gt;&lt;font color="#004080"&gt;………………..          &lt;br /&gt;………………..           &lt;br /&gt;………………..           &lt;br /&gt;Mungkin anda akan mendapatkan hakikat dari susunan huruf-huruf di atas andai saja huruf-huruf itu berbunyi. Huruf-huruf itu keluar bersama dengan sebulan nafas dari dalam dada setelah mengalami penyempitan rongga.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Saat saya sedang mengumpulkan energi untuk mendapatkan inspirasi yang harus dituangkan dalam barisan huruf-huruf sehingga terbentuk gugusan kalimat deskripsi, seorang adik kecil mengetuk pintu kamar sembari mengucapkan salam berlapis tiga kali yang berfrekuensi meninggi. Seraya menekuk kaki dan menurunkan berat badannya di hadapan saya dia mengatakan           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Pak, ada anak yang keluar melompat gerbang!”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Siapa?” Tanyaku           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Itu Pak, si A” Maksud dia si Anak Unik. Anda masih ingat kan, anak unik yang saya ceritakan di postingan kemarin.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Sekarang di mana dia?” Tanyaku.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Lari, Pak!”           &lt;br /&gt;Saya pun mencoba untuk menenangkan diri.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Sekarang, coba kamu kejar dulu dan ikuti terus! nanti saya menyusul” Pintaku.           &lt;br /&gt;Saya langsung pakai jaket karena kebetulan malam itu udara sangat dingin. Dengan berbekal jaket aku menyusul si Anak tadi dengan naik motor.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Sepanjang jalan di sekitar tempat kami tinggal saya susuri pelan-pelan. 45 menit saya pastikan jalan itu, namun belum juga kelihatan di mana dia berada. Hati saya pun mulai mendesir-desir, namun saat itu pula saya mencoba untuk menenangkan diri kembali dan terus mencarinya.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“De’, ayo turun! Pulang dah malam”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Aku mendengar suara anak sedang membujuk seseorang. Pelan-pelan saya dekati suara itu. Semakin mendekat, saya semakin mengenal suara siapa itu. Tanpa ragu ku dekati.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Masya Allah” Tanpa sadar saya mengucapkan kalimat itu.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Ya, Allah ternyata si Anak Unik itu sedang bermain di taman orang. Dia sedang naik pohon cemara yang ada di taman sembari senyam-senyum. Kelihatannya dia sangat menikmati. Walaupun begitu, hati saya sedikit demi sedikit mulai tenang.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“De’, kamu lagi ngapain di sini?” Tanyaku.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Mendengar pertanyaanku dia hanya diam dan tersenyum sambil terpaku. Dia tampak sama sekali tidak merasa atau mengetahui kalau hati saya sedang sangat khawatir karenanya.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Ayo turun, dah malam, mainnya besok saja!” Ajakku.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Lagi-lagi hanya senyuman yang menyungging dari bibirnya. Melihat senyumannya itu, saya jadi terpancing untuk mencari ide bagaimana cara yang baik dan benar agar dia mau pulang dengan tanpa merasa terpaksa.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Kebetulan di dekat pohon yang sedang dia panjat ada kursi. Aku mendekati dan duduk di bangku itu sambil membakar rokok. Aku coba menatapnya.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“De’, kamu di sini dah berapa hari?” Tanyaku memulai perbincangan.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Setengah bulan” Jawabnya. Mendengar jawaban itu hati saya merasa plong “Alhamdulillah”. Rasa optimis seketika mencuat dalam benak.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Setelah setengah bulan kamu berpisah dengan mama, rasanya bagaimana?”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Kangen! Aku pingin ketemu mama!” Dari matanya meleleh air, ternyata dia menangis.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Kamu kangen?” Tanyaku.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Iya!”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“De’, Aku mengerti kalau kamu sedang kangen sama mama dan aku juga dapat merasakan apa yang kamu rasakan. Saya dulu ketika kangen sama mama rasanya juga seperti kamu. Setiap hari, rasanya hanya ingin ketemu mama dan ingin memeluknya, kan?” Saya mencoba untuk dapat berempati kapadanya.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Iya!”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Tapi bagaimana caranya?” Tanyaku.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Ya, pulang!” Sedikit dia mulai menemukan solusinya.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Rumahmu Kalimantan Barat kan, De?”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Iya”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Menurutmu Kalimantan Barat kalau dari sini, jauh pa dekat?”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Ya…….” Dia tampak mulai ragu.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Ya, jauh”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Kalau jauh, terus kalau mau pulang naik apa? Kamu, kemarin waktu ke sini naik apa?           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Pesawat terbang”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Kira-kira, menurutmu mahal ngga’?”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Mahal Pak!”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Lah, sekarang kamu punya uang untuk beli tiket pesawat tidak?”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Ngga’ punya.” Jawabnya.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Saya juga ngga’ punya De’.”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Terus bagaimana Pak?” Dia mulai berani untuk bertanya dan minta pendapat sama saya. Saat itu juga saya tidak menghilangkan kesempatan untuk mengalihkan kekangenan dia sama mama-nya.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Aku yakin kamu anak yang sangat sayang sama mama dan mama juga sangat sayang sama kamu, kan?”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Iya.”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Waktu kamu mau ke sini, mama memelukmu?”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Ya.”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Ketika mama memelukmu, mama bilang apa?”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Kamu yang rajin belajar ya Nak, biar menjadi anak yang pinter!” Katanya, mengulang pesan mama-nya. Dari matanya yang sudah tampak ngantuk menetes air mata.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Sini De’ turun dulu, duduk sini!” Ajakku. Alhamdulillah dia mau turun dan duduk di sampingku. Dengan tanpa kusadari tanganku yang kanan menggapai kepalanya dan menyandarkannya di dadaku. Ku peluk dia. Rasa kangen tampak terasa dari hembusan nafas, isak tangis, tarikan nafas, dan tempelan kepalanya.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“De’, pertama kali aku melihatmu, aku dah tahu kalau kamu itu anak yang pinter dan shalih. Kamu tahu kan caranya biar jadi anak yang pinter dan shalih?”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Ya, Pak. Saya harus rajin belajar dan mendoakan orang tua.” Jawabnya. Anak ini sebenarnya anak yang pintar dan cerdas.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Berarti kamu juga harus rajin mengaji dan sekolah?”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Iya, Pak!” Jawabnya dengan suara lumayan semangat.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Sekarang kira-kira jam berapa? Jam berapa De’?” Tanyaku sama anak yang tadi ikut mengejarnya.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Jam satu, Pak” Jawabanya.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Menurutmu, kalau sekarang belum tidur, besok subuh kita ngantuk ngga’ jama’ah subuhnya?”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Iya Pak, padahal habis subuh saya harus mengaji Al-Qur’an sama Pak Qodir.”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Saya, besok habis subuh juga harus nemenin kakak kelas I Aliyah mengaji kitab Ta’lim Al-Muta’alim.” Saya menambahi.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Gimana De’ kalau kita pulang dulu, tidur yang nyenyak, terus bangun jam empat, setelah itu mengaji, mandi, makan, dan berangkat sekolah?” Saya minta persetujuan Si Anak Unik itu.           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Yuk, Pak. Saya juga sudah ngantuk. Besok saya juga harus shalat subuh jama’ah, mengaji, mandi, makan, dan sekolah.”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;“Yuk!”           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;Kaya “Yuk” yang terakhir inilah yang sebenarnya saya nanti-nantikan sejak awal. Setelah mendengarnya, tidak ada perasaan lain selain “lega”. Ucapan syukur alhamdulillah pun terus mengalir dari hatiku karena Dia-lah Si Anak Unik itu mau menerima dan memahami celoteh saya yang sebenarnya sangat elementer dalam dunia parenting. Apa yang terjadi pada malam itu, harapan saya hanya satu           &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;font color="#004080"&gt;&lt;font face="Monotype Corsiva"&gt;&lt;u&gt;&lt;font color="#ff0000" size="4"&gt;“SEMOGA KITA DAPAT MERENGKUH TAUHID CINTA”                &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify"&gt;&lt;font face="Microsoft Sans Serif" size="3"&gt;&lt;strong&gt;&lt;font color="#004080"&gt;&lt;font face="Monotype Corsiva"&gt;&lt;font color="#808040"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;  &lt;div style="text-align: justify"&gt;&lt;font face="Microsoft Sans Serif" size="3"&gt;&lt;strong&gt;&lt;font color="#004080"&gt;&lt;font face="Monotype Corsiva"&gt;&lt;font color="#808040"&gt;&lt;a href="http://lh3.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/SnTdoCyixWI/AAAAAAAAAGM/k2t6rDTS9Cw/s1600-h/IMG_0805%5B1%5D.jpg"&gt;&lt;img title="IMG_0805" style="border-top-width: 0px; display: inline; border-left-width: 0px; border-bottom-width: 0px; margin-left: 0px; margin-right: 0px; border-right-width: 0px" height="323" alt="IMG_0805" src="http://lh6.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/SnTdr50CwhI/AAAAAAAAAGQ/xt8ZLTYrEFg/IMG_0805_thumb.jpg?imgmax=800" width="359" align="left" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; Karena-Nya kita begini&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt; &lt;font face="Microsoft Sans Serif" size="3"&gt;&lt;strong&gt;&lt;font color="#004080"&gt;&lt;font face="Monotype Corsiva"&gt;&lt;font color="#808040"&gt;           &lt;div style="text-align: justify"&gt;             &lt;br /&gt;Karena-Nya kita begitu&lt;/div&gt;            &lt;div style="text-align: justify"&gt;             &lt;br /&gt;Karena-Nya kita begini dan begitu&lt;/div&gt;         &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Microsoft Sans Serif" size="3"&gt;&lt;strong&gt;&lt;font color="#004080"&gt;&lt;font face="Monotype Corsiva"&gt;&lt;font color="#808040"&gt;           &lt;div style="text-align: justify"&gt;             &lt;br /&gt;Bukan sekedar kita begini dan begitu karena-Nya&lt;/div&gt;            &lt;div style="text-align: justify"&gt;             &lt;br /&gt;Begini dan begitu yang diridloi-Nya&lt;/div&gt;            &lt;div style="text-align: justify"&gt;             &lt;br /&gt;Karena-Nya di dalam diri kita ada ini dan itu&lt;/div&gt;         &lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;font face="Microsoft Sans Serif" size="3"&gt;&lt;strong&gt;&lt;font color="#004080"&gt;&lt;font face="Monotype Corsiva"&gt;&lt;font color="#808040"&gt;           &lt;div style="text-align: justify"&gt;             &lt;br /&gt;Ini dan itu yang karena-Nya begini dan begitu&lt;/div&gt;            &lt;div style="text-align: justify"&gt;&amp;#160;&lt;/div&gt;            &lt;div style="text-align: justify"&gt;             &lt;br /&gt;Ya, Allah! Allah, Allah, Allah               &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;         &lt;/font&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;          &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;  &lt;p&gt;&lt;font face="Microsoft Sans Serif" color="#004080" size="3"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-28341176846440457?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/28341176846440457/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=28341176846440457' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/28341176846440457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/28341176846440457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/07/benar-benar-unik.html' title='BENAR-BENAR UNIK'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://lh6.ggpht.com/_4EgNBFCK5Tc/SnTdr50CwhI/AAAAAAAAAGQ/xt8ZLTYrEFg/s72-c/IMG_0805_thumb.jpg?imgmax=800' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-836338906038284743</id><published>2009-07-27T19:23:00.000-07:00</published><updated>2009-08-01T17:37:49.640-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='super ego'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pedagogik'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ego'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='anak-anak'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='id'/><title type='text'>BOCAH UNIK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify"&gt;&lt;font face="Lucida Console" color="#808000" size="3"&gt;&lt;strong&gt;Satu anak sejak awal kedatangannya membuat semua –termasuk saya- orang tertawa, khawatir, dan bingung. Dia anak yang datang dari jauh, Kalimantan Barat tepatnya. Anaknya kecil, lumayan pendek mungkin belum tumbuh saja, dan ketika berbicara logat aslinya sangat tampak jelas, maaf lho bukan maksud sara. Jadi ketika dia bertingkah pasti mendapat sambutan tertawa dari teman-temannya.       &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Anak ini memang sedikit merepotkan para pembimbingnya. Dia walaupun sekarang duduk di bangku SLTP namun tingkah lakunya masih seperti anak-anak SD yang suka semau gue. Kita sebagai orang bertanggung jawab penuh terhadapnya juga tidak tahu dan belum pernah bertemu dengan orang tuanya karena ketika dia datang si orang tua tidak menemui kami. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan, kami pun mencoba mencari sesuatu yang sekiranya dapat berhubungan langsung dengan orang tuanya, tapi ternyata kami hanya mendapatkan alamat yang itu saja tidak komplit.        &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Akhirnya kami pun sepakat untuk mencoba membiarkan dia semaunya sendiri dengan terus mengontrolnya dari jauh. Kami berfikir mungkin dia sedang berjuang keras untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya yang kebetulan beraneka etnis. Emosinya sama sekali belum stabil, kadang begini kadang pula begini. Pokoknya DIA MASIH DIA BANGET. Sekarang sekolah besoknya bilang sakit, namun nanti setelah teman-temannya sekolah dia main karambol sendiri. Ketika diajak sekolah dia malah menangis.        &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Tidak hanya masalah sekolah, tidurnya pun semaunya sendiri. Baru tadi malam saya kaget bukan kapalang. Saat saya terbangun jam 3 malam dan saya buka pintu untuk ke belakang membasuh wajah, dia tidur tepat di depan pintu. Saya mencoba untuk membangunkannya, dia tidak mau bangun. Aku pun tak putus asa, saat dia bangun saya minta dia untuk tidur di kamar saya karena di luar sangat dingin, eh dia malah nglonyor pergi dan tidur di tangga.        &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Saya dalam hati mencoba menebak-nebak, mungkin dia begitu karena sangat kangen dengan Ibunya, mungkin dia dipaksa oleh orang tuanya, dia mencari perhatian, dia belum menemukan teman yang sesuai dengan karakter dirinya, atau dia memang karakternya seperti itu.        &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;Kejadian mirip seperti itu memang bukan sekali ini, sebelumnya satu dua anak mengalaminya. Namun, perasaan yang paling unik baru kali ini. Id-nya masih tampak sangat jelas menguasainya. Dia belum mampu menatap dengan jelas realita yang ada dalam dirinya, apalagi bagaimana dia harus bersikap dan berperilaku yang sebaik dan sebenarnya. Namun, saya yakin dia akan tumbuh menjadi anak yang punya sifat berpendirian kuat. SABAR YA NAK        &lt;br /&gt;        &lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;  &lt;p&gt;&lt;font face="Lucida Console" color="#808000" size="3"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-836338906038284743?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/836338906038284743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=836338906038284743' title='11 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/836338906038284743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/836338906038284743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/07/bocah-unik.html' title='BOCAH UNIK'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>11</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-6549285866383585772</id><published>2009-07-22T06:56:00.000-07:00</published><updated>2009-07-22T07:34:26.849-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sakit'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ujian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='flu'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='panas'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='batuk'/><title type='text'>MASIH MANUSIA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudah sekitar dua bulanan lebih saya tidak mengupdate blog, rasanya gatal juga. Namun, saat nafsu itu datang ternyata jasad ini sedang mendapat ujian dari yang Maha Kuasa. Sakit, itulah rasa yang menggerayang pasti. Flu, batuk, panas, dan pening menyelimuti diri ini. Tak hanya saya anak-anak yang baru dan yang lama juga dijemputnya. Namun, Alhamdulillah sedikit-demi sedikit mereka telah kembali dapat beraktivitas sebagaimana mestinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertengahan juli adek-adek kecil yang baru saja berpisah dengan orang tuanya dimana rasa kangen masih lekat melekat pekat dalam benak, mereka diuji totalitasnya dalam niat mencari ilmu dengan sakit yang sama dengan saya. Tanggung jawab sebagai orang yang diberi amanat untuk membimbingnya selama mereka mencari ilmu pun bertambah. Kita yang tua harus menyuapi makan, mengantarkannya ke kamar mandi, menenangkan gejolak emosinya, dan mengantarkannya ke Balai Kesehatan. Tidak ada satu keinginan pun dalam diri kami kecuali berharap mereka cepat sembuh, kembali tertawa, bermain, dan belajar dengan penuh senyum kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kecil, sedikit demi sedikit mulai menunjukkan harapan kami, namun ternyata Allah SWT berkehendak menyuguhkan keadilan yang luar biasa, kakak kelasnya pun secara urut dan runtut waktunya mengalami hal yang sama. Begitu seterusnya, hingga kami yang tertua terkapar saat mereka telah siap untuk kembali belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta, di sinilah kami berada. Pergantian musim begitu terasa. Siang suhu udara sangat panas dan saat malam datang, rasa dingin menyerbu sendi-sendi tulang. Lembab, itulah kulit kami merasakannya. Sehingga kulit pun terasa kaku dan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit datang tak diundang, namun kita sering kali mengusirnya. Mungkin karena dengan adanya sakit tubuh kita jadi tidak seimbang. Sangat wajar kemudian kita berusaha menyeimbangkannya. Namun, dengan adanya sakit kita kemudian dapat merasa bahwa ternyata kita hanya manusia yang sangat syarat dengan kelemahan-kelemahan. Terus, mengapa kita mesti merasa diri paling sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-6549285866383585772?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/6549285866383585772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=6549285866383585772' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/6549285866383585772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/6549285866383585772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/07/masih-manusia.html' title='MASIH MANUSIA'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-6747640314392718191</id><published>2009-06-17T06:37:00.001-07:00</published><updated>2009-06-17T06:39:13.178-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='asma&apos;ul husna'/><title type='text'>ASMA'UL HUSNA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/Sjjx0NEFkXI/AAAAAAAAADc/RhxMJ_DiRNg/s1600-h/simtudduror.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 300px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/Sjjx0NEFkXI/AAAAAAAAADc/RhxMJ_DiRNg/s400/simtudduror.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348290436664758642" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;ol style="text-align: center;"&gt;&lt;li&gt;Adakah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Asma'ul Husna &lt;/span&gt;dalam kapasitas diri kita sebagai manusia?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Seberapa jauh kita dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan ini?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apa yang dapat kita rasakan dengan hidup penuh bernuansa nilai-nilai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Asma'ul Husna&lt;/span&gt;?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah kita akan berfikir tentang hasil yang akan kita petik setelah menerapkan nilai-nilai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Asma'ul Husna &lt;/span&gt;dalam kehidupan ini?&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-6747640314392718191?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/6747640314392718191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=6747640314392718191' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/6747640314392718191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/6747640314392718191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/06/asmaul-husna.html' title='ASMA&apos;UL HUSNA'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/Sjjx0NEFkXI/AAAAAAAAADc/RhxMJ_DiRNg/s72-c/simtudduror.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-1142328814855711719</id><published>2009-06-03T19:13:00.000-07:00</published><updated>2009-06-03T19:34:26.808-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human potency'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='education'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psychology'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='actualization'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;THE TRUE POWER OF POINT&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;oleh&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;waluyo &lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SicxIgIP8FI/AAAAAAAAAC8/IJRbS6sspdQ/s400/Picture+041.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343293505031630930" /&gt;&lt;br /&gt;Titik, siapakah yang tidak mengenalnya? Apalagi bagi orang-orang yang suka menulis atau membaca, mereka pasti mengenal itu. Bentuknya kecil dan terkadang jika tidak cermat mengamatinya maka tidak kelihatan. Namun, bagi orang yang telah mampu membaca atau menulis dengan intuisi, walaupun ia tidak kelihatan akan tetapi intuisi dapat memberikan rasa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SicxrwTxmTI/AAAAAAAAADE/TFPff1mlalo/s400/Picture+044.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343294110670362930" /&gt;&lt;br /&gt;Titik, mungkin inilah kata tertepat yang dapat saya gunakan untuk mengungkapkan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini berasal dari titik. Selain itu karena kata titik lebih sesuai dengan kapasitas saya sebagai manusia. Walaupun begitu,  saya meyakini bahwa sebenarnya ada pula sesuatu yang asal kejadiannya tanpa bermula dari titik, sesuatu itu tercipta dari daya kun fa yakunnya Allah SWT. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Bermula dari titik, segala sesuatu dapat dibentuk. Bentuknya pun sangat beragam dengan variasi dan kekhasan yang terilhami oleh karakteristik individual difference masing-masing pembentuk. Ada orang yang kemudian membentuk gambar rumah, jalan, atau apapun. Walaupun ada dua orang yang menggambar rumah dalam waktu yang sama tapi pasti di antara dua gambar itu memiliki perbedaan yang khas.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Dari penjelasan sederhana di atas, maka saya dapat mengatakan bahwa titik itu memiliki kekuatan yang luar biasa atau lugasnya titik itu memiliki daya potensi yang dapat tumbuh dan berkembang menjadi apapun. Sebelum melangkah lebih jauh, cobalah pikirkan, renungkan, dan simpulkan pertanyaan-pertanyaan saya berikut ini!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Sebuah titikkah kita ini?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika kita itu titik, adakah di dalam titik itu ada titik?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Jika iya ada, titik apakah yang ada dalam diri kita itu?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apa yang akan kita lakukan terhadap titik-titik itu?&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul Human Potency And Way Of Actualization telah banyak dikupas mengenai potensi dasar manusia yang mana potensi-potensi itu dapat dikatakan sebagai titik yang dapat tumbuh dan berkembang menjadi suatu kekuatan yang luar biasa. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kita memiliki potensi yang bersifat umum atau setiap manusia memilikinya, yaitu Qalb (afektif), akal (kognitif), dan nafs (konasi). Ketiganya ini secara sejatinya siap mendukung potensi hereditas yang sifatnya sangat khas dan unik. Jika potensi hereditas ini bersinergi menjadi satu dengan potensi hereditas pasti setiap manusia akan menjadi dirinya sendiri dengan memiliki berkarakter yang kuat.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Agar potensi-potensi tadi dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal maka harus dioleh melalui pendidikan yang dapat memandirikan bukan pendidikan dogmatis. Karena dengan pendidikan yang memandirikanlah manusia akan diantarkan menuju pribadi yang kreatif, inovatif, dan produktif. Fungsi pendidikan bukan lagi mengajarkan sesuatu tapi membimbing dan mengarahkan subjek menemukan jati dirinya yang sebenarnya. Dengan demikian subjek tidak lagi bergantung dengan situasi yang berusaha menguasainya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt; Namun, kehidupan manusia itu tidak cukup hanya untuk menemukan jati dirinya saja, akan tetapi manusia juga harus mengarahkan kekuatan dirinya itu memenuhi fungsi utama dirinya, yaitu fungsi manusia sebagai makhluk Tuhan yang sangat menjijikan jika tidak menyembah-Nya (‘abid) dan fungsi manusia sebagai mandataris Tuhan di muka bumi ini (khalifah Allah). Sehingga jika sudah seperti itu maka manusia akan mengarahkan kekuatannya itu untuk beribadah dan menjaga stabilitas alam semesta.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SicyT-tJOhI/AAAAAAAAADM/i-wmU9fvN98/s400/Picture+045.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5343294801729632786" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt; Indah dan bermakna&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; inilah jati diri manusia!!!!   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-1142328814855711719?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/1142328814855711719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=1142328814855711719' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/1142328814855711719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/1142328814855711719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/06/true-power-of-point-oleh-waluyo-titik.html' title=''/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SicxIgIP8FI/AAAAAAAAAC8/IJRbS6sspdQ/s72-c/Picture+041.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-6919447003185096596</id><published>2009-05-23T09:25:00.000-07:00</published><updated>2009-06-03T18:35:43.567-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='human potency'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='education'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psychology'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='religious'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HUMAN POTENCY AND WAY OF ACTUALIZATION&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;By&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Waluyo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/ShgpqTHN2yI/AAAAAAAAACs/r_pY_SUwz3s/s1600-h/DSCI0069.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 132px; height: 125px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/ShgpqTHN2yI/AAAAAAAAACs/r_pY_SUwz3s/s200/DSCI0069.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5339063164909509410" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mutual &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;l&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;i&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;es agree to us that we are man? If yes, how knew us about &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;fundamental meaning of man? If&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; really knows it, capital what we have owned to ford this life? Contemplated the questions! &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;W&lt;/span&gt;hat if we traced again, whose we this? What if me formerly tracing it? May isn't it?&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Forgiveness, I am one of between all of you feeling cannot get out of &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;religion. So, at times discussion I also will start it is from the aspect of religion approach. This thing is because I feel that religion which I believe also studies in detail about man.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;There is three terms applied in Al-Qur’an is referring to man fundamental meaning, that is basyar, al-insan, and al-nas. So that not happened un-clarity semantic, we must comprehend in context is man called &lt;span style="font-style: italic;"&gt;as basyar&lt;/span&gt;, and in context is also man called as &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-insan,&lt;/span&gt; and &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-nas &lt;/span&gt;(Hasan, 2004).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Basyar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Word &lt;span style="font-style: italic;"&gt;basyar &lt;/span&gt;in Al-Qur'an called as 35 times related to man and 25 times attributed to Prophet and Rasul. In the entire sentence, word &lt;span style="font-style: italic;"&gt;basyar &lt;/span&gt;to give reference to man as biological is being having form of body, experiences growth and development of bodily. Like sentence 31 letters Yusuf telling about interest of Zulaikha to elegance Nabi Yusuf AS. Based on this matter, we can tell that man is biological is being having the character of physical.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Al-Insan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Word &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-insan&lt;/span&gt; called as 65 times in Al-Qur'an. Most all sentences mentioning man with word al-insan, it’s the context is always presents man as special is being, morally and spiritual. Is being having idiosyncrasy and excellencies that is not owned by other being. The excellencies at least there are three things, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;firstly,&lt;/span&gt; man as is being thinks. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Second,&lt;/span&gt; commendation carrier is being. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Third&lt;/span&gt;, man as is being is holding responsible at all of done.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Man with his the excellence is such a on the way it’s the life is of course will face assorted of challenge that is not light. Existence of challenges this is man then becomes dynamic is being. Man as is being &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-insan &lt;/span&gt;also is reminded with negative predisposition which latent in himself. According to Al-Qur'an, the man tends to doing is brutal and infidel ( 14:34; 22:66; 43:15), hurried ( 17:11;21:37), stingy ( 17:100), amentia ( 33:72), many arguing and liking debates about even a trivia ( 16:4; 18:54;36:77), anxious, jumpy, and uncooperative of others ( 70:19-21), destined to strain after and suffers ( 84:6; 90:4), denies and refuse to compliment to Allah ( 100:6), likes sinning ( 96:6; 75:5), and doubts of day eternity/the beyond ( 19:66).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Man as &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-insan&lt;/span&gt; this is we get reality that the man not simply only mere physical, but also psychical dimension &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(ruhiyah).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruh &lt;/span&gt;is base potency that is inner self character, this thing is because in character which abstraction, but has high quality and has big role and influence for human life. Height of quality of this &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruh &lt;/span&gt;explained by Allah SWT (God) in Al-Qur'an letter Al-Hijr sentence 29, where the angels bows to Adam AS Prophet after Allah SWT breezes his &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruh&lt;/span&gt; to it. Usage of word My &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruh&lt;/span&gt; in letter Al-Hijr sentence 29 is not interpreted as Ruh Allah SWT is coming into man self. But &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruh&lt;/span&gt; the property (creation) Allah SWT. Though, in other sentence, Allah SWT also tells some of My &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruh&lt;/span&gt; dribbling at understanding that Allah SWT " wags" some of His characters to man through via &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruh    &lt;/span&gt;( Mustofa, 2005).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruh&lt;/span&gt; in Al-Qur'an has some different meanings. Shihab (2005) tells that &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruh&lt;/span&gt; can have a meaning (of) Allah like apocalypses, angel bringing apocalypse, spirit, and lifeblood. Difference of this meaning indicates that &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruh &lt;/span&gt;has function and character. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruh&lt;/span&gt; is a guide from Allah SWT as Al-Qur'an which will lead and guides every man for always having prayer beads to Allah SWT. Besides, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ruh&lt;/span&gt; also is substance life of someone who with his(its every element and body organ has function (QS. As-Sajdah: 9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Based on above explanation so knowable about potencies owned by Ruh, between it is as follows:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;   &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Characters ilahiyah. Characters ilahiyah here it is of course in human life scale (Mustofa, 2005). Man has will desire, science, ability to hear, sees, and others.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Values ilahiyah. This ilahiyah values also in human life scale. Affection, love, forgiveful, benefactor, and others this also is evidence existence of sprinkling of values ilahiyah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;The synergy physical and psychical dimension will form psychological or soul dimension. In the psychological dimension (soul) there are three important powers which if synergy in the attitude and behavior will send man to become man who as fully. The three domains are cognitive (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-aql&lt;/span&gt;), affective (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-qalb&lt;/span&gt;), and conative (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-nafs&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hartati (2004) said that &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Qalb &lt;/span&gt;(fitrah ilahiyah) as aspect supra awareness of man who is having emotion energy (emotion). Function of &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Qalb&lt;/span&gt; in Al-Qur'an like in category as follows this: From the aspect of its the function, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Qalb&lt;/span&gt; (1) has function of emotion generating taste energy; (2) function of cognition generating creativity; and (3) function of conation generating willness energy. From the aspect of its the condition, Al-Qalb has condition, (1) good, that is &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Qalb &lt;/span&gt;which is a life, healthy, and gets happiness; (2) ugly, that is Al-Qalb which is dead and gets misery; and (3) between ugly and good, that is Al-Qalb which is a life but diseased.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-'Aql (&lt;/span&gt;fitrah insaniyah) as awareness aspect of man who is having cognition energy (reason). Cognition is a public concept including all form of experience of cognitions, include observes, sees, pays attention to, pass an opinion, assumption, imagines, predicts, thinks, considers, anticipates, and assess.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Nafs&lt;/span&gt; (fitrah hayawaniyah) as pre aspect or under awareness of man who is having conation energy (will). &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Nafs &lt;/span&gt;has two strengths, which is strength of a&lt;span style="font-style: italic;"&gt;l-Ghadhabiyah &lt;/span&gt;and &lt;span style="font-style: italic;"&gt;al-Syahwaniyah&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Ghadhab&lt;/span&gt; is an energy having potency to avoid self from all endangering. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Al-Ghadhab&lt;/span&gt; in psychoanalysis terminology also is called as with defence (defence and custody), that is trying behavior advocate or protects ego to mistake, dread, and feels small; deed to protect own self; and exploits and rationalizes his own deed. As-Syahwat is an energy having potency auto-induction to from all pleasing. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;As-Syahwat &lt;/span&gt;in psychoanalysis terminology called as with appetite, that is an ambition (desire, lechery, and libido atmosphere), motive or impulse based on situation change of physiology.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;3. Al-Nas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Concept al-Nas refers to man as is being social. Man in this dimension called as in Al-Qur'an 240 times. This thing can be checked in every sentence started with word, ya ayyuha an-nas. Drew it is again Al-Qur'an in laying open man as social is being had never done generalizing. Explanation of about this context can be shown in two things. Firstly, many sentences showing social batches with it’s the characteristic is each which one another is not necessarily the same. This sentence usually applies expression wa mina an-nas. Second, subdividing of man based on majority, generally applies expression aktsar an-nas. Pays attention to this expression we find that some of men has low quality, either from the angle of science and also believe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For example is marriage problem. Basically tuition of religion doesn't arrange procedures the relation of sexual because as biological is being of all men after all primitive of can do it. Exactly that need to be arranged by Moslem law (syari’ah) is the relation of socials after the happening of marriage: the relation of wife husband concerning rights, obligation, and responsibility, and the relation of happened after having family; education of child, affinity, heritage and problem which apropos of properties. To these problems Al-Qur'an shows promise which rather detail and detail. This thing happened because, at social aspects this is man often crossing the line and uncontrollably.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By seeing three dimensions has been explained above, we get the picture that man in general has owned the same potency, like having tendency trusts to and sanctifies Allah SWT, do goodness, responsible, ready to receive commendation, and others. But, on the other side man also has potency to do infidel, disaffected, looks away from truth, and other negative potency.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besides man also has potency having the character of heredity or born of it's the old fellow. Potency having the character of this heredity tends to typically and on unique. One otherly different. For example, character, talent, skin color, and other unique. Besides quality of this heredity potency also can be designed by man mean can be laboured by the way of doing selection to mains which will endow the potency. About this thing is Prophet SAW has signed in hadits:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Select wife candidate which keeps  embryo will all of you! And marries commensurable women and marries also (they) with commensurable men!"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(HR. Ibnu Majah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;This thing is because,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:100%;"&gt;"In fact if embryo have resided in womb, so God will deliver for his all (line insider) lineage starts from the embryo up to child of Adam, (so that he will look like one of the from the ancestors).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(HR. Ibnu Jarir and Ibnu Abi Hatim)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Some recent scientific researches in genetics science proves that gene in each mixed has spermatozoa and ovum and has become embryo actually has some characters genetic. Every spermatozoa and ovum is apart has cell become two and contains 23 chromosomes. This process happened when spermatozoa and ovum meets and experiences impregnation in perfection.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mixed has sperm is one item cell containing 46 chromosomes.  One item the cell is half come from the father and half again comes from the mother. One item cell is contains gene bringing characters of the father and mother. Sometimes genetics characters indirectly inherited by child. Might possibly the characters has just been inherited by grandchild.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Based on above description so we can conclude that parent as mains descendant of will endow the gene in his self, good of positive gene (QS. Ali Imran: 38, Al-Nisa: 9, Ibrahim: 40, and Al-Ahqaf: 15) and also negative gene (QS. Al-Shaffat: 113). So parent who is good later also will endow the good gene to the child, so also old fellow who thief hence thief gene also will go down to the child.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Man is being which explorative and potential. Told is being explorative, because man has ability to develop his self either in physical and also psychical. Man conceived of potential is being, because at on file man self a number of abilities of wafting which can be developed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here in after, man also is conceived of is being having inert principle, because to grow and grows normally man to require help from outside his self. Help intended by inter alia in the form of tuition and guidance from the area. Tuition and guidance given in fostering the intrinsically is expected in line with requirement of itself man, which have been on file as it’s the wafting potency. In consequence, tuition that is not in line with potency owned will affect negative for development of man.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realization effort of the potencies in man self can be done through good education. This good education becomes of vital importance for man because with that can develop potencies which are positive and bridles negative potencies owned. For example, although the child came from old fellow that is formerly a thief if get good education hence the thief gene will not predominate in the life. On the contrary, although child of an ustadz (religion teacher), but does not get good education so the ustadz (religion teacher) gene in his self hardly difficult to predominate his life.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This education can be done in three areas, which are family area, school, and public. The education is also must choose placing forward education integrated it three the important domains in man self, namely al-qalb (affective), al-'aql (cognitive), and al-nafs (conative). Because with integrated it three domains child is expected to become man who is bookish and having glory behavior and skillful causing can give benefit in the form of progressive and constructive change for self, family, and environment.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;(INDONESIAN VERSION)&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Sepakatkah kita bahwa kita adalah manusia? Jika ya, seberapa tahukah kita tentang makna pokok manusia? Jika memang benar-benar mengetahuinya, modal apakah yang telah kita miliki untuk mengarungi kehidupan ini? Renungkanlah pertanyaan-pertanyaan tadi! Bagaimana kalau kita telusuri kembali, siapakah kita ini? Bagaimana kalau saya dulu yang menelusurinya? Boleh kan?&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Maaf, saya adalah salah satu diantara kalian yang merasa tidak bisa lepas dari agama. Jadi, pada diskusi kali saya juga akan memulainya dari sudut pandang agama. Hal ini karena saya merasa bahwa agama yang saya yakini juga membahas secara detail mengenai manusia.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Ada tiga istilah yang digunakan dalam Al-Qur'an yang mengacu pada makna pokok manusia, yaitu basyar, al-insan, dan al-nas. Supaya tidak terjadi kerancuan semantic, kita harus memahami dalam konteks apa manusia disebut basyar, dan dalam konteks apa pula manusia disebut al-insan, dan al-nas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;1. Basyar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata basyar dalam Al-Qur’an disebut sebayak 35 kali yang berkaitan dengan manusia dan 25 kali dihubungkan dengan Nabi dan Rasul. Dalam keseluruhan ayat tersebut, kata basyar memberikan referensi kepada manusia sebagai mahluk biologis yang mempunyai bentuk tubuh, mengalami pertumbuhan dan perkembangan jasmani. Seperti ayat 31 surat yusuf yang menceritakan tentang ketertarikan Zulaikha terhadap ketampanan Nabi Yusuf AS. Berdasarkan hal ini, kita dapat mengatakan bahwa manusia adalah mahluk biologis yang bersifat fisik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;2. Al-Insan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kata al-insan disebut sebanyak 65 kali dalam Al-Qur’an. Hampir semua ayat yang menyebut manusia dengan kata al-insan, konteksnya selalu menampilkan manusia sebagai mahluk yang istimewa, secara moral dan spiritual. Mahluk yang memiliki keistimewaan dan keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh mahluk lainnya. Keunggulan-keunggulan itu setidaknya ada tiga hal, pertama, manusia sebagai mahluk berfikir. Kedua, mahluk pembawa amanat. Ketiga, manusia sebagai mahluk yang bertanggung jawab pada semua yang diperbuat.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Manusia dengan keunggulannya yang seperti itu dalam perjalanan hidupnya tentu akan menghadapi berbagai macam tantangan yang tidaklah ringan. Adanya tantangan-tantangan inilah manusia kemudian menjadi mahluk yang dinamis. Manusia sebagai mahluk al-insan juga diingatkan dengan predisposisi negative yang laten dalam dirinya. Menurut Al-Qur’an, manusia itu cenderung berbuat zalim dan kafir (14:34; 22:66; 43:15), tergesa-gesa (17:11;21:37), bakhil (17:100), bodoh (33:72), banyak membantah dan suka berdebat tentang hal-hal yang sepele sekalipun (16:4; 18:54;36:77), resah, gelisah, dan enggan membantu orang lain (70:19-21), ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita (84:6; 90:4), ingkar dan enggan berterima kasih kepada Tuhan (100:6), suka berbuat dosa (96:6; 75:5), dan meragukan hari akhirat (19:66).  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Manusia dalam dimensi al-insan inilah kita mendapatkan kenyataan bahwa manusia itu tidaklah sekedar hanya mahluk biologis yang bersifat fisik belaka, namun juga berdimensi psikis (ruhiyah).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Ruh merupakan potensi dasar yang sifatnya inner self, hal ini karena sifatnya yang abstrak, namun mempunyai kualitas yang tinggi serta memiliki peran dan pengaruh yang besar bagi kehidupan manusia. Tingginya kualitas Ruh ini dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Hijr ayat 29, dimana para malaikat tunduk kepada Nabi Adam AS setelah Allah SWT meniupkan Ruh-Nya kepadanya. Penggunaan kata Ruh-Ku dalam surat Al-Hijr ayat 29 tidak ditafsirkan sebagai Ruh Allah SWT yang masuk ke dalam diri manusia. Melainkan Ruh miliknya (ciptaan) Allah SWT. Meskipun, di ayat lain, Allah SWT juga mengatakan sebagian dari Ruh-Ku yang menggiring pada pemahaman bahwa Allah SWT “mengibaskan” sebagian sifat-sifatNya kepada manusia lewat Ruh itu (Mustofa, 2005).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Ruh di dalam Al-Qur’an memiliki beberapa makna yang berbeda. Shihab (2005) mengatakan bahwa ruh itu dapat bermakna wahyu-wahyu ilahi, malaikat yang membawa wahyu, spirit, dan sumber hidup. Perbedaan makna ini menunjukkan bahwa ruh memiliki fungsi dan sifat. Ruh merupakan suatu petunjuk dari Allah SWT sebagaimana Al-Qur’an yang akan menuntun dan membimbing setiap manusia untuk selalu bertasbih kepada Allah SWT. Selain itu, Ruh juga merupakan subtansi kehidupan seseorang yang dengannya setiap unsur dan organ tubuh memiliki fungsi (QS. As-Sajdah: 9).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ketahui mengenai potensi-potensi yang dimiliki oleh Ruh, diantaranya adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;1. Sifat-sifat ilahiyah. Sifat-sifat ilahiyah di sini tentunya dalam skala kehidupan manusia (Mustofa, 2005). Manusia memiliki kehendak, ilmu pengetahuan, kemampuan untuk mendengar, melihat, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;2. Nilai-nilai ilahiyah. Nilai-nilai ilahiyah ini juga dalam skala kehidupan manusia. Kasih sayang, cinta, pemaaf, dermawan, dan lain sebagainya ini juga merupakan bukti adanya percikan nilai-nilai ilahiyah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Bersinerginya dimensi fisik dan psikis akan membentuk dimensi psikologis (Jiwa). Di dalam dimensi psikologis terdapat tiga daya penting yang apabila bersinergi dalam sikap dan perilakunya akan mengantarkan manusia menjadi manusia yang seutuhnya. Ketiga ranah itu adalah kognitif (al-aql), afektif (Al-Qalb), dan konatif (al-nafs).&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Al-Qalb (fitrah ilahiyah) sebagai aspek supra kesadaran manusia yang memiliki daya emosi. Fungsi Al-Qalb dalam Al-Qur’an seperti dalam kategori sebagai berikut ini: Dari sudut fungsinya, Al-Qalb (1) memiliki fungsi emosi yang menimbulkan daya rasa; (2) fungsi kognisi yang menimbulkan daya cipta; dan (3) fungsi konasi yang menimbulkan daya  karsa. Dari sudut kondisinya, Al-Qalb memiliki kondisi, (1) baik, yaitu l-qalb yang hidup, sehat, dan mendapatkan kebahagiaan; (2) buruk, yaitu Al-Qalb yang mati dan mendapatkan kesengsaraan; dan (3) antara baik dan buruk, yaitu Al-Qalb yang hidup tetapi berpenyakit.  &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Al-‘Aql (fitrah insaniyah) sebagai aspek kesadaran manusia yang memiliki daya kognisi (cipta). Kognisi adalah suatu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengalaman kognisi, mencakup mengmati, melihat, memperhatikan, memberikan pendapat, mengasumsi, berimajinasi, memprediksi, berpikir, mempertimbangkan, menduga, dan menilai.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Al-Nafs (fitrah hayawaniyah) sebagai aspek pra atau bawah kesadaran manusia yang memiliki daya konasi (karsa). Al-nafs memiliki dua kekuatan, yaitu kekuatan al-Ghadhabiyah dan al-syahwaniyah. Al-Ghadhab adalah suatu daya yang berpotensi untuk menghindari diri dari segala yang membahayakan. Al-Ghadhab dalam terminologi psikoanalisa juga disebut dengan defence (pertahanan, pembelaan, dan penjagaan), yaitu tingkah laku yang berusaha membela atau melindungi ego terhadap kesalahan, kecemasan, dan rasa malu; perbuatan untuk melindungi diri sendiri; serta memanfaatkan dan merasionalkan perbuatannya sendiri. As-Syahwat adalah suatu daya yang berpotensi untuk menginduksi diri dari segala yang menyenangkan. As-Syahwat dalam terminology psikoanalisa disebut dengan appetite, yaitu suatu hasrat (keinginan, birahi, hawa nafsu), motif atau impuls berdasarkan perubahan keadaan fisiologi.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;3. Al-Nas&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Konsep al-Nas mengacu pada manusia sebagai mahluk social. Manusia dalam dimensi ini disebut dalam al-qur'an sebanyak 240 kali. hal ini dapat dicek dalam setiap ayat yang diawali dengan kata, ya ayyuha an-nas. menariknya lagi al-qur'an dalam mengungkapkan manusia sebagai mahluk sosial tidak pernah melakukan generalisasi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;penjelasan mengenai konteks ini dapat ditunjukkan dalam dua hal. pertama, banyak ayat yang menunjukkan kelompok-kelompok sosial dengan karakteristiknya masing-masing yang satu sama lain belum tentu sama. ayat-ayat ini biasanya menggunakan ungkapan wa mina an-nas. kedua, pengelompokan manusia berdasarkan mayoritas, yang umumnya menggunakan ungkapan aktsar an-nas. memperhatikan ungkapan ini kita menemukan bahwa sebagian manusia mempunyai kualitas rendah, baik dari segi ilmu maupun iman.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;sebagai contoh adalah masalah perkawinan. pada dasarnya bimbingan agama tidak mengatur tata cara hubungan seksual karena sebagai mahluk biologis semua manusia betapapun primitifnya bisa melakukannya. justru yang perlu diatur oleh syariah adalah hubungan-hubungan sosial setelah terjadinya perkawinan: hubungan suami istri yang menyangkut hak, kewajiban, dan tanggung jawab, serta hubungan-hubungan yang terjadi setelah berkeluarga; pendidikan anak, kekerabatan, warisan dan masalah yang bertalian dengan kekayaan. terhadap masalah-masalah ini al-qur'an memberikan petunjuk yang agak rinci dan detil. hal ini terjadi karena, pada aspek-aspek sosial inilah manusia sering kelewat batas dan tak terkendali.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt; Dengan melihat tiga dimensi yang telah dijelaskan di atas, kita dapat memahami bahwa manusia secara umum telah memiliki potensi yang sama, seperti memiliki kecenderungan untuk mentauhidkan dan mensucikan Allah SWT, berbuat baik, bertanggung jawab, siap menerima amanat, dan lain sebagainya. Namun, di sisi lain manusia juga mempunyai potensi untuk berbuat kafir, durhaka, berpaling dari kebenaran, dan potensi negative lainnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt; Selain itu manusia juga memiliki potensi yang bersifat hereditas atau turunan dari orang tuanya. Potensi yang bersifat hereditas ini cenderung khas dan unik. Satu dengan lainnya berbeda. Misalnya, watak, bakat, warna kulit, dan keunikan lainnya. Selain itu kualitas potensi hereditas ini juga dapat dirancang oleh manusia artinya dapat diusahakan dengan cara melakukan seleksi terhadap induk yang akan mewariskan potensi itu. mengenai hal ini Nabi SWT telah mengisyaratkan dalam hadits&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“pilihlah calon istri yang akan menyimpan embrio kalian! Dan nikahilah para wanita yang sepadan dan nikahkan juga (mereka) dengan laki-laki yang sepadan”&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(HR. Ibnu Majah)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Hal ini karena,&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“Sesungguhnya apabila embrio telah berada di dalam rahim, maka Allah akan mendatangkan untuknya semua (orang dalam garis) nasab mulai dari embrio tersebut sampai dengan anak Adam, (sehingga dia akan mirip dengan salah seorang dari nenek moyangnya).&lt;br /&gt;(HR. Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim)&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt; Beberapa penelitian ilmiah mutakhir dalam ilmu genetika membuktikan bahwa gen pada setiap spermatozoa dan ovum yang telah bercampur dan telah menjadi embrio sebenarnya memiliki beberapa sifat genetic. Setiap spermatozoa dan ovum merupakan sel yang telah terbelah menjadi dua dan mengandung 23 kromosom. Proses ini terjadi ketika spermatozoa dan ovum bertemu dan mengalami pembuahan secara sempurna.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Sperma yang telah bercampur merupakan satu butir sel yang mengandung 46 kromosom. Satu butir sel tersebut separuh berasal dari sang ayah dan separuh lagi berasal dari sang ibu. Satu butir sel ini mengndung gen yang membawa sifat-sifat sang ayah dan ibu. Terkadang sifat-sifat genetika tidak langsung diwarisi oleh anak. Bisa saja sifat-sifat tersebut baru diwarisi oleh cucu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan keterangan di atas maka kita dapat menyimpulkan bahwa orang tua sebagai induk keturunan akan mewariskan gen yang ada dalam dirinya, baik gen positif (QS. Ali Imran: 38, Al-Nisa: 9, Ibrahim: 40, dan Al-Ahqaf: 15) maupun gen negative (QS. Al-Shaffat: 113). Jadi orang tua yang baik nantinya juga akan mewariskan gen baiknya kepada anaknya, begitu pula orang tua yang maling maka gen maling juga akan turun kepada anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt; Manusia adalah mahluk yang eksploratif dan potensial. Dikatakan mahluk eksploratif, karena manusia memiliki kemampuan untuk mengembangkan diri baik secara fisik maupun psikis. Manusia disebut sebagai mahluk potensial, karena pada diri manusia tersimpan sejumlah kemampuan bawaan yang dapat dikembangkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnya, manusia juga disebut sebagai mahluk yang memiliki prinsip tanpa daya, karena untuk tumbuh dan berkembang secara normal manusia membutuhkan bantuan dari luar dirinya. Bantuan yang dimaksud antara lain dalam bentuk bimbingan dan pengarahan dari lingkungannya. Bimbingan dan pengarahan yang diberikan dalam membantu perkembangan tersebut pada hakikatnya diharapkan sejalan dengan kebutuhan manusia itu sendiri, yang sudah tersimpan sebagai potensi bawaannya. Karena itu, bimbingan yang tidak sejalan dengan potensi yang dimiliki akan berdampak negative bagi perkembangan manusia.   &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt; Upaya realisasi potensi-potensi yang ada dalam diri manusia dapat dilakukan melalui pendidikan yang baik. Pendidikan yang baik ini menjadi sangat penting bagi manusia karena dengan itu dapat mengembangkan potensi-potensi yang positif dan mengekang potensi-potensi negative yang dimiliki. Misalnya, walaupun anak itu berasal dari orang tua yang dulunya seorang maling apabila mendapat pendidikan yang baik maka gen maling itu tidak akan mendominasi dalam kehidupannya. Sebaliknya, walaupun anak seorang ustadz, namun jika tidak mendapatkan pendidikan yang baik maka gen ustadz yang ada dalam dirinya sangat sulit untuk mendominasi kehidupannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:times new roman;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan ini dapat dilakukan dalam tiga lingkungan, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikannya pun harus memilih pendidikan yang mengedepankan terintegrasinya tiga ranah penting yang ada dalam diri manusia, yakni al-qalb (afektif), al-‘aql (kognitif), dan al-nafs (konatif). Karena dengan terintegrasinya tiga ranah ini maka diharapkan anak menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak mulia serta terampil sehingga dapat memberikan manfaat berupa perubahan yang progresif serta konstruktif bagi diri, keluarga, dan lingkungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-6919447003185096596?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/6919447003185096596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=6919447003185096596' title='10 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/6919447003185096596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/6919447003185096596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/by-waluyo-mutual-lies-agree-to-us-that.html' title=''/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/ShgpqTHN2yI/AAAAAAAAACs/r_pY_SUwz3s/s72-c/DSCI0069.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-7864695076883862405</id><published>2009-05-17T18:14:00.000-07:00</published><updated>2009-05-17T18:39:02.588-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='share'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='actualization'/><title type='text'>POSITIVE GEN</title><content type='html'>Are we aware, that since born we have been carrying gen with two cargo load different? We have positive and negative gen. until now which has a maximum actualization in ourselves? Whether positive gen or negative gen? and how do you stack up like that? &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-7864695076883862405?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/7864695076883862405/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=7864695076883862405' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/7864695076883862405'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/7864695076883862405'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/positive-gen.html' title='POSITIVE GEN'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-2275028446666500144</id><published>2009-05-12T00:11:00.000-07:00</published><updated>2009-05-12T00:23:36.463-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='education'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psychology'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='cerpen'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisdom'/><title type='text'>HATI SEORANG PEMABUK</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;oleh&lt;br /&gt;Waluyo&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt; Buka facebook…eh nggak tahunya ada pesan. Rasa penasaran dengan segera memprovokasi hati dan pikiran untuk menggerakkan tangan agar segera membukanya. Ssssss……….tttt….byar….ooooohhhh….dari Ema sang pengantin baru, selamat ya semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah amin. Dia adalah teman satu angkatan, satu jurusan, dan satu fakultas sewaktu kuliah. Namun, mulai benar-benar menjadi teman sewaktu KKN (Kuliah Kerja Nyata, maaf bukan Kumpul Kebo Nyamun lho). Kebetulan dia satu kelompok dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Pak De” begitulah dia sering memanggilku, tidak tahu riwayatnya mengapa dia memanggilku seperti itu, mungkin karena saya lebih tua darinya atau karena kebetulan tubuhku lumayan gemuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Saya tadi diSMS sama Edi, pemuda kampung dulu kita KKN, katanya, ibu-ibu kelompok Dasa Wisma kangen sama celoteh sok religiusnya kamu. Cepetan ke sana nanti pada sakit lho”. Itulah penggalan pesan dari Ema.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saat itulah memori di otak saya pelan-pelan meload kembali file-file kenangan sewaktu KKN dulu. Ada satu file yang membuat hati kembali mengharu biru. Satu file kenangan itu tidak mungkin dapat saya luPakan begitu saja. Seorang pemuda kurus, kakek tua, hujan deras, mati lampu, angkringan, dan mobil sedan dengan tulisan maaf “iblis”nya yang menghiasi kaca belakang serentak muncul dengan jelasnya di benak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dalijo, katakanlah dia namanya. Pemuda kampung yang ceking, kurus, beringas, dan ya’ ya’ an (perasaan diri paling yes). Atribut ini saya simpulkan bukannya tanpa indikator. Badannya kecil, rambutnya pirang, matanya merah, ucapannya nylekit (menyinggung perasaan), mudah tersinggung, dan kalau naik motor kencangnya bukan main. Parahnya lagi hampir setiap malam jam 23.00 WIB dia selalu hang out sama kelompoknya di sebuah angkringan di dekat masjid. Tidak ada aktivitas lain atau pokok di tempat itu kecuali “maaf” minum-minuman keras alias mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tampang dan perilaku Dalijo yang seperti itu tidak kemudian menyurutkan hati saya untuk mencoba berteman dengannya. Prinsip saya hanya satu “di dalam hatinya pasti ada Tuhan”. Satu keyakinan itulah yang memotivasi saya untuk mencoba dan mencoba mendekatinya. Pada awalnya memang rasanya sangat canggung. Karena dia tamPaknya sangat apatis terhadap orang pendatang baru. Kecanggungan itu kemudian tamPak membahana saat warga kampung lainnya memberi peringatan kepada saya supaya tidak bergaul dengannya. Namun, hati ini semakin kuat untuk berbicara dan berteman dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sedikit demi sedikit saya dapat duduk bersama dan ngobrol-ngobrol ringan. Kadang di rumahnya, di angkringan, dan di lapangan bulu tangkis. Saya pun sangat menghindari obrolan-obrolan yang menyinggung perilakunya. Saya mencoba untuk tidak memberikan penilaian apapun padanya. Santai dan ringanlah yang selalu kami kemas dalam setiap perbincangkan. Pertemanan kami semakin hari semakin akrab. Sehingga pada suatu waktu dia mengajukan pertanyaan yang membuat hati saya terenyuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Wal” kata panggilan yang selalu ditujukkan kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, ada apa?” Tanyaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Wal kan tahu kalau saya itu pemuda kampung yang setiap harinya tidak pernah absen mabuk-mabukan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, saya tahu itu, emangnya kenapa?” timpalku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa sih Mas mau bergaul dengan saya? Padahal yang saya tahu Mas kan pintar mengaji”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, memangnya ada aturan yang melarang kalau orang pintar mengaji terus  tidak boleh bergaul dengan pemabuk seperti kamu?”. Tanyaku.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukannya begitu Mas! Selama ini orang-orang yang rajin ke masjid selalu menghindari saya. Saya merasa, diri saya ini diperlakukan seperti barang najis yang harus dihindari oleh mereka”. Keluhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, jangan begitu dong! Setahu saya, kita tidak diperbolehkan su’udzan (berprasangka buruk) kepada orang lain. Kita positif thinking saja, mungkin mereka sedang sibuk dengan ibadahnya. Jadi, tidak sempat bergaul dengan kamu”. Tanggapku. Dia terdiam, tamPak kulit di keningnya mengerut dengan mata menatap tajam ke tanah dan sesekali menatap langit malam yang penuh dengan bintang-bintang berkilauan. Angin malam berhembus semilir dari relung-relung pohon bambu yang berada tepat di depan kami dan mengelus-elus wajah kami. Pelupuk mata atasku terasa pelan-pelan menutup keloPak. Aku pun pamitan sama dia untuk istirahat karena besok pagi ada program yang harus dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sorry, kayaknya saya harus kembali ke posko dulu nih. Nanti teman-teman bingung menjawabnya kalau Bu Dukuh mencari saya. Besok kita lanjutkan lagi. Makasih”. Pintaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh ya, silahkan. Makasih dah mau mendengar curhatku”. Jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan malam itu pun akhirnya terhenti sampai di situ. Aku pulang ke posko dan dia kembali ke angkringan. Dalam perjalanan menuju ke posko, hati dan pikiran ini ternyata terus bekerja. Ada satu kesimpulan yang cukup berharga dari perbincangan tadi, ternyata seorang pemabuk juga ingin diperhatikan dan dianggap sebagai manusia. Ada kemungkinan bahwa semakin menjadinya dia menjadi pemabuk ulung karena kita terburu-buru menghindarinya dengan meninggalkan atribut negatif kepadanya. Kita juga terburu-buru untuk menolong diri kita sendiri dan tidak sempat menolongnya saat pertama kali dia terjerumus ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sore bersiap diri menyapa malam, aku dan teman-teman satu kelompok jalan-jalan keliling kampung. Sesampainya di dekat sawah, kami melihat ada keributan sengit antara seorang pemuda dengan orang separuh baya. Rasa penasaran segera menyergap benak kami, ingin tahu siapa yang ribut, apa yang diributkan, dan ingin melerainya. Kami pun dengan segera mendekatinya. Eh ngga taunya pemuda itu si Dalijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh...eh…eh ada apa nih kok Pake ribut-ribut segala?”. Kami mencoba melerainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa sih Jo?”. Tanyaku pada Dalijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gini lho, dia menghina-hina ibuku”. Jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok bisa Pak, Anda menghina ibunya?”. Aku mencoba mencari alasan dari orang separuh baya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gini mas, ibunya dia punya banyak sekali hutang sama saya. Beberapa kali saya menagihnya, bukan uang yang saya dapatkan tapi hanya janji, janji, dan janji. Lama-lama saya pun ngga sabar dong mas?”. Begitulah alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ok! Pak, saya tahu bapak kesal sekali karena harapan baPak tidak terpenuhi. Tapi kan nggak harus dengan menghina, Pak?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, mau gimana lagi Mas, saya kesal sih karena dah lama hutangnya”. Bapak ini mengungkapkan alasannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana kalau begini saja, Jo tolong kamu sampaikan ke ibumu kalau baPak ini sangat membutuhkan uang dan dia ingin ibumu segera membayar hutangnya. Karena bagaimanapun yang namanya hutang harus dibayarkan. Dan untuk baPak, saya mohon jangan mudah untuk menghina orang lain karena itu urusannya akan berdamPak lebih besar. Saya pikir masalah ini dapat dibicarakan dengan baik-baik dan kekeluargaan. Bagaimana sanggup nggak? Kalau sanggup sekarang saling minta maaf, ayo Jo!”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya mereka berdua saling berjabat tangan dan meminta maaf. Ada satu hal yang menjadi cacatan saya di sini. Jo, walaupun sikap dan perilaku di masyarakatnya kurang mendapat apresiasi yang baik dia tetaplah seorang anak yang cinta dan sayang dengan orang tuanya. Sehingga dia memberanikan diri membalas hinaan dari orang lain yang ditujukan kepada ibunya. Hanya saja caranya yang kurang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keributan yang terjadi di tepian sawah itupun akhirnya selesai seiring datangnya malam. Suasana kampung tamPak gelap gulita, apalagi mendung tamPak mengelantung tebal di langit. Kami pun segera kembali ke posko untuk melaksanakan shalat maghrib dan mempersiapkan segala keperluan untuk suksesnya pelaksanaan program pada malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya program malam itu dilaksanakan jam 20.00 WIB. Program itu adalah seminar dengan tema “Bahaya dan Cara Penularan HIV/AIDS” yang akan diikuti oleh para remaja kampung. Saat sedang menata segala keperluan yang dibutuhkan tiba-tiba mati lampu. Selang beberapa menit hujan turun dengan begitu derasnya mengguyur kampung. Saya dan teman-teman hanya bisa menatap buih-buih air hujan yang semakin lama semakin deras. Badan terasa sangat lemas menggulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Piye iki?” salah seorang teman mengadu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lah gimana lagi, kita tunggu saja sampai reda!”. Jawabku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai kapan?”. Teman yang lain menyahut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang kamu tanya sama Pak Dukuh, punya lampu petromak tidak. Kalau punya kita pinjam dan segera nyalakan!”. Perintahku. Kebetulan saya diberi amanat oleh kampus untuk memimpin mereka. Ternyata Pak Dukuh punya dan kemudian kita nyalakan. Dalam hati saya hanya satu waktu itu, program ini harus terlaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita semua sedang kebingungan, dari guyuran hujan datang seorang lelaki tua naik motor dengan baju yang basah kuyup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamu’alaikum”. Dia menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wa’alaikum salam” Pak Dukuh menjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“BaPak siapa, dan mau ketemu siapa? Tanya Pak Dukuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Harjo, apa benar ini rumah Pak Dukuh yang malam ini mau ada program penyuluhan HIV/ AIDS yang diadakan oleh anak-anak KKN?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, lah bapak keperluannya apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pembicaranya Pak” Jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Silahkan duduk dulu Pak, maaf gelap, ini tadi baru mati lampu”. Pinta Pak Dukuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Wal, ini pembicaranya sudah datang!”. Panggil Pak Dukuh. Kebetulan saya sedang berada di belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sini Mas Wal, ini lho Pak, ketua kelompoknya”. Pak Dukuh memperkenalkan saya dengan Pak Harjo. Saya pun akhirnya ngobrol-ngobrol dengan Pak Harjo. Hujan belum juga reda, tapi di tengah-tengah lebatnya hujan ada sesosok orang dengan menggunakan payung mendekat ke posko kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Permisi”. Dia menyapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Monggo (silahkan), monggo sini Mas” Pak Dukuh mempersilahkan. Eh, ternyata Dalijo. Dialah pemuda pertama yang hadir malam itu. Selang beberapa saat pemuda dan pemudi lainnya berdatangan di tengah guyuran hujan. Saat itu juga hati kami merasa terharu. Ternyata mereka rela menghadiri acara yang telah kami programkan dengan menerjang derasnya hujan. Dari hati kami yang terdalam tidak ada kata yang bisa terucap kecuali rasa syukur yang sangat kepada Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya acara pada malam hari itupun berjalan dengan semestinya dan selesai pukul 23.30 WIB. Catatan buat Dalijo tanpa mengesampingkan yang lainnya. Dialah orang yang selalu datang pertama sendiri dalam setiap program acara yang kami laksanakann. Salutnya lagi, walaupun setiap jam 23.00 dia selalu berkumpul di angkringan dengan teman-temannya dan mabuk-mabukan, tapi dia belum akan ke sana jika program yang kami laksanakan belum kelar.&lt;br /&gt;Dari sosok Dalijo inilah Allah SWT memberikan ilmu yang sangat luar biasa kepada saya. Ilmu untuk bisa mengerti orang lain, tidak mengucilkan orang lain, dan ilmu yang memberitahuku bahwa sebenarnya Tuhan tidaklah akan pergi dari diri setiap orang bagaimanapun kondisi orang tersebut, hanya kadang-kadang kitalah yang menjauhi-Nya sehingga merasa dengan menyalahkan dan mengkambing hitamkan bahwa Tuhan telah menjauhi kita. Spirit Tuhan ada dalam setiap manusia, mengapa kita mesti harus saling membenci?. Untuk Dalijo semoga Allah SWT  menunjukkan jalan yang lurus kepadamu. Amin.     &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-2275028446666500144?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/2275028446666500144/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=2275028446666500144' title='16 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/2275028446666500144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/2275028446666500144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/hati-seorang-pemabuk.html' title='HATI SEORANG PEMABUK'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>16</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-8246373820747320268</id><published>2009-05-10T00:55:00.000-07:00</published><updated>2009-05-10T00:59:57.012-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='civil society'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='education'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psychology'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pluralism'/><title type='text'>GARA-GARA KOTORAN DAN DEBU DI KAMAR</title><content type='html'>&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Casatidz%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;oleh&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;Waluyo&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kemarin sore seorang teman berkunjung ke kamarku. Namanya Gabriel. Dia temanku sewaktu masih study di kampus. Begitu masuk kamar, matanya memandang ke sana ke mari sepertinya ada sesuatu yang ingin dicari. Melihat perilaku temenku itu, sayapun cuek. Lima menit, sepuluh menit saya tunggu sampai dia mengatakan sesuatu. Tepat di menit ke sebelas gugusan sistemik huruf pun mendesir pelan dari mulutnya. “oalah Yo, kamar kok kayak gudang, kotor dan penuh dengan debu. Mbo’yao dibersihkan to!” ucapnya. Rupanya kotoran dan debu yang ada di kamarku telah mengganggu pemandangannya. Ucapannya ternyata pelan-pelan menstimulasi hati dan akalku sehingga tanpa sadar mulutku ini sedikit membuka dengan rasa manisnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“He! Kok hanya senyum saja to?” ternyata senyumku juga telah memancing emosi dia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;“Ya biarin saja kotor dan berdebu!” timpalku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ku tatap wajahnya dengan tajam. Rupanya telinga dia makin panas mendengar jawabanku. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Dasar malas, jorok!”. Hardiknya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Mendengar hardikannya bibir ini pun kembali tersungging, namun kali ini aku sendiri tidak tahu apakah masih semanis tadi ataukah tidak. Sekali lagi hati dan pikiranku terpengaruh oleh ucapannya “kenapa dia dengan enaknya menjatuhkan penilaian kepadaku? Kenapa dia tidak mencoba untuk bertanya kenapa kamu biarkan debu dan kotoran itu ada di kamarmu?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Aku bingung” jawabku.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Bingung kenapa? Wong tinggal nyapu sebentar saja kok. Berat apa?” tanyanya. Aku pun terdiam, mencoba menata hati dan pikiran supaya netral kembali dengan sesekali menarik nafas dan menyebulkannya kembali. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Begini ya, saya ngga enak sama dia. Kita di dunia ini kan sama-sama hanya numpang. Jadi, keberadaannya di kamar ini sama dengan saya. Karena sama itulah, dia ketika masuk ke kamar ini pun tidak perlu meminta ijin saya. Begitu juga ketika dia ingin meninggalkannya. Dan yang harus kamu ketahui, dia di sini sama sekali tidak menggangguku, bahkan keberadaan dia di sini sangat membuatku nyaman. Walaupun sebenarnya ada juga yang terganggu dan menghindari dia. Nyamuk ternyata enggan main ke kamar ini. Saya pun sadar bahwa nyamuk juga punya hak atas kamar ini, tapi dia mengangguku. Kamu tahu sendiri kan, kalau saya orang yang paling tidak suka diganggu!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Mendengar penjelasanku, dia hanya terdiam membisu. Namun, terlihat olehku keningnya naik turun dan tangannya yang selalu bergerak menyeimbangkan &lt;i&gt;gesture&lt;/i&gt;nya seolah sedang menyusun kata-kata baru yang akan disampaikan kembali kepadaku. Rupanya dia masih belum puas dengan penjelasan yang telah aku sampaikan. Melihat gelagatnya seperti itu, aku pun mencoba untuk menunggunya. Ternyata dugaanku benar, dari mulutnya meluncur rangkaian gerbong kereta kata-kata yang memanjang.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Dasar orang aneh! Dikasih tahu malah berhujjah. Kamu kan tahu bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Kenapa itu tidak kamu laksanakan?”. Umpat dan tanyanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Lagi-lagi ucapannya menstimulasi hati dan akalku. Kembali akupun terdiam senyap dalam desiran rasa hanyat yang menyelimuti hati ini.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Ya, jujur aku tahu Hadits itu. Bahkan aku nggak tahu sudah berapa juta kali hadits itu masuk ke telinga ini. Namun, sampai detik ini saya masih berusaha melaksanakan titah itu sesuai proporsinya. Saya tidak ingin memaksakan pelaksanaan suatu titah Rasul tidak pada proporsinya. Sudahlah, saya tidak mau memperdebatkan keberadaan kotoran dan debu yang ada di kamar ini terlalu panjang. Kita keluar saja yuk, lapar nih. Lain kali saja kita cari waktu yang tepat untuk mendiskusikan masalah ini, gimana? Maaf lho kalau dah bikin kamu merasa nggak nyaman!”.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Rupanya dia juga lapar. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Ya, yuk, tapi janji lho, lain kali kita diskusi lagi masalah ini?” kejarnya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;“Ya”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Sejak itulah perdebatan terhenti. Kami pun keluar mencari rumah makan, namun selama perjalanan hati dan akal ini terus bertanya “apakah yang saya lakukan ini benar? Ya Allah maafkanlah diri rendah ini apabila telah melakukan kesalahan. Benar dan salah hanyalah Engkau semata yang Maha Mengetahui Segalanya. Jika apa yang telah hamba lakukan ini benar, baik dan sesuai bagi hamba &lt;i&gt;istiqamah&lt;/i&gt;kanlah dan jika salah, hamba memohon ampunan-Mu dan bimbinglah hamba ke jalan petunjuk”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-8246373820747320268?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/8246373820747320268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=8246373820747320268' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/8246373820747320268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/8246373820747320268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/gara-gara-kotoran-dan-debu-di-kamar.html' title='GARA-GARA KOTORAN DAN DEBU DI KAMAR'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-1240053407554582506</id><published>2009-05-08T01:11:00.000-07:00</published><updated>2009-05-08T01:15:32.642-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='education'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psychology'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisdom'/><title type='text'>ENTERPRENEURSHIP  TANAH LIAT</title><content type='html'>&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cadmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C03%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;oleh&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Waluyo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="line-height: 150%;font-size:14;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;“&lt;i&gt;Manusia adalah tanah&lt;/i&gt;”&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Setujukah Anda dengan ungkapan di atas? Setuju boleh, tidak juga itu hak Anda. Kita demokrasi saja. Namun, coba baca, fahami, renungkan, ajukanlah pertanyaan pada diri sendiri, dan kemudian ungkapkanlah sebagai sebuah pendapat. Jangan takut salah, karena di sini tidak ada penilaian benar dan salah. Semua pendapat akan mendapat penghargaan yang sama sebagai &lt;b&gt;&lt;i&gt;”MANUSIA SEJATI”&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; karena keberaniannya mengungkapkan pendapat&lt;b&gt;. &lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Sudah belum? Kalau belum, bagaimana kalau saya dulu. Bolehkah? Kok diam saja? Ok! Kata orang bijak diam juga pendapat, yang berarti setuju. Terima kasih.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Manusia dalam hidup ini pasti selalu berhubungan dengan tanah. Dalam beberapa referensi dikatakan bahwa manusia itu terbuat dari sari tanah atau unsur-unsur yang ada dalam tanah. Selain itu kita juga hidup di atas tanah. Adakah yang memungkiri hal ini? Bahkan ketika di rumah, atap dan dinding rumah kita juga ada yang terbuat dari tanah. Tidak sekedar itu saja, seberapa pun kekuatan kita untuk terbang tinggi ke angkasa, tanah ternyata juga akan menarik dengan kekuatannya yang luar biasa, yaitu gaya gravitasi. Coba renungkan sekali lagi!......... Eh! Jangan terlalu serius kayak gitu! Santai saja kawan! Slowly, softy, easy going! Sudah belum? Kalau sudah cobalah ajukan pertanyaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;semisal, mengapa hidup kita sangat lekat dengan tanah? Tidak hanya ketika kita hidup, sudah mati pun tanahlah yang menemani kita. Sebenarnya, ada apa dengan tanah? Dan pesan apakah yang ingin disampaikan Tuhan kepada kita lewat tanah ini?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ok! Mari kita coba telusuri pelan-pelan! Namun, sebelumnya bagaimana kalau kita relaksasi sebentar biar otak kita ini &lt;i&gt;encer&lt;/i&gt;. Saya pandu ya? Ok! Sekarang lemaskan dulu otot-otot tubuh kita, jangan ada yang ditekuk. Ambil nafas pelan-pelan lewat hidung, bawa ke perut, tahan sebentar, ya lepaskan pelan-pelan lewat hidung. Lagi…lagi…sekali lagi. Sip! Gimana? Dah lumayan? Nah kalau sudah, sekarang kita bisa mulai.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Adakah dari kita yang belum pernah menginjakkan kakinya di atas tanah? Tolong jawab dengan jujur! Saat kita menginjakkan kaki di atas tanah, pernahkah kita berfikir dan merasakan perilaku kita? Coba bayangkan kalau kita sedang menginjak tanah dengan kaki telajang…..berfikirlah tentang itu….rasakan perilaku itu dengan hati! Apa yang anda fikirkan dan renungkan? Apapun itu simpanlah dulu!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Baik! Sekarang ungkapkan dan jangan berargumen!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Good! Anda telah berhasil di tahap awal. Bersendawalah! Mungkin itu dapat mengurangi ketegangan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Sekarang peganglah tangan atau tengkuk anda, kemudian gosoklah sehingga keluar sesuatu dari kulit itu! Sudah keluar? Apa itu?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Apa di dekat anda ada makanan? Kalau ada, kira-kira makanan itu berasal dari tanaman yang tumbuh di tanah bukan? Atau pernahkah anda memakan atau meminum sesuatu yang tidak pernah bersentuhan dengan tanah?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Anda sudah punya jawabannya? Kalau sudah, coba tengok kembali kaki kita! Apakah tanah ada di bawah kaki kita? Bisakah kita berempati? Biar empati kita bisa lebih mengena, cobalah untuk meninggalkan ego kita. Apa yang anda rasakan? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bukankah posisi tanah ada di bawah kita? Samakah derajatnya dengan kita? Apakah anda merasa lebih mulia daripadanya?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Walapun tanah berada di bawah telapak kaki kita, namun jika kaki kita mengalami masalah pastilah dapat merasakan sesuatu darinya yang menggelitik, sehingga kadar-kadang menjadikan kita berusaha menghindarinya dengan cara apapun. Ini artinya, tidaklah selamanya bahwa sesuatu yang selalu berada di bawah kita itu tidak memiliki potensi. Untuk dapat lebih memahaminya, tengoklah dinding rumah anda! Dinding yang selalu anda gunakan untuk berlindung dari kenakalan angin malam atau ancaman para penjahat. Apakah dinding rumah anda terbuat dari batu bata? Setahu anda batu bata terbuat dari apa?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Atau tataplah atap rumah anda? Apakah atap rumah anda berupa genteng? Dari apa pula genteng itu terbuat? Apakah tanah liat dengan sendirinya dapat menjadi genteng? Di bawahnyalah kita berlindung dari hujan dan terik matahari. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tanah liat berubah menjadi batu bata atau genteng semuanya melalui proses yang panjang dan tidak mudah. Apakah anda tahu prosesnya?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Tanah lihat harus diolah dengan berbagai campuran yang mendukungnya. Kemudian dia dibentuk, dijemur di bawah terik matahari yang panas, dirapihkan, dan kemudian di dibakar di api dengan suhu yang sangat tinggi. Kita bayangkan betapa tersiksanya dia. Itupun belum ada jaminan apakah dia akan berhasil menjadi batu bata atau genteng yang berkualitas. Karena biasanya ada yang merah bagus dan tidak sedikit yang setengah hitam setengahnya lagi merah, malah kadang-kadang patah. Batu bata atau genteng yang merah biasanya memiliki kwalitas yang tinggi sehingga daya jualnya pun mahal dan diapun siap untuk menjadi dinding yang kokoh atau menjadi atap rumah yang bisa melindungi para manusia atau hewan-hewan yang ada di bawahnya. Tapi, bagaimana nasib batu bata atau genteng yang setengah hitam setengah merah? Bagaimana daya jualnya? Apakah dia akan menjadi dinding yang kokoh atau menjadi atap yang tidak mudah bocor? Biasanya dia paling-paling akan kembali menjadi pijakan manusia dan tragisnya lagi dia tidak bisa membantu tumbuh-tumbuhan untuk dapat tumbuh dengan baik, malah umumnya dia akan menghalangi perkembangan tumbuh-tumbuhan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bagaimana? Seberapa banyakkah sesuatu di dunia ini yang jika diinginkan dapat terwujud dengan instants. Para orang sukses di dunia ini menjadi sukses tidaklah mereka meraihnya dalam waktu sekecap, tapi butuh waktu yang panjang dan perjuangan yang tak pernah kenal lelah. Mereka awalnya rata-rata juga orang biasa sebagaimana kita, namun mereka mau bekerja dari nol. Mereka tidak mempunyai apa-apa, hanya keinginan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kemauan, semangat, dan bertindaklah yang selalu melekat dan menghiasi dirinya. Dalam perjalanan menuju kesuksesan itu juga banyak kerikil-kerikil tajam yang kadang dapat melukai kulit bahkan mengancam jiwanya, tapi semua itu oleh mereka dianggap sebagai ujian yang apabila mereka mampu melewatinya maka akan lulus dan naik kelas. Kesuksesan itu tadak hanya berarti untuk dirinya sendiri, orang lain juga merasakannya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Kita dapat belajar dari orang-orang yang katakanlah bisa dianggap sukses di negeri ini, seperti ust. Lihan, Dahlan Iskan, Ciputra, dan masih banyak lainnya. Dulu mereka bukanlah siapa-siapa, namun sekarang siapa yang tidak mengenalnya. Pelajari, renungkan, dan contohlah perjuangannya! Jangan pelajari kesuksesannya! Supaya setelah sukses bisa tetap survive belajarlah kepada orang-orang yang pernah sukses. Mereka pasti memiliki banyak nasehat yang sangat berharga, seperti sejarah kenapa mereka hancur atau tergelincir dari kesuksesannya. Karena orang cerdas akan belajar dari kesalahan mereka, dan yang benar-benar bijak adalah mereka yang belajar dari kesalahan orang lain. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Ust. Lihan bukanlah orang yang hanya sukses secara materi, tapi beliau juga sukses dalam kahidupan sosial dan spiritualnya. Contoh yang lebih komplit lagi atau bisa dikatakan sempurna, kita bisa belajar dari Baginda Rasullah SAW. Beliau bisa dikatakan sukses dalam berbagai segi kehidupan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Hidup adalah belajar. Jika kita ingin sukses teruslah belajar dan belajar jangan pernah bosan walaupun mungkin itu pernah kita pelajari. Belajar bisa lewat guru, belajar dari kisah-kisah, dan belajar untuk belajar. Hal ini karena keberhasilan sejati adalah meningkatkan tingkat kedamaian batin dan kedekatan dengan Tuhan, yang tidak dapat digoyahkan oleh pasang-surut peristiwa-peristiwa yang bersifat sementara.&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-1240053407554582506?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/1240053407554582506/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=1240053407554582506' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/1240053407554582506'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/1240053407554582506'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/enterpreneurship-tanah-liat.html' title='ENTERPRENEURSHIP  TANAH LIAT'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-8223492562109647907</id><published>2009-05-01T22:33:00.000-07:00</published><updated>2009-05-01T22:39:29.097-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psychology'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='renungan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>PESAN DARI POHON KURMA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Oleh&lt;br /&gt;WALUYO&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; Setiap dari kita pasti mengenal yang namanya pohon kurma. Kalaupun belum pernah melihat secara langsung tetapi kita pernah merasakan manisnya buah kurma, apalagi kalau sedang musim haji atau saat bulan puasa Ramadlan. Pohon ini memang tidak lazim tumbuh di daerah selain padang pasir. Kenapa hanya bisa tumbuh di daerah seperti itu, padahal padang pasir itu kadar airnya sangat minim. Mengapa Allah merekayasa seperti itu? Ada pesan apa di balik itu semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Allah Maha Kreatif. Setiap hasil karya-Nya tidak akan mampu ditandingi oleh siapapun. Seandainya seluruh manusia di dunia ini berkumpul untuk berusaha membuat sesuatu yang setidaknya mirip saja dengan apa yang Allah ciptakan pasti tidak akan mampu. Setiap karya-Nya pasti akan menarik setiap hati yang memandangnya untuk tertegun, dan kemudian mengucapkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Masya Allah”&lt;/span&gt;. Walaupun yang dipandang baru sekedar bentuk luarnya saja. Hati kita akan reflek mengucapkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” &lt;/span&gt;(QS. Ali ‘Imran: 191) ketika kita telah mampu memahami pesan yang ada di balik karya-karya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selain itu karya-karya yang diciptakan juga sebagai bentuk kasih sayang Allah. Dia selalu menjaga dan membimbing para mahluknya agar tetap berada pada jalan yang lurus. Salah satu cara bagaimana mencurahkan kasih sayangNya adalah dengan menyampaikan nasihatNya melalui karya-karyaNya. Itulah Allah, walaupun Dia itu Tuhan tetapi juga bersikap tawadlu’. Setiap mencurahkan kasih sayangNya tidak kemudian ditampak-tampakkan walaupun Dia berhak untuk itu. Salah satu karya besar Allah sebagai bentuk Maha Besarnya, Maha Kreatifnya, dan Maha Kasih Sayangnya adalah diciptakannya pohon kurma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pohon kurma ketika diamati dari sisi fisik memang tidak begitu indah, walaupun begitu tidak akan ada yang mampu membuat yang setidaknya serupa dengan itu. Namun ketidakindahan yang ada pada pohon kurma itu justru tersimpan pelajaran dan nasihat yang sangat luar biasa dan sudah semestinya harus ditauladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bentuk fisik yang tidak begitu indah jika dilihat sekedar dengan mata telanjang bukanlah suatu halangan untuk berbuat yang bermanfaat bagi diri, keluarga dan lingkungannya. Ketidakindahan itu justru merupakan sebuah anugerah dan bentuk kasih sayang Allah yang luar biasa. Dengan kondisinya yang seperti itu dia dapat melindungi dirinya dari segala sifat yang tercela, semisal riya’, sombong, angkuh, dan congkak. Selain itu juga merupakan bukti bahwa penilaian Allah bukanlah berdasarkan atas apa yang dia miliki, tetapi pada bagaimana dia bersikap dan berperilaku. Karena yang berhak menilai hanyalah Allah semata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“ilallahi marji’ukum jami’a”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Mengapa Allah tumbuhkan pohon kurma itu di padang pasir. Ternyata ketika direnungi secara mendalam terdapat suatu pelajaran, nasehat, dan hikmah yang luar biasa. Padang pasir yang gersang dan jauh dari sumber air merupakan gambaran dari situasi dan kondisi yang sempit atau berat atau serba dekat dengan kesulitan-kesulitan. Pohon kurma walaupun hidup dalam kondisi kesusahan atau sulit tetap berupaya untuk selalu survive. Berusaha untuk tetap hidup, tumbuh dan berkembang sebagaimana layaknya pepohonan lainnya yang hidup dengan taraf kesejahteraan yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bagi pohon kurma, situasi dan kondisi jauh dari air bukanlah halangan untuk tetap beraktualisasi dan berprestasi. Pada kenyataannya dia mampu berbuah dengan buah yang kemanisan dan khasiatnya bagi kesehatan diakui oleh manusia seluruh alam. Selain itu pohon kurma juga terbuka bagi siapa saja tanpa pernah memperhitungkan apakah dia muslim atau tidak, kaya ataukah miskin, laki-laki ataukah perempuan, pejabat ataukah rakyat jelata, dari barat ataukah dari timur, dari selatan ataukah dari selatan, berkulit putih ataukah berwarna yang ingin berteduh di bawahnya. Semuanya merasakan kedamaian, keterbukaan, dan keadilan. Bahkan tidak sekedar memberikan tempat untuk berteduh, para tamu yang berkenan hadir juga disuguhi dengan kemanisan buah kurma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan melalui pohon kurma Allah menyampaikan dan mencurahkan kasih sayangNya bagi manusia. Kasih sayang berupa pesan yang harus ditauladani oleh manusia dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. PesanNya adalah&lt;br /&gt;1. Walaupun hidup dalam kondisi sulit, susah, sempit, dan sengsara janganlah mudah putus asa. Jadikanlah kondisi itu sebagai motivator dan spirit yang mendorong kepada perilaku lebih kreatif dalam rangka mencari jalan keluar yang positif dan lebih bermanfaat bagi kehidupan sekitar.&lt;br /&gt;2. Manusia selain sebagai hamba Allah juga sebagai khalifah di muka bumi ini yang rahmatan lil’alamin. Dia diharapkan mampu bersikap dan berperilaku bijak dalam menjaga keseimbangan kosmos yang warna warni. Sikap dan tindakannya dipertimbangkan atas apa sebaik dan sebenarnya harus dilakukan.&lt;br /&gt;Semoga kita sebagai manusia memaknai, merenungkan, dan mengimplementasikan pesan-pesan itu dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi orang yang memiliki prestasi ruhani. Amin.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-8223492562109647907?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/8223492562109647907/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=8223492562109647907' title='18 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/8223492562109647907'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/8223492562109647907'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/05/pesan-dari-pohon-kurma.html' title='PESAN DARI POHON KURMA'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>18</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-994616091029884065</id><published>2009-04-26T19:07:00.000-07:00</published><updated>2009-04-26T19:14:46.736-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='physic'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psychology'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='water'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='komunikasi'/><title type='text'>PENGARUH KATA-KATA BAGI KESEHATAN FISIK DAN PSIKIS</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Oleh&lt;br /&gt;WALUYO&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ucapkanlah kebaikan atau diam”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(al-Hadits)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Kata-kata atau ucapan sangat lekat dengan kehidupan manusia. Hampir setiap manusia sangat sulit untuk menghindari kata-kata. Dengan kata-kata manusia dapat menyampaikan apa yang menjadi keinginannya atau ketidakinginannya dan manusia dapat mengerti apa yang diinginkan atau tidak diinginkan oleh manusia lainnya. Kata-kata merupakan sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan manusia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kata-kata ini dapat berupa verbal dan non verbal (isyarat). Orang yang normal dapat mengungkapkan apa yang diinginkannya atau tidak diinginkan melalui kata-kata verbal dan bahkan sering pula menggunakan kata-kata isyarat. Misalnya, seorang calon anggota legislatif yang ingin nantinya dipilih sebagai wakil rakyat harus bisa memanipulasi kata-kata yang indah dalam bentuk janji-janji kepada masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan orang bisu biasanya mengungkapkan apa yang diinginkannya atau menolaknya dengan kata isyarat sehingga ada yang namanya bahasa isyarat. Misalnya, orang tuna wicara ketika menginkan orang lain membantunya mengambilkan suatu benda dia dapat menggunakan tangannya dengan cara melambaikan tangannya, menunjuk kepada benda tersebut, dan menunjukkan tangannya kembali kepada dirinya. Dengan ini dapat dimengerti bahwa kata-kata memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Namun, dibalik vitalnya itu ternyata kata-kata ini bagaikan sebilah pedang bermata dua.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat tertentu kata-kata dapat bernilai positif dan pada saat lainnya dapat bernilai negatif. Bernilai positif dan negatifnya ini sangat tergantung pada siapa yang menggunakannya. Positif dan negatifnya ini juga tergantung pada situasi dan kondisi. Namun, jika hendak dibandingkan peran penting antara subjek dan kondisi dimana kata-kata itu terlontar maka subjek lebih memiliki peranan lebih besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata terbagi menjadi dua golongan, yaitu kata-kata baik atau terpuji dan kata-kata tercela. Baik atau tercelanya suatu kata-kata tergantung budaya yang berada di lingkungan di mana seseorang itu tinggal dan hidup. Misalnya, kata jancu’ bagi orang Jawa Timur dianggap sebagai kata sapaan yang mengakrabkan, tapi kata ini akan bermakna pelecehan bagi orang Yogyakarta. Atau memegang kepala bagi orang jawa merupakan suatu tindakan yang melecehkan, tapi bagi orang Arab memiliki makna penghormatan.&lt;br /&gt;Penulis di sini tidak akan membahas kata-kata yang terbatasi oleh budaya tertentu. Pada kesempatan kali ini penulis ingin membahas kata-kata yang universal saja, yaitu kata-kata yang setiap orang dimanapun menggunakannya atau lebih tepatnya kata yang secara konsesus disepakati nilainya oleh semua orang. Misalnya, kata pahlawan. Semua orang faham bahwa pahlawan adalah seseorang yang telah berjasa mengorbankan dirinya untuk menolong orang lain atau sesuatu di luar dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap diri orang yang mengucapkan atau memperagakannya, orang yang mendengar atau melihatnya, dan lingkungan sekitarnya baik secara fisik maupun psikis. Hal ini, karena kata-kata memiliki dua sifat yang bertolak belakang, yakni sifat air dan sifat api. Orang yang melontarkan kata-kata terpuji secara psikis dirinya akan merasa nyaman dan sejuk, begitu pula orang yang mendengarkannya. Tidak hanya sekedar memberikan rasa nyaman dan sejuk saja tetapi juga dapat menumbuhkan daya-daya positif yang terdapat di dalam tubuh manusia, dan lingkungan sekitarnya. Secara fisik, tubuh akan merasa lebih rileks karena darah dapat mengalir dengan lancar serta jantungnya berdetak dengan teratur. Contoh, kata-kata motivasi. Bagi orang yang mengucapkannya akan merasa termotivasi untuk membuktikan apa yang telah diungkapkan kepada orang lain. Sedangkan orang yang mendapat motivasi akan merasa memiliki energi positif untuk dapat berbuat sesuatu yang positif bagi diri atau lingkungannya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya kata-kata tercela akan membuat diri orang yang mengucapkan, mendengarkan, dan lingkungan sekitarnya menjadi terganggu sistem organ tubuh dan jiwanya selain itu juga akan memunculkan energi-energi negatif. Biasanya kalau orang sedang marah aliran darah menjadi tidak lancar karena adrenalinnya naik dan detak jantung tidak teratur. Contoh, kata-kata hinaan. Orang yang mengucapkan kata-kata hinaan pasti tidak akan merasa nyaman dalam hidupnya. Apalagi orang lain yang mendengarkannya, perasaan benci dan marah akan menyelimutinya. Begitu pula lingkungan sekitarnya menjadi terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya adalah karena hampir seluruh mahluk yang ada di dunia mengandung zat cair. Tubuh manusia hampir 80% berisi air begitu pula mahluk lainnya. Kata-kata memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap zat cair, sebagaimana hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Masaru Emoto dalam bukunya The True Power of Water (2007). Hasil penelitian mengatakan bahwa kata-kata berpengaruh terhadap struktur pori-pori air. Jika kata-kata yang diberikan adalah kata-kata pujian maka struktur air itu akan tersusun menjadi seperti berlian yang sangat indah sedangkan jika kata-kata yang diberikan untuk menstimulasi air itu kata-kata celaan maka struktur air akan tersusun menjadi seperti berlian yang sangat jelek bentuk dan cahayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelitian lain yang dilakukan oleh Tompkinn dan Bird terhadap tumbuh-tumbuhan dalam bukunya yang berjudul Secret Life of The Plant (2004) juga mengatakan bahwa kata-kata berpengaruh terhadap arah gerak dan tumbuh kembang tumbuh-tumbuhan. Berdasarkan keterangan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kata-kata mempengaruhi kosmos.&lt;br /&gt;Jauh sebelum penelitian mengenai pengaruh kata-kata terhadap air dan tumbuh-tumbuhan dilakukan Nabi Muhammad SAW telah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Orang muslim adalah orang yang masyarakat selamat dari (kejahatan) lisan dan tangannya” &lt;/span&gt;(HR. Bukhari)&lt;br /&gt;Jadi, kata-kata dapat berimplikasi pada terwujudnya masyarakat dunia yang damai dan dapat pula sebaliknya. Oleh karena itu, ada tuntutan harus cerdas dalam mengeluarkan kata-kata. Orang yang cerdas ketika akan berbicara selalu mempertimbangkan hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Kadar audiens. Kadar ini meliputi; akal, budaya, ras, agama, ekonomi, dan demografi lainnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pemilihan kata-kata (words election) yang tepat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Situasi dan kondisi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kebenaran isi jika berita&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Setiap manusia secara fitrahnya mengakui adanya Tuhan Sang Pencipta Semesta dan memiliki kecenderungan selalu mengarah ke setiap hal yang baik dan benar. Oleh karenanya manusia memiliki dua fungsi utama dalam kehidupan ini, yakni manusia sebagai hamba Tuhan dan sebagai khalifah atau mandataris Tuhan di dunia ini. Manusia selain berkewajiban menyembah kepada Tuhannya juga memiliki kewajiban menjaga keseimbangan dan mengembangkan alam semesta beserta isinya sehingga tercipta masyarakat yang madani. Agar hal itu dapat terwujud maka manusia ketika menentukan sikap dan berperilaku hendaknya mempertimbangkannya atas dasar baik dan benar menurut dirinya, baik dan benar menurut dan bagi orang lain serta sesuai dengan titah Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;              &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-994616091029884065?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/994616091029884065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=994616091029884065' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/994616091029884065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/994616091029884065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/04/pengaruh-kata-kata-bagi-kesehatan-fisik.html' title='PENGARUH KATA-KATA BAGI KESEHATAN FISIK DAN PSIKIS'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-2094533915539105080</id><published>2009-04-25T09:47:00.000-07:00</published><updated>2009-04-25T09:51:31.015-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perkembangan kognitif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kognitif'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PAI'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah'/><title type='text'>PERAN KOGNITIF BAGI PAI (PENDIDIKAN AGAMA ISLAM)</title><content type='html'>&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cadmin%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:21.0cm 842.0pt; 	margin:3.0cm 2.0cm 2.0cm 3.0cm; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:545143250; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-210325870 1189109366 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:111.4pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:111.4pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:147.4pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:147.4pt; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level4 	{mso-level-tab-stop:183.4pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:183.4pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:219.4pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:219.4pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:255.4pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:255.4pt; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level7 	{mso-level-tab-stop:291.4pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:291.4pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:327.4pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:327.4pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:363.4pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:363.4pt; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1 	{mso-list-id:609095015; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:1327797130 1189109366 67698713 -1046343204 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:72.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:72.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level3 	{mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2 	{mso-list-id:1330982510; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-1466415588 67698703 1189109366 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 	{mso-level-tab-stop:18.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:18.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level2 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:54.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:54.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level3 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:90.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:90.0pt; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level4 	{mso-level-tab-stop:126.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:126.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:162.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:162.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:198.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:198.0pt; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level7 	{mso-level-tab-stop:234.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:234.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:270.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:270.0pt; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l2:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:306.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	margin-left:306.0pt; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; font-weight: bold; text-align: center;"&gt;oleh&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;WALUYO&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Mata pelajaran PAI (Pendidikan Agama Islam) merupakan salah satu rumpun mata pelajaran moral atau akhlak. Salah satu tujuan diselenggarakannya mata pelajaran ini adalah agar selain anak menguasai ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi sesuai dengan kompetensinya, anak juga diharapkan mampu mengarahkan kompetensinya itu secara baik, benar, dan tepat sehingga kompetensi yang telah dimilikinya itu memiliki nilai manfaat yang baik menurut dirinya, bagi dan menurut orang lain, serta sesuai dengan peraturan Tuhan (UUSPN tahun 2003). &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Keterpaduan antara ilmu pengetahuan, sains, teknologi, dan agama menjadi sebuah &lt;i&gt;team work&lt;/i&gt; dengan satu kesatuan visi dan misi merupakan cita-cita bangsa Indonesia selama ini yang oleh Prof. DR. Mukti Ali disebut dengan manusia Indonesia seutuhnya (Amin, 1996). Tipe atau karakteristik orang yang telah menjiwai keterpaduan ini ketika akan menentukan sikap dan perilaku tidak lagi berdasarkan pertanyaan “apa yang bisa saya lakukan” tapi “apa yang sebaiknya harus saya lakukan” (Hasan, 2004). Dua motif pertanyaan ini secara essensi jelas memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Motif yang pertama orientasinya lebih menekankan pada hasil akhir semata tanpa melibatkan pertimbangan moral, etika, dan estetika pada cara dan prosesnya. Hal ini akan jelas berbeda dengan motif yang kedua, yang mana selain memikirkan hasil yang terbaik juga mempertimbangkan cara dan prosesnya secara moral, etika, dan estetika.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;PAI sebagai mata pelajaran agama dan moral ternyata sampai sekarang masih sangat minim kontribusinya dalam mengawal dan menjiwai para generasi bangsa ini dari tantangan modernisasi. Bukti kegagalannya setidaknya dapat dirasakan oleh masing-masing individu. Bukti yang lebih nyata lagi dapat dilihat dari pemberitaan di berbagai media baik cetak maupun elektronik, dimana tindak kriminalitas dan amoralitas telah menjadi patologi yang menyebar ke berbagai sektor dan lini kehidupan dengan tanpa diskriminasi. Sesuatu yang mungkin lebih tragis lagi adalah semakin banyaknya orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan agama tetapi kehidupannya tidak agamis (Nasution, 2004).&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kenyataan ini jelas tidak sesuai dengan cita-cita luhur bangsa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Suatu bangsa yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan mayoritas penduduknya juga beragama dan hampir 30 persennya adalah beragama Islam, akan tetapi pada kenyataanya bangsa ini belum mampu menunjukkan kehidupan yang berjiwa agama. Permasalahan ini merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dikaji untuk kemudian dicarikan solusi yang terbaik. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Martin dan Briggs (dalam Syarkawi, 2006) mengemukakan bahwa hampir seluruh krisis kegagalan, dan timbulnya perilaku-perilaku yang tidak diinginkan senantiasa dipertanyakan orang dan dihubungkan dengan pelaksanaan pendidikan moral di sekolah. Kerusakan lingkungan dan bencana yang menimpa negeri ini menurut Rosyid (&lt;i&gt;Jawa Pos, 12/1/2008&lt;/i&gt;) adalah panen dari investasi pendidikan yang buruk. Pendidikan lebih banyak menghasilkan manusia yang tidak cakap untuk bekerja sama sebagai warga negara, bahkan dunia. Jika dipikir memang tidaklah fair, kalau terjadinya tindak dan perilaku amoral tersebut hanya ditumpukan pada dunia pendidikan semata. Karena ada faktor-faktor lain, sebagai akibat dari tekanan sosial-ekonomi yang sedemikian keras juga ikut mempengaruhi, memberi andil dalam membuat terjadinya regresi dan dekadensi etika dan akhlak (Adib, 2004).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Rosjidan (2004) dalam hasil penelitiannya mengungkapkan bahwa faktor penyebab adanya perilaku negatif yang dilakukan para remaja ialah karena kurang efektifnya pendidikan moral di sekolah. Berkaitan dengan hal itu secara lebih tegas, Santoso (dalam sarkawi, 1991) mengungkapkan bahwa urusan kebobrokan moral tidak bisa diperbaiki hanya dengan imbauan, pidato, khotbah, sandiwara, seminar, rapat kerja, dan berbagai upaya sejenis lainnya, melainkan harus dengan ketepatgunaan pendidikan moral di sekolah. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimanakah sebenarnya keefektifan pendidikan moral di sekolah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pendidikan moral merupakan bagian lingkungan yang berpengaruh, dirancang secara sengaja untuk mengembangkan dan mengubah cara berfikir dan bertindak dalam situasi moral. Melalui program pendidikan formal, pemerintah berusaha membina dan mengembangkan pendidikan moral di sekolah (Syarkawi, 2006). Ryan (dalam Syarkawi, 2006) mengemukakan tiga teori tentang usaha menumbuhkan dan mengembangkan moral, yaitu (1) teori perkembangan kognitif, (2) teori belajar sosial, dan (3) teori psikoanalistik. Pada kesempatan ini penulis hanya akan membahas mengenai teori perkembangan kognitifnya saja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Teori perkembangan kognitif ini pertama kali digagas oleh Dewey, dilanjutkan oleh Piaget, dan disempurnakan oleh Kohlberg. Menurut teori ini moral manusia tumbuh dan berkembang sesuai dengan urutan tahap-tahap perkembangan berdasarkan tingkat pertimbangan moral (Ryan dalam Syarkawi, 2006). Piaget (dalam Santrock, 2002) mengungkapkan bahwa ada dua cara anak berfikir tentang moralitas, tetapi asing-masing individu memiliki perbedaan pandangan yang dipengaruhi oleh perbedaan perkembangan kedewasaan. &lt;i&gt;Pertama &lt;/i&gt;adalah tahap &lt;i&gt;heteronomous morality&lt;/i&gt;, yaitu tahap pertama perkembangan moral yang terjadi kira-kira pada usia 4 hingga 7 tahun. Keadilan dan aturan-aturan dibayangkan sebagai sifat-sifat dunia yang tidak boleh lepas dari kendali manusia. &lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt; adalah tahap &lt;i&gt;autonomous morality&lt;/i&gt;, yaitu tahap kedua perkembangan moral yang diperlihatkan oleh anak-anak yang lebih tua (kira-kira usia 10 tahun dan lebih). Anak menjadi sadar bahwa aturan-aturan dan hukum diciptakan oleh manusia dan dalam menilai suatu tindakan, seseorang harus mempertimbangkan maksud-maksud pelaku dan juga akibat-akibatnya. Anakanak berusia 7 hingga 10 tahun berada di dalam suatu transisi di antara dua tahap, menunjukkan beberapa ciri dari keduanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ada satu teori lagi yang merupakan pengembangan dari teorinya Piaget yakni teorinya Kohlberg. Kohlberg bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Setelah 20 tahun melakukan penelitian kohlberg percaya bahwa terdapat tiga tingkat perkembangan moral yang masing-masing ditandai oleh dua tahap. Konsep kunci untuk memahami perkembangan moral kohlberg adalah internalisasi, yaitu perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal (Santrock, 2002). &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Tahap perkembangan moral menurut Kohlberg adalah sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Tingkat Prakonvensional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pada tahap ini anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral tetapi penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Orientasi Hukuman dan Kepatuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pada tahap ini, penalaran moral didasarkan atas hukuman. Anak taat karena orang dewasa menuntutnya untuk taat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Orientasi Instrumental Relatif. Pada tahap ini, penalaran anak didasarkan atas imbalan dan kepentingan sendiri. Anak taat bila ingin taat dan bila yang terbaik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan imbalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Tingkat Konvensional &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pada tingkat ini, internalisasi individual adalah menengah. Seseorang menaati standar-standar (internal) tertentu, tetapi mereka tidak menaati standar-standar (eksternal) yang lain, seperti orang tua atau masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Orientasi Norma-Norma Interpersonal. Pada tahap ini, seseorang menghargai kebenaran, keperdulian, dan kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan moral. Seseorang menghargai orang lain dalam rangka ingin dihargai.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Orientasi Moralitas Sistem Sosial. Pada tahap ini, pertimbangan-pertimbangan didasarkan atas pemahaman aturan sosial, hukum, keadilan, dan kewajiban. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Tingkat Paskakonvensional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;a.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Orientasi Kontrak Sosial Legalitas. Pada tahap ini, seseorang memahami bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ringkasnya, seseorang berpegang teguh pada persetujuan demokratis, kontrak sosial, dan konsensus bebas.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;b.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Orientasi prinsip etika universal (&lt;i&gt;orientation of universal ethical principles&lt;/i&gt;). Seseorang telah mengembangkan standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang universal. Sesuatu yang secara moral dipandang benar tidak harus dibatasi oleh hukum-hukum atau aturan-aturan dari suatu tertib sosial, akan tetapi lebih dibatasi oleh kesadaran yang ada pada manusia dengan dilandasi oleh prinsip-prinsip etis yang sifatnya&lt;i&gt; self determinated&lt;/i&gt;.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Tingkat pertimbangan moral, urutannya sedemikian tetap, dari tingkat yang rendah menuju ke tingkat yang lebih tinggi. Tingkat pertimbangan moral, dianggap sebagai suatu proses moral dalam menetapkan suatu keputusan (Kohlberg dalam Bertens, 2002).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;                &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;PERAN TEORI PERKEMBANGAN KOGNITIF BAGI PAI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Pada bab pendahuluan telah disinggung bahwa PAI merupakan salah satu mata pelajaran yang bermuatan moral. Ketika berbicara tentang masalah moral tidak bisa dilepaskan dari pembahasan mengenai afektif. Agar pembelajaran PAI ini dapat berjalan secara baik dan efektif maka perlu adanya strategi pembelajaran yang di dalamnya memuat masalah pendekatan, metode, dan teknik yang sesuai dan tepat. Pendekatan teori perkembangan kognitif penulis anggap dapat menjadi suatu solusi alternatif dalam pembelajaran PAI. Hal ini karena model ini bertujuan membantu siswa mengembangkan kemampuan mempertimbangkan nilai moral secara kognitif (Sukmadinata, 2003).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Adapun langkah-langkah pembelajaran PAI secara perkembangan moral kognitif adalah sebagi berikut: &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;1.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Menghadapkan siswa pada situasi yang mengandung dilema moral.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Siswa diminta untuk memilih salah satu tindakan yang mengandung nilai moral tertentu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Siswa diminta mendiskusikan /atau menganalisis kebaikan dan kejelekannya atau positif negatifnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;4.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Siswa didorong untuk mencari tindakan-tindakan yang lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;span style=""&gt;5.&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span dir="ltr"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Siswa menerapkan tindakan dalam segi lain (Sukmadinata, 2003).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;Strategi pembelajaran dengan pendekatan teori perkembangan moral kognitif menuntut keahlian guru untuk memenej kelas dengan baik agar situasi kelas kondusif dan diskusi dapat hidup dan berjalan dengan baik (Syarkawi, 2006).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;KESIMPULAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Setiap bayi yang terlahir di dunia ini telah membawa fitrah atau potensi moral atau akhlah yang berkecenderungan untuk menyucikan dan mentauhidkan Allah SWT sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; al-a’raf ayat 172. Selain itu di dalam hadits nabi juga telah dijelaskan bahwa setiap bayi yang lahir itu dalam kondisi suci, adapun yang menjadikannya sebagai orang yahudi, nasrani, dan majusi adalah orang tuanya.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap bayi sejatinya telah memiliki potensi positif, adapun tugas lingkungan (rumah, sekolah, masyarakat) adalah membantu mengaktualisasikan potensi itu ke dalam wujud sikap dan perilaku dengan menggunakan tuntunan dan aturan al-Qur’an dan as-Sunnah. Keduanya adalah satu-satunya tuntunan dan aturan yang tidak berseberangan dengan fitrah manusia. Kedua sumber tuntunan ini kemudian dalam dunia pendidikan dikemas ke dalam mata pelajaran PAI (pendidikan agama Islam). &lt;/p&gt;                                        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Adapun teori perkembangan kognitif berfungsi untuk membantu mengefektifkan proses aktualisasi itu supaya dapat berjalan secara optimal.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: left; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;Amin, M. M., &lt;i&gt;Dinamika Islam (Sejarah Transformasi dan Kebangkitan)&lt;/i&gt;, &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;: LKPSM, 1996.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Bertens, K., &lt;i&gt;Etika&lt;/i&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Gramedia Pustaka Utama, 2002.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Chaplin, J. P., &lt;i&gt;Kamus Lengkap Psikologi&lt;/i&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Raja Grafindo Persada, 2002.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;Hasan, T., &lt;i&gt;Dinamika Kehidupan Religius&lt;/i&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Listafariska Putra, 2004.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;Nasution, K., &lt;i&gt;Pengantar Studi Islam&lt;/i&gt;, &lt;st1:place st="on"&gt;Yogyakarta&lt;/st1:place&gt;: ACAdeMIA TAZZAFA, 2004.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;Rosjidan. 2004. &lt;i&gt;Peran profesional Konselor sebagai Pengembang Bahan Bimbingan&lt;/i&gt;. Makalah Seminar dan Lokakarya Life-skill dan kaitannya dengan perkembangan Karir, Universitas Kanjuruan Malang, 8 Maret 2004.&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Syarkawi, &lt;i&gt;Pembentuka Kepribadian Anak, &lt;/i&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Bumi Aksara, 2006.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;Sukmadinata, &lt;i&gt;Landasan Psikologi Proses Pembelajaran&lt;/i&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bandung&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Remaja Rosdakarya, 2003.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;Santrock, &lt;i&gt;Life Span Development&lt;/i&gt;, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;: Erlangga, 2002.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IT"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-2094533915539105080?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/2094533915539105080/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=2094533915539105080' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/2094533915539105080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/2094533915539105080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/04/peran-kognitif-bagi-pai-pendidikan.html' title='PERAN KOGNITIF BAGI PAI (PENDIDIKAN AGAMA ISLAM)'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-866604094091784641</id><published>2009-04-25T09:26:00.000-07:00</published><updated>2009-04-25T09:38:42.919-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tolerance'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pluralism'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='religious'/><title type='text'>REFLECTIONS OF INDONESIAN MUSLIM AND CHRISTIAN RELIGIOUS SCHOLARS ON THE CONCEPT OF PLURALISM AND RELIGIOUS TOLERANCE</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;by&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Zainul Fuad&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PPs IAIN Sumatera Utara Medan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Paper presented at the Annual Conference of Islamic Studies in Bandung,  26 – 30 November 2006.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Introduction&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;The discourse on pluralism and religious tolerance in Indonesia has recently become one of the most significant topics discussed among scholars. It came out in particular against the background of fragile inter-religious relations following the outbreak of violent conflicts in the last two decades. Many intellectuals since then have begun to realize the significance of this idea to develop a positive attitude towards religious diversities. They suggested the need to open interreligious dialogue in order to cherish harmony among various religious communities. In this paper, I would like to discuss the ideas of pluralism and religious tolerance as developed by the Indonesian Muslim and Christian religious scholars, with the intention to see their relevance in building religious harmony Indonesia. The examination of the subject concerned from the Muslim group will include selected writings from its prominent intellectuals namely Nurcholish Madjid whereas from the Christian group include J.B. Banawiratma (Catholic) and Eka Darmaputera (Protestant). Focusing my attention only to both groups of intellectual, I attempt to put their ideas into dialogical perspective. Comparative perspectives are certainly inevitable but not so necessary, because my intention is rather to explore their ideas and examine whether they are relevant in the framework of building mutual understanding between Muslims and Christians in Indonesia. In the light of this objective, the main questions of this study can be formulated as follows: How have Muslim and Christian religious scholar tried to understand and implement the ideas of pluralism and religious tolerance and how relevant are their ideas in establishing a mutual understanding between Muslims and Christians.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nurcholish Madjid&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nurcholish Madjid is one of the most prominent Indonesian Muslim intellectuals who have comprehensively discussed the concept pluralism and religious tolerance. In his numerous writings as well in public speeches, he always emphasizes the need for a positive attitude towards pluralism. He states that pluralism is substantially not merely recognition of the plural nature of a society, but it is to be followed by sincere accepting it as a positive value and as God’s mercy for human being, because it can enhance the cultural growth through dynamic interaction and exchange of various cultures.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to Madjid, Islam considerably appreciates and advocates religious pluralism. To justify this, he refers to various Qur’anic verses that read:&lt;br /&gt;“To each among you have We prescribed a Law and an Open Way. If God had so willed, He would have made you a single people, but (His plan is) to test you what He hath given you: so strive as in a race in all virtues. The goal of you all is to God; it is He that will show you the truth of the matters in which ye dispute” (Q., 5: 48).”&lt;br /&gt;“Mankind was but one nation, but differed (later). Had it not been for a word that went forth before from thy Lord, their differences would have been settled between them”; (Q., 2:213):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madjid further explains what he says as universal truth. According to him, universal truth is single in itself, although there might be many different manifestations about it. Human beings were originally one single community as they hold on to that single truth. Madjid contends that the basis of universal truth is the belief in the One and Only God (Tawhīd), which has the consequence of the teaching on the total submissive attitude only to God. The attitude of submission is called Islam in its generic sense and this constitutes the core of all true religions. Even though one formally confesses “Islam” or regards himself as a “Muslim”, but there is no in himself such a submissive attitude, he or she cannot be regarded as pure Muslim, hence rejected.  Submission to God in this respect does not mean to surrender to any particular religion. Any one who surrenders to God could also be considered Muslim. With this idea in mind, Madjid often emphasizes the necessity of seeking a common platform upon which different people can meet. He refers to the Qur’anic verse 3:64:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Say: O followers of earlier revelations! Come into the tenet which we and you hold in common: that we shall worship none but God, and that we shall not ascribe divinity to aught beside Him, and that we shall not take human beings for our lords beside God”.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From this verse, Madjid suggests a common platform for all religions to meet that is “Islam” – not as a proper name but as spirituality, a mental and spiritual attitude of submission to the One and Only God. Madjid is sure that since the principle of all true religions is the same, that is, submission to God, all the religions, either due to their internal dynamics or due to their contact towards each other, could gradually find their original truth, so that all meet in such a common platform.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Many commentators of the Qur’an (mufassir) are of the opinion that term Ahl al-kitāb (the People of Book) mentioned in the Qur’an refers to Jews and Christians, and some include the Sabeans and the Zoroastrians. Madjid, however, refering to modern commentators such as Rasyid Ridha and ‘Abd al-Hamid Hakim  extends the term also to some current religious communities comprising Hindus, Buddhists, Confucians, and Shinto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Madjid further says that the Qur’an calls on Muslims to pay respect towards all followers of Ahl al-Kitāb. The Qur’an warns them not to make generalization as to their particular attitudes. As is the case in the Muslim community, there are those who are sincere in their religion. The Qur’an mentions the Christians as the nearest in love to the believers because among them are priests and monks who are humble.  With the above principles of pluralism, tolerance, according to Madjid, is subsequently of a substantial meaning. It is not just as a matter of good relationship among different communities, but rather a matter of doctrine and a duty that must be done.&lt;br /&gt;Madjid argues that in the earlier periods Muslims have in fact showed their inclusiveness and tolerance towards other religious communities. He even claims that Muslims to be the first among the religious communities to recognize the rights of the adherents of other religions to participate fully in the public activities of the state. To strengthen this position, he refers to the “Madina Charter”, a political document made by the Prophet Muhammad to govern relations between Muslims and non-Muslims communities in Medina. In this charter, according to him, Muslims and non-Muslims were united within a bond of civility. This constitution included principles concerning religious freedom, the right for each group to govern the life in accordance with his belief, the freedom in economic and political relations between the groups, the obligation to participate in the defense against the enemies and the like.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;J. B. Banawiratma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Johannes Baptista Banawitama is a prominent Catholic theologian whose ideas are quite influential in the Catholic discourse in Indonesia. He has in fact given much contribution in the development of theological understanding relevant in the context of plural society of Indonesia. He often emphasizes the significance of the teachings of the Second Vatican Council as the basic foundation for the openness of Catholic attitude in relating with other religions.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to Banawiratma, the vision of the Second Vatican Council concerning religious life of non-Christians could be found in the various documents of the Coumcil. These include Lumen Gentium, the dogmatic constitution of the Church; Nostra Aetate, the declaration on the relationship of the church to non-Christian religions; Ad Gentes, the decree on the missionary work of the Church; Gaudium et Spes, the pastoral constitution of the church in the modern world. He writes:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Lumen Gentium repeats the traditional teaching about salvation out side the Church. It is stated for example that: “The divine providence would not deny the assistance necessary for salvation to those who, without any fault of theirs, have not yet arrived at an explicit knowledge of God, and who, not without grace, strive to lead a good life.” (LG 16)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nostra Aetate states: “The Church rejects nothing that is true and holy in other religions. She regards with sincere reverence those ways of conduct and of life, those precepts and teachings which, though differing in many aspects from the ones she holds and sets forth, nonetheless often reflect a ray of that Truth which enlightens all men. The Council hopes that: “through dialogue and collaboration with the followers of the other religions, carried out with prudence and love in witness to the Christian faith and life, they recognize, preserve and promote the good things, spiritual and moral, as well as the socio-cultural values found among these men.” (NA 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ad Gentes reconfirms the vision of Lumen Gentium. The document says that God’s plan to save men is not brought about secretly in the heart of human being, not solely in the efforts, including religious efforts by which they, through various ways, seek for God by touching and finding Him, even though, He is not far from us. Ad Gentes recognizes the presence of the grace of God among nations and call every Christian to know well their traditions and gladly and with respect find the seed of the Word hidden in those traditions.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaudium et Spes speaks about God’s plan of salvation for all people, and exhorts believers that with joy and respect recognize and find the seed of the Word, the presence of the grace of God in the religious traditions of the nations.  The presence of the seed of the Word, the presence of the grace of God, in Gaudium et Spes is called as the work of the Holy Spirit Holy Spirit is present and working in the real situation of their practices of their religious life (GS 22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In his work entitled “Mengembangkan Teologi Agama-Agama” (“Developing Theology of Religions”), Banawiratma attempts to develop his ideas on religious pluralism. In it, he proposes what he calls as dialogical critical contextual approach. He takes this approach as to differentiate from other approaches, which are common in the Christian tradition, that is, ecclesio-centric approach, Christo-centric approach, theo-centric approach, basileio-centric approach and multi-centric indifferent approach or indifferent pluralism. According to Banawiratma, dialogical critical contextual approach is the most appropriate approach in comparison with above-mentioned approaches. It seems, he attempts to integrate such various approaches by stressing the significance of the Christian faith as the basic principle in the theological deliberation. For him the Christian theological reasoning would be possible only on the bases of its special relation with Jesus Christ. He asserts, “the integrity of Christian faith is always characterized by Christology and basileio-logy (because at the same time it aims at the Reign of God); and it also adopts anthropological and cosmological concerns by assigning a proper role to the community of Christian believers (ecclesio-logy) and of other believers (pluralism).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to Banawiratma, the Christian tradition and truth are neither inclusive nor exclusive of all other religious traditions and truth, but they are related to all of them. He denies inclusivism since this can ignore the identity of other traditions by covering or assimilating them in one’s own tradition. He also refuses relativism, as this regards all religions the same. By contrast, he does not want to ignore Jesus as the revelation of God. Ignoring the fact, he quotes the Biblical statement, would mean ‘cutting branches from the vine from which we grow and bear fruit’ (John 15: 1-11). Thus, the proper attitude in religious pluralism is to recognize and accept the uniqueness and meaning of every religion by realizing that each can learn from the other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banawiratma remarks the significance of interreligious dialogue. For him this activity should not only be understood as a discussion concerning interreligious matters. Interreligious dialogue also encompasses interaction of religious communities in the reality of life. Thus, he refers in this case to the Pontifical Council for Interreligious Dialogue, which has designed four levels of dialogue, namely dialogue of life, dialogue of religious experience, theological dialogue and dialogue of action. However, Banawiratma finds it necessary to develop another level of dialogue, which he calls “contextual analysis and reflection”. In this level, he emphasizes the importance of common analysis by religious communities towards their social situation in order to share common social options and actions. According to him, the more common is their analysis the greater their chance to find a proper solution to the problems.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the context theological dialogue between Islam and Christianity, Banawiratma gives an example of how a common ground could be achieved between the two religions through what he calls as the paradigm of mediation. He says:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“We need to find another point of entrance to have sharing of faith with our Moslem sisters and brothers. We need to learn from our Moslem sisters and brothers how they engage in communication with God. We might be able to use the paradigm of mediation or point of encounter between God and human beings. The encounter between God and human beings is only possible if there is mediation that has a divine and human quality at the same time.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“God is the Creator, the greatest and compassionate God, the almighty and merciful One, who creates, sustains and takes care of the whole creation. We, Christians, address the same God as Abba, the motherly Father of Jesus and our motherly Father.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“In Al-Qur’an Jesus is not called the Word of God [Kalimat Allah]. Moslem sisters and brothers accept and live out AlQur’an as the Word of God. The Word of God is divine; and yet human beings can hear and recite it. When they pray the divine verses, their prayer is human prayer, human words. Here, AlQur’an mediates between God and human beings. In the Christian faith the mediator between God and human beings is Jesus. Jesus is the Word of God, and at the same time, he is a human being. Therefore, he can mediate between God and human beings. We can draw the parallel between Jesus and AlQur’an. Both mediate the communication between God and human beings. The meeting point is the Kalam Allah (the Word of God) rather than Kitab Allah (the Scriptures).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eka Darmaputera&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Eka Darmaputera is one of the most prominent Christian theologians in Indonesia and a very vocal pastor whose ideas are much respected in the Christian circles. In terms interreligious relations, he attempts to give their contextual meaning through what he says as functional approach. In this approach, he sees religions more from their functions rather than their formalities. According to him, the function of religion is actually “the God’s intended well-being of all humanity”. From this perspective, all religions, despite their particular differences, have a common and a same function. “If in the institutional approach, differences between religious groups are primary, in the functional approach the unity and oneness of all religion are more essential than their differences, he says.”  For Darmaputera, since the function of a religion is to achieve that end, the right to exist of any religion depends upon whether or not it succeeds to fulfill its function. Thus, a non-functional religion does not have the right to live. It is dead, he says. Darmaputera quotes the Biblical verse: “If the salt has lost its taste, how its saltness shall be restored? It is no longer good for anything except to be thrown out and trodden under foot by men” (Matthew 5:13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;From this approach, it is clear that Darmaputera respect religious plurality. He hopes that people from different religious associations not only live in peaceful coexistence, but also live and work together in a creative pro-existence towards another. Despite their differences and particular identities, they should be interrelated in the one and same humanness, carrying out a common task in mutual togetherness, to reach the common goal, namely, the well-being of all and for all. The interrelationship between different religious groups, in Darmaputera’s view should no longer be understood institutionally but functionally and this need a radical change both their in their self-understanding and their attitude towards the other.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Explaining the ideal of pluralism, Darmaputera says that what he means by pluralism is “a certain mental-set and attitude in dealing with the reality of plurality, namely, one of earnest and sincere openness to realize and to recognize the differences between individual and between groups”.  According to him, religious difference is not only something inevitable on the practical level but something meaningful and significant on the theological level as well. Besides as a social reality, the existence of people of other faiths should be understood as a theological phenomenon and therefore should be dealt with theologically.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giving his theological argument, Darmaputera departs from the exposition on the reality of incarnation. Quoting the Biblical verse “And the word became flesh and dwelt among us” (John 1: 14), he asserts:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“In and through Jesus, God accepts and identifies Himself fully with human reality. He enters into human history”. The idea is not so much the divinization of human as the humanization of divine. In the old exclusivistic theological understanding, human reality and human history, i.e. humanness, are seen as entirely evil, so evil that people of faith have to separate and to isolate themselves from them. “Faith” and “faithfulness” are thus, in this understanding, viewed as separation and isolation from “others”. But, in the incarnational event, God showed a radically different attitude. He entered into and identified Himself fully with that “evil” human reality”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to Darmaputera, this understanding of God’s attitude toward human reality demands a new attitude from the part of human beings. Quoting John 4:21-23 where Jesus said “…The hour is coming when neither on this mountain nor Jerusalem will you worship the Father in spirit and truth”, Darmaputera explains that God, whom Jesus introduced, is not God of a particular religion, and whom can be worshipped exclusively through particular rite and at particular place. Jesus has relativized any absolute and exclusive religious claim. “He spoke, thus, not of a ‘true Religion’, but of ‘true worshippers’”, said Darmaputera. Darmaputera also bases his argument on a verse in Matthew 7:22-23, in which Jesus declared: “On that day many will say to me, Lord, Lord, did we not prophesy in your name?” And then will I declare to them, “I never knew you; depart from me, evildoers.” “What important is not one’s own religious association, but he who does the will of my father who is in heaven”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmaputera in deed acknowledges the absoluteness of the claim of Jesus as the Way to the Father. However, he remarks that this way is never identified with a particular religion. “Jesus is the Way, not religion,” he says. He emphasizes, basing himself on the statement of John, that the salvific plan of God will culminate in the creation of “a new heaven and a new earth” for all, not the establishment of “a particular religion” for a particular people (Revelation 21:1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With this understanding, Darmaputera also feels it necessary to reconsider the doctrine of mission, which is derived from the Biblical verse of Matthew 28:19, which says, “Go therefore, and teach all nations, baptizing them in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit”. Darmaputera says that it is wrong to treat this verse as the only commandment from Jesus. If he had said something about “the great and first commandment”, it was “the love commandment” (Matthew 23:34-40), which was meant. Darmaputera states that the verse Matthew 23:18 should be understood within the larger context, that is, in the light of the entire mission of Jesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;According to Darmaputera, the verse “Go and make disciples of all nations,” means that one we must go out of our exclusive particularism. The command of baptism cannot be understood as primarily to bring all people into the Christian exclusive community. On the contrary, it means that one has to go out from our exclusiveness and to meet them in their own places and situations, to embrace them in an inclusive fellowship in Christ. Thus, as Darmaputera puts it, it is “Christ”-inization, rather than “Christian”-ization. Christ in this sense is the subject, not the Christians. “Our task and mandate is simply to be the witness of Christ and not of our religion”. In other words Darmaputera says, “Evangelization is to make Christ known, not to make our religion bigger.  With this idea in mind, Darmaputera suggests how evangelization should be carried out in the context of religious plurality. He says that missionary task should be done not in monological way but in a dialogical way, that is, in the form of mutual sharing. He says,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“We share with others what we believe as good and precious. We are doing it simply because we are commanded to do so, but because we existentially eager to share the best with others. Others are not “target” but our fellow-subject. Evangelization is not a method or an obligation we have to carry out, but a joy of sharing”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realizing pluralism in the context of Indonesia, Darmaputera emphasizes the significance of Pancasila as the basis that should be maintained in managing the plurality of Indonesian society. To him the choice towards Pancasila is not merely based on the historical and political consideration, but also due to his theological reflection. To him the commitment towards Pancasila should even be done in the frame of obedience to God.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmaputera argues that Pancasila constitutes the expression of a unifying nationalist identity. According to him, Pancasila should be realized not only in the state life, but also in the societal life. He was concerned about attempts to implement Pancasila only in state life. If this happened, he asked, “So what would we have for our mutual platform in our social and national life? The answer is certain. Each society would go with its own platform. The Muslim society has Islam as its basis; likewise, the Christian society takes Christianity as its foundation. Thus disintegration, Darmaputera contends, would happen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He acknowledges that theoretically Pancasila has indeed been established in particular since the promulgation of asas tunggal in 1985. However, in the practice, the nation, according to him, is moving away from the intention of Pancasila. He gives an example of the ICMI’s idea of Islamic society, which he considers contradictory to the values of Pancasila, since the idea, according to him, ignores the principles of inclusivity and non-discrimination.  Likewise, he considers the issuance of the Law No. 2/1989 concerning the national religious educational system as well as the Law No. 7/1989 regarding the Islamic religious courts, both of which serve for the benefit to Muslim community, is not suitable with the principles of Pancasila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Discussion and Assesment&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Muslim and Christian scholars in this study have a common point on the significance to appreciate pluralism. For them, religious diversity is not only a social fact that is undeniable, but also a theological fact that should be appreciated. In justifying pluralism, they are in deed different in method and emphasis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nurcholish Madjid, from the Islamic side, emphasizes his discussion on the perspective of Islamic universalism. He understands Islam in this respect as a mental ¬religious attitude or spirituality, which is not limited only to organized Islam, but also exists in other religious observances. This goes along with his understanding of the Oneness of God who has the absolute truth and who can be approached through every religion. Here, the inclusivism of Madjid can be defined, that the absolute truth can be approached through every religion that teaches “Islam”. This idea is more or less comparable with the concept of “anonymous Christian” proposed by Karl Rahner, who believed that good and devout people of other faiths could attain salvation outside of explicitly constituted Christianity. Thus, comparing to this concept, one might probably call Madjid’s idea, as “anonymous Muslim”. This idea is indeed, quite controversial.  With his idea of “Islam”, in which people of other religions can attain salvation without label of Islam, he is often considered to introduce the idea of religious equality. Quraish Shihab does not agree with Madjid to give the label of Islam to someone who does not perform praying, fasting etc. He in deed understand the meaning of ‘Islam’ as surrender, but for him, the word has received a much more comprehensive meaning, which is not only a belief system, but also a Sharī‘a, a comprehensive set of guidance.  A rather sharp criticism was given by Daud Rasyid who regards Madjid as attempting to find a meeting point between religions by manipulating the meaning of the verses, misunderstanding the Hadith of the Prophet, and defiling the words of the ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It is important to note, that the conclusion that Madjid adopt the idea of “equality of religion” is far from the substance of his theological thinking. To give one simple example, when explaining the concept of Islam, he remarked, “the attitude of submission is called Islam in its generic sense and this constitutes the core of all true religions”. Instead of using the expression “all religions”, Madjid used the term “all true religion”. In this case, it is clear that the qualification Islam is not applied for all religion but only true religion. The true religions, for Madjid, are clearly those that submit to the One and Only God. Madjid believed that since the principle of all true religions is the same, that is, submission to God, all the religions, either due to their internal dynamics or due to their contact towards each other, could gradually find their original truth, so that all meet in such a common platform. In my opinion, the Islamic tendency of Madjid’s ideas is quite strong. His ideas have in fact strong roots from his understanding of Islamic monotheism and its relationship with the universal truth.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It could be said that Madjid’s idea of inclusivism can lead one to the recognition of and respect for the existence of other religions. In deed, his ideas are much respected by the Christian theologians. As Magnis-Suseno remarks, Madjid’s ideas, would lead people to see pluralism and tolerance in a positive way. Magnis-Suseno sees the significance of Madjid’s thoughts in connection to the religious understanding and implementation in human life, particularly in human relationships.  Banawiratma considers the ideas of Madjid as a ‘post-modernist reflection’, as an open attitude towards pluralism and an effort to find a spiritual base for a more free, righteous and humane religious reorientation. He supposes that Madjid’s concept of inclusivism is in line with the program of deschooling society of Ivan Illic, an attempt towards de-institutionalizing of religion. Using the terminology of Erich Fromm, Banawiratma furthermore considers this approach as humanistic approach towards religion, which constitutes a correction towards authoritarian religion. The significance of this idea is, according to him, is that it would put religion back to its proper place.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, in terms of Islam-Christian dialogue, Madjid’s approach, for the Christians, is not always positive. Magnis-Suseno in deed has criticized him due to his comparative analysis on the question of tolerance in Islam and Christianity. He disagreed with Madjid on his way of referring to Christianity, which he considered unfair. Towards Islam, Madjid used normative-theological-ideal analysis, but towards Christianity, he applied historical-factual analysis. With this approach to Christianity, Madjid, according to Magnis-Suseno, often quoted disgraceful events committed by Christians or the Church in the past. By doing this, he produced general statement that “Christianity is the most intolerant religion”. Magnis-Suseno remarked that if Madjid had applied a normative approach to Christianity as he had done to Islam, he would have seen a different image of Christianity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In his analysis concerning this issue, the Christian scholar, Stanley Rambitan, also sees the unfairness of Madjid in his analyzing the Christianity. Therefore, he criticizes the objectivity of Madjid approach, concluding that Madjid’s main objective and attitude are scientifically unfair. However, he understands that Madjid’s aim is not to discredit Christianity, but rather to encourage Muslims to have self-confidence and to be more mature in religious understanding, since Madjid, as quoted by Rambitan has said: “Muslims are sensitive to matters that discredit religion, but perhaps not to values fought for by religion itself. However, we must understand it because it is part of Muslims growth all over the world. For a long time, we seem to have had a feeling of inferiority to Western or non-Muslim groups. This inferiority has made Muslims very sensitive. There is a kind of wary, threatened and disappointed feeling. To me, self-confidence must continuously be built up. We must believe that we are only inferior in material matters, technology and science, but as far as religious or spiritual matters are concerned, Muslims are certainly superior. By this self-confidence, our Islamic spirituality will be more relaxed, and we will not quickly get angry, since this inferiority is merely a state of mind that is sometimes unreal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A more crucial point was Madjid’s discussion on Christianity and Jesus, which was delivered at a conference at the University Indonesia of Jakarta in 5-6 April 1995. In this speech, Madjid, quoting a book by Michael Baigent and Richard Leigh, The Dead Sea Scrolls Deception, the Sensational Story behind the Religious Scandal of the Century as well as their book The Holy Blood and the Holy Grail, told some features about Jesus. It was said that Jesus did not die. He was taken from the cross by his disciples at the time the guards went for pray. He was married with Maria Magdalena and had four children. He was later divorced and moved to Rome, where he remarried another woman named Lydia. Jesus allegedly died in the age of 70.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magnis-Suseno was quite annoyed about these stories of Jesus. What made him angry was not whether Jesus died or not, since he acknowledged that there is a clear difference between Islam and Christianity on issue. Magnis-Suseno was only critical of the features that Jesus was married, divorced etc. According to him, with these features, Jesus “has been put into the mud”. He said, “For the Christians, Jesus is not just a common man but God, the saviour”. Therefore, he protested against this speech to the Minister of Education, the Minister of Religious Affairs, the Minister of the State Secretary, the Minister of Security, the Chairpersons of the Council of Indonesian ‘Ulama (MUI), the Alliance of Indonesian Churches (PGI) and the Conference of Indonesian Bishops (KWI). From this fact, it seems that Magnis-Suseno was quite serious in this matter. Madjid defended saying that he had bought widely known books written by respected scholars in Western countries and wanted to start a debate on academic grounds. The debate between the two scholars was quickly spread through photocopies.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In his response to Magnis-Suseno, Madjid admitted that he was not sure and had not yet taken any conclusion whether Jesus was married and had children or not, since, this, for him, was not an important subject in the Islamic creed. Muslims, he said, were not concerned about that. However, since more and more Christian scholars have the same view, as Madjid said, he found it interesting to see the relevance of the works in the framework of understanding the Qur’anic information concerning Jesus. One of the books he referred to, in deed, mentioned the closeness of their findings with the Qur’anic teachings. According to Madjid, his interest in referring those books was merely due to a scientific consideration. For him, his referring to the works was part of his argument of the necessity for realization of the Qur’anic teachings that suggests men to study history. Commenting the debate between the two scholars, Karel Steenbrink stated that the debate obviously “does not improve the poor quality of the theological debate when Christians refrain from scrutiny of Muslim sources and serious Muslims have problems in finding their way in the jungle of contemporary Christianity”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Turning our discussion to the Christian groups, we have seen that Banawiratma in his discussion about religious pluralism develops what he calls dialogical critical contextual approach. Principally, he develops further the teachings of the Second Vatican Council, which are inclusive by nature. For the Catholic theologians in Indonesia, the Second Vatican Council is deed quite decisive in the issue of religious pluralism, since its teachings begin to develop inclusive attitude towards other religion. Prior to the Second Vatican Council, the Catholic Church held exclusive position, which believed “extra ecclesiam nulla salus” (no salvation outside the Church). However, inclusive attitude for Banawiratma seems not sufficient. As he has said, inclusivism can ignore the identity of other traditions by covering or assimilating them in one’s own tradition. Banawiratma does not adopt relativism, since this regards all religions the same.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With this approach, Banawiratma in deed emphasizes the significance of interreligious dialogue, which encompasses dialogue of life, dialogue of religious experience, theological dialogue, dialogue of action and contextual analysis and reflection. By categorizing dialogues as such, Banawiratma seems to realize the importance of interaction of religious groups in many aspects of life. Many perceive interreligious dialogue merely as formal interreligious gatherings or round-table discussions among scholars and theological experts of various faiths. In fact, dialogue is more than merely a series of conversation. From the various levels of dialogue above, we learn that dialogue is principally a way of living with other that involves interaction at the levels of being (dialogue of life), doing (cooperation on social issues), thinking (study, discussion of theological issues), and reflecting (sharing of religious experience).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In such a plural society like Indonesia, introducing these models of dialogue is obviously relevant. The fact of plurality of the society in deed necessitates people’s consciousness of the importance of dialogue not only in terms of its formal sense, but also in its informal one. Interreligious dialogue, thus, should not be perceived as an exclusive activity that is conducted by religious elites only. Common people could conduct interreligious dialogue through their social interaction in their daily life such as in the neighbourhood, school, office, market etc. They should show themselves tolerant and accepting towards those of different religions and work to build peace and harmony among various group in the society. They should be able to relate each other and co-operate in dealing with their common problem regardless of religious differences.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Probably the most difficult one is theological dialogue. Some scholars in Indonesia are pessimistic of the possibility of theological dialogue. According to the late Victor Tanja, well-known Christian theologian, it was impossible to conduct theological dialogue. The term interreligious dialogue, he said, did not refer to dialogue between faiths but rather between people of religion or faith.  “It is people who conduct dialogue, not religions”, he said. His comment on the impossibility of theological dialogue is certainly understood in the context that faith is a matter that could not be compromised. In deed, the difficulty of theological dialogue is how to deal with the conflicting religious claims. It is not surprising that theological dialogues sometime appear in the form of debate with each trying to prove that it has the truth and that the other is in error.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;However, it should be emphasized that theological dialogue does not necessarily mean to compromise religious differences, since it is impossible to negotiate the conflicting religious claims. Theological dialogue is principally learning to recognize the commonalities but also the differences. In this process, as Leonard Swidler puts it, each partner listens to the other as openly and sympathetically as possible in an attempt to understand the other’s position as precisely and, as it were, as much from within as possible.  In my opinion, theological dialogue is, in fact, crucial. It is aimed to wipe out misunderstandings or negative constructions about other religions. Appropriate rules are certainly needed in order to avoid the difficulties in interreligious dialogue.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As we have seen, in terms of Muslim-Christian dialogue, Banawiratma in his approach of dialogue compares Jesus and the Qur’an; both are considered as mediation to God. Usually, one would assume that a comparison of between Islam and Christianity would consist of comparing sacred texts (Qur’an and Bible) and figures (Muhammad and Jesus). However, in the context of Muslim-Christian dialogue, the proponent of dialogue like Wilfred Cantwell Smith, Stephen Neil, Frithjof Schuon, Seyyed Hosein Nasr and others proposed another perspective of comparison, that is, the Qur’an is compared to Jesus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The basis of the comparison is clear. In Islam, the Qur’an is the Word of God. In Christianity the Word of God is Jesus. Thus, both are the “Word God”. According to Nasr, it is indeed possible to make comparison between Islam and Christianity by comparing the Prophet to Christ, the Qur’an to the New Testament, Gabriel to the Holy Spirit, the Arabic language to Aramaic, the language spoken by Christ, etc. In this way the sacred book on one religion would correspond the sacred book in the other religion, the central figure in one religion to the central figure in the other religion and so on. He admits that this type of comparison would be meaningful and reveal useful knowledge of the structure of the two religions. But in order to understand what the Qur’an means to Muslims and why the Prophet is believed to be unlettered according to Islamic belief, it is more significant to consider this comparison from another point of view.  Thus, in this perspective, Nasr compares the Qur’an to Christ, the Prophet to Maria and the Prophet’s illiteracy to Maria’s virginity. Nasr says:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“The Word of God in Islam is the Qur’an; in Christianity it is Christ. The vehicle of the Divine Message in Christianity is the Virgin Mary; in Islam it is the soul of the Prophet. The Prophet must be unlettered for the same reason that the Virgin Mary must be virgin. The human vehicle of a Devine Message must be pure and untainted. The Divine Word can only be written on the pure and ‘untouched tablet of human receptivity. If this World is in the form of flesh the purity is symbolized by the virginity of the mother who gives birth to the Word, and if it is in the form of a book this purity is symbolized by the unlettered nature of the person who is chosen to announce this Word among men. One could not with any logic reject the unlettered nature of the Prophet and in the same breath defend the virginity of Mary. Both symbolize a profound aspect of this mystery of revelation and once understood one cannot be accepted and the other rejected.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obviously, this new perspective of comparison has a positive implication in building dialogical relationship between Muslims and Christians, since the “old perspective” is often considered to create difficulty in Muslim-Christian relation. According to Smith, Muslims and Christians have been alienated partly by the fact that both have misunderstood each other’s faith by trying to fit it into their own patterns. The most usual error, he said, was to suppose (on both sides) that the roles of Jesus Christ in Christianity and of Muhammad in Islam were comparable.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The same tone was also voiced by Stephen Neil who views the difficulty in the case of comparison between the Qur’an and the Bible. According to Neil, the comparison between the Qur’an and Bible often leads to misunderstanding. For example, when comparing the Qur’an to Bible, the Christians would assume that the Qur’an, like the Bible, contain human elements beside divine elements. This notion is often rejected by Muslims, since they argue that the Qur’an is the word of God.  Muslims, on the contrary, could not understand, despite modern Christian explanations, that the Bible is sacred text. Muslims always consider that the Bible is wholly man-produced, not the sayings of Jesus. It is only the expressions about him, with distorted elements. Neil, indeed, admits that it is impossible to avoid the comparison between the Qur’an the Bible. However, such a comparison often makes people confusing and irritated.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Concluding Remark&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;From above discussion, it is clear that the ideas of pluralism and religious tolerance developed by above Muslim and Christian religious scholars are quite progressive and relevant in building positive attitude towards religious differences. They could apparently lead one to the recognition of and respect for the existence of other religions. Their reflections on the issues are not based on pragmatic considerations, but rather on their deep understanding and reflection of their respective religious teachings.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For these scholars, interreligious dialogue in the context of religious diversity is obviously important but also becomes a necessity. It is an effective tool to wipe out misunderstandings or negative constructions about other religions. Dialogue should be based on mutual respect. It should not be used for a theological debate to prove religious truth at the expense of the other. With this perspective, genuine dialogue implies a recognition of, and respect for, differences. Dialogue is not restricted only in the form of conversation. Dialogue is way of living out the faith commitment in relation to each other. Banawiratma’s concept of dialogue needs to be reaffirmed.&lt;br /&gt;In the context of Muslim-Christian relation, a common ground needs to be affirmed. Muslims and Christian could meet in what Madjid says “submission to God”. This process could be realized through what Banawiratma calls “paradigm of mediation”; For Christians, the mediator to God is Jesus, whereas for Muslims the Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslims and Christians need to reconsider their respective religious teachings concerning inter-human relationship, which seem rigid, and attempt to contextualize them in accordance with the spirit of tolerance and humanity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In the context of socio-political life, a common ground in Pancasila should be affirmed. It is only with this basis that between religious groups could be eliminated. This is because of the neutral principle of Pancasila in the matter of religion. This principle should be preserved. Any attempt to impose certain value system, which is contradictory to the neutral principle of Pancasila should be avoided.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With the principle of Pancasila, the State should guarantee the freedom of religion in a consistent way. Any intervention, restriction, and discrimination in the matter of religion have to be avoided.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-866604094091784641?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/866604094091784641/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=866604094091784641' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/866604094091784641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/866604094091784641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/04/reflections-of-indonesian-muslim-and.html' title='REFLECTIONS OF INDONESIAN MUSLIM AND CHRISTIAN RELIGIOUS SCHOLARS ON THE CONCEPT OF PLURALISM AND RELIGIOUS TOLERANCE'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-1079740988037258950</id><published>2009-04-25T09:20:00.000-07:00</published><updated>2009-04-25T09:23:14.117-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='noeloberalism'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='kearifan lokal'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah'/><title type='text'>KEKUATAN TRADISI LOKAL SEBAGAI WISDOM YANG MEMBEBASKAN MASYARAKAT DARI BELENGGU KEKUATAN NEOLIBERALISME</title><content type='html'>&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-alt:"Palatino Linotype"; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Oleh:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;AGUS AFANDI &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Agus Afandi adalah dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;ABSTRAK&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kekuatan kapitalisme global yang mencengkeram ke seluruh relung jagad melalui berbagai korporasi telah meluluhlantakkan kekuatan-kekuatan lokal. Perusahaan-perusahaan multi nasional yang didukung oleh kekuatan korporasi media dan teknologi informasi membuat negara-negara dunia ketiga tidak memiliki daya kekuatan menolak arus permainan global tersebut&lt;span style="color: red;"&gt;. &lt;/span&gt;Dengan kekuatan ekonomi politik negara-negara kapitalis yang tergabung dalam G 8, negara –negara dunia ketiga, termasuk Indonesia,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dipermainkan dengan program-program &lt;i style=""&gt;recovery&lt;/i&gt; ekonomi melalui lembaga keuangan Bank Dunia dan IMF. Kesepakatan WTO yang memberi peran pasar sebagai penentu kehidupan perekonomian, justru mengkerdilkan peran negara dalam melindungi kehidupan ekonomi warganya.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lemahnya peran negara dalam melindungi segala kebutuhan masyarakat berdampak pada lemahnya tatanan sosial budaya masyarakat. Hal ini berakibat pada terkikisnya tatanan sosial dan budaya masyarakat yang selama ini telah menjadi identitas diri dan kekuatan sosial.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pada dasarnya masyarakat Indonesia sejak masa kolonial telah melakukan penolakan arus kekuatan global yang membawa faham kolonialismenya. Penjajahan dengan misi penguasaan politik dan ekonomi, disadari sebagai bentuk penindasan dan peminggiran akan hak-hak sebagai manusia yang bebas. Kekuatan-kekuatan lokal yang digalang oleh para pejuang dengan bangunan sosial budaya yang menjadi identitas diri kehidupan masyarakat mampu menjadi alat untuk menolak penjajah dan globalisasi ketika itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Kekuatan global yang sekarang berubah bentuk menjadi wajah menarik, yaitu pola hidup modern yang diwujudkan dengan budaya konsumtif, pergaulan bebas, hedonistik, dan individualis, membawa masyarakat terlena dan tidak terasa bahwa dirinya sedang mengalami penjajahan yang lebih dahsyat. Jangkauan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;informasi dan teknologi sampai ke wilayah yang paling dalam dan paling individual mempengaruhi pola hidup manusia sampai pada tingkat mengkhawatirkan. Manusia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak faham bahwa dirinya memasuki wilayah tatanan kehidupan yang sama sekali&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bukan milik dirinya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Pengalaman masa kolonial dan pasca kemerdekaan menunjukkan, bahwa kekuatan nasional dan lokal mampu menjadi alat untuk menggalang kekuatan melawan kapitalisme dan liberalisme. Oleh karena itu di masa sekarang ini, hanya dengan kekuatan lokal warga bangsa mampu menghadang kekuatan neo kapitalisme dan neo liberalisme. Kekuatan-kekuatan lokal yang selama ini mulai lemah perlu dibangun kembali, sehingga mampu mengimbangi kekuatan global.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Proses yang dapat dilakukan dalam mengokohkan kekuatan lokal tersebut melalui &lt;i style=""&gt;pendidikan kritis&lt;/i&gt;. Pendidikan masyarakat yang selama ini sudah terbangun melalui pesantren, kyai, ajengan, dan tokoh-tokoh lokal ternyata memiliki daya ampuh untuk mengimbangi kekuatan luar. Oleh sebab itu, perlu dibangun terus kekuatan-kekuatan lokal tersebut dengan pendidikan yang membebaskan meskipun tetap membuka diri dengan kemajuan tetapi tidak terpengaruh dengan arus budaya kapitalis yang secara laten memiliki agenda menjajah dan menindas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;FAHAM NEO-LEBERALISME DAN AGENDA YANG DIUSUNG&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Neoliberalisme pada dasarnya adalah kelanjutan dari faham liberalisme yang pernah berkembang dan mengalami krisis pada tahun 1930-an. Inti faham Neoliberalisme ini adalah dilepaskannya hak istimewa atas modal dari berbagai tata aturan teritorial maupun nasional. Gejala ini kemudian melahirkan satu monster baru dalam skala global, yaitu kekuatan bisnis internasional. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pengertian neoliberalisme dapat diringkas dalam dua lapis definisi. Pertama, neoliberalisme adalah faham/agenda pengaturan masyarakat yang didasarkan pada dominasi &lt;i style=""&gt;homo economicus &lt;/i&gt;atas dimensi lain dalam diri manusia (sebagai &lt;i style=""&gt;homo culturalis, zoon politikon, homo sosialis, &lt;/i&gt;dan sebagainya). Kedua, sebagai kelanjutan pengertian pertama, neoliberalisme bisa juga difahami sebagai dominasi sektor finansial atas sektor riel dalam tata ekonomi-politik. Pengertian pertama lebih menunjuk pada ‘kolonisasi eksternal’ &lt;i style=""&gt;homo oeconomicus &lt;/i&gt;atas berbagai dimensi antropologis lain dalam multidimensionalitas manusia. Sedangkan definisi kedua menunjuk ‘kolonisasi internal’ &lt;i style=""&gt;homo financialis &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;atas aspek-aspek lain dalam multidimensionalitas tata homo oeconomicus itu sendiri. (Herry-Priyono, 2004)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Inti neoliberalisme terletak pada dua gagasan utama berikut. Pertama, manusia dilihat hanya sebagai &lt;i style=""&gt;homo oeconomicus. &lt;/i&gt;Artinya, cara-cara manusia bertransaksi dalam kegiatan ekonomi bukanlah salah satu dari sekian banyak dimensi hubungan antarmanusia, tetapi sebagai satu-satunya corak yang mendasari semua tindakan dan relasi antarmanusia. Dengan kata lain, tindakan dan hubungan antarpribadi manusia maupun tindakan dan hubungan legal, sosial, dan politis manusia, hanyalah sebagai ungkapan dari model hubungan menurut kalkulasi untung-rugi dalam transaksi ekonomi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kedua, gagasan ekonomi-politik neoliberal adalah argumen bahwa pertumbuhan ekonomi akan optimal jika dan hanya jika lalu lintas modal yang dimiliki oleh pribadi (orang-perorang) dilepaskan dari hal-hal yang terkait dengan &lt;i style=""&gt;survival &lt;/i&gt;sosial dan ditujukan semata untuk akumulasi laba. Bila dalam liberalisme klasik (Adam Smith) kepemilikan privat masih dianggap punya tugas sosial untuk mensejahterakan seluruh masyarakat, maka dalam neoliberalisme, kepemilikan privat tersebut sudah demikian absolut dan keramat, tanpa peran sosial apapun juga, kecuali untuk akumulasi laba privat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Agenda utama neolibrelisme adalah globalisasi ekonomi, sebagai agenda tata dunia baru yang bertumpu pada kekuasaan modal dan pemilik modal. Dalam hal ini ada tiga agenda utama yaitu: (1) tataran tindakan, tata kekuasaan global yang bertumpu pada praktek bisnis raksasa lintas negara; (2) pelaku utamanya adalah perusahaan-perusahaan trans-nasional (&lt;i style=""&gt;Multinational Corporation, MNCs&lt;/i&gt;) ; dan (3) proses kultural ideologis yang dibawanya adalah konsumerisme.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dalam globalisasi, praktek perdagangan bisnis tran-nasional didorong dan didukung oleh regulasi dan kesepakatan internasional yang kerap disebut sebagai ‘aturan baru’ dalam kerangka pasar bebas. Kesepakatan tersebut seperti GATT (&lt;i style=""&gt;General Agreement on Tariffs&lt;/i&gt; and Trade), WTO (&lt;i style=""&gt;World&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Trade&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Organisation&lt;/i&gt;), GATS (&lt;i style=""&gt;General Agreement on Trade&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;in&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;Services&lt;/i&gt;), TRIPs (&lt;i style=""&gt;Trade Related Intellectual Property Right&lt;/i&gt;), TRIMs (&lt;i style=""&gt;Trade Related Invesment Measures&lt;/i&gt;), AoA (&lt;i style=""&gt;Agreement on Agriculture&lt;/i&gt;) dan sebagainya. Pada saat yang sama ideologi konsumerisme juga didesakkan oleh kekuasaan luar biasa dari bisnis periklanan dalam bentuk logo, merek, dan label, dibawah sadar menanamkan prinsip ‘kenikmatan-gengsi-kemewahan’ pada banyak individu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sehingga dengan demikian globalisasi tidak saja terjadi dalam skala makro, dalam rupa berbagai tata kebijakan ekonomi politik global yang dipaksanakan pada kebijakan publik melalui tiga ‘matra sakti’: deregulasi-privatisasi-liberalisasi. Tetapi, globalisasi juga terjadi dalam skala mikro individu manusia, yang disuntikkan ke dalam berbagai pilihan individu yang merujuk pada ragam budaya, identitas, dan gaya hidup global. Meskipun hakekatnya adalah pemaksaan untuk memilih keseragamaan budaya, identitas, dan gaya hidup. Seperti gaya hidup mengkonsumsi makanan cepat saji ala Amerika, McDonal, KFC, Pizza Hut, A&amp;amp;W, gaya musik ala MTV, dan gaya busana ala Barat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Strategi dasar neoliberalisme adalah penyingkiran segenap rintangan yang menghambat pasar bebas,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perlindungan hak milik intelektual, good governance, deregulasi pasar, dan penghapusan subsidi pelayanan publik. Dalam prakteknya neolibral memberikan kebebasan kepada perusahaan swasta dari campur tangan pemerintah. Misalnya pemerintah tidak ikut campur tangan dalam urusan perburuan, investasi, harga, dan membiarkan mereka memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang mengatur dirinya sendiri. Negara kemudian menyediakan kawasan-kawasan pertumbuhan yang bersifat otonom dan memberikan perlakuan yang khusus atas pajak, bea masuk, dan investasi. Seperti kawasan NAFTA, AFTA, SIJORI (Singapura-Johor-Riau), BIMP-EAGA (&lt;i style=""&gt;Brunai-Indonesia-Malaysia-Philipines East Growt Triangle&lt;/i&gt;), Otorita Batam, dan sebagainya. Praktek lainnya adalah penghentian subsidi pelayanan sosial karena selain dianggap bertentangan dengan prinsip neoliberal tentang campur tangan pemerintah, juga bertentangan dengan asas pasar dan persaingan bebas. Oleh karena itu, pemerintah kemudian melakukan swastanisasi semua perusahaan negara, sebab perusahaan negara dibuat untuk memberikan subsidi pada rakyat, dan itu dapat menghambat persaingan bebas. (Faqih, 2000)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bagi neoliberal ideologi ‘kesejahteraan bersama’ dan ‘pemilikan komunal’ seperti yang dianut oleh kebanyakan masyarakat tradisional, dianggap sebagai rintangan untuk mencapai agenda utama neoliberal. Oleh sebab itu, mereka berusaha keras menghambat kedua faham itu dengan berbagai argumen dan promosinya. Akibatnya mereka memaksa untuk menyerahkan pengelolaan sumberdaya alam pada para pakar, bukan kepada kelompok-kelompok masyarakat adat tradisional setempat yang dianggap tidak mampu mengelola secara efisien dan efektif. Padahal justru masyarakat adatlah yang sudah berpengalaman dan memiliki kerifan lokal (&lt;i style=""&gt;local wisdom&lt;/i&gt;), serta mengenal secara turun temurun karakter sumber daya alam yang berkembang di sekitar wilayah ingkungannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jadi suatu negara yang sudah menganut faham neoliberalisme dan mengikuti arus globalisasi ekonomi secara ringkas terlihat bila negara hanya mengembangkan pola-pola sebagai berikut (Jhamtani, 2005, yang mengutip IFS report 2002): (1) Pertumbuhan tinggi (&lt;i style=""&gt;hypergrowth&lt;/i&gt;) dan eksploitasi sumber daya alam serta lingkungan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, (2) Swastanisasi (privatisasi) pelayanan publik, (3) Penyeragaman (homogenisasi) budaya dan ekonomi global serta promosi konsumerisme, (4) Integrasi dan konversi ekonomi nasional, dari swasembada menjadi berlandasakan pada pasar, (5) Deregulasi korporat dan perpindahan modal lintas-batas negara tanpa penghalang atau pembatas, (6) Pemusatan korporasi menjadi segelintir perusahaan besar saja, (7) Penghapusan bantuan atau subsidi program pelayanan kesehatan dasar masyarakat, pelayanan sosial lainnya, dan pemeliharaan lingkungan hidup, karena dianggap sebagai biaya, (8) Penggusuran kekuasaan negara demokrasi dan masyarakat lokal oleh birokrasi korporasi global.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Maka dengan demikian korporasi diikat dengan hukum yang longgar atau bahkan tidak diikat dengan hukum samasekali (deregulasi), kecuali hukum pasar.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Korporasi diberi akses ke pasar manapun secara bebas (liberalisasi) dan diberi wewenang mengatur hajat hidup orang banyak (privatisasi pelayanan publik). Peran negara yang seharusnya melindungi kepentingan masyarakat dalam menghadapi persaingan dengan korporasi raksasa, justru dikeberi. (Bourdieu, 2003)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kalau dilihat secara umum, kekuatan besar korporasi pada dasarnya didukung oleh empat hal yaitu penguasaan atas teknologi, informasi, modal, dan peraturan global. Melalui empat tersebut MNCs melakukan penjajahan atas hajat hidup dan pikiran manusia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melalui paradigma neoliberlisme. (Jhamtani, 2005)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Untuk menjajah wilayah hidup, langkah awal adalah penjajahan pikiran. Hal ini dilakukan melalui dominasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terhadap informasi melalui monopoli media massa, dalam bentuk iklan serta berita yang dipiuhkan (&lt;i style=""&gt;distorted&lt;/i&gt;). Langkah selanjutnya adalah penyeragaman budaya, pola hiudp bahkan, bahkan sistem serta produk pertanian. Untuk mendapatkan legitimasi sebagai pelaku pembangunan global, MNCs mendominasi lembaga-lembaga multilateral seperti WTO, IMF dan Bank Dunia. Dan mulai mencoba mempengaruhi PBB yang selama ini dikenal sebagai lembaga yang mempromosikan hak asasi, lingkungan hidup, dan sistem multilateralisme yang berimbang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dalam proses dominasi ini, kendali atas teknologi memainkan peranan penting. Monopoli atas teknologi, atau gabungan teknologi baru yang nyaris tanpa peraturan pengamanan, akan memperkuat penjajahan atas hajat hidup dan pikiran. Di anatara teknologi tersebut adalah berupa; (a) Nanoteknologi untuk menguasai materi melalui manipulasi, (b) Bioteknologi untuk menguasai kehidupan melalui manipulasi gen, (c) Teknologi informasi untuk menguasai pengetahuan melalui bit (&lt;i style=""&gt;byte&lt;/i&gt;), (d) &lt;i style=""&gt;Cognitive&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;neuroscience&lt;/i&gt; untuk menguasai benak atau pikiran melalui manipulasi neuron, (e) &lt;i style=""&gt;Memetic&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;engineering&lt;/i&gt; untuk mengendalikan kebudayaan melalui manipulasi &lt;i style=""&gt;meme&lt;/i&gt; atau gagasan. &lt;i style=""&gt;Meme &lt;/i&gt;adalah unsur mendasar dari kebudayaan yang analog dengan gen dalam organisme hidup. (Jhamtani, 2005)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Dominasi teknologi korporasi ini berakibat pada tidak berdayanya masyarakat dalam mengembangkan kreatifitas diri, akibat adanya pematenan hak kekayanan intelektual (HAKI). Masyarakat yang memiliki kemampuan kreatifitas intelektual seperti petani, pengrajin, bahkan akademisi sekalipun, tidak mampu mematenkan hasil temuan dan kreatifitasnya karena membutuhkan biaya mahal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bagi korporasi untuk memperoleh HAKI sangat mudah, tetapi akan menindas masyarakat. Contoh kasus Tukirin (62) dan teman-temannya, petani asal Nganjuk, Jawa Timur diseret ke pengadilan dengan tuduhan mencuri benih perusahaan produsen benih jagung hybrida, PT. &lt;/span&gt;BISI anak perusahaan Charoen Pokphand, konglomerasi usaha input pertanian terbesar di &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt;. Demikian pula Tukirin dituduh melakukan sertifikasi liar atas benih jagung yang mereka patenkan. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tukirin dianggap melanggar pasal Pasal  61 (1) “b”  junto  pasal 14 (1)  UU No.12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Akhirnya Tukirin masuk penjara dua tahun (Ashadi). &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;Dengan dominasi teknologi, korporasi melakukan p&lt;span style="" lang="IN"&gt;enjajahan ruang-hidup (hajat hidup) manusia. Korporasi dicitrakan sebagai wahana pembangunan ekonomi dan alih teknologi serta membuat dunia semakin dekat. Mereka dicitrakan menciptakan ‘desa global’. Akan tetapi, dalam kenyataanya 200 MNCs teratas di dunia sedang menciptakan ‘apartheid ekonomi global’, yaitu ketimpangan kesejahteraan dan akses pada sumberdaya yang luar biasa besar. &lt;i style=""&gt;Apartheid Economy Global &lt;/i&gt;pada dasarnya adalah penjajahan hajat hidup. Hajat hidup bukanlah satu konsep kewilayahan fisik, melainkan seperangkat kebutuhan dasar hidup mencakup pangan, energi, air bersih, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan informasi. Hajat hidup juga mencakup kebebasan menganut kepercayaan, gaya hidup dan pikiran tertentu (Jhamtani, 2004). Secara keseluruhan hak atas hajat hidup berarti hak ekonomi, sosial, dan budaya seperti yang diakui oleh PBB dalam kovenan internasional atas hak ekonomi, sosial dan budaya serta hak untuk membangun. Berdasarkan isi kovenan tersebut, jaminan keamanan atas hajat hidup adalah hak asasi seorang manusia. &lt;i style=""&gt;Apartheid Economy Global&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merampas jaminan keamanan atas hajat hidup tersebut. Penjajahan hajat hidup dilakukan&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;dengan memberikan label&lt;b style=""&gt; ‘industri’ &lt;/b&gt;pada banyak hal yang menyangkut kehidupan. Misalnya, pelayanan kesehatan berubah menjadi industri kesehatan; penyediaan pangan menjadi industri pertanian atau agrobisnis; pendidikan menjadi industri pendidikan; ilmu hayat menjadi industri sains kehidupan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ideologi korporasi adalah laba melalui dominasi pasar dan sumber daya, bukan pemenuhan lapangan pekerjaan atau pemerataan manfaat, atau persaingan yang adil. Melalui manipulasi informasi, mereka mencitrakan diri sebagai agen yang mendorong kesejahteraan masyarakat. Tanpa disadari, korporasi mengambil alih pikiran masyarakat melalui pencitraan iklan dan berita media yang tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seimbang. Dengan kata lain pikiran manusia dijajah oleh kepentingan korporasai untuk memperoleh untuk sebesar-besarnya. Seperti iklan minuman ringan yang diiklankan mengandung nilai gizi yang tinggi dan berimplikasi pada gaya hidup modern, padahal justru minuman ringan tersebut mengandung bahan kimia yang berbahaya kalau dikonsumsi terus menerus dan sama sekali tidak memeliki implikasi gaya hidup, kecuali hanya perasaan saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dilaporkan jurnal ilmiah bahwa banyak anak-anak di Zambia mengidap penyakit &lt;i style=""&gt;‘Fanta Baby’ &lt;/i&gt;karena setiap hari diberi minuman ringan tersebut sebagai ganti makanan bergizi. Demikian juga halnya yang terjadi di Reo de Janeiro, Meksiko dan kota-kota lain. Demikian pula citra yang ditimbulkan iklan krim pemutih: seorang perempuan yang percaya diri berhasil dalam berhubungan dengan para lelaki dan juga baik hati, semua karena krim pemutih. Bahkan perempuan terdidik sekalipun banyak yang terpengaruh dengan iklan tersebut. Nampaknya iklan ini seolah bersifat rasis, karena hanya orang berkulit gelap saja yang menjadi sasaran. Akan tetapi nyatanya tidak. Perusahaan krim pemutih itu juga memproduksi krim yang membuat kulit gelap dan dijual pada negara-negara yang penduduknya berkulit terang dengan pesan sama tetapi berlawanan “kulit berwarna itu cantik”. Artinya konsumen didorong berfikir bahwa ‘menjadi diri sendiri’ itu tidaklah baik, ‘menjadi orang lain’ lebih baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Pikiran bahwa produsen punya hak untuk membentuk citra dan konsumen punya hak memilih dilandasi oleh asumsi bahwa pasar tidak pernah salah. Bahwa semua orang memiliki nalar, pendidikan, dan kebebasan untuk memilih. Tentu saja anggapan dasarnya ini tidak sepnuhnya benar. Para ibu miskin di Afrika sebagai konsumen tidak bisa membaca kandungan apa saja yang terdapat pada minuman ringan. Kalaupun bisa membaca, tidak mengerti bahaya apa bagi kesehatan akibat mengkonsumsi minuman tersebut. Karena itu citra yang mereka lihat, mereka anggap benar. Tetapi akibatnya hak anak-anak mereka atas kesehatan tidak terpenuhi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ada paradigma tertentu yang dibentuk dalam benak masyarakat konsumen, mungkin ini cikal bakal &lt;i style=""&gt;memetic engineering.&lt;/i&gt; Paradigma itu adalah penyeragaman cara berfikir guna memudahkan perusahaan menghasilkan produk yang seragam untuk pasar yang seragam secara global.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Contoh yang paling jelas adalah bagaimana selera makan anak-anak Indonesia dibentuk melalui citra bahwa McDonald, KFC, Pizza Hut, A&amp;amp;W dan makanan cepat saji yang sejenis adalah ‘trendi, enak, modern, murah, bersih, dan sehat’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Penjajahan pikiran diarahkan pada penyeragaman cara berpikir dan dilakukan melalui sistem pendidikan, sistem politik, dan ekonomi, serta media yang seragam, unilateral dan satu arah. Bahkan, dalam sistem negara yang disebut ‘demokrasi’, pikiran dan opini masyarakat sebenarnya, tanpa disadari, dikendalikan melalui propaganda media massa (yang juga dikuasai korporasi), dan sistem pendidikan serta pemerintahan. Seperti dapat dilihat dari cara mencitrakan demokrasi. India, AS, dan Indonesia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dikatakan sebagai negara demokrasi terbesar di dunia. Alasannya karena adanya ‘pemilihan umum yang dinyatakan bebas’. Padahal hajat-hidup dan cara berfikir ketiga negara tersebut berbeda dan masih terjajah. Kebutuhan dasar minimum bagi rakyat India dan Indonesia belum terpenuhi. Padahal rakyat Amerika sendiri sebagian besar tidak dapat berpartisipasi secara berarti dalam proses pembuatan keputusan di dalam negaranya sendiri. Jika masyarakat terdidik seperti AS saja masih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak sadar kalau negara mereka belum berdemokrasi secara sebenarnya, bagaimana dengan sebagain besar rakyat di Dunia Ketiga.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;KEKUATAN-KEKUATAN LOKAL SEBAGAI ALAT PENGHADANG &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Sejak globalisasi dicanangkan, sesungguhnya neoliberalisme telah berhasil menjadi landasan formasi sosial. Banyak korban berjatuhan, terutama masyarakat adat, petani kecil pedesaan, kaum miskin kota, dan golongan marginal lainnya. Namun demikian, sejak saat itu juga muncul banyak gerakan perlawanan-perlawanan dalam berbagai bentuk. Perlawanan pertama datang dari gerakan kultural, seperti gerakan keagamaan yang dikenal dengan gerkan ‘teologi pembebasan’ di Amerika Latin. Di India muncul pula gerakan perlawanan secara kultural sehingga membangkitkan kelompok Hindu Revivalist (Rashtriya Swayamsewak Sangh). Sebagain gerakan kultural itu bersifat lokal dan organisasi-organisasi non pemerintah (ORNOP) seringkali membantu perlawanan kultural semacam itu untuk memperluas gerakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Gerakan perlawanan juga terjadi di Indonesia yang bersifat lokal dan berlatar sosial keagamaan kultural. Seperti yang dialami di berbagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pesantren di Jawa, dan beberapa kasus petani-petani di pedesaan yang dengan kreatifitas dan kearifan lokalnya (&lt;i style=""&gt;local&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;wisdom&lt;/i&gt;) melakukan minimal penolakan bahkan perlawanan. Masing-masing komunitas masyarakat pada dasarnya mengalami problem yang sama terkait dengan gelombang arus hegemoni korporasi. Akan tetapi, masing-masing komunitas memiliki karakter, tradisi, kreatifitas, dan kearifan dalam menghadapi hegemoni korporasi tersebut. Meskipun tidak jarang juga terjadi ketidakpahaman terhadap hegemoni korporasi, sehingga justru mereka menjadi agennya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hasil penelitian Fatchan (2004) tentang pembelotan kyai pesantren di Malang dan Blitar terhadap sistem yang dikembangkan oleh pemerintah dalam budidaya pertanian, yang dibaliknya ternyata adalah neoliberalis dengan politik revolusi hijau, menunjukkan bahwa mereka berhasil menciptakan sistem dan mekanisme sendiri secara kreatif. Dengan kepemimpinan lokal seorang kyai dan sistem kekerabatan sosialnya mampu membangun komunitas strategis untuk melakukan proses-proses pendidikan masyarakat, tanpa harus dipengaruhi oleh himbaun, saran, bahkan provokasi dan intimidasi dari pemerintah melalui aparat desa, dan kecataman serta penyuluh pertanian. Mereka tidak mau bersentuhan dengan sistem pasar yang cenderung menindas petani. Menolak sistem teknologi yang dalam jangka panjang disadari akan merugikan mereka sendiri. Demikian pula menolak sistem tanam yang diajarkan oleh para penyuluh pertanian, karena para penyuluh hanya mendasarkan diri pada teori pertanian, tidak memahami watak dasar tanah dan karakter musim yang ada di wilayah desa mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bentuk-bentuk perlawanan kyai dan masyarakat adalah: (a) menolak pola sewa, tetapi melakukan gadai sawah, (b) menolak pola tanam monokultur, (c) tindakan menolak kredit bank, (d) menolak pelatihan dari pemerintah (penyuluh pertanian), tetapi menerapkan pelatihan sistem &lt;i style=""&gt;sorogan&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;bandongan&lt;/i&gt;, dan (e) Menolak menggunakan pestisida, tetapi meramu racun hama sendiri. (Fatchan, 2004).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kekuatan kyai sebagai &lt;i style=""&gt;local&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;leader&lt;/i&gt;, menyusun strategi untuk membela umat (rakyat) dari usaha-usaha penindasan para pemilik modal (&lt;i style=""&gt;daokeh&lt;/i&gt;) dengan sistem ijon, sewa lahan, kredit bank, dan penindasan lainny begitu cukup wfwktif. Kyai melarang sistem-sistem yang menindas tersebut sekaligus memberikan pendidikan masyarakat, serta memberikan solusinya agar sawah tidak jatuh ke tangan orang lain, dan petani tidak terlilit oleh hutang yang berbunga. Kyai memberi alternatif dengan sistem &lt;i style=""&gt;gadai&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;sawah&lt;/i&gt;. Sistem ini menjadikan sawah tidak jatuh ke tangan pemilik modal, karena sawah digadaikan kepada pondok pesantren, yang hasil sawah tersebut untuk membangun kebutuhan masyarakat, khususnya pembangunan masjid, mushalla dan madrasah. Melalui sarana &lt;i style=""&gt;jam’iyah&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;tahlil&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;pengajian&lt;/i&gt; rutin, kyai membangun kesadaran masyarakat untuk menciptakan sistem sendiri, menolak sistem kapitalis yang akan menjerat mereka sendiri. (Fatchan, 2004:125)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pola budidaya pertanian yang dikembangkan oleh Orde Baru dengan revolusi hijaunya, adalah bersifat monokultur. Sistem intensifikasi tanaman padi di lahan sawah melaui program Bimas-Inmas, Insus-Supra Insus, serta program KUT merupakan program wajib yang dipaksakan kepada seluruh petani. Program ini dikhususkan dalam rangka menuruti kehendak penguasa dalam industrilisasi pangan nasional, yang pada akhirnya mematikan kreatifitas petani, karena petani tidak memiliki alternatif lain dalam usaha pertaniannya. Kyai sebagai pihak yang sangat sadar dengan politik-ekonomi pemerintah ini, melakukan aksi diam-diam mendidik para petani untuk melakukan pola tanam multikultur, atau &lt;i style=""&gt;multiple&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;cropping&lt;/i&gt;, yaitu menaman berbagai macam tanaman dalam satu petak sawah. Tujuan menanam dengan pola ini adalah untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari petani sendiri. Sebab dengan banyaknya tanaman yang ada, kebutuhan akan makanan utama dan tambahan terpenuhi dengan cukup. Seperti sayur, ketela, jagung, canthel, kacang-kacangan, dan tanaman produktif lainnya selain tanaman padi sebagai tanaman utama. Memang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk melakukan pola ini dibutuhkan keahlian dan ketrampilan khusus. Oleh sebab itu kyai, melalui petani-petani yang berhasil secara kreatif mengembangkan pertanian pola multikultur, melakukan pelatihan-pelatihan baik kepada santri maupun kepada para petani lainnya. Pelatihan dilakukan dengan sistem magang dan kerja yang diadaptasi dari sistem &lt;i style=""&gt;sorogan&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;bandongan&lt;/i&gt;. (Fatchan, 2004:150)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Program intensifikasi pertanian yang dikembangkan orde baru dengan proyek Bimas-Inmas, Insus-Supra Insur, sampai KUT didampingi oleh program pemberian fasilitas kredit pertanian yang digunakan sebagai modal usaha pertanian. Di antaranya kredit sarana produksi pertanian berupa pupuk, benih, dan obat-obatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;racun hama, serta uang tunai untuk biaya hidup. Program-program itu awalnya terkenal dengan KUK (Kredit Usaha Tani), KCK (Kredit Candak Kulak), KIK (Kredit Intensifikasi Khusus), Kepedes (Kredit Umum Pedesaan) sampai pada awal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;reformasi muncul KUT (Kredit Usaha Tani). Semua program kredit tersebut proses pengucuran dan pengelolaanya melalui bank-bank yang ditunjuk oleh pemerintah, seperti BRI. BPD, dan BCA. Dalam program ini oleh kyai disikapi dengan menolak seluruh program kredit tersebut. Hal ini karena sistem kredit yang berbunga, meskipun bunganya tergolong kecil, dianggap &lt;i style=""&gt;riba&lt;/i&gt; dan diangap &lt;i style=""&gt;haram&lt;/i&gt; paling tidak &lt;i style=""&gt;makroh&lt;/i&gt;, maka kyai memiliki alternatif dengan memberi pinjaman melalui jam’iyah yasin dan tahlil tanpa bunga sedikitpun. Masalah utama bukan haram atau makrohnya bunga terebut, tetapi pada kemampuan petani dalam mengelola dana pinjaman kredit yang diperolehnya cenderung konsumtif, sehingga akhirnya bisa menjerat mereka yang pada akhirnya sawah mereka akan diambil alih oleh bank jika tidak mampu membayar kredit. Hal inilah yang dikhawatirkan kyai, sebab kalau petani tidak punya sawah, maka akan muncul problem baru yang lebih rumit dalam sistem sosial masyarakat desa. (Fatchan, 2004:143)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kyai dan masyarakat juga memiliki kreatifitas sendiri dalam menghadapi serangan hama tanaman dan serangan produk pestisida sebagai racun hama tanaman oleh proyek korporasi melalui tangan pemerintah dengan program-programnya. Mereka meramu racun sendiri dengan &lt;i style=""&gt;baceman&lt;/i&gt; bahan-bahan yang ada, sabun cuci, minyak tanah, dan bahan alami &lt;i style=""&gt;tuba&lt;/i&gt;. Dengan kreatifitas sendiri ini, mereka terhindar dari pengeluaran beaya tinggi untuk pembelian pestisida dan terhindar pula dari dampak negatif kesehatan atas produksi racun dari pabrik tersebut. (Fatchan, 2004:160)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Hal yang sama dalam wilayah yang berbeda juga terjadi di Madura. Masyarakat bersma kyai menolak proram-program pemerintah yang selama ini diboncengi oleh korporasi-korporasi nasional maupun multinasional. Selama sekian dekade hampir seluruh program pembangunan Madura tidak berhasil, karena resistensi masyarakat terhadap pemerintah sangat kuat. Hal ini karena posisi kyai di Madura cukup dominan di Masyarakat, padahal secara politik para kyai berbeda pilihan politiknya dengan pemerintah. Maka yang terjadi adalah seluruh program pemerintah yang tidak didukung oleh kyai juga tidak didukung oleh masyarakat. Seperti program wajib belajar (Wajar)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendidikan dasar dan menegah, keluarga berencana (KB), posyandu, dan program-program lainnya hampir tidak berjalan dengan baik. (Kuntowijoyo, 2003)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pada kasus pembangunan jembatan Suramadu, pemerintah menggandeng kyai dalam pembebasan lahan dan akses jalan masuk ke jembatan. Untuk akases ke jembatan ini sebagian besar sudah terselesaikan, namun masih saja ada beberapa lahan yang sulit dibebaskan karena aspek mitos dan keperacayaan. Mitos dan kepercayaan menjadi alat untuk melawan dominasi-dominasi korporasi, khususnya dalam penguasaan lahan di Madura. Menjual tanah bagi orang Madura adalah hal yang tabu. Hal ini karena tanah merupakan warisan leluhur, tempat bersemayamnya roh-roh nenek moyang mereka. Oleh sebab itu, kalau mereka menjual tanah berarti menjual roh leluhurnya. Hal inilah yang ditabukan oleh mereka. Problem baru telah muncul dalam pembebasan lahan yang akan disetting menjadi lokasi industri disekitar jembatan Suramadu. Masyarakat menolak penjualan tanah-tanah mereka, karena kepercayaan dan mitos tersebut. (Afandi, 2005)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perlawanan juga terjadi di Wonosari, Gunung Kidul. Masyarakat menolak dominasi penguasa dengan berbagai cara. Mulai dari cara sembunyi-sembunyi, sampai dengan pola perlawanan yang terang-terangan. Dominasi pemilik modal (tengkulak, makelar tanah) yang bersembunyi di ketiak birokrat aparat desa dan kecamatan disiasati dengan berbagai macam strategi. Siasat boikot dan menipu, mensiasasti bantuan sampai mengorganisir perlawan adalah langkah strategis untuk melawan perilaku penguasa yang menindas. (Budisusila: 2000).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Perlawanan ataupun pembelotan pada kenyataannya tidak hanya terjadi di beberapa tempat tersebut di atas, tetapi banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia maupun di negara-negara lain. Perlawanan pada dasarnya terjadi akibat masyarakat merasakan adanya proses yang tidak adil dan menindas. Perlawanan memang bisa terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Hanya apakah perlawanan itu mampu menciptakan kesadaran kolektif sehingga terjadi proses tranformasi sosial. Perlawananpun akan kalah dan mudah ditelan serta digilas oleh gelombang neolibralisme dan kapitalisme manakala perlawanan itu bersifat spontanitas, sporadis, tidak tersistem, dan tidak muncul dari proses pedidikan. Maka dibutuhkan seuatu perlawanan yang konsisten, tersistem, dan dibangun dari proses pendidikan yang membebaskan, sehingga akan terbangun sistem sosial yang adil dan humanis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;PENDIDIKAN KRITIS SEBAGAI ALTERNATIF MENGOKOHKAN KEKUATAN TRADISI DALAM MELAWAN NEOLIBERALISME&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk menolak dan melawan kekuatan neoliberalisme memang tidak mudah. Hal ini karena kekuatan neoliberal mampu memasuki relung-relung hati, perasaan, dan pikiran manusia, disamping mereka menguasai sistem politik, ekonomi dan teknologi. Neoliberalisme dengan konsep konsumerismenya lebih menarik ketimbang konsep kelompok-kelompok yang melawan dan meloknya. Oleh sebab itu, pola efektif apa yang dibangun dalam rangka mencegah dan melawan kekuatan neoliberal tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Pendidikan memang merupakan alternatif pertama dan utama untuk membangun kesadaran masyarakat atas keterjajahan diri oleh orang lain. Hanya masalahnya selama ini justru pendidikan tidak pernah terbebas dari kepentingan politik. Pendidikan tidak bisa terbebaskan dari upaya untuk melanggengkan dan melegitimasi kekuasaan sistem sosial ekonomi. Sehingga pendidikan cenderung sebagai sarana untuk memproduksi sistem dan struktur sosial yang tidak adil. Oleh sebab itu, dibutuhkan sistem pendidikan yang justru membebaskan masyarakat dari dominasi kekuasaan dan ketidakadilan. Pendidikan yang memproduksi sistem kesadaran kritis, seperti menumbuhkan kesadaran kelas, kesadaran gender, dan kesadaran lainnya. Sehingga pendidikan diharapkan akan menghasilkan sebuah gerakan untuk melawan dehumanisasi, eksploitasi kelas, dominasi gender, dan dominasi serta hegemoni budaya lainnya. Pendidikan merupakan sarana untuk memproduksi kesadaran diri dan mengembalikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kemanusiaan manusia. Dalam hal ini pendidikan berperan membangkitkan kesadaran kritis sebagai prasyarat upaya untuk pembebasan. Kesadaran, menurut Paulo Freire (1986), terdapat tiga golongan yaitu: kesadaran magis (&lt;i style=""&gt;magical consciousness&lt;/i&gt;), kesadaran naif (&lt;i style=""&gt;naival&lt;/i&gt; &lt;i style=""&gt;consciousness&lt;/i&gt;), dan kesadaran kritis (&lt;i style=""&gt;critical consciousness&lt;/i&gt;).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Perlu dibangun visi kritis pendidikan terhadap sistem yang dominan sebagai pemihakan kepada yang lemah dan tertindas. Sehingga pendidikan mampu menciptakan sistem sosial baru dan lebih adil. Dalam perspektif kritis pendidikan harus menciptakan ruang untuk mengidentifikasi dan menganalisis secara bebas dan kritis untuk transformasi sosial. Dengan kata lain pendidikan adalah memanusiakan kembali manusia yang mengalami ‘dehumanisasi’ karena sistem dan struktur yang tidak adil. Oleh sebab itu, pola-pola pendidikan yang dapat diterapkan dalam hal ini adalah pola pendidikan andragogi (pendidikan untuk orang dewasa) yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan lingkungan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Saat ini, pengaruh pendidikan yang bermadzhab positivisme sangat dominan hampir seluruh lembaga pendidikan maupun masyarakat. Sehingga pola yang dikembangkan dalam praktek mendidik (proses belajar) cenderung bertolakbelakang dengan semangat pembebasan dan transformasi sosial.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pikiran positivistik seperti obyektifitas, empiris, tidak memihak pada peserta didik, berjarak dengan obyek belajar, rasional, dan bebas nilai menjadikan proses pendidikan sangat dominatif dan menumpas benih-benih emansipatoris. Penyelenggaraan pendidikan yang berwatak positivistik merupakan proses fabrikasi dan mekanisasi pendidikan untuk memproduksi keluaran pendidikan yang harus sesuai dengan pasar kerja. Proses belajarnya juga tidak toleran dengan segala bentuk &lt;i style=""&gt;non positivistic ways of knowing&lt;/i&gt; yang disebut sebagai tidak ilmiah. Pendidikan menjadi ahistoris, yakni mengelaborasi model masyarakat dengan mengisolasi banyak variabel&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dalam model tersebut. Peserta didik wajib tunduk pada struktur yang ada dan mencari cara agar peran, norma, dan nilai-nilai dapat diintegrasikan dalam rangka melanggengkan sistem tersebut. Asumsi yang mendasari pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tersebut adalah bahwa tidak ada masalah yang terjadi dalam sistem yang ada, masalahnya terletak pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sikap mental, pengetahuan, dan ketrampilan peserta didik saja, termasuk kreatifitas, motivasi, dan keahlian peserta didik. Oleh karena itu dalam perspektif positivisme pendidikan lebih dimaksudkan sebagai proses untuk mencerdaskan, membuat orang menjadi trampil, dan ahli. Sementara komitmen, keyakinan, dan kepercayaan terhadap sistem yang lebih adil dan motivasi utnuk melawan struktur sosial yang ada tidak dilakukan, namun lebih sibuk menfokuskan pada bagaimana membuat sistem yang ada bekerja. (Topatimasang, 2005: xvi)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Oleh karena itu dibutuhkan paradigma kritis dalam proses pendidikan. Yaitu paradigma yang memanusiakan manusia. Pendidikan yang berpihak kepada peserta didik untuk mampu bangkit membangun kesadaran sosial, sehingga mampu bangkit untuk melakukan transformasi sosial. Pendidikan yang demikian ini harus dibangun relasi lingkungan dan penciptaan sistem prasarana penyelenggaraan pendidikan yang demokratis. Dalam sistem prasaran yang otoriter dan tidak demokratis, sulit bagi pendidik untuk memerankan peran kritisnya. Dengan demikian langkah strategis terpeniting adalah menciptakan proses belajar yang otonom dan partisipatoris dalam pengembangan kurikulum, dan penciptaan ruang bagi proses belajar bagi perserta didik untuk menjadi diri mereka sendiri. Dengan demikian setiap pendidikan adalah otonom dan unik untuk menjadi diri mereka sendiri. Jika demokratisasi pendidikan terjadi, maka akan melahirkan masyarakat yang otonom dan demokratis pula. Akhirnya masyarakat yang demokratis akan menyumbangkan lahirnya bangsa yang demokratis.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Dibutuhkan peran pendidik (kyai, guru, tokoh masyarakat) sebagai &lt;i style=""&gt;local leader&lt;/i&gt; yang mampu menjadi pendidik-pendidik yang berjiwa kritis dan emansipatoris. Sehingga akan muncul komunitas-komunitas masyarakat yang kritis, otonom dan demokratis. Masyarakat yang terbebaskan dari belenggu-belenggu sistem yang menjajah, karena memiliki kesadaran diri dan mampu melawan sistem yang menjajah tersebut. Sehingga akhirnya akan terjadi proses transformasi sosial sebagai hasil dari proses pendidikan kritis yang membebaskan tersebut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Afandi, Agus, dkk. (2005) &lt;i style=""&gt;Catatan Pinggir di Tiang Pancang Suramadu, &lt;/i&gt;Yogyakarta: Arrus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Ashadi, Ridho Saiful, &lt;i style=""&gt;Paten Benih Menyeret Petani Jagung ke Meja Hijau&lt;/i&gt;, &lt;/span&gt;http://www.walhi.or.id/ kampanye/psda/050928_benihjagung_cu/  &lt;span style=""&gt; &lt;span lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Bourdieu, Pierre (2003) “Kritik terhadap Neoloberalosme: Utopia Eksploitasi tanpa Batas menjadi Kenyataan” dalam &lt;i style=""&gt;Basis, &lt;/i&gt;November&lt;i style=""&gt;-&lt;/i&gt;Desember&lt;i style=""&gt; 2003.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Budisusila, A. Dan Gito Haryanto (2000), “ Gerakan Perlawanan Rakyat terhadap Dominasi Kekuasaan: Studi Kasus di Wonosari, Gunung Kidul Yogyakarta” dalam &lt;i style=""&gt;Wacana&lt;/i&gt; Ed.5 tahun II. Yohyakarta: Insist Press.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Faqih, Mansour (2000) “Pembangunan: Pelajaran Apa yang Kita Peroleh?” dalam &lt;i style=""&gt;Wacana,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;Ed. 5 Tahun II&lt;i style=""&gt;. &lt;/i&gt;Yogyakarta: Insist Press.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Fatchan, Ach. Dan Basrowi (2004), &lt;i style=""&gt;Pembelotan Kaum Pesantren dan Petani di Jawa.&lt;/i&gt; Surabaya: Yayasan Kampusiana.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Freire, Paulo (1986), &lt;i style=""&gt;Pedagogy of the Oppressed, &lt;/i&gt;New York: Praeger.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Herry-Priyono, B. (2004)”Marginalisasi ala Neo Liberal” dalam &lt;i style=""&gt;Basis &lt;/i&gt;Mei-Juni, 2004.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Jhamtani, Hira (2005), “Kuasa Korporasi: Penjajahan Pikiran dan Ruang-hidup” dalam &lt;i style=""&gt;Wacana, &lt;/i&gt;Ed. 19, Tahun VI, Yogyakarya: Insist Press.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Kuntowijoyo (2003) &lt;i style=""&gt;Radikalisme Petani. &lt;/i&gt;Yogyakarta:&lt;i style=""&gt; &lt;/i&gt;Gerbang&lt;i style=""&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;Topatimasang, Roem, Dkk. (2005) &lt;i style=""&gt;Pendidikan PopulerMembangun Kesadaran Kritis, &lt;/i&gt;Yogyakarta: Insist Press.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt; &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-1079740988037258950?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/1079740988037258950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=1079740988037258950' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/1079740988037258950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/1079740988037258950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/04/kekuatan-tradisi-lokal-sebagai-wisdom.html' title='KEKUATAN TRADISI LOKAL SEBAGAI WISDOM YANG MEMBEBASKAN MASYARAKAT DARI BELENGGU KEKUATAN NEOLIBERALISME'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-4182317395601962477</id><published>2009-04-25T05:36:00.002-07:00</published><updated>2009-04-25T06:07:59.828-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pekerjaan sosial'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendekatan modern. integrasi pendekatan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='makalah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='religious'/><title type='text'>PENDEKATAN MODERN:INTEGRASI PENDEKATAN AGAMA DAN PEKERJAAN SOSIAL</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mohamad Paputungan, S.Ag &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Abstrak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangannya, Iptek acap kali berbenturan atau dibenturkan dengan agama yang berakibat pada kegagalannya dalam misi kemanusian yang dilandasi pada bingkai humanis , demokratis dan berkeadilan. Distorsi ini juga dapat dialami oleh profesi pekerjaan sosial sebagai aktivitas kemanusiaan yang abai terhadap nilai-nilai keagamaan di satu sisi dan misi  kemanusiaan oleh agama yang tidak dibingkai oleh keilmuan pada sisi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integrasi antara keduanya dalam praktek pekerjaan sosial merupakan sebuah keharusan sebab pendekatan moderen dan agama dalam praktek pekerjaan sosial merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan. Namun, pertanyaan kemudian adalah Dimana letak urgensi integrasi antara praktek peksos modern dan keagamaan tersebut.?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pembahasan ini, paling tidak ada tiga kesimpulan yang dapat di kemukakan: Pertama, Ambruknya ideologi raksasa seperti kapitalime yang terbukti dangkal dalam menuntaskan masalah kemanusiaan bahkan melahirkan berbagai patalogi sosial, memberikan peluang sekaligus tantangan bagi pendekatan keagaman dalam wacana keilmuan terutama pekerjaan sosial untuk dapat memberikan jalan alternative terhadap kemajuan peradaban dalam bingkai nilai-nilai universal religius yang humanis, demokratis dan berkeadilan. Kedua, Konsekwensi pemahaman keagaman yang kaku dan tidak bersifat scientific justru akan memunculkan berbagai stigmatisasi negative terhadap peran penting agama dalam relasi kemanusiaan sesuai mandat pekerjaan sosial. Stigmatisasi tersebut berpandangan bahwa agama adalah dogmatism, rigidity dan gender bias,  excessive self-blaming,  Fatalistik dan status quo serta  dianggap tidak peduli dengan urusan kekinian di dunia. Ketiga, Bahwa baik pendekatan keagamaan maupun moderen yang tidak diintegrasikan, dapat menuai kegagalan dalam praktek pekerjaan sosial. Dengan kata lain, baik Pengetahuan rasionalis (bi-logical) dan spiritual serta pendekatan keagamaan yang tercerai berai dan cenderung saling mengalienasi           sama-sama berpotensi untuk gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENDAHULUAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernitas dan perkembangan zaman telah menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih dengan berbagai dampak positif sekaligus negatif. Nilai positif dapat terlihat apa yang dianggap gaib dan tidak mungkin di masa silam menjadi nyata dan fakta dimasa kini. Sedangkan ekses negativnya terlihat ketika ilmu  pengetahuan dan teknologi diper-Tuhan-kan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa ingin tahu manusia mendorongnya tidak segera puas pada satu penemuan saja.  Pertumbuhan bangun ilmu pengetahuan dan ideology pun terus menjamur, selanjutnya tumbang dan berganti lagi dengan bangun keilmuan dan idelogi yang baru. Lingkaran ketidak pastian ini berlanjut atas dasar paradigma rasionalis - empris                  disatu pihak dan alienasi terhadap agama pada pihak lain. Akibatnya adalah manusia ditawan dan dibingungkan oleh hasil penemuan dan perilakunya sendiri dengan lahirnya masalah baru   yang lebih kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kegamangan ilmu pengetahuan dan lahirnya kemanusiaan yang berpenyakit tersebut, peran agama kembali mendapat perhatian setelah teralienasi sejak pasca ranaisance.  Demikian halnya dalam ilmu pengetahuan seperti ilmu psikologi terapi yang menekankan pada teori klinis/mekanis dan mengesampingkan peran keagamaan/spiritualitas dan kemudian terbukti mengalami ketimpangan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Asumsi dari Modernistas Science seperti; Naturalism, Atheism, Determinism, Universalism, Reductionism/Atomism, Materialism, Ethical relativism, Ethical hedonism, Positivism, Classical/Naive realism, Empiricism dan Sigmund Freud  ahli psikoanalisa dimana kesemuanya memandang sebelah mata peran penting agama telah menemukan kegagalan argumentasi, pendapat dan teori-teorinya. Demikian pernyataan Andayani  dalam materi kuliah peksos berbasis agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebangkitan Spiritual dalam ilmu pengetahuan adalah sekitar tahun 80-an, theistic world views (pandangan dunia keagamaan). Hal tersebut, diakui sebagai aspek penting yang mempengaruhi perkembangan dan pemenuhan diri manusia seperti: (Theistic World Views) percaya bahwa eksistensi dari A Supreme Being dan Human Beings sebagai agen yang bertanggung jawab, bukan mesin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam menghadapi nestapa manusia era modern tingkat lanjut seperti sekarang ini, pemahaman keagamaan perlu ditransformasikan sehingga dapat memenuhi harapan esensial dari ajaran agama itu sendiri dalam menyumbangkan sesuatu yang menyejukkan, menentramkan dan bukan menjadi sumber keruwetan. Ummat beragama juga perlu memahami bahwa fenomena-fenomena agama selain melibatkan wahyu, juga lengket dengan fenomena cultural, tradisi, adat istiadat, habit of mind, dan begitu seterusnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejalan dengan uraian diatas, praktek pekerjaan sosial menyangkut kedua pendekatan (Agama-Modern) pun merupakan dua sisi mata uang yang tidak dapat terpisahkan. Pertanyaan kemudian adalah Bagaimana antara praktek peksos modern dan pendekatan keagamaan tersebut dapat diintegrasikan? Hal inilah yang akan menjadi fokus bahasan lebih lanjut.&lt;br /&gt;Agama dan Pekerjaan Sosial&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasan ini sebaiknya diawali dengan pemaparan secara singkat menyangkut pemahaman-pemahaman Agama dan Pekerjaan sosial sehingga kemudian dapat dengan mudah menelisik lebih dalam pada aspek-aspek dimana urgensi integrasi antara pendekatan keagamaan dan pendekatan modern dalam praktek pekerjaan sosial. Agama dalam konteks ini akan  didefinisihkan secara operasional sehingga dapat dipahami lebih membumi sedangkan pendekatan modern pekerjaan sosial akan di artikulasikan kedalam wacana keilmuan modern pekerjaan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemahaman Agama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu definisi yang dapat mewakili secara keseluruhan tentang agama yang begitu banyak ragam dan jenisnya bukanlah mudah bahkan mungkin tidak dapat dilakukan. Namun mendefinisikannya haruslah tetap dilakukan untuk dapat membatasi arah sesuai tujuan pendefinisian dimaksud. Dalam kaitan itu, ada beberapa pendapat yang akan dikemukakan dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama bagi Giddens (2005)  adalah media pengorganisasian bagi kepercayaan yang tidak sekedar satu arah. Bukan hanya iman dan kekuatan religius yang menyediakan dukungan yang secara takdir dapat dijadikan sandaran: Demikian juga para fungsionaris keagamaan. Yang terpenting adalah bahwa kepercayaan religius biasanya menginjeksikan reliabilitas  ke dalam pengalaman pelbagai peristiwa dan situasi dan dari suatu kerangka&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Agama juga disinonimkan dengan Religion berasal dari kata Latin “religio”, berarti  “tie-up” dalam bahasa Inggris, Religion dapat diartikan “having engaged ‘God’ atau ‘The Sacred Power’.&lt;br /&gt;Secara umum di Indonesia, Agama dipahami sebagai sistem kepercayaan, tingkah laku, nilai, pengalaman dan  yang terinstitusionalisasi, diorientasikan kepada masalah spiritual/ritual yang disalingtukarkan dalam sebuah komunitas dan diwariskan antar generasi dalam tradisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari beberapa pemahaman diatas, dapat ditarik beberapa point tentang pengertian agama bahwa agama adalah kodifikasi kepercayaan, praktik ibadat, hukum etika, keanggotaan   denominasi, eksternal dan memasukkan spiritualitas di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penegasan yang ingin ditekankan pada pemahaman keagamaan disini adalah bahwa konsekwensi pemahaman keagaman yang kaku dan tidak bersifat scientific justru akan memunculkan berbagai stigmatisasi negative terhadap peran penting agama dalam relasi kemanusiaan sesuai mandat pekerjaan sosial. Stigmatisasi tersebut berpandangan bahwa agama adalah dogmatism, rigidity dan gender bias,  excessive self-blaming,  Fatalistik dan status quo serta  dianggap tidak peduli dengan urusan kekinian di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa itu  Pekerjaan Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan sosial adalah profesi kemanusiaan yang telah lahir cukup lama. Sejak kelahirannya sekitar 1800-an.  Purifikasi peksos terus berlanjut sejalan dengan tuntutan perubahan dan aspirasi masyarakat. Namun demikian, seperti halnya profesi lain (Guru, Dosen, Dokter), fondasi dan prinsip dasar pekerjaan sosial tidak mengalami perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekerjaan sosial berbeda dengan profesi lain, semisal psikolog, dokter atau psikiater. Dalam praktek kerjanya dia senantiasa harus melibatkan aspek-aspek diluar klien dalam penyelesaian masalahnya. Artinya, bahwa mandat utama pekerja sosial adalah memberikan pelayanan sosial baik kepada individu, keluarga, kelompok, maupun masyarakat yang membutuhkannya  sesuai dengan nilai-nilai, pengetahuan dan ketrampilan professional pekerjaan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, pekerjaan sosial juga merupakan aktivitas professional untuk menolong individu, kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan atau memperbaiki kapasitas mereka agar berfungsi sosial dan menciptakan kondisi-kondisi masyarakat yang kondusif untuk mencapai tujuan dimaksud. Sebagai suatu aktivitas professional, pekerjaan sosial dilandasi dengan vondamen utama berupa; kerangka pengetahuan, kerangka keahlian dan kerangka nilai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konferensi internasional di Montreal Kanada, juli 2000, IFSW mendefinisikan pekerjaan sosial sebagai Profesi yang mendorong pemecahan masalah dalam kaitannya dengan relasi kemanusiaan. Perubahan sosial, pemberdayaan dan pembebasan manusia, serta perbaikan masyarakat. Menggunakan teori-teori perilaku  manusia dan sistem-sistem sosial. Pekerjaan sosial melakukan intervensi pada titik dimana orang berinteraksi dan keadilan sosial merupakan sangat penting bagi pekerjaan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendekatan Modern dalam Praktek Pekerjaan Sosial &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai aktivitas kemanusiaan yang sejak kelahirannya sekian abad yang lalu, Pekerjaan Sosial telah memiliki perhatian yang mendalam pada pemberdayaan masyarakat miskin. Prinsip-prinsip pekerjaan sosial, seperti ‘menolong orang agar mampu menolong dirinya sendiri’ (to help people to help themselves), ‘penentuan nasib sendiri’ (self determination), ‘bekerja dengan masyarakat’ (working with people dan bukan ‘bekerja untuk masyarakat’ atau working for people), menunjukkan betapa pekerjaan sosial memiliki komitmen yang kuat terhadap pemberdayaan masyarakat dan bahwa pekerjaan sosial merupakan profesi yang populis dan tidak elitis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai suatu aktivitas professional, pekerjaan sosial dilandasi dengan vondamen utama berupa; kerangka pengetahuan, kerangka keahlian dan kerangka nilai. Dalam praktek pekejaan sosial ini, ditujukan untuk terapi sosial dalam upaya mewujudkan keberfungsian sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyembuhan sosial sendiri oleh Suharto,  dikategorikan kedalam dimensi pendekatan macro dan micro. Pendekatan mikro merujuk pada berbagai keahlian dan ketrampilan pekerja sosial dalam mengatasi  masalah yang dihadapi oleh individu berupa problem psikologi (Stess dan depresi, hambatan relasi, penyesuaian diri, kurang percaya diri, alienasi atau kesepian dan keterasingan, apatisme dan gangguan mental. Sedangkan metode utama yang digunakan pekerja sosial dalam setting mikro tersebut adalah terapi perseorangan (casework) dan terapi kelompok (gruopwork) yang didalamnya melibatkan terapi berpusat pada klien, terapi perilaku, terapi keluarga dan terapi kelompok. Pendekatan makro adalah penerapan metode dan teknik pekerjaan sosial dalam mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat dan lingkungannya (system sosial), seperti kemiskinan, ketelantaran, ketidak adilan sosial, dan eksploitasi sosial. Tiga metode utamanya berupa terapi masyarakat (Community development) popular dengan nama Pengembangan masyarakat, Manajemen pelayanan kemanusiaan (human service management) atau terapi kelembagaan dan analisis kebijakan sosial (social policy analysis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan utama antara community work, human service management dan social policy analysis adalah jika dua metode yang pertama merupakan pendekatan pekerjaan sosial dalam praktek langsung dengan kliennya, maka analisis kebijakan sosial merupakan metode pekerjaan sosial dalam praktik tidak langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pemberdayaan misalnya, sebagaimana dikemukakan Ife ,  pemberdayaan memuat dua pengertian kunci, yakni kekuasaan dan kelompok lemah. Kekuasaan di sini diartikan bukan hanya menyangkut kekuasaan politik dalam arti sempit, melainkan kekuasaan atau penguasaan klien, Pilihan-pilihan personal dan kesempatan-kesempatan hidup: Pendefinisian kebutuhan: Ide atau gagasan: kemampuan mengekspresikan dan menyumbangkan gagasan dalam suatu forum atau diskusi secara bebas dan tanpa tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pemberdayaan dan Praktek Pekerjaan Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan Modern dalam praktek pekerjaan sosial dalam pencapaian tujuan pemberdayaan di atas dicapai melaui penerapan pendekatan pemberdayaan yang meliputi: (1) Pendekatan Mikro, (2) Pendekatan Mezzo, dan Pendekatan Makro&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan Mikro menekankan bahwa pemberdayaan dilakukan terhadap klien secara individu melalui bimbingan, konseling, stress management, crisis intervention. Tujuan utamanya adalah membimbing atau melatih klien dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Model ini sering disebut sebagai Pendekatan yang Berpusat pada Tugas (task centered approach).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan Mezzo memfokuskan pemberdayaan dilakukan terhadap sekelompok klien. Pemberdayaan dilakukan dengan menggunakan kelompok sebagai media intervensi. Pendidikan dan pelatihan, dinamika kelompok, biasanya digunakan sebagai strategi dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap klien agar memiliki kemampuan memecahkan permasalahan yang dihadapinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan Makro disebut juga sebagai Strategi Sistem Besar (large-system strategy), karena sasaran perubahan diarahkan pada sistem lingkungan yang lebih luas. Perumusan kebijakan, perencanaan sosial, kampanye, aksi sosial, lobbying, pengorganisasian masyarakat, manajemen konflik, adalah beberapa strategi dalam pendekatan ini. Pendekatan ini memandang klien sebagai orang yang memiliki kompetensi untuk memahami situasi-situasi mereka sendiri, dan untuk memilih serta menentukan strategi yang tepat untuk bertindak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prinsip Pekerjaan Sosial &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Prisip pekerjaan sosial dalam dimensi pemberdayaan tersebut dapat doformulasikan sebagai berikut: (1) Pemberdayaan adalah proses kolaboratif dengan mana masyarakat / Klien  dan pekerja sosial bekerjasama sebagai partner, (2) Proses pemberdayaan menempatkan masyarakat miskin sebagai kompeten dan mampu menjangkau sumber-sumber dan kesempatan-kesempatan.(3) Masyarakat/Klien harus melihat diri mereka sendiri sebagai agen penting yang dapat mempengaruhi perubahan. (4) Kompetensi diperoleh atau dipertajam melalui pengalaman hidup, khususnya pengalaman yang memberikan perasaan mampu pada masyarakat miskin. (5) Solusi-solusi, yang berasal dari situasi khusus, harus beragam dan menghargai keberagaman yang berasal dari faktor-faktor yang berada pada situasi masalah tersebut. (6) Jaringan-jaringan sosial informal merupakan sumber dukungan yang penting bagi penurunan ketegangan dan meningkatkan kompetensi serta kemampuan pengendalian seseorang. (7) Masyarakat miskin harus berpartisipasi dalam pemberdayaan mereka sendiri: tujuan, cara dan hasil harus dirumuskan oleh mereka sendiri. (8) Tingkat kesadaran merupakan kunci dalam pemberdayaan, karena pengetahuan dapat memobilisasi tindakan bagi perubahan. (9) Pemberdayaan melibatkan akses terhadap sumber-sumber dan kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber tersebut secara efektif.  Dan  (10) Proses pemberdayaan besifat dinamis, sinergis, berubah terus, evolutif; permasalahan selalu memiliki beragam solusi.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teknik dalam Pekerjaan Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dubois dan Miley  memberi beberapa cara atau teknik yang lebih spesifik yang dapat dilakukan dalam pemberdayaan masyarakat: &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Membangun relasi pertolongan yang: (a) merefleksikan respon empati; (b) menghargai pilihan dan hak klien menentukan nasibnya sendiri (self-determination); (c) menghargai keberbedaan dan keunikan individu; (d) menekankan kerjasama klien (client partnerships).&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Membangun komunikasi yang: (a) menghormati martabat dan harga diri klien; (b) mempertimbangkan keragaman individu; (c) berfokus pada klien; (d) menjaga kerahasiaan klien. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Terlibat dalam pemecahan masalah yang: (a) memperkuat partisipasi klien dalam semua aspek proses pemecahan masalah; (b) menghargai hak-hak klien; (c) merangkai tantangan-tantangan sebagai kesempatan belajar; (d) melibatkan klien dalam pembuatan keputusan dan evaluasi. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Merefleksikan sikap dan nilai profesi pekerjaan sosial melalui: (a) ketaatan terhadap kode etik profesi; (b) keterlibatan dalam pengembangan profesional, riset, dan perumusan kebijakan; (c) penterjemahan kesulitan-kesulitan pribadi ke dalam isu-isu publik; (d) penghapusan segala bentuk diskriminasi dan ketidaksetaraan kesempatan. &lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Contoh pembahasan dalam dimensi pemberdayaan di atas menunjukkan bagaimana pendekatan modern dalam praktek pekerjaan sosial dilakukan. Praktek pekerjaan tersebut terlihat sebagai sebuah pendekatan yang dilandasi oleh kerangka keilmuan, kerangka keahlian dan kerangka nilai dalam aktivitas professionalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendekatan Agama dalam Praktek Pekerjaan Sosial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan modernisme yang bertumpu pada rasionalitas dengan sistem berfikir bi-logical, agama memiliki nilai spiritualitas yang berfungsi secara transenden; Hanya spiritualitas yang mampu memaafkan kejadian yang menyakitkan dan traumatis. Dalam konteks inilah seorang pekerja sosial melalui pendekatan agama akan mampu sensitive dan responsive terhadap kebutuhan spiritualitas klien sebagai mahluk yang Unik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal intervensi kesehatan mental misalnya, peran spiritualitas sebagai bagian integral dari agama sangat memegang peranan penting untuk keberhasilan intervensi pada klien mengingat dalam spiritulitas sesungguhnya terkandung daya dimana klien dapat beradaptasi dalam menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks tradisional sendiri, berbagai program kemanusian dimana peran pekerja sosial inklut didalamnya telah banyak dilaksanakan oleh berbagai agama sebagai pembawa misi kemanusiaan. Namun landasan tersebut lebih bersifat karikatif dan belas kasih belaka sehingga yang terjadi kemudian adalah acap kali menimbulkan ketergantungan klien terhadap pekerja sosial. Dengan kata lain tidak menyentuh aspek substansial keberfungsian sosial sebagaimana yang di maksudkan oleh pendekatan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberfungsian sosial menitik beratkan pada kemandirian klien dan menjauhkannya pada sifat-sifat ketergantungan. Maka itu, karikatif dan rasa belas kasih semata sangat tidak sejalan dengan ruh pekerjaan sosial sebab pada gilirannya hanya akan menimbulkan sifat ketergantungan dan bukan kemandirian. Hal ini dapat terlihat pada penyaluran zakat misalnya yang kemudian hanya disalurkan secara tradisional-konsumtif sehingga penerima tetap pada posisi sebagai penerima dan tidak berfikir bagaimana pada kesempatan berikutnya dapat menjadi pemberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Urgensi Integrasi Pendekatan Agama dan Modern dalam Pekerjaan Sosial &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam memberikan pengantarnya terhadap buku Caputo “ Agama Cinta Agama Masa Depan”, Sugiharto  berargumen bahwa Untuk menjadi sungguh-sungguh berarti kembali, maka agama perlu melakukan kritik-diri secara structural, mengenali persoalan-persoalan mendasar dunia modern, dan mampu menawarkan visi peradaban dan kemanusiaan yang baru. Tanpa itu, ia hanya akan berakhir sebagai kekuatan disintegrasi peradaban paling mengerikan, atau semangat nostalgis naif yang berbahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara substansial pernyataan tersebut mengandung makna bahwa sesungguhnya peran agama dalam praktek  pekerjaan sosial sangat urgen mengingat adanya tanggung jawab etis peksos terhadap klien dan terhadap masyarakat yang juga terinternalisasi dalam nilai-nilai universal keagamaan. Namun, hal yang sangat ironis adalah tingginya signifikansi agama dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia, tidak dibarengi dengan perkembangan yang memadai dalam hal  integrasi pendekatan agama dalam ilmu-ilmu sosial dan pendampingan masyarakat.  Agama nampaknya hanya bersifat experential, yang kita dapatkan dan pelajari dari pengalaman, tapi tidak bersifat  scientific.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekatan agama dalam terapi klinikal ataupun pemberdayaan masyarakat secara luas, misalnya, masih bersifat tradisional karena belum dikembangkan secara  ilmiah. Pendekatan agama, dengan demikian, tidak ”layak” sebagai bagian dari pendekatan modern dan selanjutnya, tidak mampu menjadi  model intervensi dan pendampingan di masyakarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, integrasi terhadap kedua jenis pendekatan (modern dan Agama) merupakan sebuah keharusan dengan mengemukakan beberapa alasan : (1) Secara historis dan filosofis, Peksos memiliki pertalian erat dengan agama. Sejarah telah membuktikan bahwa pekerjaan sosial sendiri tumbuh dan berkembang dari kalangan agamais (Kristen katolik di Inggris). Sedangkan secara filosofis baik peksos dan agama, sama-sama menaruh perhatian pada aspek mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan tanpa pilih buluh. (2) Peksos dan spiritualitasdan agama  saling belajar dan memberi kontribusi satu sama lain.(3) Pengetahuan tentang spiritualitas dan agama  membantu peksos membangun kosmologi dan antropologi spiritual. (4) Tidak ada alasan peksos dan pemimpin agama untuk tidak berkerjasama. Hal ini dilandasi oleh keyakinan bahwa sesungguhnya islam baik dan relevan di setiap masa dan tempat&lt;br /&gt;Dalam agama islam sendiri, keterpautan antara Ilmu pengetahuan  dan ajarannya sangatlah erat (Al–Islam Shalih Li Kulli Zaman Wa Makan).  Bahkan para ilmuan seperti Ernest Gellner  misalnya,  berpendapat bahwa sesungguhnya Islam merupakan agama yang transformatif dan bahkan menurutnya, Islamlah yang paling memiliki kedekatan dengan ilmu pengetahuan. Pengakuan ini dijelaskannya dalam beberapa aspek sebagai berikut: Pertama, universalisme ajaran Islam, yakni prinsip-prinsip ajaran Islam dapat diterapkan dimana saja dan kapan saja bahkan Islam mapu menyerap tradisai dan budaya lokal. Kedua, Skripulisme Islam,  bahwa Islam mengajarkan bahwa kitab suci dapat dibaca dan dipelajari oleh siapa saja, bukan monopoli kelompok tertentu dalam hirarki keagamaan. Ketiga, Egalitarianisme spiritual,  dalam arti tidak terdapat sistem kependetaan atau kerahiban dalam Islam, setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai prestasi spiritualnya. Keempat, Sistematis rasional dalam kehidupan sosial. Kelima, Semangat keilmuan yang tinggi, sehingga setiap pemeluk Islam meyakini betapa tingginya penghargaan Islam terhadap ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa pengintegrasian antara pendekatan agama dan pendekatan moderen dalam pekerjaan sosial merupakan sebuah keniscayaan. Baik ilmu pengetahuan dan agama yang saling tidak bertegur sapa, telah terbukti secara faktual mengalami kegagalan dalam melakukan misi kemanusiaannya. Melalui pembahasan yang komparatif ini, terlihat bahwa integrasi antara keduanya adalah sebuah keharusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kesimpulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ambruknya ideology raksasa seperti kapitalime yang terbukti dangkal dalam menuntaskan masalah kemanusiaan bahkan melahirkan berbagai patalogi sosial, memberikan peluang sekaliguis tantangan bagi pendekatan keagaman dalam wacana keilmuan terutama pekerjaan sosial untuk dapat memberikan jalan alternative terhadap kemajuan peradaban dalam bingkai nilai-nilai universal religius yang humanis , demokratis dan berkeadilan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konsekwensi pemahaman keagaman yang kaku dan tidak bersifat scientific justru akan memunculkan berbagai stigmatisasi negative terhadap peran penting agama dalam relasi kemanusiaan sesuai mandat pekerjaan sosial. Stigmatisasi tersebut berpandangan bahwa agama adalah dogmatism, rigidity dan gender bias,  excessive self-blaming,  Fatalistik dan status quo serta  dianggap tidak peduli dengan urusan kekinian di dunia.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bahwa baik pendekatan keagamaan maupun moderen yang tidak diintegratif dan saling bekerja sama, dapat menuai kegagalan dalam praktek pekerjaan sosial. Dengan kata lain, baik Pengetahuan rasionalis (bi-logical) dan spiritual serta pendekatan keagamaan yang tercerai berai dan cenderung saling mengalienasi sama-sama berpotensi untuk gagal.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah, Amin, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jurnal Filsafat dan Teologi: Hak Asasi Manusia Tantangan Bagi Agama&lt;/span&gt;, (Yogyakarta: Kanisius, 1998)&lt;br /&gt;Caputo, D. Jhon,&lt;span style="font-style: italic;"&gt;  Agama Cinta Agama Masa Depan&lt;/span&gt;, (Bandung : Mizan, 2003)&lt;br /&gt;DuBois, Brenda dan Karla Krogsrud Miley, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Social Work: An Empowering Profession&lt;/span&gt;, (Boston: Allyn and Bacon, 1992)&lt;br /&gt;Gellner, Ernest,  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Muslim Society&lt;/span&gt;, (Cambridge University Press, 1981)&lt;br /&gt;Giddens, Anthony, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Konsekwensi-Konsekwensi Modernitas,&lt;/span&gt; (Yogyakarta:Kreasi Wacana, 2005)&lt;br /&gt;IISEP, CIDA, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Islam Dakwah dan Kesejahteraan Sosial,&lt;/span&gt; (Yogyakarta:Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fak. Dakwah UIN SUKA, 2005)&lt;br /&gt;Ife, Jim, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Community Development: Creating Community Alternatives,Vision, Analysis and Practice&lt;/span&gt;, (Longman, Australia, 1995)&lt;br /&gt;Suharto, Edi, M&lt;span style="font-style: italic;"&gt;embangun Masyarakatm, Memberdayakan Rakyat; Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial,&lt;/span&gt; (Bandung : Revika Aditama, 2005)&lt;br /&gt;Suparjan dan Suyatno, Hempri, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pengembangan Masyarakat dari Pembangunan samapi Pemberdayaan,&lt;/span&gt; (Yogyakarta : Aditya Media, 2003)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-4182317395601962477?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/4182317395601962477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=4182317395601962477' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/4182317395601962477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/4182317395601962477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/04/pendekatan-modernintegrasi-pendekatan.html' title='PENDEKATAN MODERN:INTEGRASI PENDEKATAN AGAMA DAN PEKERJAAN SOSIAL'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-4427846913028644419</id><published>2009-04-23T09:09:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T10:07:35.698-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Adolescent'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='education'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psychology'/><title type='text'>Adolescent Hoax</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A. Introduction &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;style type="text/css"&gt;  &lt;!--   @page { margin: 2cm }   P { margin-bottom: 0.21cm }  --&gt;  &lt;/style&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Phenomena adolescent  like a monkey black circle that is not complete since the end of the first until now. Experts from various scientific disciplines have attempted criticize this problem. However, it seems teenagers hoax from year to year is always a significant improvement. The problem of quality is increasingly complex. This along with the complexity race onrush of modernization to stop in various parts of the world, especially Indonesia. In Indonesia, the adolescent naughtiness is not the monopoly is just urban youth, but youth-teenagers who live in rural areas has also been affected by the virus began.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Adolescents dido in the study of social science entry in deviant behavior. Deviant behavior in the perspective of social problems occur because there is a diversion from the various behavioral rules or social values and social norms that apply. Deviant behavior can be considered as a source of problems because it can endanger perpendicularity social system. The use of the concept of deviant behavior in the implicit meaning that there are lines that should be standard. Behavior that is not through these means have been deviant. &lt;code&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/code&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Deviant behavior in the life of the community is also called the social pathology or social disease. Social pathology if left alone it can disrupt social stability. Disturbed  social stability will be the symptoms of chaos or chaos. Therefore, the dido adolescent problems can not be considered as a matter of simple or even considered to be reasonable. This problem must be attituded taken seriously by all parties with a way to collect and identify the factors that encouraged, specify the steps that must be applied and perform the last action or treatment. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Wright to share the kind of adolescent mischief in some circumstances:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;neurotic adolescent delinquency are shy, too sensitive person, withdrawn, anxiety and low self-experience. They have a strong encouragement to do a hoax, such as theft itself, the action of aggressive suddenly without reason because mastered by delusion and self fantacy.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Unsocialized delinquent, an attitude like that against someone of power, a sense enemy and spiteful. Praise and punishment is not useful for them. They never feel guilty nor regret that the act was done. Often throw an error and responsibility to others. To get the respect and recognition of fear or other people also often perform acts of courage, grandeur, and beyond a doubt. &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pseudo social delinquent, adolescents who have a high loyalty to the group or "gang" so that his  attitude appear docile, loyal, solidarity and the good. If things do not act hoax awareness of self as well but based on suspicion that he must perform a duty that the group has outlined. Groups provide a sense of security to himself because he was always ready to meet the obligations placed or assigned by group. While groups are groups that can not be well received by people because of actions and activities that often restless community.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;B. These&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Force&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Factors  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Factors affecting the occurrence of adolescent mischief that two factors internal and external factors. &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Internal Factors&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Internal factor is the factor in the adolescent self itself. Teenagers are individuals who have left childhood full of dependency and towards the establishment of responsibility (Basri, 1995). At this time the individual development of the two, namely the development of bio-physical and psychological or psychiatric.&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;The biological, hormones in the body of a teenage maturity which this maturity sexual affect the occurrence of stimulus-stimulus of the sexual life and turbulent. Teenagers start to have interest in the type of opponent, while the introduction of the self that is still lacking. In addition, adolescent physical condition also had a role in the emergence of adolescent mischief, such as the existence of disability and so on.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;The psychological, the root of the problem teenagers have difficulties going on himself, namely individuasi, regulation, and integration. Difficulties in overcoming individuasi, namely the difficulties in realizing themselves as adults. Reality because his attitude that ambivalence. Difficulties in the regulation problem is because young people in his capablity not adjust itself with the changes that are very rapidly in the field of physical and sexual. While the difficulties of integration caused by young people in difficulty to adjust and integrate norms or values and attitudes with the norms or standards of value in society (in Rumke Sabri, 1997).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Youth is the identity search. At this time, something that most ambition himself is to seek and find a new identity for himself. A search effort clarity about who himself? What role in society? Is it useful to include people or not? And a myriad of other problems associated with the encompass  identity. On the other hand, adolescents also begin weigh himself with other people ririskiky not professional and does not tend to think realistically. As a result, when the standards are not achieved, young people begin search for fugitive release emosinya. So, with these cases of adolescent mischief be resonanced  (Haedari, 2005).&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify; font-weight: bold;"&gt;2. External Factors &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;External factors more dominated by the environment in which young people live it. Environment that there are three, the family environment, school, and community (Sukmadinata, 2003). Factors that emerged from the family environment is very closely related to how the pattern of foster parents and family conditions.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Pattern foster democracy on the model with different direspon by their children than the foster authoritarian pattern or permisif. Still many parents unaware that foster a pattern that has a large influence on the incidence of adolescent mischief, especially concerning the quality of relationship problems or interpersonal communication relationships (Saad, 2003). In modern life often found that an individual feels sequestered, isolated, and neglectful, even in the midst of a busy life. A psychologist writing a communication about this as follows: in the absence of affection, acceptance, love and share a sense of fun with other people, so many people feel alone, rejected, ignored, and the doghouse (Brooks and Emmert, 1977).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;If someone fails in the antarpribadi a good relationship, including the parents themselves, they will be happy delusion circumstances, physical and mental illness, aggressive, and flee from the reality of life. Therefore, the relationship with other people, including the parents, should be colored by a principle of a communication and build relationships that can encourage the occurrence of a healthy relationship (Rakhmat, 1986).&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;While the factors that emerged from the school environment is derived from the design of the curriculum is wrong. Design curriculum still trapped in ranah cognitive, while afective and psychomotoric not at all manner. Flare modernization of education which requires regularity, in the end only withdrawl hand-side of humanity of the students. Students the withdrawal of a robot forced to eat with all knowledge, and ultimately prepared the work as a search engine only.&lt;br /&gt;This condition worsened again with the fact that the curriculum for this effect, it appeared that only focuses on theoretical aspects only. So, nothing else and not the curriculum that has not produce the next generation-the generation tercerabut from the real world, the next generation-the generation of emotional skill and not ready to face the hard life. Schools in general, only able to produce the next generation of intelligent thinking in distress but the option to live and act confused.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Environmental community also has a large contribution to the emergence of teenage mischief. This is certainly related to and have straight or not and not the norm or value of society itself. Society is ready to filter the main negative influence coming from outside. However, it will be fatal if the norms or values in the society is experiencing a shifting. Victims are young people first. This is because young people are individuals who have the search phase identification and easy to do something new. Not to mention the emergence of a sense want to be recognized as members of a community.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;C. Steps To Cope Contructive  Adolescent &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hoax&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Has been agreed by all parties that regardless of mischief done by teenagers and young people is very restless disrupt people's lives and therefore need to preventive. Agreed that preventive efforts or of prevention is better than an effort to improve the condition of damaged and dangerous terlanjur.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;Therefore, a series of review and improvement of return following conditions:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;First&lt;/span&gt;, the Building and improving the quality of the family so that both parents had a foster and develop the personality and character of their children with good and beatify. Time parents in the home need to use be intensived especially in communication with their children so that sense of affection, attention and guidance can be implemented well.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Second&lt;/span&gt;, Building a healthy social environment in terms of normative and responsive to the behavioral gaffe gaffe-warganyadan always trying improve. People who need to be completely abandoned and condition be upright that reasonable, healthy, and honorable. Any form of social activity and the negative impact for development of moral, social responsibility and adolescents and youth need to be erased.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Third&lt;/span&gt;, make healthy again serving in the materials and mass media, both print and electronic, as well as books and magazines and movie posters.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fourth&lt;/span&gt;, Manage and control with full responsibility, and behavior of the tourists in and outside the country, that does not negatively impact the process of personality development of adolescents and youth.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fifth&lt;/span&gt;, community leaders both formal and non formal improve themselves need both in word and life habits that can be a role model by example, and the community generally, and especially the younger generation. The reprehensible action is very large negative impact on adolescents and youth.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sixth&lt;/span&gt;, Places of recreation and sport berolah healthy and meet the requirements necessary, by not reduced. Clean places recreation of an impression as a place to carry out disgraceful actions and action other sins.&lt;br /&gt;Seventh, Increase in religious education as well as community education and training activities that are useful for the life of the community (Basri, 1995).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;D. Conclusion &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Naughtiness be attituted teenagers should be subtle and immediately made a tinadakan the true, good and right that young people back on his fitrah as a man who always loved a good thing. Handling phenomenon of adolescent mischief can not be on the one hand, but all parties have the same responsibility and should be proportional and professional.&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;References&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basri, Hasan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Remaja Berkualitas&lt;/span&gt;, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995.&lt;br /&gt;Haedari, Amin, P&lt;span style="font-style: italic;"&gt;anorama Pesantren Dalam Cakrawala Modern&lt;/span&gt;, Jakarta: Diva Pustaka, 2004.&lt;br /&gt;Rakhmat, Jalaluddin, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Psikologi Komunikasi&lt;/span&gt;, Bandung: Remaja Karya, 1986.&lt;br /&gt;Saad, Hasballah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perkelahian Pelajar&lt;/span&gt;, Yogyakarta: Galang Press, 2003.&lt;br /&gt;Sabri, Alisuf, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan&lt;/span&gt;, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1997.&lt;br /&gt;William D. Brooks dan Philip Emmert, I&lt;span style="font-style: italic;"&gt;nterpersonal Comunication&lt;/span&gt;, Lowa: Wm. C. Brown Co. Publisher, 1977.&lt;code&gt;&lt;/code&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 153, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-4427846913028644419?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/4427846913028644419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=4427846913028644419' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/4427846913028644419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/4427846913028644419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/04/adolescent-hoax.html' title='Adolescent Hoax'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-7989754172077034407</id><published>2009-04-21T22:11:00.000-07:00</published><updated>2009-04-23T10:54:39.752-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='psychology'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisdom'/><title type='text'>PERSONA AND ENCHANTMENT FRUIT OF PACE</title><content type='html'>&lt;div style="font-family: georgia;" align="justify"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/Se6o3Z61kwI/AAAAAAAAAB8/gOUKYtre3LU/s1600-h/20081107160004.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 236px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/Se6o3Z61kwI/AAAAAAAAAB8/gOUKYtre3LU/s320/20081107160004.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5327381079029814018" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Fruit or PACE is one of the Creativity of Allah SWT in which contain many functions, benefits, and the wisdom or the lesson, for both physical and psychological. In addition as the creativity, the fruit is also as one of the forms of Omniscient Affection Allah SWT to all His organism especially for those who feel and realize that to get affection. Thing like this that will say "Our Lord, You have never created this with the vain, Glory to Thee, and guard us from the torment of Hell" (QS. Ali 'Imran: 191).&lt;br /&gt;Tree Pace or grown on land of lime dpl with a height of 1.000m. High, only about 3-8 m with a clear main stem. Be bordered by wrapping leaves, green colors. Hump-shaped flowers on axilla leaves. Fruit is not bruised bump -order. Reached 5-10 cm in length. Pace. At this time the author will only focus on the discussion on fruit only.&lt;br /&gt;Fruit of Pace if viewed from the physical is not the fruit that looks beautiful and inviting everyone to view. This is because, a lot of skin it’s black bumps that resembles boil. So that's not the little man is considered as a fruit that does not contain functions, benefits and wisdom of any kind. However, in actually are inlay-pearl inlay and medical wisdom of extraordinary incredible for each person who will understand and make be modeling. The state of fruit of Pace this teaches every man to be humble, not arrogant, not supercilious, and not showroom to get praise or recognition from an external party or parties outside the business to manipulate the things that actually does not exist in itself. Internalization of himself that he indeed is sequestered in the soil so that appears as something that seems not have any distinction in the views of others.&lt;br /&gt;Attitudes and behavior of this self-exile in view of tasawwuf is often called the seclusion. Seclusion is not like people to do the ritual form of asceticism, that is to go and silence in a quiet place to juxtapose themselves to Allah SWT. But more of it all, done by the seclusion of this fruit of Pace higher position. He was to self-deport to change the nature disgraceful inherent merit- attentive always with the Lord and still socialize with their environment.&lt;br /&gt;Fruit of Pace have Scopoletin womb, that is a compound that serves to set up blood pressure. When high blood pressure, help lower scopoletin. Conversely if the blood pressure becomes low, it will put up. Indicated antibacteri addition, this compound also set the hormone serotonin, which helps decrease the rate worries and depression. It also contains Morindin, this nutritious substances in the body's defense system to improve. In addition to the above two substances, pace also contains gum, malat acid, citric acid, and antiseptic compound.&lt;br /&gt;Although the fruit of Pace hide the interest in simplicity and clothing tend be viled but he has feelings and awareness as being obliged to implement a perform command and avoid restrictions. Apparently he is a figure who is always trying to help the organism to another can actualiz of his fitrah become so organism that can perform the function of both the original and correct. Humans have two functions at once, ie, functions as a servant who is due servant to the Lord and also as the caliph who must maintain a balance of the universe.&lt;br /&gt;Fruit mengkudu easy in life to help fellow brothers and sisters that are being experienced inconsistencies religiousitas to return immediately to the proper track, which is a condition where people become human. If the fruit mengkudu see people who have lofty, snooty, arrogant, and was high compared to other people then he immediately invite a to return to a normal human being and positive. That such efforts are truly wise and learned so that it does not cause negative effects. Similarly, when I saw a man who lives there is no passion to go forward or not he immediately come on. Efforts that do not just give advice but it only seeks the potential that it has been owned by them.&lt;br /&gt;That is the fruit of Pace. He has the ability to be stabilizing and even improving the positive human condition. However he does not show that ability in front of another creature. Ability is covered with cloth simplicity. Ability not only seen, but can be found with felt.&lt;br /&gt;Hopefully we all can see, learn, understand, modelling, empaty, and inspirit. Amen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-7989754172077034407?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/7989754172077034407/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=7989754172077034407' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/7989754172077034407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/7989754172077034407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/04/persona-and-enchantment-fruit-of-pace.html' title='PERSONA AND ENCHANTMENT FRUIT OF PACE'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/Se6o3Z61kwI/AAAAAAAAAB8/gOUKYtre3LU/s72-c/20081107160004.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5786883838934153669.post-2383349026233166856</id><published>2009-04-20T01:19:00.000-07:00</published><updated>2009-04-20T01:28:46.973-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wisdom'/><title type='text'>Shalat and Love of Allah SWT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SewxxmN3qVI/AAAAAAAAAAw/czjriGnJNgo/s1600-h/IMG_0719.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SewxxmN3qVI/AAAAAAAAAAw/czjriGnJNgo/s320/IMG_0719.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5326687187414526290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;em&gt;"Indeed, prayer is fardlu a specified time on those who believe" (QS. An-Nisa ': 103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Each person must perform Islamic prayers five times a day for the night. However, condition of prayer five times this must be carried out, except for women who are bleeding, for a madman, for people who are unconscious, and for people who are drunk. Be required each person to perform Islamic prayers five times in any condition and this raises many fundamental questions. Among them is why Allah SWT require us to conduct prayer? What is the legal obligation of prayer is conducting one of the desire for Allah SWT is always worshiped by the his organism? Or because of what? &lt;br /&gt;Prayer is not simply one of the communication media between transendental with the Lord, the creature is subject, where the organism can be there to worship Him with a full sense of admiration, sincerity, obedience, and love, and pray, but it turns out a procession to the impact of derivative a positive physical and psychological. &lt;br /&gt;Shalat will oversee and guide those who implement them to remain in their disposition, namely nation to Allah SWT, to-Esaan acknowledge Him, and covet covet truth, and want to always follow the teachings Him. So that in the Al-Qur'an explained that the prayer will avoid people who do acts of indecency and may (Al-'Ankabut: 45). &lt;br /&gt;Prophet Muhammad SAW in some his hadits said that prayer can make a calm, prosperous, and piecefull soul. In addition, prayer can also cure various diseases, such as stomach disease that have been suffered by a friend of Abu Hurairah RA Functions as are prayer, that also has been proven through the truth of scientific research by experts from various scientific disciplines, such as medical and psychological. &lt;br /&gt;If be the more, the functions and benefits of prayer to guide and direct all people to be able to do it back to the condition disposition after rove the steep-pitched, black and white, and bitter sweet of world. In the world, many people wrestle with the obstacles and temptations that have a tendency to obscure or even his disposition. Man who has been blurred or the disposition is lost will usually lose their main function as a slave and himself as agency of Allah SWT in this world. In fact the two functions is the core of meaning of life. &lt;br /&gt;Other evidence that prayer works to guide and direct people to return to the his disposition can be seen from the picture count from each corner of the harmonious movements made by all members in one body reka'at. Founded in reka'at same with 00, ruku '900 , and bowed down twice with the respective amount in 1350 so in 2700. This series of movements with it’s corner each note if  the result is the same as the 3600 or a full circle. Depart from one period (disposition) back to the period (disposition) back. &lt;br /&gt;Based on the above considerations, we at least get an answer with a conclusion that have to be pray five times than as a harmonious, prayer is also a form of love of Allah SWT to each His organism the Islamic faith and with full charity. Allah SWT does not want the same once every His organism living in misery. For that, pick up and reach the love of Allah SWT with the magnificent prayer needs as an obligation not just as certainly will be more delicious it felt. Because people who get the love of Allah SWT akan when something has awareness that any deeds not only see the true self, but the good and for others, is also valid according to the teachings of Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5786883838934153669-2383349026233166856?l=nexttofuture.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://nexttofuture.blogspot.com/feeds/2383349026233166856/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=5786883838934153669&amp;postID=2383349026233166856' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/2383349026233166856'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5786883838934153669/posts/default/2383349026233166856'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://nexttofuture.blogspot.com/2009/04/shalat-and-love-of-allah-swt.html' title='Shalat and Love of Allah SWT'/><author><name>waluyo</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SnOr6dQjaVI/AAAAAAAAADs/OoIraaCE1TY/S220/blog.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4EgNBFCK5Tc/SewxxmN3qVI/AAAAAAAAAAw/czjriGnJNgo/s72-c/IMG_0719.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
